Kamis, 17 Juni 2010

Mengapa Gus Dur ?

-Kelas Gus Dur Konflik dan Perdamaian Angkatan Pertama-


“Kelas ini bukan untuk indoktrinasi tentang Gus Dur, melainkan lebih melakukan eksplorasi tentang Gus Dur dan bagaimana cara-caranya dalam melakukan resolusi konflik,“ ujar Ahmad Suaedy. Ahmad Suaedy yang saat ini menjabat sebagai Direktur Eksekutif The WAHID Institute, menyampaikan hal itu, pada hari Kamis, tertanggal 3 Juni, saat dilakukan pembukaan pertama dari Kelas Gus Dur yang bertajuk Konflik dan Perdamaian. Kelas yang difasilitasi oleh WAHID Institute ini sekiranya akan diilaksanakan setiap hari Rabu, pukul 18.00 petang, dengan selang waktu dua minggu sekali. Kelas ini nantinya akan terbagi menjadi 13 sesi pertemuan dengan mengundang beberapa narasumber atau pengampu yang selama ini berkiprah dalam resolusi konflik baik secara teoritis, konsep maupun praksis.

Agen minyak
Semua sesi pertemuan akan dilangsungkan di markas WAHID Institute, di Jalan Taman Amir Hamzah, yang kabarnya pernah menjadi rumah Gus Dur semasa kecil dulu. Dalam kesempatan itu, Suadey juga mengatakan, ”Kelas ini memang berangkat dari keprihatinan, karena sekarang ini sudah muncul konflik-konflik yang kecil. Dan ini baru mulai, moga–moga tidak menjadi besar.”
Yenny Zannuba Wahid, selaku Direktur WAHID Institute, juga hadir untuk membuka kelas Gus Dur angkatan pertama. Dia memang ditunggu para peserta, yang berjumlah 33 orang, sehingga kelas yang seharusnya dimulai pukul 18.00, jadi lewat sedikit (tidak teng), mengingat beliau dikabarkan tengah sholat. Saat sedang menunggu itu ada celetukan dari peserta, ”Sholatnya berapa lama ya ?”. Terang saja celetukan itu memecah kebisuan yang “membatu”

Gus Dur, mantan orang nomor satu di republik ini memiliki banyak ciri khas. Salah satu ciri khasnya adalah selalu terlibat dalam melakukan komunikasi yang terbuka dan terus menerus. Terlebih-lebih dalam kasus konflik yang selalu marak terjadi di Timur Tengah, dari tahun 1980-an dan pengulangan konflik itu, yang setiap tahun kerap terjadi. Gus Dur selalu hadir dalam upaya resolusi konflik itu baik sebelum, sewaktu dan juga setelah dilengserkan dari tampuk republik. Dia selalu ada. Namun keterlibatan beliau dalam berbagai resolusi konflik itu bukan mendapat tanda jasa malahan sering di derap dengan berita miring. Yenny, menceritakan hal itu, “Jadi banyak yang bilang Gus Dur itu sebagai agen Zionis, juga Baghdatis karena pernah sekolah di Baghdat, di Irak. Dicurigai sebagai agen yang macam-macam, yang belum pernah cuma agen minyak aja.”

Hasan Tiro
Saat menjabat sebagai presiden, suami dari Shinta Nuriyah Wahid ini juga pernah berupaya memecahkan kasus yang terjadi di Papua. Yenny, kembali mengenang ayahnya,”Dengan Papua, Gus Dur pernah bilang kalau semua yang diinginkan oleh Papua. Silahkan saja. Asal jangan minta merdeka. Boleh pake nama Papua dan boleh pake Bintang Kejora.” Karena menurut Gus Dur, Bintang Kejora adalah lambang kultural bukan simbol yang lain. Tatkala Ketua Organisasi Papua Merdeka (OPM), Theis Hiyo Eluay ditangkap oleh Kopasus gara-gara pengibaran bendera itu, Gus Dur bilang, ”Saya tidak setuju kalau pemerintah menangkap Theis.” Lantas pemerintah yang mana yang dimaksud oleh Gus Dur karena saat itu dia masih menjadi orang nomor satu di negeri ini.

Terkait dengan konflik Gerakan Aceh Merdeka (GAM), maka pernah satu kali Gus Dur ingin bisa bertemu dan berdialog dengan Hasan Tiro. Namun apa yang terjadi. Ternyata Hasan Tiro menolak ajakan itu mentah-mentah. Bisa kita bayangkan orang nomor satu di negeri bahari ini ditolak mentah-mentah, kalau bukan Gus Dur bisa saja akan pecah perang. Lantas apa yang dilakukan Gus Dur, dia tak kehilangan akal. Dia langsung menghubungi Hasyim Salamat, pemimpin besar Mindanao Islamic Liberation Front (MILF), yang juga ingin merdeka dari Filipina. Gus Dur meminta agar Hasyim bisa menemui Hasan Tiro, pemimpin tertinggi GAM di Swedia. Kata Gus Dur, saya ingin bernegosiasi dengan beliau. Kabarnya Hasan Tiro pun ”melompat” kaget, saat utusan Hasyim langsung datang ke Swedia.

”Nah jadi itu sesama pemberontak Filipina dan Indonesia saling bernegosiasi,” ujar Ahmad Suaedy sambil berkelakar. Cerita itu sengaja disampaikannya saat dia mengutarakan bila Gus Dur itu mempunyai pemikiran yang out of the box. Selain itu, Suaedy juga mengatakan kalau akan mempelajari Gus Dur tidak melulu hanya dari pemikirannya saja tapi juga dari geerakan-gerakan yang telah dirintisnya selama ini. Suaedy menerangkan dengan jelas hal itu, ”Saya sudah pernah bertemu dengan semua faksi-faksi yang memberontak dari Thailand dan Filipina Selatan. Ternyata semua kenal dengan Gus Dur.”

Gramsci
Menurut Ahmad Suaedy, apa yang telah dilakukan oleh Gus Dur, dengan menemui faksi-faksi yang justru berseberangan itu, adalah sebagai sebuah strategi gerakan, dalam bahasanya Gramsci adalah war of position. Menarik juga bila seorang Ahmad Suaedy, yang terang benderang NU-nya, sempat-sempatnya mengutip strategi yang selama ini oleh sembarang orang mengatakannya sebagai strategi Marxis. Namun itu pula yang dilakukan oleh Gus Dur saat hendak mencabut TAP MPRS XXV/ 1996, ”Kenapa kita takut kepada komunisme ? Kita tak perlu takut, karena kita berpegang kepada kebenaran.” Begitu kata Gus Dur, setelah melihat kalau ketetapan itu hanya akan menyebabkan diskriminasi bagi sesama anak bangsa.

Gramsci yang ”menelanjangi” sekat-sekat kekuasaan terselubung dengan pisau hegemoni, mengatakan war of position harus dilakukan ketika masyarakat belum siap melakukan revolusi. Sehingga terlebih dulu perlu dilakukan sebuah pengajaran kepada masyarakat. Itulah juga yang dilakukan oleh Gus Dur, dengan cara-caranya yang membumi secara kultural namun memiliki agenda organik yang struktural. Ahmad Suaedy, menganalisanya, ”Menurut saya war of position ini yang sama Gus Dur bisa dinamakan dengan strategi sosio-kultural.”

Ahli konflik
Belajar dari cara-cara Gus Dur dalam mencari solusi atas benang kusut konflik yang kerap mendera maka berharap kita pun bisa ikut menjadi penerusnya, baik konflik yang diakibatkan karena perang, perang antar kelas, termasuk konflik dalam skala nasional maupun internasional. Hal yang senada dengan yang disampaikan oleh Subhi Azhari, yang dijuluki ”kepala tata usaha” di kelas Gus Dur ini, ”Gus Dur sangat jelas kalau semuanya harus dilandasi dengan kemanusiaan. Jadi diharapkan dari kelas-kelas ini akan hadir agen-agen perdamaian minimal di sekeliling kita.”

Untuk meredam ”konflik” itu juga, para pengurus sekolah ini terlebih dahulu menawarkan kurikulum yang akan dijalankan selama kurang lebih sekitar 6 bulan atau 1 Semester ini. Nyatanya, cukup dialogis, karena peserta juga boleh saja menawarkan materi yang diminati termasuk juga siapa narasumber yang diusulkan untuk mengisi materinya. Mungkin pengurus sekolah ini mencoba meredam ”konflik-konflik internal” yang mungkin bisa ditimbulkan dari kelas ini. Saat memaparkan kurikulumnya, Rumadi juga mengutarakan, ”Apakah hasil yang didapat dari kelas Gus Dur ini, apakah para peserta menjadi ahli pemecah konflik atau menjadi aktivis, atau malah menjadi ahli konflik.” Terang saja tawa pecah memenuhi ruangan. Namun dia juga menambahkan, ”Mungkin bisa saja nanti hasil kelas ini juga akan ada jalan-jalan.” Mudah-mudahan kesampaian ada sesi jalan-jalannya, supaya tidak ”konflik”, kata beberapa peserta.
Kelas Gus Dur ini sangat laris manis, bak pisang goreng, mungkin karena gratis, semula panitia hanya membatasi jumlah peserta sebanyak 15 orang namun nyatanya melonjak naik menjadi 33 orang. Selain kelasnya yang laris, kopi hitam panas, teh manis, juga k-3, yaitu kue-kue kecil, yang memang ukurannya kecil-kecil juga ikut laris manis. Semua menemani sesi awal diskusi di Kelas Gus Dur. Kelas yang tidak menjemukan. *) Chris Poerba

Untuk TAPIAN Juli 2010

Senin, 14 Juni 2010

Gus Dur dan sopir angkutan kota (Tribute to Gus Dur)

Dua penghulu malaikat yang setia menjaga gerbang surga sedang kedatangan tamu. Si tamu itu baru saja meninggal dunia, dengan entengnya dia langsung menyapa, ”Assalamualaikum, saya ingin bertemu dengan Allah, sang Pencipta.” Dengan jubah putihnya, malaikat itu segera menjawab, dengan santai, ”Baik, tolong formulir ini diisi terlebih dulu, nanti saya sampaikan kepada Tuhan.”

Ternyata seorang yang baru meninggal itu adalah seorang ustad. Terang saja dia tidak terima itu dan langsung menghardik, ”Kenapa saya harus mengisi formulir ini, saya ini berada di jalan yang benar, banyak manusia yang telah bertobat karena saya.” Malaikat itu tak mau menggubris dan hanya berkata, ”Ya, silahkan tunggu di bangku dulu, nanti saya panggil kembali.” Mau tak mau, akhirnya ustad itu pun menunggu pada bangku yang telah disediakan. Lima menit berikutnya, ada yang juga baru meninggal. Seorang pendeta rupanya, dia mengucapkan, ”Shalom, salam sejahtera, saya baru saja berpulang dan hendak bertemu dengan Bapa di Surga.” Jawaban yang hampir sama diberikan oleh penghulu malaikat itu, mengisi formulir dan menunggu antrian selanjutnya.

Selang beberapa menit kemudian, seorang pemuda, yang kulitnya hitam legam, terlihat seperti belum mandi beberapa hari, rambutnya kumal dan bercelana pendek tiba di gerbang altar pintu Surga itu. Rupanya dia seorang pengemudi angkutan kota di Jakarta, si Togar namanya, asli Tapanuli pula. Apa yang terjadinya ?. Para malaikat penghulu surga itu langsung menyambutnya, ”Mari silahkan lae, Tuhan sudah lama menunggu lae di dalam.” Tersentaklah ustad dan pendeta yang sedang menunggu itu. Salah satu dari mereka berkata, ”Kenapa si lae itu bisa langsung masuk, sudah lusuh dan kumal, juga tak perlu isi formulir lagi. Bagaimana aturan di surga ini ?”

Kali ini Malaikat itu geram, membentangkan sayap di pundaknya dan langsung menghardik, ”Kalian semua tau gak !. Saat kalian semua khotbah semua jemaat pasti tertidur pulas. Tapi waktu si lae ini menyupir semua penumpangnya berdoa. Makanya Tuhan sayang sama dia.”


Untuk TAPIAN,Februari 2010

Pojok Batak di negeri beku

Oleh : Ariani Zarah Sirait (Wartawan Majalah TAPIAN, pengajar di Fakutas Film & Televisi IKJ)

Melihat film dokumenter "Gerimis Kenangan dari Sahabat yang Terlupakan" memang menyisakan perasaan bangga sekaligus tertegur pada hati penontonnya. Bangga ketika ada bangsa lain yang mengapresiasi tokoh-tokoh serta budaya Indonesia lebih baik dari kita sendiri. Dan tertegur ketika dihadapkan pada kenyataan begitu acuhnya kita dengan tradisi-tradisi yang sesungguhnya telah membentuk kita menjadi manusia berbudaya sekarang ini.

Bangsa lain itu berjarak ribuan kilometer dari negara kita, bukan negara tetangga, dan tidak pula berbagi benua yang sama. Negara itu adalah Rusia yang sebelumnya bernama Uni Soviet. Sebuah negara di Eropa yang bercuaca dingin sepanjang tahunnya, yang pada tahun tertentu di masa lalu, pernah berhubungan baik dan erat dengan negara kita ini.

Yang lebih mengejutkan lagi, dalam beberapa segmen film tersebut, setiap orang yang berkontribusi sebagai narasumber yang dengan lancar menggunakan bahasa Indonesia ini bukan saja dengan kentara menyatakan kekagumannya akan sosok beberapa orang tokoh Indonesia. Tapi juga menunjukkan ketertarikan yang serius akan budaya kuno bangsa kita. Dan kita boleh sedikit berbangga hati (atau mungkin tertegur lebih keras lagi) karena salah satu budaya yang diteliti dan terjaga artefaknya dengan baik di salah satu museum besar Rusia itu tidak lain tidak bukan: budaya batak kuno.

Tersebutlah Elena Revunenkova, seorang ahli Batak Kuno dan juga direktur museum Kunstkammer di kota St. Petersburg, Rusia. Dengan menggunakan bahasa Indonesia yang cukup lancar, wanita paruh baya ini menjelaskan tentang tradisi/agama Batak Kuno serta artefak-artefaknya yang berhasil dikumpulkan dan tersimpan di museum tersebut.

Kunstkammer yang terletak di tengah kota St. Petersburg ini telah menjadi simbol kebanggaan Akademi Ilmu Pengetahuan Rusia (Russian Academy of Sciences) sejak awal abad 13. Didirikan berdasarkan perintah Peter yang Agung dan dibuka kepada khalayak umum pada tahun 1714. Tujuan dibangunnya museum ini adalah untuk mengumpulkan dan meneliti tentang pergerakan budaya manusia dan juga alam. Sekarang ini, koleksi yang dimiliki Museum Antropologi dan Etnografi Kunstkammer adalah salah satu yang terlengkap dan paling menarik di dunia. Koleksi-koleksi tersebut terdiri dari lebih dari satu juta artefak dan merupakan peninggalan dari berbagai budaya tradisional baik dari dunia lampau maupun dunia masa sekarang ini. Museum ini telah selalu menjadi pusat studi tentang peninggalan budaya manusia, termasuk 'rumah' dari para antropologi dan budayawan Rusia yang terkenal pada abad 18 sampai 19.

Di museum etnografis terbesar ketiga didunia inilah disimpan berbagai alat pertanian dan alat dayung khas batak kuno, perisai dan senjata tajam lainnya, ulos dan tenunan batak, dan peninggalan magis seperti patung-patung kayu dari kebudayaan kuno batak, serta 20 buah buku peninggalan beraksara batak kuno.

Elena sendiri menyatakan bahwa dirinya telah cukup lama meneliti budaya batak kuno dan tradisi-tradisi keagamaannya yang banyak ditulis dalam aksara batak kuno, yang kemudian mengharuskannya untuk dapat membaca dan menafsirkan aksara batak kuno tersebut dalam rangka memahami secara keseluruhan tentang sejarah dan peninggalan batak kuno.

Pada suatu kesempatan, Elena bertemu dengan seorang batak yang datang berkunjung ke museum Kunstkammer. Ia menanyakan apakah Elena dapat berbahasa batak. Elena menjawab bahwa dirinya tidak terlalu fasih berbahasa batak, tapi ia bisa membaca aksara batak kuno dengan cukup baik. Sambil tersenyum bangga, Elena mengakhiri ceritanya dengan menyatakan bahwa si perempuan batak tersebut langsung terkejut bangga campur senang akan kemampuan yang amat langka itu serta menghadiahkan Elena sebuah buku kuno aksara Batak untuk dipelajari dan disimpan di Kunstkammer.

Kita sempat pula diperlihatkan pada buku teks beraksara batak kuno tersebut yang diyakini Elena telah ditulis langsung untuk kepentingannya sendiri oleh seorang Datuk atau Pendeta Batak Kuno. Isi buku tersebut adalah ramuan-ramuan tradisional baik untuk pembuatan obat ataupun juga resep penciptaan racun. Disamping itu ditemukan Elena pula kata-kata pemujaan lain atau 'doa-doa' yang dapat membangkitkan roh-roh tertentu yang diyakini bersemayam di berbagai materi. Menurut Elena buku itu bukanlah buku bacaan biasa yang dapat dibaca sembarang orang, dan bahkan sedikit berbahaya bagi si pembaca karena banyaknya unsur magis yang terkandung didalamnya.

Sebagai seorang ahli Batak kuno, selain dianggap 'sakti' dalam membaca teks beraksara batak kuno, Elena juga tentunya amat memahami tradisi batak kuno yang dominan mengandung pemujaan terhadap roh-roh dan juga benda-benda yang didiami oleh jiwa-jiwa tertentu.

Ini diungkapkan pula oleh Elena seperti yang ditafsirkannya dalam peninggalan teks serta artefak langsung yang disebutnya sebagai Kapal Mati. Kapal Mati berisikan patung-patung kayu kecil yang berbentuk manusia (bentuknya kurang lebih seperti patung totem berukuran sedang atau patung sigale-gale tanpa pakaian dan tangan yang bergoyang di kiri kanan badan). Sebelumnya, ke dalam patung-patung kayu itu telah dimasukkan roh-roh orang mati. Dan kemudian pada upacara tertentu, patung-patung kayu yang 'berisi' tersebut dinaikkan ke dalam wadah seperti kapal kayu yang lalu di bawa ke tepian sungai. Hal ini dimaksudkan sebagai penghormatan terhadap roh-roh orang mati yang disimbolkan dalam tiap-tiap patung kayu dan juga dipercaya dapat mendamaikan jiwa si orang mati.

Hingga dapat diartikan oleh Elena kebudayaan batak kuno adalah kebudayaan roh. Bagi Elena pula, menggali kebudayaan roh sangat menarik dibandingkan dengan kebudayaan yang sifatnya material. Meski diakuinya pula dalam kebudayaan materi juga tersimpan 'roh-roh'. Sebab kebudayaan materi akhirnya akan lekang oleh waktu dan akhirnya dapat disimpan peninggalannya sebagai 'kenang-kenangan' nyata dengan seribu cerita. Namun kebudayaan roh, menurutnya, terus akan melekat dan muncul sebagai ciri budaya bangsa tertentu.

Meski kini hampir semua orang Batak telah memeluk agama Protestan, Katolik, dan juga Islam, Elena yakin bahwa tradisi-tradisi agama batak kuno masih tertinggal. Terutama jika menyangkut pada upacara-upacara tradisional baik yang masih murni dipertahankan ataupun yang telah bercampur dengan kebudayaan modern.

Selain Batak, memang ada budaya kuno lain yang turut diteliti dan dikumpulkan peninggalannya di museum Kunstkamer ini, yaitu Jawa kuno. Namun pada tahun-tahun sebelumnya, museum ini sempat dipugar, dan beberapa peninggalan dari budaya-budaya lain diperintahkan untuk dipindahkan ke tempat/museum lain, kecuali untuk pojok Batak. Untuk ini, kita mungkin perlu berterimakasih pada Elena, sang direktur Kunstkammer, karena keberadaan beliau sebagai kurator dan ahli batak di museum tersebutlah, pengunjung dan peneliti tetap dapat melihat langsung peninggalan batak di museum pertama di Rusia ini. Mungkin saat ini, ditunjang oleh kemampuan Elena menjelaskan semua artefak yang tersimpan di dalamnya, pojok batak di museum Kunstkammer dapat dikatakan sebagai ruang terlengkap yang memuat tentang kebudayaan batak kuno.

Ketertarikan Elena sendiri pada budaya batak kuno memang tidak langsung dijelaskan latar belakangnya. Yang pasti, Elena sangat yakin bahwa mempelajari kebudayaan kuno berarti mempelajari kebudayaan rakyat yang hidup di masa sebelum kita. Ini penting untuk kemudian menjelaskan bagaimana sebuah suku bangsa itu hidup dan kemudian bertahan hingga masa sekarang.

Elena Revunenkova merupakan kebanggaan dan teguran kecil bagi kita. Hampir pasti, kini tidak ada orang batak yang bisa membaca aksara batak. Bahkan ahli-ahli Batak yang cukup terkenal bukan berasal dari orang Batak ataupun berbangsa Indonesia sendiri. Tapi sepertinya, tidak perlu berkecil hati juga, karena hampir semua kebudayaan kuno memang sering dilirik dan diperhatikan oleh orang lain di luar budaya tersebut. Yang berada di dalam memang sering lupa. Keberadaan Elena Revunenkova, wanita ahli Batak Kuno dari Rusia ini mengingatkan kita tentang tradisi-tradisi kuno yang mungkin lama kelamaan akan hilang secara bertahap di kepala anak muda berdarah batak. Tetapi, jika Pojok Batak dapat bertahan di dinginnya Rusia, bukan tidak mungkin tercipta Pojok Batak-Pojok Batak lain di negeri batak sendiri.

Siasat menendang tangga (belajar dari Amerika ?)

“Mekanisme pasar sebenarnya bukan sesuatu yang jelek. Pada awalnya, mekanisme pasar itu baik adanya karena digunakan untuk menjinakan fanatisme agama dan juga fanatisme politik, dalam hal ini otoritarianisme.” kata Romo Herry. Menurutnya, dengan begitu maka nafsu dan keinginan daging yang alamiah tidak perlu dikontrol tapi diadu dengan nafsu yang lain, dalam hal ini nafsu fanatik yang berlebihan terhadap agama dan politik. Dengan begitu nantinya akan terbentuk mekanisme kontrol dengan sendirinya. Sama halnya dengan mekanisme kontrol pada pemerintahan di republik ini yang terbagi menjadi tiga kutub eksekutif, legislatif dan yudikatif. Begitulah idealnya kira-kira.

Romo Herry, yang lengkapnya bernama B. Herry-Priyono itu, menyampaikannya pada hari Selasa, tanggal 23 Maret 2010 dalam kuliah umum yang bertajuk ”Fundamentalisme Pasar”. Kuliah umum yang bertempat di ruang Teater Perpustakaan Nasional ini digagas oleh ELSAM, sebuah lembaga studi dan advokasi masyarakat yang telah berdiri sejak tahun 1993. Kuliah umum Fundamentalisme Pasar ini juga merupakan bagian dari upaya ELSAM untuk semakin lebih mempromosikan hak-hak asasi manusia. Mengingat salah satu tujuan yang terus diupayakan oleh lembaga yang berbasiskan kemanusiaan ini adalah melakukan penguatan perlindungan HAM dari ancaman fundamentalisme pasar, fundamentalisme agama dan komunalisme dalam berbagai bentuknya. Seperti yang disampaikan oleh kedua punggawanya, sebelum dimulainya acara itu, I Gusti Agung Putri Astrid Kartika, yang biasa disapa dengan Gung Tri selaku direktur eksekutif dan juga Atnike Nova Sigiro, boru Batak yang menjadi salah seorang pegiat ELSAM

Romo Herry, yang ternyata pernah menjadi kuli selama 1, 5 bulan di sebuah desa di Solo, memang sangat sering, ”gatal” dan getol kalau membawakan seminar dengan tema-tema besar ekonomi seperti dari globalisasi, mekanisme pasar juga neo-liberal, yang menyeruak akhir-akhir ini, terutama setelah adanya kasus Bank Century, yang bukan miliknya orang-orang Sianturi.
Pada kuliah ini, beliau merujuk kepada penemuan dari seorang sejarawan ekonomi asal Swiss yang tengah kondang saat ini, Paul Bairoch, dengan bukunya yang berjudul Economics and World History : Myths and Paradoxes, yang diterbitkan pada tahun 1993. Dari data yang ditemukan oleh halak Swiss itu, negara-negara adidaya, yang sekarang ini sangat getol untuk terus mempromosikan pentingnya pasar bebas ternyata tadinya tidak begitu. Karena saat negara-negara itu masih belum mapan, belum stabil atau katakanlah masih seperti negara di dunia ketiga, mereka bahkan menolak keras ajakan dan rayuan dari konsep pasar bebas itu.

Amerika yang sekarang juga berkotbah mengatakan pasar bebas, dulunya adalah negara yang paling keras menolak pasar bebas itu. Ketakutan dari Amerika, dan juga Inggris terhadap pasar bebas itu dilakukan dengan menetapkan proteksi yang berupa menaikkan tarif masuk barang-barang manufaktur. Dari tabel milik Bairoch, terlihat jelas kalau Amerika saat belum mapan saja, sudah sebanyak 5 kali melakukan proteksi, yaitu tahun 1820, 1875, 1913, 1925 dan 1931, mereka melakukan proteksi dengan menaikkan persentase tingkat tarif masuk barang-barang manufaktur dengan jumlah yang besar. Bahkan terlihat di tahun 1931 tarif masuk barang-barang manufaktur itu mencapai 48%, yang terbesar dari tahun-tahun sebelumnya. Baru setelah tahun 1950, negerinya Obama itu mulai menurunkan tingkat tarif masuk barang-barang manufaktur menjadi sebesar 14%. Sedangkan di Inggris, pada tahun 1820, saat belum dalam kondisi yang aman juga pernah menetapkan proteksi yang besar yaitu sekitar 45-55 %.

“Jadi negara-negara yang sekarang berkotbah agar segera menjalankan pasar bebas sekarang dan secepatnya, dulunya mereka takut dan tak mau melakukan pasar bebas” menurut penerawangan Romo Herry, yang juga pernah selama 3 bulan tinggal bersama kaum gelandangan, atau mereka yang tak punya rumah (homeless) di New York. Biasanya negara-negara adidaya yang memprovokasi diberlakukannya sesegera mungkin pasar bebas itu, ”lalu berkotbah kepada bangsa-bangsa lain tentang keuntungan perdangangan bebas, sambil berpura-pura menyesali bahwa selama menerapkan proteksi, ia telah menempuh jalan sesat. Dengan perdagangan bebas, untuk pertamakalinya ia menemukan kebenaran.” ujar Herry sembari membaca kutipan yang diambil dari seorang Friedrich List. Di kutipan itu, Friedrich List menggambarkan apa yang dilakukan oleh negeri-negeri di barat itu seperti ”strategi menendang tangga”, setelah negeri mereka melewati masa paceklik, menaiki tangga tertinggi, dan selamat dari ancaman pasar bebas, dia menendang tangga yang telah dinaikinya itu sehingga orang lain tak bisa naik. Sialnya, sekarang malah menyarankan yang kebalikannya, kalau pasar bebas itu adalah ”juruselamat” bagi negara-negara berkembang.

Begitulah awal mulanya muncul mekanisme pasar. Menurut Romo Herry, “Pada awalnya Mekanisme pasar itu adalah sesuatu yang jenius, sedangkan kebebasan itu juga sesuatu yang luhur. Tapi dengan menerapkan mekanisme pasar ke segala bidang maka kebebasan bukan lagi menjadi urusan hak asasi, tapi menjadi sebuah perkara. Artinya apakah aku sanggup atau tidak untuk membayar kebebasan itu.” Pasar bebas dengan segala kosakata yang terkait di dalamnya, itu seharusnya diberlakukan hanya sebatas instrumen bukan menjadi tujuan akhir, dalam bahasa beliau bukan menjadi kondisi permanen. ”Kalau pasar bebas menjadi kondisi permanen itu menjadi bahaya.” ujar Romo yang juga pernah mengenyam hidup sebagai petani.

Pasar bebas adalah bagian dari realitas, kekinian kita, dan itu tak bisa kita niscayakan. Tentunya realitas pasar bebas yang semrawut itu harus lebih dulu diperiksa agar kita bisa mengendalikan realitas dan bukan malah digilas olehnya. ”Sihir” dari romo ini berakhir, setelah dua jam lebih, semua ”terbius” oleh paparannya. Memang kuliah ini hampir menyerupai ”sihir”, banyak yang terdiam, berhenti dari tempatnya mencoba berpikir. Penyihir ?. Mungkin saja karena namanya pun dekat dengan kisah seorang penyihir cilik yang bernama Harry Potter, bedanya Romo Herry tak punya sapu terbang.
*) Chris Poerba

Untuk TAPIAN bulan Mei 2010
Sebelum diedit MA

Kamis, 29 Januari 2009

Amir Syarifuddin- Sejarah Gelap Indonesia (Tapian Edisi Februari 2009)

Salam TAPIAN


Ketika orang belum membayangkan pengkotakan dalam garis agama suatu ketika akan memperumit pembangunan bangsa ini, dalam diri tokoh nasional asal Padang Lawas ini terbaca suatu simbol pemersatu. Namanya menunjukkan dia seorang Islam, tetapi toh agamanya Kristen. Cintanya juga lebih besar dari adat yang purba. Dia mempersunting istri yang juga bermarga Harahap. Rubrik Sudut Pandang TAPIAN bulan ini menyuguhkan laporan tentang nasib tragis Amir sampai-sampai istri, anak-anak, dan sanak-saudaranya dilarang memugar kuburannya.

Bagaimanakah seseorang ingin dikenang dalam sejarah? Dibuatkan patung atau lebih merasa dimuliakan kalau mereka yang ditinggalkan mengenang karya-karya yang telah diciptakannya? Apa jawab Sitor Situmorang, raja penyair dari Tanah Batak, yang akan merayakan ulangtahunnya yang ke-85, Oktober mendatang, di Jakarta dan bukan di Paris? Dalam rubrik Sosok terasa dia masih ”beteng,” yang dengan cekatan berdiri dan meninju meja untuk membela pendiriannya, membawa ingatan pembaca pada hangatnya hati orang Batak kalau terlibat perdebatan di kedai kopi atau pakter tuak.

Penggolongan masyarakat Bali dalam kasta-kasta hanyalah peninggalan penjajah Belanda. Di Bali, sudah lama tumbuh semangat egaliterianisme, di mana seseorang dipandang bukan dari kedudukan kastanya, tetapi dari hasil kerjanya. Kasta adalah pilihan. Seorang Sudra bisa menjadi seorang Brahmana. Lihatlah betapa manisnya kenyataan zaman sekarang, I Made Mangku Pastika yang adalah Sudra, sementara wakilnya adalah seorang Kesatria. Ikuti rubrik Spiritualitas.

Cafe-cafe halak kita tumbuh menjamur di Jakarta. Para pengunjungnya tentulah mereka yang punya waktu dan uang untuk mengatasi tekanan pekerjaan dengan merebahkan diri pada alunan musik dan suasana yang menghibur. Rubrik Musik sekali ini tidak berbicara mengenai musik, tetapi mengantarkan kepada para pembaca kabar tentang betapa kerasnya hidup para musisi yang tampil di cafe-cafe. Mereka seperti menghamba mengharap saweran, pulang menerjang malam yang dingin, lebih gigih dari kelelawar.

Ada berita di rubrik Kabar Kita tentang penghormatan khusus untuk Nommensen, yang telah membawa peradaban baru ke Tanah Batak. Orang-orang penting yang menduduki posisi pemerintahan, atau di luarnya, para seniman, dan para pebisnis yang jaya sekarang ini, barangkali juga tak lupa pada jasa ”Rasul Orang Batak” itu.

Ingat gitaris dan rocker Sonata Tanjung yang pernah main untuk grup AKA dan SAS? Di rubrik Pesohor dia tampil bukan sebagai rocker lagi, tapi sebagai pendeta dan pembina musik di sebuah gereja di Surabaya. Tangannya lumpuh disengat listrik. Hanya doa yang telah memulihkan tangannya itu. Sebagai rasa syukur dia mengabdikan bakat dan hidupnya untuk gereja.

Di rubrik Wisata tampil perupa Heri Dono yang diajak raun-raun menikmati Medan dan keindahan Danau Toba. Sebuah legenda tetap menunjungi Anda. Dan, hidangan rasanya tak sempurna kalau tak ada analisa permainan akhir yang disuguhkan Om Galung.


Kamis, 22 Januari 2009

Mereka Telah Bersahabat dengan Banjir

Ekspedisi Kompas Ciliwung 2009

Mereka Telah Bersahabat dengan Banjir

Rabu, 21 Januari 2009 | 03:11 WIB

Oleh M Zaid Wahyudi


Banjir tak selalu identik dengan bencana yang membawa penderitaan. Kejadian yang terus berulang tanpa penyelesaian tuntas dari pemerintah malah melahirkan sikap adaptif untuk berdamai dengan keadaan.

Bagi warga Bukit Duri, Jakarta Selatan, dan Kampung Pulo, Kampung Melayu, Jakarta Timur, banjir bukanlah peristiwa istimewa. Setiap tahun, saat hujan mencapai puncaknya antara Januari dan Februari, mereka sudah mengamankan barang-barang berharga ke tempat yang lebih tinggi.

”Kalau banjir mau datang, silakan saja…. Kami sih tidak kaget, tenang-tenang saja,” kata Hasan (36), warga RT 6 RW 12 Bukit Duri, Selasa (20/1).

Akibatnya, rutinitas sesaat menjelang puncak musim hujan bukan lagi menjadi hal yang melelahkan. Memindahkan aneka perabotan kayu dan alat elektronik ke lantai dua atau menyiapkan makanan instan untuk mengantisipasi jika terisolasi banjir adalah sebagian kegiatan yang harus dilakukan sebelum banjir.

Hal serupa diungkapkan Nanang (30), warga Kampung Pulo, RT 15 RW 02 Kampung Melayu, yang tinggal di bantaran Ciliwung. Saat banjir datang, tak ada yang bisa diperbuat warga untuk mencegahnya. Warga hanya bisa bersiaga agar banjir tak sampai menimbulkan kerugian jiwa dan materi.

Upaya yang dilakukan adalah membangun sistem peringatan dini terkait akan datangnya banjir. Di sejumlah pos RT maupun dinding rumah warga di Bukit Duri dan Kampung Pulo dipasang papan pengumuman tentang ketinggian air di Bendung Katulampa dan Pos Pemantau Air Ciliwung di Depok, yang terus diperbarui dalam rentang waktu tertentu. Para ketua RT di wilayah yang rawan banjir itu umumnya juga dibekali dengan radio komunikasi untuk memudahkan penyebaran informasi tentang ancaman banjir.

Meski demikian, masih banyak warga yang tak peduli dengan banjir saat air bah itu benar-benar melanda perkampungan mereka. Menurut Widodo (29), pemuda yang biasa membantu evakuasi warga, sebagian masyarakat enggan mengungsi meski banjir sudah hampir menenggelamkan seluruh permukiman dan mengisolasi rumah mereka. Padahal, persediaan makanan dan minum mereka belum tentu mencukupi hingga banjir usai.

Selain membangun rumah bertingkat hingga tiga lantai, strategi adaptasi lain dari warga Bukit Duri adalah dengan menempatkan berbagai barang elektronik milik mereka di tempat yang tinggi. Lemari es yang umumnya diletakkan di atas lantai, ditaruh di atas meja setinggi 1 meter di atas lantai.

Lucia Ken Ayu MP dari kelompok pemberdayaan masyarakat Sanggar Ciliwung Merdeka mengakui, sebagian besar warga Bukit Duri dan Kampung Pulo yang tinggal di bantaran Ciliwung adalah warga pendatang ilegal. Mereka umumnya bekerja sebagai pedagang maupun buruh di kawasan niaga Jatinegara. Mereka menggantikan sebagian penduduk asli kedua kampung yang tak tahan dengan bencana yang terus berulang dan memilih pindah ke sejumlah daerah penyangga Jakarta, seperti Bekasi atau Depok.

Upaya masyarakat berdamai dengan banjir memang tak akan mampu mencegah banjir yang terjadi. Beberapa kelompok masyarakat mulai mencoba mengurangi dampak banjir dengan menanam sejumlah tanaman di bantaran sungai yang tersisa atau mengolah sampah masyarakat yang tak tertangani oleh pemerintah.


Lahan ilegal

Sebagian masyarakat yang tinggal di bantaran Ciliwung menyadari bahwa mereka tinggal secara ilegal di lahan terlarang. Namun, untuk mencari alternatif tempat tinggal lain bukan perkara mudah. Warga yang umumnya berprofesi sebagai pedagang itu membangun rumah di Kampung Pulo atau Bukit Duri karena lokasinya berdekatan dengan kawasan niaga Jatinegara.

Menurut Lucia, pembangunan permukiman baru yang mengokupasi daerah aliran sungai marak terjadi sejak tahun 2000. Lebar Ciliwung yang membelah Bukit Duri dan Kampung Pulo yang semula 14 meter kini hanya tersisa 8 meter. Kondisi ini selaras dengan pantauan Ekspedisi Kompas Ciliwung 2009 dari tengah Ciliwung. Selepas jembatan Kampung Melayu hingga Pintu Air Manggarai, terjadi penyempitan sungai secara masif di sejumlah tempat membuat lebar sungai tinggal 8 meter.

Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane Pitoyo Subandrio mengatakan, lebar Ciliwung seharusnya 30 hingga 45 meter plus bantaran sungai 10 hingga 15 meter. ”Banyak pihak yang menyebut warga korban banjir telah bersahabat dengan banjir. Sebenarnya, mereka bukan akrab dengan banjir, tetapi malah sengaja mendatangi banjir,” ujarnya.

Dosen Sosiologi Universitas Indonesia, Paulus Wirutomo, mengungkapkan, kecenderungan masyarakat di bantaran sungai memilih untuk bersahabat dengan banjir menunjukkan kemampuan mereka beradaptasi dengan lingkungan. Segala konsekuensi dari pilihan itu telah mereka terima dan dicoba untuk diatasi.

Warga bantaran sungai yang ilegal dapat dibedakan dalam dua kategori, yaitu tinggal sementara atau tinggal untuk menetap.

Mereka yang tinggal sementara umumnya datang dari kampung halaman ke Jakarta mencari penghidupan dengan mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya untuk berbagai keperluan di desa. Mereka yang masuk dalam kategori ini umumnya memiliki kepedulian untuk memperbaiki kualitas hidup dan mengatasi banjir.

”Bagi warga di bantaran sungai, tinggal di atas sejengkal tanah di Jakarta sudah merupakan perjuangan besar. Asalkan bisa tetap punya uang, mereka siap hidup dengan serba minimal. Risiko itu tidak besar karena mereka siap dengan hidup apa adanya,” kata Paulus.

Sementara itu, warga yang berorientasi menetap di bantaran sungai cenderung takut pindah karena tidak ada kepastian hidup setelah pindah. Kondisi itu terjadi akibat ketidakmampuan pemerintah menyediakan hunian layak.

Karena itu, lanjut Paulus, sudah saatnya pemerintah menyiapkan alternatif tempat tinggal yang layak bagi masyarakat.

Pemerintah juga harus tegas dalam menata kota dengan membebaskan permukiman di bantaran sungai agar tata ruang kota tidak semakin hancur.(LKT/WAS/NEL/ ELN)


http://cetak. kompas.com: 80/read/xml/ 2009/01/21/ 03110242/ mereka.telah. bersahabat. dengan.banjir

Situs Majapahit Ditemukan Lagi


Situs Majapahit Ditemukan Lagi



Kamis, 22 Januari 2009 | 01:06 WIB

Mojokerto, Kompas - Struktur batu bata kuno dari zaman Kerajaan Majapahit ditemukan lagi oleh warga Desa Klinterejo, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, Rabu (21/1). Temuan tersebut merupakan kelanjutan dari bagian struktur batu bata yang ditemukan tahun lalu.

Struktur batu bata yang berbentuk memanjang dari arah utara ke selatan itu ditemukan oleh Abdul Rohim (55) secara kebetulan saat membuat batu bata. Posisinya di sisi barat atau sekitar satu kilometer dari temuan satu hari sebelumnya.

Menurut Rohim, sebagian temuan berupa struktur batu bata itu sebelumnya telah dilaporkan kepada pihak desa pada Agustus tahun lalu. Zainal Abidin, Sekretaris Desa Klinterejo, mengatakan, temuan di lokasi itu sudah dilaporkannya kepada Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jatim.

Namun, baik Rohim maupun Zainal mengatakan, hingga kini temuan tersebut belum mendapatkan perhatian dari pemerintah. ”Saya ini kan takut dibilang melanggar hukum, jadinya bata itu saya biarkan saja. Namun, kami kan juga perlu membuat batu bata ini,” kata Rohim.


Rusak parah

Struktur batu bata kuno itu sekalipun tetap dijaga oleh sejumlah warga tetapi tetap saja menyisakan kerusakan parah di sana-sini. Rohim bahkan menyebutkan, tinggi struktur batu bata kuno itu sudah terkepras sekitar satu meter dari saat kali pertama ditemukan.

Menurut Zainal, apa yang menjadi kehendak warga saat ini adalah pemberian kompensasi yang layak dari pemerintah terhadap temuan situs sejarah di lahan warga. Pasalnya, kata Rohim, warga juga memerlukan penghasilan yang selama ini hanya bisa mereka dapatkan dari usaha pembuatan batu bata tersebut.

Rohim menjelaskan, pada lahan yang disewanya seharga Rp 18 juta untuk masa tiga tahun itu terdapat 14 kelompok yang masing-masing terdiri atas dua pekerja. Dalam satu hari masing- masing kelompok mampu membuat seribu batu bata berukuran 10,5 cm x 21 cm x 5 cm.(INK)


Dari:

Kepada: "HKSIS"