Kamis, 29 Januari 2009

Amir Syarifuddin- Sejarah Gelap Indonesia (Tapian Edisi Februari 2009)

Salam TAPIAN


Ketika orang belum membayangkan pengkotakan dalam garis agama suatu ketika akan memperumit pembangunan bangsa ini, dalam diri tokoh nasional asal Padang Lawas ini terbaca suatu simbol pemersatu. Namanya menunjukkan dia seorang Islam, tetapi toh agamanya Kristen. Cintanya juga lebih besar dari adat yang purba. Dia mempersunting istri yang juga bermarga Harahap. Rubrik Sudut Pandang TAPIAN bulan ini menyuguhkan laporan tentang nasib tragis Amir sampai-sampai istri, anak-anak, dan sanak-saudaranya dilarang memugar kuburannya.

Bagaimanakah seseorang ingin dikenang dalam sejarah? Dibuatkan patung atau lebih merasa dimuliakan kalau mereka yang ditinggalkan mengenang karya-karya yang telah diciptakannya? Apa jawab Sitor Situmorang, raja penyair dari Tanah Batak, yang akan merayakan ulangtahunnya yang ke-85, Oktober mendatang, di Jakarta dan bukan di Paris? Dalam rubrik Sosok terasa dia masih ”beteng,” yang dengan cekatan berdiri dan meninju meja untuk membela pendiriannya, membawa ingatan pembaca pada hangatnya hati orang Batak kalau terlibat perdebatan di kedai kopi atau pakter tuak.

Penggolongan masyarakat Bali dalam kasta-kasta hanyalah peninggalan penjajah Belanda. Di Bali, sudah lama tumbuh semangat egaliterianisme, di mana seseorang dipandang bukan dari kedudukan kastanya, tetapi dari hasil kerjanya. Kasta adalah pilihan. Seorang Sudra bisa menjadi seorang Brahmana. Lihatlah betapa manisnya kenyataan zaman sekarang, I Made Mangku Pastika yang adalah Sudra, sementara wakilnya adalah seorang Kesatria. Ikuti rubrik Spiritualitas.

Cafe-cafe halak kita tumbuh menjamur di Jakarta. Para pengunjungnya tentulah mereka yang punya waktu dan uang untuk mengatasi tekanan pekerjaan dengan merebahkan diri pada alunan musik dan suasana yang menghibur. Rubrik Musik sekali ini tidak berbicara mengenai musik, tetapi mengantarkan kepada para pembaca kabar tentang betapa kerasnya hidup para musisi yang tampil di cafe-cafe. Mereka seperti menghamba mengharap saweran, pulang menerjang malam yang dingin, lebih gigih dari kelelawar.

Ada berita di rubrik Kabar Kita tentang penghormatan khusus untuk Nommensen, yang telah membawa peradaban baru ke Tanah Batak. Orang-orang penting yang menduduki posisi pemerintahan, atau di luarnya, para seniman, dan para pebisnis yang jaya sekarang ini, barangkali juga tak lupa pada jasa ”Rasul Orang Batak” itu.

Ingat gitaris dan rocker Sonata Tanjung yang pernah main untuk grup AKA dan SAS? Di rubrik Pesohor dia tampil bukan sebagai rocker lagi, tapi sebagai pendeta dan pembina musik di sebuah gereja di Surabaya. Tangannya lumpuh disengat listrik. Hanya doa yang telah memulihkan tangannya itu. Sebagai rasa syukur dia mengabdikan bakat dan hidupnya untuk gereja.

Di rubrik Wisata tampil perupa Heri Dono yang diajak raun-raun menikmati Medan dan keindahan Danau Toba. Sebuah legenda tetap menunjungi Anda. Dan, hidangan rasanya tak sempurna kalau tak ada analisa permainan akhir yang disuguhkan Om Galung.


Kamis, 22 Januari 2009

Mereka Telah Bersahabat dengan Banjir

Ekspedisi Kompas Ciliwung 2009

Mereka Telah Bersahabat dengan Banjir

Rabu, 21 Januari 2009 | 03:11 WIB

Oleh M Zaid Wahyudi


Banjir tak selalu identik dengan bencana yang membawa penderitaan. Kejadian yang terus berulang tanpa penyelesaian tuntas dari pemerintah malah melahirkan sikap adaptif untuk berdamai dengan keadaan.

Bagi warga Bukit Duri, Jakarta Selatan, dan Kampung Pulo, Kampung Melayu, Jakarta Timur, banjir bukanlah peristiwa istimewa. Setiap tahun, saat hujan mencapai puncaknya antara Januari dan Februari, mereka sudah mengamankan barang-barang berharga ke tempat yang lebih tinggi.

”Kalau banjir mau datang, silakan saja…. Kami sih tidak kaget, tenang-tenang saja,” kata Hasan (36), warga RT 6 RW 12 Bukit Duri, Selasa (20/1).

Akibatnya, rutinitas sesaat menjelang puncak musim hujan bukan lagi menjadi hal yang melelahkan. Memindahkan aneka perabotan kayu dan alat elektronik ke lantai dua atau menyiapkan makanan instan untuk mengantisipasi jika terisolasi banjir adalah sebagian kegiatan yang harus dilakukan sebelum banjir.

Hal serupa diungkapkan Nanang (30), warga Kampung Pulo, RT 15 RW 02 Kampung Melayu, yang tinggal di bantaran Ciliwung. Saat banjir datang, tak ada yang bisa diperbuat warga untuk mencegahnya. Warga hanya bisa bersiaga agar banjir tak sampai menimbulkan kerugian jiwa dan materi.

Upaya yang dilakukan adalah membangun sistem peringatan dini terkait akan datangnya banjir. Di sejumlah pos RT maupun dinding rumah warga di Bukit Duri dan Kampung Pulo dipasang papan pengumuman tentang ketinggian air di Bendung Katulampa dan Pos Pemantau Air Ciliwung di Depok, yang terus diperbarui dalam rentang waktu tertentu. Para ketua RT di wilayah yang rawan banjir itu umumnya juga dibekali dengan radio komunikasi untuk memudahkan penyebaran informasi tentang ancaman banjir.

Meski demikian, masih banyak warga yang tak peduli dengan banjir saat air bah itu benar-benar melanda perkampungan mereka. Menurut Widodo (29), pemuda yang biasa membantu evakuasi warga, sebagian masyarakat enggan mengungsi meski banjir sudah hampir menenggelamkan seluruh permukiman dan mengisolasi rumah mereka. Padahal, persediaan makanan dan minum mereka belum tentu mencukupi hingga banjir usai.

Selain membangun rumah bertingkat hingga tiga lantai, strategi adaptasi lain dari warga Bukit Duri adalah dengan menempatkan berbagai barang elektronik milik mereka di tempat yang tinggi. Lemari es yang umumnya diletakkan di atas lantai, ditaruh di atas meja setinggi 1 meter di atas lantai.

Lucia Ken Ayu MP dari kelompok pemberdayaan masyarakat Sanggar Ciliwung Merdeka mengakui, sebagian besar warga Bukit Duri dan Kampung Pulo yang tinggal di bantaran Ciliwung adalah warga pendatang ilegal. Mereka umumnya bekerja sebagai pedagang maupun buruh di kawasan niaga Jatinegara. Mereka menggantikan sebagian penduduk asli kedua kampung yang tak tahan dengan bencana yang terus berulang dan memilih pindah ke sejumlah daerah penyangga Jakarta, seperti Bekasi atau Depok.

Upaya masyarakat berdamai dengan banjir memang tak akan mampu mencegah banjir yang terjadi. Beberapa kelompok masyarakat mulai mencoba mengurangi dampak banjir dengan menanam sejumlah tanaman di bantaran sungai yang tersisa atau mengolah sampah masyarakat yang tak tertangani oleh pemerintah.


Lahan ilegal

Sebagian masyarakat yang tinggal di bantaran Ciliwung menyadari bahwa mereka tinggal secara ilegal di lahan terlarang. Namun, untuk mencari alternatif tempat tinggal lain bukan perkara mudah. Warga yang umumnya berprofesi sebagai pedagang itu membangun rumah di Kampung Pulo atau Bukit Duri karena lokasinya berdekatan dengan kawasan niaga Jatinegara.

Menurut Lucia, pembangunan permukiman baru yang mengokupasi daerah aliran sungai marak terjadi sejak tahun 2000. Lebar Ciliwung yang membelah Bukit Duri dan Kampung Pulo yang semula 14 meter kini hanya tersisa 8 meter. Kondisi ini selaras dengan pantauan Ekspedisi Kompas Ciliwung 2009 dari tengah Ciliwung. Selepas jembatan Kampung Melayu hingga Pintu Air Manggarai, terjadi penyempitan sungai secara masif di sejumlah tempat membuat lebar sungai tinggal 8 meter.

Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane Pitoyo Subandrio mengatakan, lebar Ciliwung seharusnya 30 hingga 45 meter plus bantaran sungai 10 hingga 15 meter. ”Banyak pihak yang menyebut warga korban banjir telah bersahabat dengan banjir. Sebenarnya, mereka bukan akrab dengan banjir, tetapi malah sengaja mendatangi banjir,” ujarnya.

Dosen Sosiologi Universitas Indonesia, Paulus Wirutomo, mengungkapkan, kecenderungan masyarakat di bantaran sungai memilih untuk bersahabat dengan banjir menunjukkan kemampuan mereka beradaptasi dengan lingkungan. Segala konsekuensi dari pilihan itu telah mereka terima dan dicoba untuk diatasi.

Warga bantaran sungai yang ilegal dapat dibedakan dalam dua kategori, yaitu tinggal sementara atau tinggal untuk menetap.

Mereka yang tinggal sementara umumnya datang dari kampung halaman ke Jakarta mencari penghidupan dengan mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya untuk berbagai keperluan di desa. Mereka yang masuk dalam kategori ini umumnya memiliki kepedulian untuk memperbaiki kualitas hidup dan mengatasi banjir.

”Bagi warga di bantaran sungai, tinggal di atas sejengkal tanah di Jakarta sudah merupakan perjuangan besar. Asalkan bisa tetap punya uang, mereka siap hidup dengan serba minimal. Risiko itu tidak besar karena mereka siap dengan hidup apa adanya,” kata Paulus.

Sementara itu, warga yang berorientasi menetap di bantaran sungai cenderung takut pindah karena tidak ada kepastian hidup setelah pindah. Kondisi itu terjadi akibat ketidakmampuan pemerintah menyediakan hunian layak.

Karena itu, lanjut Paulus, sudah saatnya pemerintah menyiapkan alternatif tempat tinggal yang layak bagi masyarakat.

Pemerintah juga harus tegas dalam menata kota dengan membebaskan permukiman di bantaran sungai agar tata ruang kota tidak semakin hancur.(LKT/WAS/NEL/ ELN)


http://cetak. kompas.com: 80/read/xml/ 2009/01/21/ 03110242/ mereka.telah. bersahabat. dengan.banjir

Situs Majapahit Ditemukan Lagi


Situs Majapahit Ditemukan Lagi



Kamis, 22 Januari 2009 | 01:06 WIB

Mojokerto, Kompas - Struktur batu bata kuno dari zaman Kerajaan Majapahit ditemukan lagi oleh warga Desa Klinterejo, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, Rabu (21/1). Temuan tersebut merupakan kelanjutan dari bagian struktur batu bata yang ditemukan tahun lalu.

Struktur batu bata yang berbentuk memanjang dari arah utara ke selatan itu ditemukan oleh Abdul Rohim (55) secara kebetulan saat membuat batu bata. Posisinya di sisi barat atau sekitar satu kilometer dari temuan satu hari sebelumnya.

Menurut Rohim, sebagian temuan berupa struktur batu bata itu sebelumnya telah dilaporkan kepada pihak desa pada Agustus tahun lalu. Zainal Abidin, Sekretaris Desa Klinterejo, mengatakan, temuan di lokasi itu sudah dilaporkannya kepada Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jatim.

Namun, baik Rohim maupun Zainal mengatakan, hingga kini temuan tersebut belum mendapatkan perhatian dari pemerintah. ”Saya ini kan takut dibilang melanggar hukum, jadinya bata itu saya biarkan saja. Namun, kami kan juga perlu membuat batu bata ini,” kata Rohim.


Rusak parah

Struktur batu bata kuno itu sekalipun tetap dijaga oleh sejumlah warga tetapi tetap saja menyisakan kerusakan parah di sana-sini. Rohim bahkan menyebutkan, tinggi struktur batu bata kuno itu sudah terkepras sekitar satu meter dari saat kali pertama ditemukan.

Menurut Zainal, apa yang menjadi kehendak warga saat ini adalah pemberian kompensasi yang layak dari pemerintah terhadap temuan situs sejarah di lahan warga. Pasalnya, kata Rohim, warga juga memerlukan penghasilan yang selama ini hanya bisa mereka dapatkan dari usaha pembuatan batu bata tersebut.

Rohim menjelaskan, pada lahan yang disewanya seharga Rp 18 juta untuk masa tiga tahun itu terdapat 14 kelompok yang masing-masing terdiri atas dua pekerja. Dalam satu hari masing- masing kelompok mampu membuat seribu batu bata berukuran 10,5 cm x 21 cm x 5 cm.(INK)


Dari:

Kepada: "HKSIS"



Rabu, 21 Januari 2009

Menilik Sisa-Sisa Situs Majapahit di Desa Klinterejo, Sooko

Radar Mojokerto [ Selasa, 20 Januari 2009 ]


Menilik Sisa-Sisa Situs Majapahit di Desa Klinterejo, Sooko
Berserakan,
Banyak yang Tergeletak di Lokasi Pembuatan Batu-bata


Ditengah sorotan publik terhadap pembangunan Pusat Informasi Majaphit (PIM) di Trowulan, di sisi lain ternyata banyak ditemukan situs di beberapa desa yang kondisinya kini tak terawat. Bahkan perlahan-lahan sudah banyak yang hilang karena terjual. Seperti sebuah bangunan kuno mirip pagar berada di Desa Klinterejo, Kecamatan Sooko, Mojokerto.MOCH. CHARIRIS, Mojokerto ---JIKA boleh ditebak, siapa yang banyak menemukan atau menemui benda purbakala di wilayah Kecamatan Trowulan dan sekitarnya? Jawabannya adalah para pembuat batu-bata di sawah. Di sadari atau tidak, setiap hari mereka dihadapkan dengan sebidang tanah liat yang siap di pasarkan dalam bentuk batu bata merah. Sebuah cangkul, gancu dan ember seakan tidak bisa dipisahkan dari mereka. Karena dengan alat sederhana itu, mereka bisa bekerja dan menggali tanah selanjutnya di bentuk persegi yang dijadikan rupiah. Terkadang secara tidak sengaja saat menggali tanah mereka kerap menemui benda purbakala peninggalan Kerajaan Majapahit yang pernah jaya pada abad 14. Diantaranya berbentuk gentong, gerabah, batu lumpang, candi, hingga situs yang berbentuk pagar dan puthuk (gapura kecil). Seperti yang kerap ditemui warga sekaligus pembuat batu-bata di Desa Klinterejo, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto. Tepatnya sebelah barat situs Kahuripan yang terdapat batu berukuran lebar. ''Sebenarnya dari dulu sudah banyak ditemukan situs-situs di area tempat pembuatan batu-bata ini," ujar salah satu warga yang kesehariannya bekerja membuat batu-batu. Pria bertubuh rada kekar dan berambut pendek itu mengaku, peninggalan cagar budaya di lokasi tempatnya bekerja jika dihitung lebih dari lima jenis. Ada yang berbentuk batu lumpang, puthuk makam, sumur dan sebuah bangunan menyerupai pagar peninggalan Kerajaan Majapahit. ''Setahu saya bangunan kuno seperti puthuk itu sudah ada dari beberapa tahun lalu. Tapi untuk pagar dan sumurnya baru diketahui lima tahun terakhir ini. Tepatnya saat ada pembuatan batu-bata," ujarnya sembari mencetak tanah dalam bentuk bata. Bila diamati lebih dalam, tidak hanya situs, namun berbagai artefak juga ada di sebidang tanah milik perangkat desa yang disewakan kepada para pembuat batu-bata. Salah satunya berbentuk batu lumpang, setinggi 50 sentimeter dengan lebar 1 meter. ''Setelah itu semua ditemukan sebenarnya lokasi ini sudah dikunjungi sama orang BPPP," terangnya. Meski begitu purbakala berharga yang semestinya mendapat perlindungan, kini kondisinya cukup memprihatinkan. Sedikitnya ada enam batu lumpang seakan tak bernilai. Berserakan, tak terjaga dan tergeletak liar di sekitar linggan (bangunan tempat membakar batu-bata, Red). Sebagian lainnya malah menyedihkan karena terkapar di tepi sungai kecil. Bahkan oleh warga ada yang difungsikan untuk menyeberang wangan (sungai kecil). Akan tetapi yang lebih mengenaskan saat ini, situs berbentuk pagar berada di sebelah barat tempat pembuatan batu bata dalam kondisi rusak berat. Tidak hanya tergerus akibat pembuatan batu bata, melainkan sebagian sudah hilang. Ada yang menyebut hilangnya bagian bangunan berharga itu ada yang menjual. Dalam bentuk bijian batu batu memiliku ukuran 20 sentimeter kali 60 sentimeter, dengan ketebalan 5 sentimeter. Untuk satu buah batu bata dihargai Rp 500 rupiah. Kendati demikian sejauh ini tidak dieketahui jelas, siapa yang menjual dan siapa yang membeli bagian bangunan yang memiliki panjang sekitar 500 meter. Namun jika ada pemesan yang masuk ke kawasan tersebut beberapa orang siap melayani sesuai pesanan. Asalkan harganya cocok.''Memang selama ini warga sudah banyak yang tahu, kalau di kawasan pembuatan batu bata itu banyak situs. Tapi kami belum tahu jika kerusakannya semakin parah," kata Sekretaris Desa Bidin, saat ditemui di rumahnya tidak jauh dari lokasi. Mendengar ada kerusakan atau bahkan praktik jual beli benda sejarah, pria yang hobi sepak bola itu mengaku miris. Sebab selaku perangkat dan atas nama warga, dia menyayangkan kalau ada orang dengan sengaja memesan batu-bata kuno berakibat kerusakan. ''Kalau warga yang merusak kami rasa mereka tidak bisa disalahkan karena urusannya perut. Tapi kemungkinan ada orang di belakang itu," dugaan Bidin. Agar tidak berkelanjutan, Bidin dan perangkat desa lain akhirnya memutuskan untuk mengamankan cagar budaya yang tersisa. Baik dalam bentuk lumpang artefak berkeliaran, atau pagar besar yang susunan batu-batanya banyak yang hilang. ''Belakangan warga belum sadar kalau benda-benda itu memiliki nilai sejarah tinggi. Tapi yang pasti bersama warga kita akan amankan situs-situs itu," paparnya. (yr)============ ========= ========= ========= ========= ========= ===



Radar Mojokerto [ Rabu, 21 Januari 2009 ]

Menilik Sisa-Sisa Situs Majapahit di Desa Klinterejo, Sooko
Batu Berharga Itu Beralih Fungsi


Batu Berharga Itu Beralih Fungsi Jadi Penyeberangan Pengetahuan warga tentang benda cagar budaya peninggalan Kerajaan Majapahit memang cukup minim. Dari mengenal benda dan cara memperlakukan. Manfaat dan cara melestarikan hingga, cara melindungi dan mengamankan. Tidak heran jika di Dusun/Desa Klinterejo, berbagai bentuk dan model situs banyak yang terbengkalai dan tak terawat. MOCH. CHARIRIS, Mojokerto ---LIHAT saja dua batu dengan posisi berdampingan berada di sebuah aliran sungai kecil itu. Ukuranya memiliki lebar 73 sentimeter, tinggi 73 sentimeter dan ketebalan tidak lebih dari 33 sentimeter. Meski memiliki nilai sejarah dan bernilai tinggi, namun benda keras tak bergerak itu seperti tak berharga. Bahkan letak batu di sungai kecil yang memisahkan antara Desa Panggih, Kecamatan Trowulan dengan Desa Klinterejo, Kecamatan Sooko, sekarang beralih fungsi menjadi tempat pijakan menyeberangan warga sekitar. ''Dua batu itu biasanya digunakan warga menyeberang dari Desa Panggih ke Desa Klinterejo atau sebaliknya," ujar Bambang Hariawan warga setempat, saat ditemui siang kemarin di tempat pembuatan batu-bata. Tidak hanya dua batu biasa disebut orang batu umpak atau lumpang, di sekitar lahan pembuatan batu-bata seluas 2 hektare milik seorang perangkat desa, ternyata banyak ditemukan batu berbentuk serupa. Hanya tinggi, lebar dan ketebalannya berbeda. Ada yang menyerupai lumpang ada pula yang lebih kecil dan berbentuk lesung. Kalau dihitung jumlahnya mencapai 10 buah. Posisinya ada yang masih ansitu (alami dan di tempat semula), ada pula yang berserakan. ''Tapi yang banyak lumpangnya berserakan. Sejak ada pembuatan batu-bata banyak warga yang menemukan benda itu," terangnya. Sebagai warga, Bambang menuturkan pada tahun 1995 tepat kali pertama warga membuka lokasi pembuatan batu-bata, tidak sedikit batu berjenis sama ditemukan. ''Setidaknya kami pernah menemukan 40 buah batu lumpang. Tapi lokasinya berpencar-pencar, " jelasnya. Dibanding saat ini, penuturan Bambang memang terkesan ironis. Sebab, tidak ada satupun warga yang mengetahui persis berapa jumlah yang masih tersisa. Karena warga tidak tahu fungsi dan manfaat. ''Makanya yang bisa dilakukan warga hanya membiarkan. Bahkan kalau ada yang hilang kita tidak tahu," bebernya. Hal serupa juga dituturkan Mukri, salah satu pembuat batu-bata. Tidak jarang pria bertubuh kekar itu menemukan batu umpak, saat menggali tanah sebagai bagan batu-bata. Dari ukuran besar sampai lesung setinggi 30 sentimeter kali 40 sentimeter. ''Di linggan (tempat pembakaran batu-bata, Red) saya ada dua batu besar. Itu sudah lama, karena hanya berbentuk batu kami sengaja membiarkanya di tengah sawah," ujarnya. Menyusutnya jumlah batu umpak dan lesung memang tidak diketahui jelas, apakah sengaja dicuri atau berpindah tempat. Namun jika melihat lokasinya yang ada di setiap sudut lahan pembuatan batu-bata, tidak mudah jika benda cagar budaya itu dicuri. Terlebih praktik pencurian itu dilakukan pada malam hari. ''Tinggal dipindahkan saja ke atas gledekan (gerobak, Red) atau mobil sudah beres. Kan gak ada yang tahu," urainya. Untuk menekan aksi pencurian, pernah pada tahun 2008 kemarin warga dipelopori perangkat desa mengumpulkan dan memindahkan lokasinya, ke situs Kahuripan (watuombo) atau makam Tribuana Tunggadewi. ''Kurang lebih ada sekitar 16 batu yang berhasil kami kumpulkan. Dan sekarang kami amankan di watuombo," ungkap Sekretaris Desa Klinterejo Zainal Abidin. Didasari banyaknya temuan batu umpak dan lesung, Abidin menduga di lahan pembuatan batu-bata tersebut adalah bekas perumahan penduduk. Sebab selain batu, warga juga kerap kali menemukan sumur kuno. ''Tapi karena tidak ada yang tahu sejarah sebenarnya selama ini kami hanya menebak saja. Soal kepastian tempatnya apa kami tidak tahu," imbuhnya. (yr)

Senin, 19 Januari 2009

Murniwati Harahap : Penggiat Hutan Bakau Jakarta

Murniwati Harahap : Penggiat Hutan Bakau Jakarta

Chris Poerba


Jakarta termasuk salah satu kota di dunia yang berada di bawah ketinggian permukaan air laut. Karena itu sangat rentan terhadap beberapa acaman terkait perubahan iklim, terutama pemanasan global (global warning) yang sekarang mengancam. Jakarta dapat dianalogikan seperti kota yang berada di dalam baskom. Perubahan kota Jakarta yang sangat pesat menyebabkan terjadinya penurunan kualitas lingkungan hidup. Bahkan bencana-bencana yang ditimbulkannya semakin lebih buruk. Permasalahan banjir merupakan salah satu masalah yang belum terpecahkan secara tuntas oleh pemerintah kota.

Di kawasan Angke tercatat 90% bakau yang sudah musnah karena ulah manusia. Pelestarian bakau di pantai utara Jakarta itu menjadi kunci. Adalah Murniwati Harahap, seorang perempuan Batak berusia 64 tahun yang, dari hutan yang hancur, muncul sebagai penyelemat, dengan mengupayakan penghijauan kembali hutan bakau di wilayah Angke- Kapuk.

Menjadi penyelamat bukanlah mudah. Untuk memperoleh izin pengelolaan saja dia harus mengurut dada. Setelah beberapa tahun, barulah dia memperoleh izin. Ada tiga instansi yang harus memberikan rekomendasi. “Harus ada rekomendasi dari Kanwil Kehutanan, rekomendasi dari Pariwisata dan DKI. Nah, trus habis itu baru masuk permohonan izin ke Menteri Kehutanan. Semua itu prosesnya selama dua tahun lebih. Untuk itu saja. AMDAL aja sampai tiga kali kalau gak salah. Sekarang, saya pikir kok AMDAL. Kita mengupayakan penghijauan, masak perlu AMDAL,” katanya mengenang prosedur birokratis yang terkadang mentertawakan.

Setelah berbagai proses perizinan selesai, kerja belum dapat dimulai. Kendala yang cukup besar menghadang saat reformasi 1999. Saat demokrasi memperoleh tafsir yang menyimpang. “Ya, itulah, pas reformasi. Saya memang terlalu patuh kepada peraturan. Pada waktu saya tiba di sini sudah habis semua. Dulu bagus, sekarang gundul semua. Sudah dibikin orang tambak.“ Mengingat lahan yang digunakan sebagai lahan hutan mangrove ini merupakan milik negara, maka banyak yang mengalihkan fungsi lahan ini, terutama menjadi tambak. Itulah dampak gelombang „reformasi“ yang dirasakan perempuan kita ini.

Pada awal reformasi itu, Murni bahkan pernah mendapatkan reaksi yang keras dari para petambak. “Ketika kita kerja, tiba tiba ada 100 orang lebih datang bawa parang, bawa golok. Orang saya, yang dari Sukabumi, ada 30 orang. (Karena takut) ya, kabur,” katanya. Meskipun Murni memiliki legalitas yang sah dari pemerintah, namun ini tak menyurutkan langkah para petambak untuk mengambil-alih dan menggunakan lahan sebagai lokasi tambak. Bahkan petambak tidak menyukai keberadaan hutan bakau yang ingin dia kembalikan. Karena dianggap mengganggu sirkulasi air bagi ikan-ikan peliharaan mereka di dalam tambak. Padahal, untuk membesarkan bakau dibutuhkan waktu sepuluh tahun. Dan, justeru itulah yang dengan sabar dikerjakan oleh Murni.

Dalam menghadapi para petambak, berbagai upaya dilakukan, termasuk perundingan, walau berbuntut kebuntuan. Perlawanan yang dilakukan oleh petambak sejak awal Murni melangkah di situ berlangsung terus sampai saat ini. Ada 28 orang petambak yang ngotot untuk tetap menolak penghijauan. Meskipun kini, mereka sudah tidak terlalu reaktif seperti sebelumnya. Para petambak ini sendiri bukan merupakan warga yang berdomisili di sekitar hutan bakau.

Sampai saat ini petambak masih selalu memotong akar dari bibit bakau (mangrove) yang baru saja ditanam ke dasar air. Keadaan bertambah parah, karena mereka juga mengangkat lumpur yang terdapat di sekitar mangrove. Padahal, bakau akan cepat besar bila ada lumpur, yang akan merangsang pertumbuhan akar-akarnya. Setiap kali Murni melakukan penanaman bibit bakau, saat pula para petambak merusaknya.

Pada tahun 2002, Murni menempuh jalan tengah, dengan memberikan uang ganti rugi kepada para petambak. ”Kita berikan ganti rugi sebesar Rp 6.000.000 kepada setiap petambak. Yang menerima ada sepuluh orang. Yang lain tetap gak mau keluar,” katanya menggelengkan kepala.

Murni bersikeras, kawasan tersebut dijadikan hutan mangrove terlebih dulu, baru kemudian dibangun berbagai prasarana. Bertemu dengan wakil-wakil dinas pemerintah yang berkaitan dengan lahan milik negera tesebut, dia juga mengimbau agar masalah dengan para petambak segera diselesaikan.

Fajar harapan mulai menyingsing untuk Murni pada tahun 2006. Keadaan mulai membaik. Apalagi dengan banyaknya orang yang datang berkunjung dan menanam bakau. Mereka terdorong oleh pemberitaan media tentang kondisi hutan baku yang sangat mengkhawatirkan.

Murni mengatakan, upayanya untuk mengembalikan hutan bakau tersebut dilakukan secara mandiri. Dan, dia ingin memberikan sesuatu yang terbaik selama masih diberikan kekuatan oleh Tuhan. Termasuk juga ingin meninggalkan sesuatu yang berharga bagi generasi mendatang. Katanya: ”Saya tidak minta satu sen dari mana pun untuk menghutankan ini, menanam mangrove ini. Saya berjuang sendiri, saya bikin sendiri. Tidak terasa sebagai beban, karena niat yang tulus. Yang penting bagi saya cuma satu, berkah dari Tuhan. Menanam itu merupakan pahala yang bukan main.”

Izin pengelolaan taman wisata alam di Angke-Kapuk diberikan kepada Murniwati Harahap atas nama PT Murindra Karya Lestari, dan berlaku selama 35 tahun. Dia berharap dapat terus mengelola taman wisata ini sekaligus menjaga pelestarian hutan bakau. ”Kalau mau bisnis saya gak akan buat d isini. Saya buat di Bandung. Kan saya bilang tadi, saya orang Batak lama tinggal di Bandung. Saya tahu tanah yang bisa dibikin agrowisata. Saya tahu gimana mengelola tanaman. Saya tahu pakai pupuk itu bagaimana. Saya belajar dari tanaman sudah 30 tahun lebih.”

Setelah jerih payah Murni mulai terlihat dan bersinar, ada pihak-pihak yang ingin mencari untung dengan mengajak kerjasama mengembangkan wilayah yang telah dihijaukannya itu menjadi tujuan wisata. Tapi, dengan halus dia tolak. Dia khawatir dengan berbagai kepentingan yang berada di belakang mereka yang mendekatinya sekarang ini.

Murni juga tegas-tegas akan menolak partai-partai politik yang hendak menanam bakau dengan mengadakan berbagai upacara seremonial hanya untuk merebut publisitas. Bakau adalah tanaman pelindung yang besar dalam kesederhanaan. Akarnya kuat memegangi dasar, sehingga sebesar apa pun ombak tak cukup kuat untuk mencabutnya. Murni merasa memperoleh tuntunan hidup dari contoh yang ditunjukkan sebatang pohon bakau. Kuat dan teguh dalam melangkah, membela lingkungan.


Telah Dimuat di Majalah TAPIAN Edisi Desember 2008


Mendendangkan Teologi Batak

Mendendangkan Teologi Batak

Hotman J. Lumban Gaol

Judul: Dendang Bakti; Inkulturasi Teologia Dalam Budaya Batak

Penulis: Mgr Dr Anicetus B Sinaga, OFMcap

Penerbit: Bina Media Perintis, Medan

Tahun: 2004

Tebal: 453 halaman

Dendang Akhir

Manakah janji Dewata

Bagi Insan sengsara

Cakar maut t’lah meraja

Sinar segala asa

Dari sejak sediaka

Tuhanlah Jurus’lamat

Mengapa kini berlambat

Insan sudah sekarat

Bagimu disediakan

Penebus dan Harapan

Yesus Kristus selamatan

Membawa kebangkitan

Kini keluh dan erangan

Seluruh air mata

Darimu pun disediakan

Terbit Sinar Cahaya

A.B. Sinaga (hal 422)

Ritus Batak penuh tembang pujian dan dendang. Terbaca di torsa-torsa, turi-turian, atau umpasa, yang berkelindan melahirkan filosofi suku bangsa itu. Terasa ada persinggungan kearifan budaya dalam memahami Tuhan. Filsafat selalu mempertanyakan setiap hal, sementara teologi memberikan jawaban. Filsafat yang baik bertanya yang baik, teologi yang baik menjawab pertanyaan dengan baik pula. Buku ini menemukan persinggungan keduanya, mencari arah hubungan kesamaan filosofi Batak dengan teologia Kristen. Walau dengan jujur sebenarnya tidak ada persinggungan dan kesamaannya. Hanya mirip. Mirip tidak berarti sama.

Filosofi Batak mengajarkan sungkun mulani hata sisi mulani uhum, yang berarti bertanya akan membuka dialog, sementara yang tidak mau bertanya memutus komunikasi. Filosofi budaya yang dihubungkan dengan teologia yang berbunyi pantun hagoluan tois hamatean, yang berarti kesombongan membawa kematian, sopan santun sumber kehidupan.

Buku ini ditulis oleh seorang dari dua batakolog (ahli budaya Batak), Dr. Togar Nainggolan, antropolog lulusan Universitas Radboud Nijmen, Nederland. Ahli tentang budaya Batak yang lain adalah penulis sendiri, seorang pastor. Ahli yang lain, di samping kedua nama tersebut adalah Dr Jonnaes Warneck, Jc Vergouwen, Dr Philip Lumban Tobing, Raja Patik Tampubolon.

Tampak ada keterkaitan buku ini dengan buku sebelumnya, “Galasibot Permata Budaya Batak.” Galasibot adalah singkatan dari “Porhatian si bola timbang dan Par-ninggala sibola tali.” Galasibot mempertegas kearifan budaya Batak yang mengajarkan bahwa setiap orang harus bersikap adil. Tuntunan hidup ini juga mengajarkan perilaku tulus, tidak memihak. Tidak menggunakan senjata dalam memimpin.

Hatinya harus lurus, layaknya mata bajak (hudali) membelah tali. Harus bisa menjamin bahwa padi tidak akan dimakan burung sekalipun tidak dijaga, dan ternak aman di ladang sekalipun tanpa alat lecut. Hidup berjalan aman dan tertib bukan karena kuasa kerajaan, melainkan semata-mata karena etos habatahon, mengunakan nilai-nilai luhur orang Batak.

Teologia Batak

Paskah dalam budaya Yahudi adalah pengorbanan kurban yang terbaik untuk menebus dosa manusia. Sedangkan dalam agama Kristen Yesus sendirilah yang menjadi kurban Paskah. Paskah adalah perayaan umat Kristen atas penebusan Kristus lewat jalan salib (Via Dolorosa). Peristiwa itu ditetapkan sejak penyembelihan anak domba Paskah itu. Yesus menjadi kurban untuk keselamatan, yang dalam bahasa Ibrani disebut Zerah Syelamin. Kata Zerah berarti yang disembelih, sedangkan Syelamin kata jamak yang juga berarti Syalom.

Dalam budaya Batak disebut mangasetaon sebagai puncak segala perayaan Batak. Perayaan Tahun Baru Batak, mangase taon mengandung beberapa tujuan yang dianggap bisa memulihkan keselarasan dalam alam semesta (hal.125). Pelaksanaan mangase taon mengandung makna melaksanakan ritus agama, sebagai pohon kehidupan yang berkaitan dalam hidup, kemudian mengaca diri, merenungi nasib ciptaan di depan Sang Pencipta. Mangasetaon adalah ritual agama Batak yang mengharuskan persembahan horbo bius (kerbau kurban), sebagai bakti terhadap Mula Jadi Nabolon (Dewata).

Horbo bius adalah sebagai kurban dari sipir ni tondi untuk menguatkan roh, lebih tepatnya penebusan. Pemahaman yang menggerakkan iman untuk melaksanakan kurban penebusan. Konon, dalam magasetaon kehadiran iman mulia terpancar dalam diri Si Raja Inda-inda. Sebelum horbo bius dikorbankan, hewan itu terlebih dahulu diikat di pohon. Pohon manjadi medium (borotan). Sebelum dijadikan borotan terlebih dahulu harus diberi ritual penyembahan, memohon agar pohon yang sudah dilengkapi bersedia dijadikan borotan. Ritual ini menyiratkan bahwa pohon adalah medium yang juga menyebah Debata Mula Jadi Nabolon.

Dalam budaya Yahudi, setiap acara ritual harus ada domba yang dikurbankan. Persembahan kurban paling sering dilakukan ketika seseorang berbuat dosa. Domba yang sehat dipersembahkan sebagai penebusan dosa. Numun, dalam teologia Kristen kurban penebusan adalah Yesus, yang dikorbankan pada kayu salib untuk menebus manusia dari dosa.

Ada konsep yang disebut sibaran atau nasib yang dikatakan mirip tritunggal dalam agama Kristen. Ada Debata Banua Toru, Debata Banua Ginjang, Banua Tongga.

Di dalam agama Katolik ada ekaristi dan apostolik “Roti dan anggur dalam perayaan ekaristi adalah buah bungaran yang kita miliki, roti dan anggur. Dalam pemahaman Kristen darah dan nyawa manusia adalah kurban tertingi yang telah menyusuk sumsum pemahaman agama Kristen. Yesus sebagai kurban mengganti kurban bakaran orang Yahudi kala itu.”

Dalam ritus paskah, seorang Batak dapat merayakan misteri bahwa untuk menciptakan alam semesta, Mulajadi Nabolon, lebih dahulu menciptakan burung mistis, Manukmanuk Hulambujati. Burung ajaib inilah yang bertelur (martinam) tiga butir menjadi Debata Tolu, yaitu Batara Guru, Soripada dan Mangalabulan. Ketiganya berkuasa atas tiga benua: banua toru (benua bawah), banua tonga (benua tengah), banua ginjang (benua atas). Ketiganya mempunyai permaisuri, masing-masing Si Boru Pareme, Si Boru Panuturi, dan Siboru Sunde (hal 409).

Penulis menandaskan keseriusan menganut Kristen sepantasnya mendorong kita mencari perlambang-perlambang yang mendasar, bagaimana persinggungan teologi Batak dengan teologia Kristen. Salah satunya adalah perlambang burung untuk Allah Roh Kudus, dan telur paskah untuk merayakan kebangkitan misteri dari kehidupan. Terasa buku ini berupaya mencari benang merah yang bisa mempertemukan perlambang dalam agama parmalim dengan Kristen. Upaya yang pantas disambut dengan dua tangan. Namun, disayangkan penulisan buku ini agak kurang menarik, terutama karena paragrafnya yang terlalu panjang-panjang. ***

Dimuat di Majalah TAPIAN Edisi Januari 2009


Tahun Baru dan Reinkarnasi Sosial


Tahun Baru dan Reinkarnasi Sosial

oleh Jo Priastana *

Filsuf Yunani Herakleitos (500 SM) bilang hakekat segala sesuatu adalah perubahan. Tak ada orang yang menyangkal. Bahkan, Barack Obama, Presiden AS ke-44, yang baru saja terpilih, sungguh mempercayai dan dapat membuktikannya, dengan menyatakan Change, We Can Belive In! Perubahan. Itulah yang menjadi ciri fenomena dan kehidupan ini, dan yang memungkinkan konsep waktu mengalir menghadirkan Tahun Baru 2009!

Segalanya berubah bagai arus sungai yang mengalir. Bila filsuf Yunani lainnya, Parmenides (515-440 SM) menyatakan kebalikannya, bahwa yang ada hanyalah ketetapan, maka ketetapan ini pun barangkali hanya mungkin di dalam lintasan perubahan. Seperti arus listrik dalam nyalanya lampu iklan yang bergerak cepat membentuk kesatuan rentetan kata-kata yang sesungguhnya terjadi karena adanya rentetan lampu yang hidup-mati dengan cepatnya.

Perubahan sebagai ciri kehidupan juga diungkapkan Sang Buddha, sebagaimana yang dinyatakannya dalam hukum kesunyataan anicca (tidak kekal), anatta, (tiada substansi yang berdiri sendiri) dan dukkha (fenomena penderitaan sebagai yang tidak memuaskan). Melalui arus perubahan dan ketidak-kekalan serta tiada subastansi diri yang kekal itulah menghadirkan samsara (sejarah eksistensial) manusia melalui reinkarnasi penerusan kelahiran kembali (punarbhava) yang merupakan ziarah manusia dalam menyelesaikan segala sesuatu yang masih belum memuaskan.

Segala yang belum memuaskan memerlukan perwujudannya kembali. Perubahan yang menandai beragam fenomena kehidupan dan menjadi ciri segala apa yang terdapat di alam semesta ini menunjukkan bahwa kehidupan ini adalah suatu proses perwujudan baru yang terus-menerus. Dalam bingkai hukum kesunyataan lainnya, seperti hukum niyama (ketertiban bersyarat), fenomena perubahan atau reinkarnasi itu terjadi baik dalam dunia inorganic (utu-niyama) maupun dunia organic (bija niyama), serta pada ragam dunia kehidupan, baik itu lingkungan budaya maupun lingkungan sosial, baik pada dunia ide (citta) maupun dunia kesadaran (vinnana) serta pada tindakan-tindakan (karma) dan kehidupan bersama manusia.

Dunia sosial pun tak luput dari hukum perubahan. Reinkarnasi sosial terjadi sepanjang sejarah dan peradaban manusia. Dalam perjalanan waktu, manusia hadir, tumbuh dan berkembang dengan kesosialannya menumbuhkan dan memperbaharui sistim-sistim sosialnya. Sistim sosial masyarakat zaman batu beralih menjadi sistim sosial masyarakat zaman perunggu, zaman besi, atau sistim sosial masyarakat agraris yang tumbang berganti sistim sosial industrial, dan sistim sosial feodal, monarki yang beralih ke sistim sosial yang demokratis, serta kehidupan masyarakat yang semakin global dalam jaringan Internet mencairkan sistim sosial yang terpusat dan menghadirkan perwujudan sistem sosial baru hasil interaksi dari beragam sistim sosial.

Segalanya menghadirkan kebaruan. Alam berubah, waktu mengalir, peradaban manusia tumbuh, berkembang dan lenyap. Jutaan sel dalam tubuh mati dan lenyap sepanjang hari sebagaimana manusia yang selalu hadir dan lenyap, lahir dan mati dan bertumimbal lahir bersalin wujud baru dalam ziarah samsara-nya. Lingkungan budaya dan lingkungan sosial manusia berubah, menampakkan pembaharuan dan mewujudkan kehidupan barunya yang merentang dalam aliran waktu yang tak terbatas (amitayus).

Mempercayai perubahan berarti kita tumbuh dalam kehidupan. Menjalani kehidupan berarti berani menatap perubahan yang senantiasa menghadirkan pembaharuan. Karenanya kelahiran kembali (reinkarnasi) itu merupakan suatu perjalanan hidup baru, perjalanan kembali menemukan pembaharuan kehidupan, di mana diri yang tidak ber-substansi kekal itu (anatta) yang tidak memuaskan (dukkha) sesungguhnya adalah tubuh sosial, diri altruis yang mewujudkan tubuh sosial dan berujung pada pembaharuan sosial. Kemanakah arah perwujudan baru dari tubuh sosial masyarakat kita di tahun 2009 ini?

Perjalanan kehidupan dimulai dengan awal baru dalam kondisi yang telah diperbaharui. Layaknya sepasang pengantin yang mendapat ucapan selamat menempuh hidup baru, maka kehidupan sosial-politik, seperti Pemilu 2009 merupakan malam pengantin dari berbagai kelompok sosial dan lapisan masyarakat Indonesia untuk mewujudkan pembaharuan, sebagai suatu momentum peralihan kehidupan atau titik- antara (antarbhava) untuk terjadinya reinkarnasi sosial lahirnya Indonesia Baru.

Dalam konteks perjalanan spiritual manusia, reinkarnasi terjadi sebagaimana juga terjadinya perkawinan dan kematian. Pertemuan dan perpisahan yang merupakan fenomena yang satu bagaikan dua sisi dari satu keping mata uang yang satu dan sama, di mana arus penyatuan (kamma tanha) dan dambaan akan kehidupan baru (bhava tanha) terus berlanjut melalui kerjanya kesadaran penerusan (patisandhi vinnana) dan kesadaran menjelang ajal (cutti citta), yang mempesona terjadinya perwujudan tubuh dan kesadaran baru (nama-rupa) serta lahirnya generasi baru.

Reinkarnasi terjadi dalam mengenakan tubuh baru sebagai ziarah samsara, lingkaran kelahiran yang terus berulang guna menemukan nirvana. Nirvana yang mengatasi segala yang tidak memuaskan (dukkha) dan merengkuh kesempurnaan dalam paradoks dialektika yang menyatukan segaka wujud dualisme; lahir-mati, duka cita-suka cita dalam titik pusat keheningan, kepenuhan dalam kekosongan (sunyata).

Oleh kecerdasannya, manusia yang bijaksana dapat mengarahkan kehidupan dan mengendalikan putaran nasibya.. Namun, seringkali orang yang bebal yang meninggalkan kesadarannya sangat menyandarkan nasibnya pada bintang yang berada jauh di langit tinggi. Namun, apa yang bisa diberikan bintang-bintang itu bila tanpa usaha diri sendiri. Sang Buddha pernah berkata: “kesadaran adalah kehidupan dan kepandaian merupakan bintang keberuntungan kita.”

Dunia ini merupakan suatu fenomena yang tidak abadi. Kita merupakan bagian dari dunia ini dalam suatu segmen waktu yang singkat dan mengalami transformasi tak terbatas. Setiap kata yang ditulis, setiap batu yang dipahat, setiap lukisan artistik, setiap struktur kebudayaan, setiap generasi manusia pada akhirnya akan lenyap, seperti halnya daun gugur di musim semi yang akhirnya akan dilupakan. Namun, karena setiap eksistensi itu tumbuh dalam saling bergantung satu sama lain (pratitya samutpada) dan saling berpenetrasi, maka dalam kelenyapannya itu mereka pun bersintesis menarik unsur-unsurnya satu sama lain dan mengalami reinkarnasi, bertransformasi dan menemukan pembaharuan kembali dalam perwujudannyas yang baru.

Perlu berapa lama kita menjalani hidup? Adakah kehidupan saat ini tidak cukup juga hingga perlu berlanjut pada kelahiran berikutnya? Dikatakan oleh Sang Buddha bahwa nilai kehidupan itu bukan terletak pada panjang pendeknya hidup. Hidup seratus tahun belum tentu sebaik kalau menjadi seorang yang sangat waspada dan sadar, berguna meski dalam sehari. Karenanya bukan waktu masa lalu dan waktu masa depan yang menentukan perubahan, namun kebangkitan kesadaran dan tindakan-tindakan saat inilah yang merangkum dan memberi makna masa lalu serta menentukan masa depan.

Dalam waktu masa kini itulah ada keberadaan dan kehidupan serta terjadi perubahan maupun pembaharuan. Di mana tidak ada perubahan dan pembaharuan maka di situ tidak ada apa-apa, tidak ada kehidupan. Hanya dalam kehidupan saat ini dan di sini yang terus menghadirkan perubahan dan pembaharuan sebagaimana juga tumbuhnya kesadaran yang terus menerus. Karena segala sesuatu yang hidup ada waktunya, maka biarkanlah dia hadir. Kehidupan itu sendiri adalah kesadaran, maka biarkan kesadaran itu bangkit. Kebangkitan kesadaran itulah yang dinamakan Buddha.

Kebangkitan kesadaran (Buddha) yang terentang dalam waktu tak terbatas dan mengalir secara abadi (amitabha)) itu terus aktif berkarya mewujudkan tubuh dharmanya (dharmakaya), menjadi tubuh sosial Bodhisattva. Bodhisattva yang bersifat altruis, penuh damai, kasih sayang dan terus berkarya sepanjang waktu bagi pembebasan makhluk yang menderita tidak lain adalah reinkarnasi sosial pencerahan Buddha. Bodhisattva yang tidak lain adalah diri kita sendiri yang hidup bermakna bagi orang lain dan yang menjadikan kebangkitan kesadaran sebagai kekuatan spiritual untuk menciptakan transformasi sosial, mewujudkan perubahan dan pembaharuan sosial. Selamat Tahun Baru 2009! ***

*) Pengajar pada sekolah tinggi agama Buddha Nalanda, Jakarta.

Dimuat di Majalah TAPIAN Edisi januari 2009

Amir Syarifuddin Harahap, Perdana Menteri RI yang Dilupakan


Amir Syarifuddin Harahap, Perdana Menteri RI yang Dilupakan

Oleh : Hotman Jonathan Lumbangaol

15-Des-2008, 16:55:34 WIB - [www.kabarindonesia.com]

KabarIndonesia - Sejarah kerap mencatat bahwa revolusi telah memakan anaknya sendiri. Amir Syarifuddin Harahap (1907-1948), mantan Perdana Menteri ke-2 Indonesia ini menjadi korban revolusi yang turut dia lahirkan. Amir meninggal dengan tragis pada 19 Desember 1948, saat dieksekusi oleh regu tembak bersama sembilan orang tanpa nama.

Tak banyak literatur dan informasi tentang putra Mandailing ini. Itu sebabnya sosoknya tidak banyak yang tahu. Jarang diangkat media. Informasi tentang pejuang ini selalu diberangus. Satu fakta, tahun 1984 Penerbit Sinar Harapan menerbitkan tesis Frederiek Djara Wellem yang diluncurkan di Gedung STT Jakarta, Jalan Proklamasi, Jakarta Pusat. Buku biografi diberi judul “Amir Syarifuddin; Pergumulan Iman dan Perjuangan Kemerdekaan”. Namun, tidak berapa lama buku itu di-sweeping, dilarang beredar, di masa pemerintahan Soeharto karena dianggap merusak sejarah Indonesia.

Buku itu dianggap sesat. Padahal, dialah salah seorang bapak pendiri bangsa dalam memperjuangkan eksistensi NKRI. Perjuangannya tidak pernah dihargai negara. Pusara, gundukan makamnya, tertulis nisan tanpa nama, di Desa Ngaliyan, Karanganyar, Jawa Tengah. Makam untuk mantan perdana menteri ini tidak seperti sejawatnya, Soekarno, Hatta dan Syharier menerima penghargaan berupa bintang jasa.

Digelari sebagai pahlawan, dan dikubur di makam yang terhormat. Pada 27 Mei 2008 lalu, untuk mengenang jasa-jasanya, STT Jakarta mempelopori seminar bertajuk “Amir Syarifuddin Nasionalis Pejuang Kemerdekaan dan Pembebasan Rakyat”. Tampil sebagai pembicara: Setiadi Reksoprodjo mantan menteri pada kabinet Amir Syarifuddin, Ketua STT Jakarta Dr. Jan .S Aritonang, Aswi Warman Adam dosen sejarah dan peneliti. Seminar dimoderatori Fadjroel Rahman.

Pengkotbah
Amir belia lahir di Tapanuli Selatan 27 April 1907. Ayahnya keturunan kepala adat dari Pasar Matanggor, Padang Lawas, bernama Djamin Baginda Soripada Harahap (1885-1949), mantan jaksa di Medan. Sementara ibunya, Basunu Siregar (1890-1931), lahir dari keluarga Batak-Melayu.

Keluarga ibunya telah berbaur dengan masyarakat Melayu di Deli. Maka, kalau itu ada istilah “Kampak bukan sembarang kampak. Kampak pembela kayu. Batak bukan sembarang Batak. Batak masuk Melayu”. Zaman itu, besar-besaran orang Batak eksodus ke Deli, sebagai pusat perkebunan.

Masa remaja, Amir menimba pendidikan Belanda di ELS setara Sekolah Dasar di Medan sejak tahun 1914 hingga tahun 1921. Tahun 1926 atas undangan sepupunya, T.S.G. Mulia pendiri penerbit Kristen BPK Gunung Mulia yang baru saja diangkat sebagai anggota Volksraad (dewan) belajar di kota Leiden, Belanda mengajak Amir untuk juga sekolah disana.

Di Belanda, Amir aktif berorganisasi pada Perhimpunan Siswa Gymnasium, Haarlem. Selama masa itu pula dia aktif mengelar diskusi-diskusi Kelompok Kristen, di kemudian hari Kelompok Kristen menjadi embrio Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI).

Di Belanda, dua sepupu itu menumpang di rumah seorang guru penganut Kristen Calvinis bernama Dirk Smink. Kristen Calvinisme adalah aliran gereja yang ketat soal doktrin, dari spirit bapak Gereja, John Calvin (1509-1564). Sebenarnya Amir Syarifuddin seorang muslim dan keluarga Muslim. Berpindah agama Kristen saat di Belanda. Dia tidak saja hanya berpindah iman tetapi mendalami agama Kristen sungguh-sungguh.

Tiap hari Minggu turut berkotbah. Kotbahnya selalu menyetuh, dan meneguhkan banyak orang. Paparannya tentang Injil sangat mendalam. Dia adalah penganut agama Kristen yang taat. Terbukti, detik-detik terkhir hidupnya, dia menggengam Alkitab saat ditembak.

Pejuang Pembebasan
Sebuah dokumen Netherlands Expeditionary Forces Intelligence Service (NEFIS), menyebutkan, instansi rahasia yang dipimpin Van Mook, 9 Juni 1947 menulis tentang Amir; "ia mempunyai pengaruh besar di kalangan massa dan orang yang tak mengenal kata takut".

Pada September 1927, sekembalinya dari Belanda, Amir masuk Sekolah Hukum di Batavia dan tinggal di asrama pelajar Indonesisch Clubgebouw, Kramat nomor 106. Dalam memperjuangkan kemerdekan Indonesia, dia terlibat berbagai pergerakan bahwa tanah.

Tahun 1931, Amir mendirikan Partai Indonesia (Partindo). Lalu, mendirikan Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo) sembari menulis dan menjadi redaktur “Poedjangga Baroe”. Berjuang untuk pembebasan dari belenggu penjajah, benih-benih perjuang itu pun makin mekar saat Amir bertemu para tokoh pejuang seperti Mr. Muhammad Yamin, Muhammad Husni Thamrin. Dari sana Amir aktif diskusi Politik Indonesia bersama para tokoh kala itu.

Pada bulan Januari 1943 dia tertangkap oleh fasis Jepang, karena dianggap pemberontak. Kejadian itu membongkar jaringan, organisasi anti fasisme Jepang yang dimotori Amir. Kelak ketika menjadi Menteri Pertahanan, mengangkat para pembantunya yang terdekat, teman-teman satu pergerakan.

Saat menjabat Menteri Pertahanan, Amir tidak sependapat terhadap kebijakan Hatta karena pengurangan jumlah tentara, dari 400 ribu menjadi 60 ribu tentara. Menurutnya, layaknya tentara, satu banding tiga, satu tentara untuk menjaga tiga orang penduduk. Lalu, di Kabinet Sjahrier pada tanggal 12 Maret 1946, Amir Sjarifuddin diangkat menjadi Menteri Pertahanan dari Partai Sosialis, dikemudian hari berafiliasi dengan Komunis.

Tan Malaka dan Kelompok Persatuan Perjuangan menculik Perdana Menteri Sjahrier. Dari Amir menjadi Perdana Menteri. Kala itu, perdana menteri bisa jatuh kapan saja jika tidak didukung parlemen dan partai. Sesudah Amir mangkat, tahun 1950-an, zaman demokrasi parlementer, tujuh kali pengantian perdana menteri terjadi.

Dalam Persetujuan Renville, Amir sebagai negosiator utama dari Republik Indonesia, dianggap gagal. Kabinet Amir Sjarifuddin bubar. Amir mengundurkan diri dengan sukarela dan tanpa perlawanan samasekali, ketika disalahkan atas persetujuan Renville oleh golongan Masyumi dan Nasionalis. Kageriaan itu. Peristiwa pemberontakan Madium tahun 1948 yang memilukan, disebut dilakukan PKI atas restu Amir Syarifuddin, tidak pernah terbukti.

Sepeninggalnya; keluarganya mendapat perlakuan yang tidak sewajarnya. Anak-anaknya mendapat diskriminasi. Untuk makan saja waktu itu keluarga ini harus terlunta-luntah. Salah satu anaknya, Helena, saat ini bekerja di Sekolah Johnny Andrean, mengatakan, masa sepeninggalan sang ayah, hidup mereka terlantar.

Kini, atas bantuan lembaga swadaya masyarakat, Omnes Unum Sint Institut, dan Komisi Hak Asazi Manusia membantu perizinan pembangunan makam tanpa nama itu, kini sudah diperbaiki. Inilah sejarah. Indikasi keterlibatanya pada pemberontakan PKI di Madiun masih samar. Amir dieksekusi tanpa pernah diadili. Divonis tanpa terbukti salahnya di mana. Aswi Warman Adam pengurus Masyarakta Sejarahwan Indonesia menulis, sepanjang hidupnya, dia hidup dari kamp ke kamp. Perjuanganya tidak pernah dihitung. Narsis. (*)

*) Penulis adalah pemerhati budaya Batak, seorang jurnalis budaya Batak.


Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com



Pendiri Jong Batak, Pahlawan yang Diberangus Sejarah

Pendiri Jong Batak, Pahlawan yang Diberangus Sejarah
Oleh : Hotman Jonathan Lumbangaol

12-Jan-2009, 22:09:21 WIB - [www.kabarindonesia.com]

KabarIndonesia - Amir Sjarifuddin Harahap hidup pada masa 1907-1948. Beliau lahir di Tapanuli Selatan 27 April 1907. Ayahnya, Djamin Baginda Soripada Harahap (1885-1949) keturunan kepala adat dari Pasar Matanggor, Padang Lawas dan mantan jaksa di Medan. Ibunya, Basunu Siregar (1890-1931), lahir dari keluarga Batak-Melayu.

Karakternya sejak kecil sudah telihat berkepribadian teguh, si Jugulbaut (si Badung). Masa remaja, Amir menimba pendidikan Belanda di ELS setara Sekolah Dasar di Medan sejak tahun 1914 hingga tahun 1921. Tahun 1926 atas undangan sepupunya, TSG. Mulia pendiri penerbit Kristen BPK Gunung Mulia yang baru saja diangkat sebagai anggota Volksraad (Dewan) belajar di Kota Leiden, Belanda mengajak Amir untuk juga sekolah di Belanda.

Di Belanda, Amir aktif berorganisasi pada Perhimpunan Siswa Gymnasium, Haarlem. Selama masa itu pula dia aktif mengelar diskusi-diskusi Kelompok Kristen, di kemudian hari Kelompok Kristen menjadi embrio lahirnya Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia. Di Belanda, dua sepupu ini menumpang di rumah seorang guru penganut Kristen Calvinis bernama Dirk Smink.

Kristen Calvinis adalah aliran gereja yang ketat soal doktrin. Calvisnis berasal dari spirit ajaran John Calvin (1509-1564). Sebenarnya Amir Sjarifuddin seorang Muslim. Berpindah agama Kristen saat di Belanda, tetapi dibaptis di HKBP Kernolong, Jakarta tahun 1931. Dia tidak saja hanya berpindah iman tetapi mendalami agama Kristen sungguh-sungguh.

Tiap hari Minggu turut berkhotbah. Khotbahnya selalu menyetuh, dan meneguhkan banyak orang. Paparannya tentang Injil sangat mendalam. Amir adalah orang yang berpengetahuan tinggi, soal politik dan teologia. Bahasanya sederhana dan lugas. Amir sebagai seorang orator yang sangat brilyan, yang suka membumbui kata-katanya dengan humor, karenanya ia menjadi sangat populer.

Sebagai orang yang Kristen sejati, Ade Rostina Sitompul, aktivis kemanusiaan. Ade punya kenangan pada sosok Amir Sjarifuddin, karena ayahnya Kasianus Sitompul berkawan dengan Amir. Amir tinggal di Daerah Guntur, Jalan Sumbing. Kawasan Guntur terkenal dengan kampung Batak. Kala itu, orang Batak bergereja di rumah salah satu warga bermarga Nainggolan, disanalah sering Amir berkotbah.

“Kohtbahnya bersemangat nasionalisme. Bagaimana mengusir Jepang, bagaimana hidup sebagai Kristen. Dia bercerita bagaimana kenangan-nya dipenjara Jepang, dia suruh minum sebanyak-banyaknya, lalu dia digantung dengan kepala ke bawah, lalu air tumpah keluar semua. Saya melihat sosok Amir itu adalah orang yang bersahabat, selalu mengajak anak-anak dialog. Yang pertama dia Tanya sudah berdoa belum? Namanya harus dipulihkan. Apalagi setelah buku yang ditulis dengan Sumarsono itu,” ujar Ade Rostina Sitompul.
Soal semangatnya Kristen-nya, Amir Sjarifuddin mengidolakan Toyohiko Kagawa (1888-1942). Kagawa adalah tokoh Kristen Jepang, yang dulunya adalah penganut agama Shinto. Hidup dengan orang-orang miskin di daerah kumuh, Shinkawa, Jepang.

Dia dikenal sebagai bapak dari gerakan buruh di Jepang, seorang pendiri Serikat Buruh pertama di Jepang yang menyerukan melawan materialisme, kapitalisme. Bagi Kagawa, Kekristenan seharusnya malu mendirikan gereja-gereja besar dan mahal, tetapi gagal mengikuti manusia yang lahir di palungan dan dikubur makan milik orang lain. Bagi Kagawa Salib Jesus itu kuasa yang besar.

Amir tidak hanya pintar berbicara, tetapi pintar menulis. September 1927, sekembalinya dari Belanda, Amir masuk Sekolah Hukum di Batavia dan tinggal di asrama pelajar Indonesisch Clubgebouw, Kramat nomor 106. Dalam memperjuangkan kemerdekan Indonesia, dia terlibat berbagai pergerakan bahwa tanah. Tahun 1931, Amir mendirikan Partai Indonesia (Partindo).

Lalu, mendirikan Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo) sembari menulis dan menjadi redaktur “Poedjangga Baroe”. Tahun 1928-1930 dia adalah pimpinan redaksi majalah Perhimpunan Pemoeda Pelajar Indonesia (PPPI). Sebagai seorang wartawan, dia menulis dengan nama samaran "Massa Actie".

Tahun 1942, sebelum dipenjara Jepang, Amir bersama sejumlah orang Kristen menerbitkan Boekoe Peringatan Hari Djadi Isa A-Maseh. Pada bulan Januari 1943 dia tertangkap oleh fasis Jepang, karena dianggap pemberontak. Kejadian itu membongkar jaringan, organisasi anti-fasisme Jepang yang dimotori Amir. Amir dituduh memimpin gerakan di bawah tanah yang dibiayai dengan uang sebesar 25 ribu Gulden dari Van der Plas.

Untuk hal ini, Amir dihukum mati oleh Jepang. Namun, intervensi Soekarno hukuman itu tidak dilaksanakan. Sebuah dokumen Netherlands Expeditionary Forces Intelligence Service (NEFIS), menyebutkan, instansi rahasia yang dipimpin Van Mook, 9 Juni 1947 menulis tentang Amir; "ia mempunyai pengaruh besar di kalangan massa dan orang yang tak mengenal kata takut".

Juli 1945, Amir menulis di Harian Belanda “Nieuwsgier”, bahwa ia tidak seperti Sjahrir, yang sudah merasa senang dengan berada di tengah kalangan intelektual. Zaman baru ini mendorong umat Kristen Indonesia untuk lebih serius memikirkan masa depannya. Berbuat untuk negara ini.

Pendiri Jong Batak

Tahun 1925, sejak “Jong Sumatra”, kesadaran Batak mulai mucul. Amir Sjarifuddin, Sanusi Pane (1905-1968), dan teman-temanya yang sesama etnis Batak, mendirikan organisasi yang disebut “Jong Batak”. Organisasi pemuda Batak ini dibentuk atas kesadaran, karena nominasi “Minang” yang lebih dominan di organisasi “Jong Sumatra “ itu.

Atas kesadaran itu Amir dan rekannya membangun semangat baru bagi pemuda Tanah Batak. Salah satu kesepahaman mereka adalah “Bahasa Batak kita begitu kaya akan puisi, pepatah dan pribahasa yang kadang-kadang mengandung satu dunia kebijaksanaan tersendiri. Bahasanya sama dari Utara ke Selatan, tapi terbagi dengan jelas dalam berbagai dialek. Kita memiliki budaya sendiri, aksara sendiri, seni bangun yang tinggi mutunya, yang sepanjang masa tetap membuktikan bahwa kita memiliki nenek-moyang yang perkasa. Sistim marga yang berlaku bagi semua kelompok penduduk negeri kita menunjukkan adanya tata Negara lama yang bijak. Kita mempunya hak untuk mendirikan sebuah Perserikatan Batak yang khas, yang dapat membela kepentingan-kepentingan kita dan melindungi budaya kuno kita…” (Hans Van Miert, hal 475).

Dihapus dari Sejarah

Dia dieksekusi pada Peristiwa Madiun tragis 19 Desember 1948, pada usia 41 tahun. Dihujat berlebihan. Purbasangka yang tak berdasar. Orang PKI menyebutnya, “krucuk” anak bawang dalam politik, dia nyaris tidak mendapat tempat dari teman-temannya. Lawan politiknya menyebutnya dia arogan.

Pada 29 November 1948, Amir dua rekannya Soeripino dan Harjono bersembunyi di sebuah gua di Pengunungan Gua Macan, sebelah Utara Klabu, Panebahan. Dari dalam gua Amir sempat menyerukan “Saya hanya mau menyerah pada pasukan Panebahan Senopati.” Baru menyerahkan diri tanpa menggunakan sepatu, berpiyama dan memegang pistol, janggutnya tidak terurus dan rambutnya acak-acakkan.

Amir diberondong senjata tim eksekusi, suruhan Kolonel Gatot Subroto, distigma otak dari semua malapetaka Madiun 1948. Sebelum ditembak, Amir sempat bertanya ke komandan regu tembak. “Apakah niatnya itu sudah dia pikirkan dengan matang. Bahwa jika saya mati, negara akan rugi besar,” dengan tegas dijawab “Saya mengikuti komando”.

Untuk terakhir kalinya, Amir sempat menulis surat untuk isterinya. Setelah itu dia bernyanyi Indonesia Raya dan Internasionale baru ditembak. Saat dieksekusi ia memegang Alkitab. Wartawan senior, Rosihan Anwar menulis, Amir dieksekusi dengan menggenggam sebuah buku doa Kristen, bukan Alkitab.

George Mc Turnan Kahin penulis buku Nationalism and Revolution in Indonesia menceritakan bahwa Amir Sjarifuddin menjadi tokoh oposisi di barisan Sayap Kiri karena Dia merasa ditinggalkan oleh Aerika yang katanya jago demokrasi itu. Amir Sjarifuddin "kecewa kepada Amerika sewaktu perundingan Renville".

Kegengerian itu tidak hanya berhenti disitu. Setelah dia mati, keluarganya terluntah-luntah. Dua tahun setelah meninggal, atas perintah Presiden Soekarno, pada tanggal 15 November 1950, pusaranya digali kembali, dilakukan proses identifikasi selama seminggu. Setelah proses identifikasi, diadakan serah terima kerangka kepada keluarga, dimakamkan kembali dengan nisan masing-masing berjajar.

Masa Orde Baru tahun 1965, pasca-G30S, sekelompok pemuda menghancurkan pusara itu lagi. Lalu ditutupi dengan potongan rel kereta api, setiap sisi diberi cor semen. Makam-makam baru juga dibangun bersebelahan dengan setiap sisi sehingga kerangka Amir Sjarifuddin sulit dipindahkan keluarga.

Warga desa Ngaliyan tidak berani menghalang-halangi pemuda-pemuda tersebut sebab pada saat itu terror juga turut mereka rasakan. Kesulitan untuk memugar makam tersebut dirasakan pihak keluarga harus mengurus perizinan yang rumit dari aparat pemerintah desa hingga pemerintah pusat. Lucunya harus persetujuan Kodim serta pihak Departemen Pertahanan Keamanan.
Informasi tentang Amir Sjarifuddin pun sengaja ditutup-tutupi. Di sekolah, belajar sejarah, nama Amir tidak pernah terdengar. Itu sebabnya sosoknya tidak banyak yang tahu, dan jarang diangkat media. Informasi tentang pejuang-nya selalu dibragus.

Satu fakta, Majalah Prisma tahun 1982 pernah hampir dibredel karena memuat tentang tulisan Amir Sjarifuddin, dalam rangka 75 tahun Amir Sjarifuddin. Tahun 1984 Penerbit Sinar Harapan pernah menerbitkan tesis Frederiek Djara Wellem berjudul: “Amir Syarifuddin; Pergumulan Iman dan Perjuangan Kemerdekaan”. Sayang, buku itu di-sweeping oleh pemerintahan Soeharto, karena dianggap merusak sejarah Indonesia.
Pada 27 Mei 2008 lalu, untuk mengenang jasa-jasanya, STT Jakarta mempelopori seminar bertajuk “Amir Syarifuddin Nasionalis Pejuang Kemerdekaan dan Pembebasan Rakyat”. Tampil sebagai pembicara: Setiadi Reksoprodjo mantan menteri pada kabinet Amir Syarifuddin, Ketua STT Jakarta Dr. Jan .S Aritonang, Aswi Warman Adam dosen sejarah dan peneliti. Seminar dimoderatori Fadjroel Rahman.

Perjuanganya tidak pernah dihargai negara. Untuk pemugaran makam-nya saja dibutuhkan waktu 60 tahun. Pemungaran baru bisa tahu lalu dipelopori lembaga Ut Omnes Unum Sint Institute dalam bahasa Latin, yang artinya Agar Semua Satu Adanya. Lembaga yang didirikan 17 pemuda Batak, saat ini diketuai Jones Batara Manurung. Pemungaran tepatnya dimulai 12 Agustus 2008, dengan serangkaian tahapan antara lain: Pertama, pendekatan pada warga desa Ngaliyan dengan koordinasi dengan Komnas HAM.

Lalu dilakukan pertemuan seputar teknis pelaksanaan pemugaran, oleh Ut Omnes Unum Sint Institute memberitahukan perihal rencana pemugaran pada pihak pihak Kecamatan Karanganyar. Setelah pemugaran selesai, tanggal 14 November diadakan Ibadah Syukur di Gereja Dagen Palur, Solo dihadiri para undangan dari berbagai Gereja, LSM, organisasi kemahasiswaan di Solo dan Yogyakarta.
Saat ini di Desa Ngaliyan, setiap bulan “Ruwah”, satu bulan sebelum puasa Islam warga punya tradisi membersihan, perbaikan makam. Bagi masyarakat Ngaliyan, Amir Sjarifuddin dan kawan-kawan adalah pahlawan. Dulu, setiap bulan Ruwah, warga Ngaliyan tidak berani membersihkan makam, takut dicap PKI. Sebutan tak kalah kejam adalah dia disebut seorang ateis, atau seorang yang beragama komunis.

Tetapi kebenaranya sejarah merungkap bahawa ideologi politiknya memang komunis, tetapi dia bukan anti-agama. Para pemimpin agama anti-komunislah menyebut dia ateis. Amir jelas penganut humanis, politikus flamboyan, seniman. Tak kala galau dia mengesek biola saban dulu menjadi kegemarannya. Tidak ada tanda-tanda dia ateis. Aristoteles mengatakan “Nilai manusia, bukanlah ditentukan oleh kehancuran hidup dan cita-citanya tetapi oleh perjuangannya mempertahankan harkat kemanusiaannya.” Kata-kata itulah yang tepat mengambarkan hidup tragis Amir Syarifuddin Harahap. (*)


* Penulis adalah wartawan budaya Batak
Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com



Amir Syarifuddin: Pejuang Pembebasan


Amir Syarifuddin: Pejuang Pembebasan

Hotman J Lumbangaol

Revolusi telah memakan anaknya sendiri. Amir Syarifuddin Harahap (1907-1948), mantan Perdana Menteri ke-2 Indonesia ini menjadi korban revolusi yang dia lahirkan sendiri. Meninggal tragis pada 19 Desember 1948, saat dieksekusi oleh regu tembak bersama sembilan orang tokoh tanpa nama.

Tak banyak literatur dan informasi tentang putra Mandailing ini. Itu sebabnya sosoknya tidak banyak yang tahu, jarang diangkat media. Informasi tentang pesohor ini selalu dibragus. Satu fakta, tahun 1984 Penerbit Sinar Harapan menerbitkan tesis Frederiek Djara Wellem yang dilauncing di STT Jakarta di Jalan Proklamasi, Jakarta Pusat yang berjudul “Amir Syarifuddin; Pergumulan Iman dan Perjuangan Kemerdekaan”. Tidak berapa lama, buku itu di-sweeping masa pemerintahan Soeharto karena dianggap merusak sejarah Indonesia.

Buku biografi tentang Amir Syarifuddin Harahap sesat. Padahal, dialah salah seorang bapak pendiri bangsa dalam memperjuangkan eksistensi NKRI. Padahal, penghargaanya tidak pernah dihargai Negara yang diperjuangkannya. Di pusara, gundukan makamnya, terlulis nisan tanpa nama, di Desa Ngaliyan, Karanganyar, Jawa Tengah. Tidak seperti sejawatnya, Soekarno, Hatta dan Syharier menerima penghargaan berupa bintang Jasa. Dihargai sebagai pahlawan, dan dikubur di makam yang terhormat.

Pada 27 Mei 2008 lalu, untuk mengenang jasa-jasanya , STT Jakarta mempelopori seminar bertajuk: “Amir Syarifuddin Nasionalis Pejuang Kemerdekaan dan Pembebasan Rakyat”. Tampil sebagai pembicara: Setiadi Reksoprodjo mantan menteri pada kabinet Amir Syarifuddin. Ketua STT Jakarta Dr. Jan .S Aritonang. Aswi Warman Adam dosen sejarah dan peneliti. Dimoderatori Fadjroel Rahman.


Pengkotbah

Amir belia lahir di Tapanuli Selatan 27 April 1907. Ayahnya keturunan kepala adat dari Pasar Matanggor, Padang Lawas, bernama Djamin Baginda Soripada Harahap (1885-1949), mantan jaksa di Medan. Sementara ibunya, Basunu Siregar (1890-1931), lahir dari keluarga Batak yang telah membaur dengan masyarakat Melayu di Deli. Zaman itu, saat Belanda membuka perkebunan besar-besaran di Deli, banyak orang Batak eksodus ke daerah ini. Maka, kalau itu ada istilah “Kampak bukan sembarang kampak. Kampak pembela kayu. Batak bukan sembarang Batak. Batak masuk Melayu”.

Masa remaja, Amir menimba pendidikan Belanda di ELS semacam Sekolah Dasar di Medan tahun (1914-1921). Sementara, tahun 1926 atas undangan sepupunya, T.S.G. Mulia pendiri penerbit Kristen BPK Gunung Mulia yang baru saja diangkat sebagai anggota Volksraad (dewan) belajar di kota Leiden, Belanda mengajak Amir untuk juga sekolah disana.

Di Belanda, Amir aktif berorganisasi pada Perhimpunan Siswa Gymnasium, Haarlem. Selama masa itu pula dia aktif mengelar diskusi-diskusi Kelompok Kristen, kemudian hari menjadi embrio Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI). Di sana, dua sepupu itu menumpang di rumah seorang guru pemeluk Kristen Calvinis bernama Dirk Smink. Kristen Calvinisme adalah aliran gereja dari spirit bapak Gereja, John Calvin (1509-1564).

Amir Syarifuddin yang dulunya berasal dari keluarga Muslim, berpindah agama menjadi Kristen. Dia tidak saja hanya berpindah iman tetapi mendalami agama Kristen sungguh-sungguh. Tiap hari Minggu turut berkotbah. Kotbahnya selalu menyetuh, dan meneguhkan banyak orang. Penggaliannya terhadap Injil sangat mendalam. Itu sebabnya, detik-detik terkhir hidupnya, dia menggengam Alkitab.


Pejuang Pembebasan

Sebuah dokumen Netherlands Expeditionary Forces Intelligence Service (NEFIS), menyebutkan, instansi rahasia yang dipimpin Van Mook, 9 Juni 1947 menulis tentang Amir; "ia mempunyai pengaruh besar di kalangan massa dan orang yang tak mengenal kata takut".

Pada September 1927, sekembalinya dari Belanda, Amir masuk Sekolah Hukum di Batavia dan tinggal di asrama pelajar Indonesisch Clubgebouw, Kramat 106. Dalam memperjuangkan kemerdekan Indonesia, dia terlibat berbagai pergerakan bahwa tanah. Tahun 1931, Amir terlibat mendirikan partai Indonesia (Partindo).

Amir juga mendirikan Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo) sembari menulis dan menjadi redaktur “Poedjangga Baroe”. Berjuang untuk pembebasan dari belenggu penjajah, benih-benih perjuang itu pun makin mekar saat bertemu para tokoh pejuang seperti Mr. Muhammad Yamin, dan Amir aktif pada diskusi Politik Indonesia bersama Muhammad Husni Thamrin.

Pada bulan Januari 1943 dia tertangkap oleh fasis Jepang, karena dianggap pemberontak. Di tengah gelombang-gelombang penangkapan yang berpusat di Surabaya. Kejadian ini membongkar jaringan, organisasi anti fasisme Jepang yang dimotori Amir. Kelak ketika menjadi Menteri Pertahanan, mengangkat para pembantunya yang terdekat, teman-teman satu pergerakan.

Ketika menjabat Menteri Pertahanan, Amir tidak sependapat terhadap kebijakan Hatta karena pengurangan jumlah tentara, dari 400 ribu menjadi 60 ribu tentara. Menurutnya, layaknya tentara, satu banding tiga, satu tentara untuk menjaga tiga orang penduduk.

Di Kabinet Sjahrier pada tanggal 12 Maret 1946, Amir Sjarifuddin diangkat menjadi Menteri Pertahanan dari Partai Sosialis, dikemudian hari berafiliasi dengan Komunis. Tan Malaka dan Kelompok Persatuan Perjuangan menculik Perdana Menteri Sjahrier. Dari sana dia menjadi perdana menteri.

Dalam Persetujuan Renville, Amir sebagai negosiator utama dari Republik Indonesia. Kabinet Amir Sjarifuddin mengundurkan diri dengan sukarela dan tanpa perlawanan samasekali, ketika disalahkan atas persetujuan Renville oleh golongan Masyumi dan Nasionalis.

Kageriaan itu. Peristiwa pemberontakan Madium tahun 1948 yang memilukan itu, disebut dilakukan PKI atas restu dari Amir Syarifuddin. Walau tidak pernah terbukti.

Sepeninggalnya; keluarganya dihina. Anak-anaknya mendapat diskriminasi. Untuk makan saja waktu itu keluarga ini harus terlunta-luntah. Salah satu anaknya, Helena, saat ini bekerja di Sekolah Johnny Andrean, mengatakan, masa sepeninggalan sang ayah, hidup mereka terlantar. Kini, atas bantuan lembaga swadaya masyarakat, Omnes Unum Sint Institut, dan Komisi Hak Asazi Manusia membantu perizinan pembangunan makam tanpa nama itu diperbaiki.

Inilah sejarah. Indikasi keterlibatanya pada pemberontakan PKI di Madiun masih samar. Dieksekusi tanpa pernah diadili. Divonis tanpa terbukti salahnya dimana. Ahli sejarahwan, Aswi Warman Adam menulis, sepanjang hidupnya, Amir hidup dari kamp ke kamp. Perjuanganya tidak pernah dihitung. Narsis.***