Senin, 01 Desember 2008

"Siapa Mengkhianati Sisingamangaraja XII ?" (TAPIAN Edisi November 2008)

Maaf sekedar informasi sekaligus promosi

Salam TAPIAN

Bagi masyarakat Batak, Sisingamangaraja XII adalah heroisme sekaligus spiritualisme. Mereka bangga mengenang Baginda Raja yang bisa bertahan sampai 30 tahun dalam memerangi sang penjajah bermata putih, sibottar mata. Belanda! Raja yang bersumpah lebih baik mati daripada menerima kata damai dan tawaran menjadi sultan, asalkan dia berpangku tangan melihat tanah dan kaumnya ditindas. Dia adalah juga seorang malim, orang suci, yang menjadi penghubung hati orang-orang Batak dengan sang maha pencipta mereka, Debata Mulajadi Na Bolon.

Sisingamangaraja XII diangkat pemerintah sebagai pahlawan nasional. Tetapi, bukan semata-mata karena itu TAPIAN dalam edisi (kepahlawanan) November ini menyajikan tulisan agak panjang mengenai tokoh legendaris dari Bakkara itu. Yang layak diingat adalah bahwa dia tak pelak lagi merupakan pejuang yang telah memberikan sumbangan yang tak diragukan lagi dalam perlawanan terhadap penjajah Belanda. Sementara predikat yang sama mungkin saja telah jatuh kepada seseorang yang justeru telah melancarkan invasi terhadap etnis lain, dan dengan demikian memberikan kemudahan kepada Belanda untuk menguasai Nusantara. Artikel dengan judul "Warisan Raja Namaruhum, Namarhatua" kami berharap agar beberapa warisan-warisan dari Sisingamangaraja XII dapat terus dirawat. Warisan yang tidak hanya berbentuk fisik melainkan berbentuk warisan hukum dan gerakan spiritualitas Parmalim. Tulisan utama Sisingamangaraja XII di edisi November ini tidak hanya menceritakan proses perjuangannya melawan kolonial, tapi juga dibalik semua itu ada petemanan yang indah antara etnis Batak dan Aceh yang sangat dikhawatirkan oleh Belanda, migrasi (selama ini sering dinyatakan lari) Sisingamangaraja XII ke Dairi, termasuk juga pengkhianatan terhadap raja ini. Beruntung kami berhasil menyajikan wawancara dengan salah seorang cucu kandung dari Sisingamangaraja XII yang masih ada, Raja Napatar Sinambela. Sehingga tulisan yang semuanya berada pada artikel Sudut Pandang, sengaja kami beri tema besar di Edisi ini "Siapa Mengkhianati Sisingamangaraja XII ?"

Undang-undang anti pornografi telah disahkan. Meskipun demikian saat menjelang pengesahannya banyak kontroversi. Terakhir muncul di beberapa daerah, yang menyatakan menantang pengesahannya. Dirubrik Serbaneka, ada uraian tentang asal-usul kata pornografi, dan bahwa yang memaksakan disahkannya rancangan undang-undang itu hanyalah gairah yang tak tertahan pada sekelompok kecil orang. Sejarawan Hilmar Farid memaparkan dengan tulisan "RUU Porno : Hasrat Besar Kelompok Kecil"

Keuletan dan keteguhan dalam memberikan makna bagi kehidupan seseorang bisa menjadi ilham atau malahan pendorong bagi orang lain. Silakan menikmati perjalanan karier sutradara film Edward Pesta Sirait dalam rubrik Sosok. Sementara dalam rubrik Dari Rantau kami sajikan kisah sukses Raja Utara Simanulang, yang mengadu nasib sebagai tukang tambal ban, namun berhasil menyekolahkan anaknya sampai perguruan tinggi. Dan dengan bermodal angin, dia bersama istrinya sudah pernah menginjakkan kaki di Yerusalem.

Para pembaca yang terhormat, kalau sudah membaca kisah si tukang tambal ban yang bernama Raja itu, terimalah permintaan maaf dari kami, karena kisah sukses itu semestinya sudah dimuat dalam TAPIAN edisi kemarin. Sekali lagi maaf.

Tak sedikit keluh-kesah mengapa Tanah Batak tetap tertinggal dalam kemiskinan. Di rubrik Kritik ada uraian tentang koperasi agribisnis sebagai basis ekonomi rakyat. Tulisan itu ditutup dengan saran jika gerakan koperasi itu dipraktekkan dengan berpegang pada semboyan marsipature hutana be, maka dalam tempo 5-10 tahun pedesaan di Tanah Batak akan maju dan kemiskinan akan teratasi.

Dari sebuah ayat Al Quran dapat dipahami bahwa tidak ada perbedaan antara manusia yang sehat dan sakit, termasuk mereka yang kena HIV/AIDS. Yang membedakan manusia hanyalah prestasi takwa. Belum tentu penderita HIV/AIDS lebih rendah kualitas takwanya dari yang bukan penderita. Demikian pula sebaliknya. Begitulah ungkapan seorang penulis yang Islami di rubrik Spiritualitas dalam memandang bagaimana para penderita penyakit yang mematikan itu harus diperlakukan secara manusiawi. Karena Islam, katanya, adalah agama yang memuliakan manusia. Begitulah intisari tulisan yang disampaikan oleh Siti Musdah Mulia, muslimah pertama yang menulis buku anti poligami, dengan tulisan yang berjudul "Mewaspadai HIV/ AIDS Perspektif Islam".

Tak bosan-bosannya Om Galung tampil di rubrik Catur, dengan studi permainan akhir yang mencerahkan. Dan ada lagi sejumlah tulisan yang sayang kalau ditinggalkan. Termasuk pesona Danau Toba di rubrik Wisata dan tentang penyakit gatal-gatal yang kembali menyerang penduduk dan diduga karena limbah pabrik bubur kertas yang terletak tak jauh dari Porsea.


Majalah TAPIAN,

Kami berangkat dari budaya batak menuju budaya untuk kemanusiaan.

Dengan semangat keberagaman dan toleransi antar setiap etnis

Dalam terus merawat "Bhinneka Tunggal Ika"

Tidak ada komentar: