Senin, 17 November 2008

Tafsir Novel Lanang (Menguak Tabir Hegemoni ’Prostitusi Intelektual’)

Menguak Tabir Hegemoni ’Prostitusi Intelektual’ [1]

( Pembacaan Novel Lanang Karya Yonathan Rahardjo)

Chris Poerba [2]

Kebuntuan Revolusi [3] !!!

”Konsep sentral dalam pemikiran Gramsci adalah Hegemoni, yang kerap dirumuskan sebagai kepemimpinan moral dan intelektual suatu kelompok atas kelompok-kelompok lain. Pengaruh moral dan intelektual ini yang pada gilirannya membangkitkan dukungan (consent) dan persetujuan pada kelompok yang hegemonik. Consent adalah satu sisi dari dua sisi kekuasaan. Kekuasaan adalah consent yang didukung dan diperkuat oleh koersi (coercion) atau kekerasan” [4]

Revolusi, atau lebih tepatnya Revolusi Sosial adalah saran yuang diberikan oleh Karl Marx sebagai jalan pembebasan sekaligus pewahyuan menuju cita cita tidak terjadinya lagi perbedaan dan ketimpangan kelas-kelas sosial di masyarakat. Hal ini disebabkan karena dalam masyarakat industri Marx menemukan bahwa kapital telah menjadi kapitalisme, modal yang seharusnya hanya menjadi alat tukar (kapital) semata dikonversi menjadi sebuah hasil akhir yang harus dicapai bahkan sebuah paham (kapitalisme). Kapitalisme, terjadi ketika bourjuis sudah melakukan penumpukan modal secara berlebihan termasuk menaikkan waktu sistem mekanisme kerja produksi bagi para buruh. Semua dilakukan agar menghasilkan produk dan menjualnya sebanyak-banyaknya. Dan ini beribas terbalik dengan kesejahteraan buruh.

Semakin menguatlah logika ekonomi dalam sistem mekanisme produksi yaitu memperoleh laba sebesar-besarnya dan termasuk melakukan penumpukan/ penimbunan juga mengurangi pengeluaran serendah-rendahnya. Imbasnya jurang perbedaan pada kelas-kelas sosial di masyarakat yang saling berbeda semakin terbuka yaitu proletar yang di representasikan sebagai kelas pekerja dan borjuis yang di representasikan sebagai pemilik modal. Sehingga seruan ’Manifesto Communista’ adalah jalan keluar sekaligus solusi terbaik dan terindah yang dibayangkan oleh Marx dan tentunya para Ideolog-Ideolog ’Marxis Oldschool’ (Ortodox) lainnya. Pasca revolusi kelas maka diharapkan semua dapat berdiri seimbang, setara satu dengan lainnya. Faktanya revolusi kelas sosial tidak akan pernah terjadi ? Terutama bila kita mengandaikan bahwa revolusi sosial adalah sebuah akumulasi dari setiap rasa yang sudah tertanam di alam bawah sadar dan mengumpul secara kolektif di lapisan sosial yang terendah dan yang ter-marginalisasi. Bahkan mungkin revolusi sosial yang diharapkan dengan seruan Marx ’Kaum Buruh Bersatulah’ !!! sangat sulit untuk diharapkan sebagai satu-satunya alasan dilakukannya sebuah revolusi. Revolusi sosial dengan penggulingan dominasi otoriter kekuasaan memang pernah dilakukan dan dalam kategori berhasil di berbagai belahan dunia ini seperti Revolusi Bholsevik di Rusia,[5] runtuhnya Rezim Batista di Kuba.[6] Meskipun demikian faktanya revolusi seperti tersebut sulit dan tidak akan terjadi kembali pada masa sekarang. Semuanya sudah berubah

Jurgen Habermas[7] pemikir Marxis dari Mazhab Frankfurt Jerman, menyatakan saat ini telah terjadi sebuah diskursus yang terus menerus terjadi diantara kelas-kelas sosial, termasuk diskursus yang dilakukan oleh para kelas proletar dan borjuis tersebut. Diskursus ini yang menghasilkan ’Kapitalisme Tingkat Lanjut’. [8] Mekanisme kerja kapitalisme yang jelas berbeda saat masa Karl Marx. Rasio Komunikatif dan pemahaman ’Kapitalisme Tingkat Lanjut’ versi Habermas inilah yang pada akhirnya menjadi roh bagi gerakan newleft atau kiri baru di belahan Eropa. Antonio Gramsci [9] seorang aktivis, jurnalis, dan pemikir Marxis dari Turin Italia juga menambahkan bahwa saat ini juga telah terjadi ’pertukaran sistem tanda’ dan bukan lagi ’pertempuran simbol simbol’ diantara kelas-kelas sosial dari yang terendah dengan kelas tertinggi. Sehingga akhirnya semua jarak yang tercipta di setiap kebudayaan masyarakat menjadi semakin ’tersamarkan’ meskipun sebenarnya jarak masih terbuka dan bahkan sangat lebar tentunya oleh kepentingan borjuis. Hubungan yang tersamar ini yang tidak terbuka secara lebar yang menyebabkan revolusi sosial sulit akan terjadi.

Gramsci yang juga pernah mengalami kegelisahan karena tidak hadirnya revolusi sosial di Italia dan pernah dipenjara saat Fassisme Mussolini, menambahkan bahwa revolusi tidak terjadi karena bourjuis atau pemilik sumber daya dan penguasa sudah tidak lagi menggunakan alat-alat negara seperti dengan militerisme (dominasi = hardpower) tapi menggantikannya dengan cara-cara yang lebih halus (hegemoni = softpower). Sehingga telah dirubahnya cara-cara mencapai kekuasaan. Dari sebelumnya dengan Dominasi yang memperoleh kekuasaan dengan pendekatan kekerasan baik dengan anarkhisme maupun vandalisme, telah dirubah dengan pendekatan Hegemoni dengan memperoleh kekuasaan melalui kesepakatan atau persetujuan. Bourjuis tentunya jelas memiliki kekhawatiran bila terus menerus melakukan dominasi totalitarianisme maka akan mendapat perlawanan secara terbuka pula sehingga mekanisme dilakukan dengan cara-cara hegemoni. Dominasi menjadi tersamarkan meskipun sangat nyata dalam keseharian.

Dunia ’kapitalisme tingkat lanjut’ atau dominasi yang disamarkan oleh penguasa ini jelas masih dalam logika ekonomi pasar. Sehingga hegemoni dilakukan dengan dua tahapan. Pertama, adalah sosialisasi ide-ide dan pencitraan dari bourjuis kepada proletar supaya proletar dapat mengembangkan dirinya sedikit menyerupai bourjuis. Padahal dalam kategori proletar yang telah menjadi bourjuis tetap saja dipandang sebelah mata oleh bourjuis utama. Dalam kategori ini maka proletar yang berupaya menjadi bourjuis pastinya hanya menjadi ’bourjuis abu-abu’ bisa juga dikategorikan sebagai kelas menengah. Pencitraan di sosialisasikan dengan memberikan pemahaman mengenai gaya hidup termasuk diantaranya cara berpenampilan, berbusana bahkan sampai pada berbicara. Kedua, Setelah sosialiasi ide-ide sudah gencar dilakukan tahapan berikutnya adalah menjual berbagai macam produk-produk dan teknologi. Sehingga dari konsep diatas maka yang pertama dilakukan adalah marketing ide dan selanjutnya adalah marketing produk. Sehingga diciptakanlah sebuah ’mekanisme ketergantungan’. Hal ini juga yang merupakan inti sistem kapitalisme yaitu selalu mengupayakan sebuah mekanisme ketergantungan

Dalam hal ini maka proses hegemoni sudah dimulai pada tahap pertama yaitu memasarkan sebuah ide demi kepentingan penjualan semata. Segala cara dilakukan dalam proses hegemoni dalam pengertian sosialisasi ide dari yang paling halus bahkan paling kasar. Meskipun tetap dilakukan dengan cara-cara yang halus seperti pemberian subsidi, dana bantuan, hingga bantuan hibah. Termasuk di dalamnya dengan melegitimasinya dengan sebuah kebijakan

Hegemonisasi Dalam Realitas Keseharian [10]

”Proses pembangunan hegemoni atau hegemonisasi adalah gerakan dari kepentingan korporat-ekonomis partikular atau kepentingan kelas tertentu ke kepentingan universal umum atau kehendak khusus ke kehendak umum.”[11]

Novel Lanang karya Yonathan Rahardjo yang telah menjadi Pemenang Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2006 ini mendeskripsikan sebuah sistem kehidupan dalam pola ’kapitalisme tingkat lanjut’ bahkan novel ini sanggup me-narasi-kan hegemonisasi dalam keseharian hidup. Mengingat novel dapat membuat alur cerita dan dialog-dialog panjang bahkan diskursus antar para subyek yang saling bertentangan di dalamnya. Keseluruhan substansi Novel Lanang jelas merupakan sebuah narasi besar mengenai hegemoni korporasi asing (industri farmasi global) yang telah tertanam dalam keseharian hidup Dengan bantuan sekumpulan prostitusi intelektual Sebuah upaya dari korporasi asing dalam membuat sistem dan mekanisme ketergantungan dengan bantuan prostitusi intelektual

Dalam novel ini sebenarnya tergambar bahwa desa pegunungan yang merupakan wilayah koperasi kerja Lanang tidak terdapat sebuah masalah yang dikatakan sangat mendesak untuk ditangani, apalagi dengan kebutuhan harus melangsungkan rekayasa genetik/ bioteknologi sebagai jalan keluarnya. Semua berjalan dengan alami. Diceritakan juga semua aspek berjalan dengan sangat normal seperti kelahiran anak sapi, keluarga yang rukun, peternak sapi pernah yang memiliki keinginan yang masih dalam tahap wajar, pihak koperasi juga menunaikan kewajibannya dengan baik. Sehingga habitus di wilayah pedesaan ini berjalan dengan sistem yang terkelola dengan baik.

Benang merah novel ini, adalah menceritakan Eksistensi[12] Lanang. Lanang adalah seorang Dokter hewan idealis,[13] seorang dokter muda yang profesional dan merupakan seorang.[14] Saat menjadi mahasiswa Lanang juga tergolong cerdas dengan mampu melakukan penelusuran ilmiah yang kuat karena sering melakukan riset-riset di kampus.[15] Lanang dikabarkan baru saja menikah dan langsung boyongan pindah ke pegunungan[16] karena terikat kontrak kerja dengan pimpinan Koperasi untuk mengakomodasi ratusan peternak sapi perah,[17] di sebuah kampung pegunungan wilayah koperasi tersebut.[18] Sebelumnya Lanang berpraktik di sekitar Jalan Arjuna[19]

Pasangan suami istri muda[20] ini memiliki rumah mungil di tepi jalan pegunungan[21] dan juga mobil yang selalu digunakan bepergian,[22] mobil Jip berwarna hijau mulus.[23] Lanang juga terlibat cukup aktif di grup pemuda aliran agamanya,[24] meskipun tempat ibadahnya berlokasi cukup jauh[25] Wilayah pegunungan tempat tinggal dan kerja Lanang juga pernah terjadi peristiwa kerusuhan pembuangan mayat-mayat oleh penembak misterius sebelum terjadinya kematian sapi secara misterius.[26] Puncak eksistensi Lanang pada akhirnya dituduh sebagai pembuat hewan transgenik Burung Babi Hutan[27] dan kemudian ditangkap.[28] Tidak hanya itu bahkan dijadikan kelinci percobaan oleh orang-orang dengan logo salib hijau lambang khas instansi kesehatan[29] di Laboratorim milik Doktor Dewi dalam rangka memperoleh jenis spesies yang lebih baru.[30]

Lanang menikah dengan Putri[31] yang pernah memiliki seekor anjing bernama Taro yang ditinggalkan di kota.[32] Putri berperawakan kulit kuning langsat berambut hitam mengkilat,[33] wajah mulus juga berkulit kuning langsat,[34] memiliki jari-jari tangan yang lentik,[35] memiliki bibir yang mungil[36] bola mata bening,[37] lutut kaki yang jenjang,[38] kaki yang berkulit juga putih kuning langsat.[39] Putri putus kuliah meskipun tidak berarti otaknya tumpul[40] setelah tertangkap basah oleh kedua orangnya saat bermain ’kuda-kudaan’ dengan Lanang.[41] Putri sendiri juga pada akhirnya melakukan perselingkungan dengan Rajikun saat berwujud Burung Babi Hutan[42] dan termasuk bagian konspirasi prostitusi intelektual yang didalangi oleh Doktor Dewi[43]

Novel Lanang ini berkisah tahapan proses hegemonisasi industri kapitalisme yang masuk ke dalam kenyataan hidup sehari-hari. Tahapan awal adalah diciptakannya dan dimunculkannya Burung Babi Hutan pertama kali pada saat Lanang hendak melakukan kewajiban pertamakalinya sebagai seorang suami.[44] Kemunculan Burung Babi Hutan ini sengaja untuk mengganggu habitus yang mulanya sangat tenang dan damai. Digambarkan sosok Burung Babi Hutan yang merupakan hewan transgenik

”Aneh. Di pegunungan yang bertaburan peternakan sapi perah, ternyata ada babi hutan. Babi sungguhankah ?.....Ataukah babi jadi-jadi-an ?. Yang ganjil bagi mereka, babi hutan itu punya sayap. Sangat jelas tadi kepalanya adalah kepala babi yang berbulu. Taringnya melengkung panjang dan tajam. Tubuhnya jelas tubuh babi malah lebih bulat dan berbulu hitam. Kakinya yang belakang dua sisi panjang. Kaki depan dua-duanya lebih mirip sayap. Bisa dipakai berlarinmenjejak tanah, sekaligus bisa mengepak terbang. Tamu yang telah pergi tidaklah meninggalkan jejak. Lantai, kain, beserta perabotan pun terkena dampak semprotan lendir tak lazim, berbau tak kelihatan wujudnya.” [45]

Setelah kemunculan Burung Babi Hutan atau Berwujud Babi Hutan Bersayap[46] di kediaman Lanang. Ternyata Pak Sukarya mendapati anak sapinya yang baru lahir sakit dan memanggil Dokter Hewan Lanang. Sebuah penyakit sapi yang misterius. Beberapa gejala yang ditunjukkan pada sapi perah seperti penyakit Rabies yang disebabkan oleh virus meskipun tanpa gigitan[47] dan Sapi Gila [48]

”Lanang coba memeriksa anak sapi dengan perut berbintik-bintik merah di depannya. Tiba-tiba sapi itu berdiri dengan sigap. Kuat. Seakan hendak terbang !. Namun seketika itu juga anak sapi ambruk. Anak sapi itu menggelepar-gelepar, kejang-kejang. Mulutnya terbuka, tertutup, meringis. Gigi kotor, lidah biru, gusi busuk, berbuih putih keruh. Melenguh, merintih. Menyayat-nyayat hati yang punya telinga mendengarnya. Kaki sapi terjengkang. Perutnya membesar mirip bola karet tipis yang dipompa, tapi ruang yang tersedia tidak cukup menampung udara yang mengisi. Perut makin tegang. Melembung, permukaannya mengeras.pembuluh-pembuluh darah mengurat merah, tidak plastis lagi. Retas, rapuh. Pecah !. Muncrat darah, percik-percik air merah, mengucur, membasahi permukaan tubuh. Isinya keluar, disusul kondisi yang berlawanan. Perut tegang itu melembek, lunglai. Isi perut terburai. Dinding kulit perut paling luar pecah. Lalu dinding dibawahnya. Lalu pelapis lebih dalam. Lalu dibawahnya lagi. Dinding dinding organ dalam terbelah. Dari sekujur kulit, otot dan organ-orgaan itu muncul bisul-bisul merah, biru, hijau, hitam keruh” [49]

Penyakit pada anak sapi perah ini kemudian mengakibatkan wabah dan epidemi kematian pada sapi-sapi perah secara beruntun.[50] Di informasikan juga wabah tidak hanya terjadi di area koperasi peternakan sapi Lanang dan sudah meluas.[51] Uniknya wabah penularan hanya terjadi pada sapi-sapi perah, sedangkan sapi potong tidak terserang. Dan juga tidak ada penularan dari sapi perah ke sapi potong.[52] Sehingga banyak peternak yang menyulap sapi perah menjadi sapi potong dengan mengecat kulitnya dan berbagai cara lainnya tapi tetap saja sapi potong buatan tersebut mati.[53] Wabah peyakit ini semakin dikhawatirkan karena gejalanya seperti penyakit Rabies dan Sapi Gila dan juga kemungkinan suatu saat dapat berubah menjadi Antraks, Burung Ganas, Tuberkulosis, Tetanus, bahkan Busuk Otak dan penyakit buruk lainnya.[54]

Puncak kekalutan akhirnya tidak hanya terjadi pada area peternakan Lanang tapi juga bagi para dokter hewan lain, bahkan sampai kepada pemerintah baik pemerintah lokal maupun pemerintah pusat.[55] Kekalutan ini juga menyebabkan kericuhan dalam birokrasi instansi yang terkait sebut saja Laboratorium Kehewanan setempat,[56] Kepala Dinas Kehewanan yang membawahi Daerah,[57] Ahli Kedokteran Hewan,[58] Perhimpunan Dokter Hewan Nusantara sebagai lembaga profesi dokter hewan,[59] Birokrasi yang dapat melibatkan Camat, Muspika dan Tim Koordinasi Pemberantasan Rabies Dinas Kesehatan serta, aparat Karantina.[60] Bahkan telah sampai tahap siaga satu sehingga Menteri Kehewanan sebagai puncak institusi bidang peternakan dan kehewanan mengeluarkan penyataan. [61]

”Kita harus mengerahkan berbagai instansi untuk secara lebih dalam menyidik kasus ini. Maka identifikasin virus dilakukan oleh tim yang dibentuk terdiri dari Balai detektif penyakit Hewan Langit merah, Balai Investigasi Penyakit Peternakan Langitmendung, Balai Pengujian Kualitas Obat Hewan Manjur Langitungu, Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Tanahlurus, Fakultas Kedokteran Tanahbecek, Fakultas Kedokteran Hewan Tanahmiring”

Dengan arahan yang tebilang klasik

”Perlu langkah-langkah pengendalian dengan menutup dan mengisolasi lokasi serta area kejadian. Laporkan kasus kepada dinas yang melaksanakan fungsi peternakan dan kesehatan hewan setempat dan atau Departemen Kehewanandalam waktu dua puluh empat jam. Selain itu lakukan pemusnahan ternak sakit dan ternak mati serta sanitasi dan desinfeksi terhadap fasilitas peternakan. Dilarang jual beli daging sapi dari peternakan yang terinfeksi. Perlu partisipasi masyarakat persapian dalam memelihara ketenangan masyarakat.”[62]

Kehadiran Burung Babi Hutan yang merupakan makhluk transgenik ternyata sengaja diciptakan untuk memberikan kekacauan pada sistem yang ada. Hal ini dilakukan oleh berbagai aktor yang memiliki topeng-topeng kemanusiaan meskipun pada akhirnya demi logika ekonomi semata. Keberhasilan hegemonisasi ditunjang dengan mekanisme dan jaringan prostitusi intelektual yang melibatkan sejumlah pelacur-pelacur intelektual dan jaringan kerjanya, seperti Dokterandus Sukirno yang menjabat sebagai Pemimpin Koperasi,[63] Penagih hutang ’Bank Kredit Menyicil’ di Lokalisasi-nya Rafiqoh.[64] yang ternyata juga termasuk dalam skema jaringan pelacur intelektual,[65] Mister Robert, Dokter hewan bule lulusan universitas ternama di luar negeri,[66] Konsultan dan Anggota Dewan Pakar Kesehatan Hewan Nusantara,[67] Tamu dari Badan Kesehatan Hewan Dunia, baru bergabung dengan perusahaan besar di Nusantara,[68] kekasih Doktor Dewi[69] dan pada akhirnya juga anggota dan membantu di Divisi Pakan Ternak Transgenik,[70] Rajikun mulanya disebut sebagai pengamat peternakan dan kesehatan hewan, tapi bukan Dokter Hewan[71] dan dinyatakan sebagai Dukun Hewan,[72] juga merupakan bekas pemimpin agama dipecat karena tindakan asusila,[73] juga bersetubuh dengan Putri saat menjadi Burung Babi Hutan,[74] yang ternyata adalah Kepala Divisi Obat Transgenik untuk Hewan,[75] dan otak utama dari proses hegemonisasi prostitusi intelektual ini didalangi oleh Doktor Dewi Maharani,[76] pernah menjadi kekasih Lanang semasa kuliah[77] dimana hubungan mereka putus setelah Dewi menginginkan Lanang mengikuti agama kepercayaannya,[78] seorang dokter dengan latar belakang bioteknologi kehewanan,[79] yang ternyata memegang Divisi Ternak dan Hewan Transgenik[80] sekaligus Pimpinan Institut Peduli Kesejahteraan Total.[81] Bahkan Putri istri Lanang juga terlibat konspirasi karena kedekatannya dengan Dewi semasa kuliah

Pada saat terjadinya kekalutan maka diberikan isu berkembang di masyarakat yang masih tradisional. Termasuk digulirkan di berbagai pertemuan seperti Pertemuan di Kementrian Kehewanan yang jelas berupaya mendiskreditkan pemerintah terkait didalamnya ketidakmampuan profesi dokter hewan birokrasi.

”Saya punya kesimpulan, rencana pernyataan bahwa penyebab kasus itu adalah Burung Babi Hutan merupakan pertanda ketidakmampuan dokter hewan dan birokrat kita bekerjasama dengan banyak pihak dan membuktikan kasus ini secara ilmiah.” [82]

Langkah berikutnya yang dikerjakan prostitusi intelektual tersebut melakukan birokrasi prosedural dari tingkat terendah sampai tertinggi. Dalam novel ini prostitusi intelektual berharap dapat memegang semua kepala penentu kebijakan negeri[83] dengan memaksa Menteri Kehewanan untuk mengatakan secepatnya ke publik bahwa penyakitnya adalah Burung Babi Hutan[84] dan mengesampingkan para ahli yang berseberangan.[85] Menteri Kehewanan ’dipaksa’ untuk mengeluarkan pernyataan utama bahwa penyebab kematian sapi perah adalah Burung Babi Hutan dengan bujukan bahwa obat penangkalnya pasti akan ditemukan termasuk juga mengundang ke laboratorium yang akan membuat obat tersebut termasuk untuk tentunya juga mengenalkan perusahaan obat tersebut.[86] Mekanisme ini juga dilakukan dengan melakukan suap kepada penguasa.[87] Semua mekanisme tersebut bahkan hampir melanggar prosedur yang terlebih dahulu harus mendengar pendapat dari Tim Penyidik Penyakit Sapi Nusantara.[88] Pada akhirnya pengumuman penyebab penyakit dinyatakan juga yaitu Burung Babi Hutan oleh Tim Ahli Pemerintah atas wewenang Meteri Kehewanan.[89] Pernyataan menteri yang bersifat resmi ini merupakan persetujuan dan legitimasi lisan, sekaligus menjadi pintu masuk yang terbuka lebar bagi eksperimen-eksperimen selanjutnyta dari para prostitusi intelektual (Mister Robert, Rajikun, Sukirno dan Doktor Dewi sebagai dalangnya).

Sedangkan pada saat tertangkapnya Burung Babi Hutan, maka prostitusi intelektual memberikan klaim legitimasi ke publik atas keberhasilannya, maka diadakan Undangan Seminar Nusantara Pengenalan Teknologi Canggih Peternakan Pasca Bencana Nusantara Penyakit Misterius[90] yang difasilitasi oleh Institut Peduli Kesejahteraan Total sendiri,[91] dengan pembicara beberapa ahli dari Negara Adidaya, Negara Adikuasa dan dua pakar dari Negara Nusantara. Pakar dari Negara Nusantara sendiri adalah Doktor Dewi Maharani dan Dukun Hewan Rajikun. Kedua pelacur intelektual ini pada akhirnya melakukan legitimasi di publik

Semua tahapan hegemonisasi (untuk mencapai hegemoni = persetujuan) yang dilakukan prostitusi intelektual esensinya berupaya melakukan perombakan total terhadap sistem dan konsep yang telah baku di Koperasi wilayah peternakan Lanang yang terkait dengan Sistem Sumber Daya Alam, Sistem Sumber Daya Manusia, Sistem Sumber Daya Fisik, Sistem Administrasi, Sistem keuangan, sistem pendukung, relasi, para mitra kerja, berasal dari berbagai kelompok masyarakat yang saling berhubungan.[92]

Pada akhirnya prostitusi intelektual memperoleh persetujuan dari publik dan dari penguasa. Puncak hegemoni ini dengan diberikannya sebuah legitimasi resmi atau surat resmi dari sebuah kekuasaan.

”Dewi melirik tulisan pada sampul berkas pertama : Memorandum of Understanding between Nusantara Country with World Animal Health Organization, Di bawahnya tertulis Pengendalian Wabah Misterius penyakit Sapi Perah. Dokumen itu dibuka Dewi, ia baca..................Selanjutnya , untuk memelihara dan menjaga kondisi sapi-sapi perah pengganti ternak yang telah mati, agar dapat aman dari serangan penyakit berikutnya , dibutuhkan obat pencegahan yang dicampur dalam pakan ternak untuk dikonsumsi oleh sapi perah secara berkelanjutan pada periode tertentu umur sapi. Obat yang direkomendasikan Badan Kesehatan Dunia dapat diperoleh satu-satunya di Institut Kesejahteraan Total sebagai satu-satunya produsen yang ditunjuk, dengan masksud untuk menghindari kekacauan pengelolaan.[93]

Pada tataran ini maka sistem dan mekanisme yang baru sudah ter-konstruksi dan berhasil menggantikan sistem yang lama. Sistem baru ini menjadi dasar bagi mekanisme berkelanjutan dalam bingkai kapitalisme, yaitu keberlanjutan menjadi ketergantungan.

” Nusantara mengimport kedelai sejumlah sejuta ton lebih, bungkil kedelai tujuh ratus ribu ton, dan jagung enam ratus ribuan ton......Nusantara juga mengimpor susu sapi sejumlah enam ratus ribuan ton susu bubuk dan susu yang diproses, daging sapi delapan ribuan ton, dan daging hari lima ribuan ton. Semua bahan impor ini berasal dari beberapa negara yang mengizinkan penggunaan teknologi rekayasa genetika dalam proses produksinya. Tujuh puluh persen pakan ternak di Negara Adimaju ini mengandung transgenik.” [94]

” Surat resmi dari Kementerian Kehewanan Negara Nusantara Harap segera..... Hmm.....surat order.....Harap segera dikirim hormon transgenik untuk meningkatkan produksi susu, sejumlah Bonvine Somatotropin Hormon yang dapat meningkatkan produksi susu dua puluhan persen serta memperpanjang masa menyusui.” [95]

Lebih jauh dari Novel Lanang, ternyata tidak terdapat keterkaitan antara Burung Babi Hutan mahluk transgenik yang menyebabkan kematian sapi perah. Burung Babi Hutan ternyata hanya digunakan sebagai pengalih perhatian. Sedangkan sumber utamanya dari kematian sapi perah adalah zat rekayasa genetika sendiri.

”Selain itu, Burung Babi Hutan dikorbankan sebagai penyebab kematian sapi perah jelas untuk mengalihkan perhaatian masyarakat dari penyebaran zat kebodohan dan kemalasan yang kota sebar itu. Juga, karena Burung Babi Hutan kurang bermanfaat, karena telah terjadi persilangan negatif dari sifat kedua makhluk induknya yang menyebabkannya tidak bisa berumur lam. Makhluk itu hanya bisa sampai ditembaak Lanang sesaat kehadirannya di depan lelaki itu, yang merasa mampu mendatangkan Burung Babi Hutan dengan umpan dan medium biji-biji kebajikan takhayul” [96]

” Ia adalah persilangan antara gen kebodohan dan gen kemalasan yang ada pada diri setiap manusia. Apa wujud dari persilangan ini ?. Zat rekayasa genetika[97]

Sehingga pada dasarnya ternyata sebuah sistem secara terus-menerus, perlahan-lahan sudah disusupi dan diinjeksi dari kekuatan luar secara halus. Proses hegemonisasi ternyata tanpa disadari telah berlangsung dengan waktu yang cukup lama. Dalam kasus pada novel Lanang maka hegemonisasi memang sudah berlangsung bahkan sebelum hadirnya prostitusi intelektual. Meskipun pada akhirnya prostitusi intelektual semakin mempercepat pembusukan pertahanan diri dari sistem tersebut.

” Bagaimana kok bisa mematikan sapi-sapi perah ? Begitu sapi perah mengkonsumsi pakan ternak transgenik yang kita pasok dan sebarkan ke seluruh peternakan Nusantara, gen kebodohan dan kemalasan itu langsung menyerbu setiap mekanisme pertahanan tubuh sapi perah. Membuat sapi perah sudah tidak meengenaali lagi mekanisme pertahanan sendiri, apalagi menimbulkan reaksi melawan penyakit. Sehingga, apapun penyakit yang masuk akan memunculkan gejaala parah yang berubah-uubah sesuai jenis penyakit yang ada. Tapi tak bisa diobati karena penyebab tunggalnya memang dihilangkan oleh gen silang tadi.” [98]

Kritik Dari Novel Lanang

Pengetahuan Dari Barat ?

Novel Lanang memberikan sumbangan bagi kritik pengetahuan formalitas barat, karena terlihat digambarkan bahwa terus-menerus terjadi pertukaran simbol dari beberapa kelas yang berbeda. Justifikasinya pengetahuan di barat lebih maju sehingga sangat mendesak untuk dipelajari bila tak ingin tergilas oleh kemajuan jaman. Simbol itu yang selalu di-diskursus-kan dalam setiap kenyataan kesehariaan. Padahal esensinya adalah untuk apa ilmu itu dipelajari ?. Dalam kasus kenyataan keseharian hidup di desa Lanang sudah sangat jelas tidak digambarkan sebuah kondisi yang kekeringan, kelaparan yang menuntut solusi membutuhkan sampai produk pakan ternak dari rekayasa genetika. Sehingga terlihat barat yang memerlukan habitus baru untuk eksperimen dan pemasaran ilmu dan pengetahuan termasuk didalamnya teknologi-teknologi yang terbaru.

”Menurut saya, kalau ia tetap merasa yang paling benar, itulah wataknya. Ia tidak menghormati kebenaran ilmiah yang berabad-abad bisa dipertanggungjawabkan secara universal. Sifat kebenaran masalah, dimana-mana sama, sejajar, setara, egaliter.[99]

”Yang kurang dikenal kalangan medis dolter hewan adalah soal pengobatan tradisional. Sedari kuliah, kepada calon dokter hewan hanya dikenalkan teori anatomi hewan dari kacamata barat, dengan peta antomi tubuh yang dikenal sampai sekarang secara umum. Padahal peta-peta anatomi yang lain juga ada, seperti anatomi aura,reiki, anatomi yang dikenaala kalangan agama tradisional, yang juga menunjukkan peta-peta tubuh tubuh meski tidak lazim dijumpai pada anatomi modern yang selalu dikenal dan diajarkan di kuliah. Dengan mempelajari ilmu-ilmu yang dianggap aneh di dunia kedokteran barat ini kita bisa memahami peyembuhan sapi sekarat oleh Dukun Hewan Rajikun ” [100]

Kokohnya pengetahuan barat ini yang secara sadar dan tak sadar pada akhirnya mengaburkan sebuah kenyataan ’masih ada jalan alternatif lain’ yang bersifat ke-lokal-an dan berwawasan kearifan tradisional. Sebuah ilmu dan pengetahuan yang diwariskan secara turun termurun dan merupakan tanggung jawab bagi generasi mendatang.

”Sementara sebetulnya, banyak alternatif pengobatan alamiah yang lebih aman bagi tubuh ternak juga bagi manusia yang rata-rata menjadi konsumen produk asal ternak. Alternatif itu berarti melengkapi ! Bukan menggantikan. Bermakna : pilihan, Lanang ikut Bicara.Kan sudah ada buktinya pengobatan homeotapi bisa memberi kesembuhan. Akupuntur, akupresur, pengobatan tanaman tradisional: juga bisa. Ucapnya mengalir bagai air sungai yang deras” [101]

”Bukankah kita bertahun-tahun bergulat di bidang ini dan melakukan semua selama ini untuk mengejar hal yang sama ? Bukankah khazanah perdukunan hewan itu bisa memperkaya sekaligus memperbesar dunia kita ? Bukankah itu warisan leluhur kita ? Mengapa kita harus selalu mengekor ilmu barat tapi melupakan akar budaya serta kearifan tradisional seperti yang ditunjukkan Pak Rajikun itu ?” [102]

Etis - kah Rekayasa Genetik ? [103]

Bioteknologi aslinya didefinisikan sebagai segala macam pekerjaan di mana produknya dibuat dari bahan dasar dengan bantuan orgaanisme kehidupan. ....Awalan bio berarti kehidupan. Sedangkan teknologi didefinisikan sebagai cabang dari ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan ilmu terapan.......... Penerapan bioteknologi merupakan suatu tindakan praktis, melibatkan penerapan ilmu pengetaahuan pada pengaturan proses kehidupan.” [104]

”Memang setelah teknologi berkembang pesat, sekarang gen bisa dipindah-pindah atau ditukar-tukar. Misalnya gen kunang-kunang dipindahkan ke tikus dan jagung. Atau gen dari ikan flounder yang hidup di daerah dingin disisipkan ke tomat.Gen tembakau petunia diselipkan ke gen selada dan ketimun. Gen lalat buah ke manusia. Gen dari virus ke melon.” [105]

“Biotech is Godzilla” [106]

Arsitektur Hijau didirikan pad

Rekayasa genetik adalah sebuah kemajuan dari ilmu pengetahuan dan teknologi. Rekayasa genetik merupakan sebuah kemampuan pengetahuan yang dapat mengetahui termasuk memanipulasi manusia pada awal ciptaannya. Rekayasa genetik dan kloning merupakan sebuah ilmu pengetahuan yang dapat mengetahui dan menciptakan ikwal makhluk hidup pada sekitar permulaan eksistensi manusia. Pengaruh terbesar dan dampak yang dapat terjadi dengan adanya penggunaan rekayasa genetika adalah perombakan total piramida rantai-rantai makanan yang sudah tersusun secara alami. Disamping tentunya rekayasa genetik ini sendiri berdampak negatif. Sehingga diperlukan batasan seperti

”Titik tolak hewan transgenik itu dari benda yang sangat kecil ukurannya dalam tubuh tertapi perannya sangat penting yang disebut gen, yang bertugas menentukkan berbagai sifat makhluk hidup.......termasuk soal mangsa-memangsa[107]

”Transgenik sebagai bagian dari perkembangan bioteknologi tidak hanya mempunyai manfaat positif. Dampak negatifnya jauh lebih banyak, dan harus dipikirkan dengan sikap hati-hati dan bijaksana. Agar kemajuan ilmu pengetahuan serta teknologi bukan malah merusak tatanan kehidupan manusia. Tapi justru meningkatkan kesejahteeraan, penuh moral, dan etika” [108]

”Namun kalau keberanian ini justru merusak dan mengacaukan tatanan kehidupan, ya buat apa ? Lihat saja dengan teknologi rekayasa genetika telah memuncullkan hewan-hewan yang mudah terserang berbagai jenis kanker, diabetes, alergi, mudah terserang penyakit, bibit penyakit menjadi kebal terhadap antibiotik, dan menimbulkan gangguan kesehatan dalam jangka panjang sekalipun.......Pertimbangkan juga dampak negatif terhadap lingkungan dari munculnya makhluk transgenik. Spesies ini sangat mungkin bisa mengalahkan spesies alami dan mengurangi keanekaragaman hayati, berubah perilakunya dibanding organisme asli, mengganggu rantai makanan dalam suatu ekosistem, mengganggu kehidupan organisme non- target dalam lingkungan. Seperti orang yang makan daging, susu yang diproduksi dengan trangenik : ternyata berisiko kena kanker payudara, kanker prostat, kanker paru-paru, dan usus. Padahal maksud dibuatnya transgenik daging dan susu ini semula untuk meningkatkan kualitas atau kuantitas produk daging atau susu saja...........Apalagi ternyata, masih banyak alternatif lain dengan teknologi yang ramah lingkungan yang bisa menjawab permasalahan pemenuhan kebutuhan pangan itu sendiri[109]

Rekayasa genetik dapat mengakibatkan manusia lupa akan hakikatnya sendiri dan berupaya mendefinisikan ulang sistem kehidupan. Khotbah Doktor Dewi di dalam kawasan industri transgenik[110] di hadapan sejumlah hewan transgeniknya seperti Pulan gadis aneh yang wajahnya mirip Lanang dan Putri, seekor sapi berpenampilan rapi, seekor domba betina gemuk, dua ekor kera yang sedang berayun.[111] Layaknya Tuhan saat melahirkan semesta alam, sehingga ilmu pengetahuan menjadi Tuhan.

Kalian bukan sembarang sosok yang menjadi bagian dari hidupku. Kalian hadir di bumi indah ini karena penerapan bioteknologi yang merupakan sebuah suatu tindakan praktis, melibatkan penerapan ilmu pengetahuan pada pengaturan proses kehidupan. Para bapak dan ibu kalian, kami ini, telah terus menerus menghadapi tantangan peningkatan efisiensi produksi pada pengembangan dan penggunaan teknologi yang modern pada hewan..........Dengan memadukan kemajuan pada bidanng biologi sel dan molekuler, biokimia dan ilmu komputer, kalianlah perwujudan niat kita untuk mengubah jalan kita melihat dunia dan merevolusi bidang pertanian dan kedokteran. .................Kita juga mendefinisikan kembali industri kehewanan, kerjasama antara perguruan tinggi dan sektor swasta, dan penciptaan tantangan dan kesempatan bagi kaum pertanian, ilmuwan dan pengusaha yang selama ini tidak terbayangkan” [112]

Sebagai Penutup, novel ini jelas menggambarkan sebuah proses hegemonisasi yang berlangsung secara perlahan-lahan, terus-menerus berkesinambungan dan berkelanjutan dalam sistem kehidupan. Pada suatu masa maka mengkristalnya hegemoni ini akan menjadi lebih dikhawatirkan karena membuat sebuah sistem akan membusuk secara perlahan-lahan tanpa disadari. Disaat sudah membusuk dan sekarat maka terjadi keterlambatan dalam menyikapi masalah. Bahkan ironisnya ’tubuh diri’ dari sistem yang sekarat tersebut pada akhirnya menyerah dan akan memilih melakukan ’bunuh diri’. Meronta-ronta minta dibunuh.

Sehingga novel Lanang ini selain menarasikan hegemoni yang sudah menggerogoti sistem kehidupan juga menawarkan jalan keluar agar kita terus menyikapi proses hegemonisasi tersebut dengan menjadikan novel ini sebagai bahan refleksi termasuk juga resistensi. Resistensi tentunya tidak hanya dilakukan dengan aksi massa semata, tapi juga melakukan resistensi dengan memperkuat pertahanan diri. Melakukan resistensi atau perlawanan dalam setiap proses hegemonisasi ini menjadi semakin penting disaat hegemoni belum berubah menjadi dominasi. Dalam novel lanang maka kekhawatiran adalah hegemoni pengetahuan asing akan menjadi dominasi pengetahuan.

Selain novel Lanang ini menarasikan proses hegemonisasi yang berlangsung dalam keseharian, dan menawarkan sebuah resistensi atas proses hegemonisasi tersebut. Maka novel ini merupakan kontribusi dari penulisnya Yonathan Rahadrjo bagi ruang publik (baca = republik) ke-Indonesia-an kita. Kontribusi dari penulisnya yang juga seorang dokter hewan yang bukan hanya mengenalkan lebih jauh kepada khalayak umum mengenai kontekstual masalah dalam profesi kedokteran hewan, melainkan kontekstualisasi ke-Indonesia-an kita. Novel ini juga jelas sebuah opini dari penulisnya yang terkandung muatan-muatan moral dan etis sebagai ’civil society’ (baca = masyarakat/ komunitas warga) di ruang kepublikan Indonesia. Akhir kata novel ini adalah sebuah kekuatan perjuangan dari ’civil society’ di Indonesia. Sebuah novel yang dapat menjadi inspirasi bagi setiap ’civil society’ dari berbagai komunitas di Indonesia seperti sastrawan, peneliti, jurnalis, aktivis lingkungan, intelektual organik, dan masih banyak yang lainnya.

-------------------------------------------------------------------------------------------------------

NB :

Dibawah ini ada beberapa kata yang membingungkan dan membutuhkan penjeasan dari penulis Novel Lanang :

ü Dalam belantara onak hati Lanang sendiri........[113]

ü Terjadi kebingungan saat Lanang berhasil menembak seekor ular piton[114] yang sebesar betis tapi kemudian yang dicungkilnya adalah ular bangkai kobra[115]

ü Lanang tepekur[116]

ü Kau dan aku adalah pasangan melantai dalam onak berderet berkepanjangan[117]

ü Rangket Rajikun[118]

ü Dalam lahan berkapasitas ronak [119]

Mantra japa kelakari hujan ap


[1] Tulisan merupakan uraian-uraian dari pembacaan Novel Lanang dan disajikan pada Diskusi Novel Lanang, di Lokasi H.B Jassin Hari Senin, Tanggal 30 Juni 2008. Sederhananya saya menyatakan prostitusi intelektual karena ilmuwan sudah bukan lagi bekerja atas dasar kemanusiaan, bahkan juga ilmu dan pengetahuan. Melainkan hanya logika ekonomi semata. Dalam Novel Lanang memang terdapat kata Pelacur ilmiah yang dinyatakan dibagian itu adalah ilmuwan yang melakukan diagnosa dan penanggulangan penyakit tidak masuk akal apalagi kaidah kaidah ilmiah. Tapi saya lebih mengandaikan prostitusi intelektual dengan sebuah sekumpulan pelacur-pelacur intelektual yang tidak memiliki tanggung jawab ilmuwan (kemanusiaan) dan telah memiliki jaringan yang kuat.

[2] Peneliti. Penikmat musik dari genre metal dalam setiap sub genre (heavy, power, speed, progressive, symphony, trash, death, core) dan extreme metal lainnya terutama Deathmetal & Grindcore. Paling menyukai Judas Priest, Helloween, Dream Theathre, Angra, Napalm Death, Carcass, Tengkorak, Dead Vertical.

[3] Menurut hemat saya revolusi atau lebih tepatnya revolusi sosial adalah sebuah antitesis dari evolusi sebuah perubahan yang bertahap dan memakan waktu yang lama. Revolusi sebuah perubahan yang cepat, drastis untuk membangun sebuah sistem yang baru dan lebih baik dari sistem yang sebelumnya. Revolusi tidak selalu identik dengan aksi massa dengan gelombang demonstrasi bahkan pertumpahan darah. Mungkin hal tersebut bisa menjadi pemicu revolusi sosial tapi esensi yang terpenting adalah perubahan yang dihasilkan.

[4] Imam, Roberth ”Civil Society dalam Pemikiran Antonio Gramsci”. Makalah Extension Course Filsafat, Tema Kuliah Ruang Publik = Menyelami Konsep, Dinamika dan Aktualitasnya. Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. 2008.

[5] Pada tahun 1917 Revolusi Bholsevik digerakan oleh para kelas buruh di pabrik.

[6] Fidel Castro, Raul Castro tentunya Ernesto ‘Che’ Guevara berhasil menjatuhkan dominasi kekuasaan dan militerisme Rezim Batista setelah melakukan perlawan gerilya di Hutan Belantara ’Sierra Maestra’.

[7] Jurgen Habermas seorang filsuf dan pemikir sosial dari Mazhab Frankfurt (Frankfurt School) Jeman. Habermas bahkan lebih besar dari anggota lainnya seperti Theodore Adorno, Horkheimer, Herbert Marcuse, Walter Bejamin bahkan Erich Fromm (sang psikososial marxis). Idenya yang terkenal seperti rasio komunikatif, demokrasi deliberatif. Beberapa dan bahkan semua ide-ide habermas dijhadikan sebagai kerangka keerja oleh para habermasian yang bermuara pada kiri baru (new left)

[8] Kapitalisme tingkat lanjut tentunya tidak bisa hanya dipertentangan dan mengandalkan para ideolog - ideolog ’marxis old school’ yang secara terus menerus menyatakan buruh inti semua perubahan dalam masyarakat industri. Perjuangan level ini perlu tapi belum tentu signifikan mengingat buruh hanya salah satu sektor di masyarakat industri.

[9] Gramsci pernah berada dalam kondisi yang serba bingung ketika revolusi tidak datang saat semua perangkat-perangkatnya sudah disiapkan. Gramsci di penjara saat masa fasisme Il Duce Mussolini.

[10] Semua bagian dari naskah ini berupaya mengambil benang merah dari proses hegemonisasi yang telah dilakukan oleh prostitusi intelektual dalam memperoleh kekuasaan dengaan pendekatan menuju kesepakatan dan persetujuan. Semua kutipan diambil dari Novel Lanang.

[11] Imam, Roberth ”Civil Society dalam Pemikiran Antonio Gramsci”. Makalah Extension Course Filsafat, Tema Kuliah Ruang Publik = Menyelami Konsep, Dinamika dan Aktualitasnya. Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. 2008.

[12] Keseluruhan novel Lanang ini jelas merupakan eksistensi-pergumulan-perjuangan hidup seorang Lanang yang tidak hanya dihadapkan dengan sistem hubungan sosial yang Patriarki, melainkan juga terkait sistem kapitalisme global yang terkait dalam memasok obat-obatan bagi hewan dengan berbagai cara-cara yang diluar kemanusiaan.

[13] Rahardjo, Yonathan.“Lanang”. Alvabet. Cetakan Pertama Mei 2008. (Baca hlm 6)

[14] Baca hlm 20

[15] Baca hlm 49

[16] Baca hlm 6

[17] Baca hlm 6

[18] Baca hlm 27

[19] Baca hlm 85

[20] Baca hlm 46

[21] Baca hlm 45

[22] Keberadaan Lanang memiliki mobil pertama muncul (4)

[23] Baca hlm 304

[24] Baca hlm 77

[25] Baca hlm 77

[26] Baca hlm 36

[27] Baca hlm 295

[28] Baca hlm 376

[29] Baca hlm 388

[30] Baca hlm 388 – 414

[31] Keberadaan Putri pertama kali hadir di awal cerita (1) dan diketahui sebagi istri Lanang dan bernama Putri (5)

[32] Baca hlm 7

[33] Baca hlm 47

[34] Baca hlm 70

[35] Baca hlm 48

[36] Baca hlm 51

[37] Baca hlm 57

[38] Baca hlm 76

[39] Baca hlm 58

[40] Baca hlm 47

[41] Baca hlm 347

[42] Baca hlm 314

[43] Baca hlm 346

[44] Baca hlm 10 - 14

[45] Baca hlm 14.

[46] Pada bagian ini Burung Babi Hutan dianggap sama dengan Babi Hutan Bersayap. Menujuk pada satu jenis hewan transegenik yang sama

[47] Baca hlm 40

[48] Baca hlm 62

[49] Baca hlm 23 – 24

[50] Mulai terjadi kekalutan pada area peternakan akibat kematian sapi perah yang berimbas pada kehidupan petani ternak (hlm 25 – 26) yang berlokasi

[51] Baca hlm 27 -28

[52] Baca hlm 30

[53] Baca hlm 38

[54] Baca hlm 66

[55] Baca hlm 56

[56] Baca hlm 29

[57] Baca hlm 37

[58] Pada saat ini peran Ahli Kedokteran Hewan sudah mulai dipertanyakan. Terkait otoritasnya dalam penanganan kasus kematian sapi (41 -42)

[59] Baca hlm 130

[60] Untuk mencegah masuknya rabies dari luar wilayah (hlm 64)

[61] Baca hlm 65 - 66

[62] Baca hlm 88 - 89

[63] Baca hlm 101

[64] Baca hlm 368 – 373. Rafiqoh, seorang pekerja seks komersial di lokalisasi (113)

[65] Baca hlm 361

[66] Baca hlm 244

[67] Baca hlm 243

[68] Kemunculan pertama Robert saat tepon dengan Doktor Dewi (145)

[69] Baca hlm 263 – 264. Bertemu saat pesta Tahun Kebangkitan Kehewanan Dunia (325)

[70] Baca hlm 360

[71] Nama Rajikun mulai hadir pada saat pertemuan di Metropolitan (hlm 97)

[72] Baca hlm 102. Dalam posisinya sebagai Dukun Hewan Rajikun yang pertama kali menyatakan bahwa Burung Babi Hutan adalah perantara penyebaran kuman yang menyebabkan kematian pada sapi perah (103)

[73] Bahkan Rajikun juga merupakan bekas pemimpin agama dipecat karena tertangkap basah oleh Lanang melakukan kegiatan asusila pada anak gadis jemaat meskipun dia sendiri sudah memiliki anak dan istri (310)

[74] Baca hlm 81 -84

[75] Baca hlm 359.

[76] Pertama kali disinyalir hadir dalam pembicaraan di telpon bersama Putri (48 – 49) dan berada duduk di kursi pimpinan yang dimejanya terpajang miniatur–miniatur hewan yang sosoknya aneh (58). Doktor ayu dengan wajah yang sensual (155), berbibir merah (159), lekuk tubuh yang ideal dan berkulit putih (160 – 161), berambut hitam kecoklatan (164)

[77] Baca hlm 260, Dewi merupakan kekasih Lanang saat masa kuliah tepatnya saat berkegiatan pecinta lingkungan di kampus (347), sebelum akhirnya berumah tangga dengan Putri (159)

[78] Baca hlm 269

[79] Baca hlm 252. Doktor Dewi melanjutkan studi ke negeri jauh kuliah pascasarjana di bidang Bioteknologi Kehewanan (160)

[80] Baca hlm 359

[81] Baca hlm 251

[82] Baca hlm 185

[83] Baca hlm 145

[84] Baca hlm 143 – 145

[85] Di bagian ini dinyatakan para ahli yang berseberangan memiliki pengetahuan layaknya ampas-ampas dari keluaran pabrik utama. Baca hlm 146.

[86] Baca hlm 174 – 175

[87] Baca hlm 178

[88] Baca hlm 175

[89] Baca hlm 195

[90] Baca hlm 287

[91] Baca hlm 322

[92] Baca hlm 247 – 249

[93] Baca hlm 398

[94] Baca hlm 271

[95] Baca hlm 377

[96] Baca hlm 4110 - 411

[97] Baca hlm 406

[98] Baca hlm 406

[99] Baca hlm 141

[100] Baca hlm 135

[101] Baca hlm 137

[102] Baca hlm 140

[103]Hemat saya makna yang terkandung dalam nilai-nilai Etis adalah apakah semua yang Bisa dilakukan Boleh dilakukan ? lantas apa dasar melakukan hal tersebut. Seperti itulah Rekayasa Genetika dalam kehidupan manusia.

[104] Baca hlm 288 -289

[105] Baca hlm 150

[106]Kutipan ini merupakan judul sebuah lagu Sepultura dari album berjudul Chaos A.D. Sebuah kelompok musik beraliran trashmetal yang pernah mengharu biru di era 90 dan bahkan dianggap pesaing yang sangat serius dari Metallica. Sepultura pernah konser di Indonesia (Jakarta & Bandung). Sebuah kelompok musik yang dilahirkan dari rahim kekumuhan kota Belo Horizonte-Sao Paolo, Brasil. Di Indonesia sendiri kelompok ini sering diplesetkan dengan Sepuluh Tuntutan Rakyat bahkan Sekumpulan Tukang Rantang.

[107] Baca hlm 33 -34

[108] Baca hlm 362

[109] Baca hlm 362 -363

[110] Baca hlm 355

[111] Baca hlm 348

[112] Baca hlm 348 – 349

[113] Apa itu onak ? (hlm 55)

[114] Ular Piton (hlm 58) dan kemudian yang dicungkilnya adalah ular bangkai kobra (59). Setahu saya piton beda dengan kobra (?????)

[115] Bangkai Kobra

[116] Baca hlm 129

[117] Baca hlm 171

[118] Baca hlm 203

[119] Baca hlm 301

Parmalim: “Kami Bukan Penganut Ajaran Sesat”

Parmalim: “Kami Bukan Penganut Ajaran Sesat”

“Marpangkirimon do na mangoloi jala na mangulahon patik ni Debata, jala dapotna do sogot hangoluan ni tondi asing ni ngolu ni diri on.”

-Pantun ni Ugamo Malim

Manusia yang mematuhi dan mengikuti ajaran Tuhan dan melakukannya dalam kehidupannya, memiliki pengharapan kelak ia akan mendapat kehidupan roh suci nan kekal.
-Kata bijak Ugamo Malim

Secara implisit, inilah yang menjadi ajaran suci keyakinan Ugamo Malim atau lebih dikenal dengan Parmalim di Tanah Batak sejak turun temurun, seperti yang dikatakan Raja Marnakkok Naipospos selaku Ulu Punguan (pemimpin spiritual) Parmalim terbesar di Desa Hutatinggi Kecamatan Laguboti, Kabupaten Toba Samosir.

Menurut beberapa pandangan ilmuwan sosial, sebenarnya Ugamo Malim layak menjadi sebuah agama resmi. Alasannya ialah dalam ajaran aliran ini juga terdapat nilai-nilai religius yang bertujuan menata pola kehidupan manusia menuju keharmonisan, baik sesama maupun kepada Pencipta. Dan secara ilmu sosial tujuan ini mengandung nilai luhur.

Hanya saja, peraturan pemerintah membantah advokasi tersebut dengan alasan masih adanya berbagai kejanggalan. Misalnya, ketidakadaan dokumen sejarah yang jelas mengenai kapan Parmalim pertama kali diyakini sebagai sebuah kepercayaan di Tanah Batak. Alasan lain, yang tentu saja mengacu pada persepsi umum adalah ketidakadaan kitab suci dan nabi yang jelas berdasarkan kitab suci, yang apabila ada. Di samping itu masih saja ada persepsi masyarakat yang mengatakan bahwa ajaran Parmalim adalah ajaran sesat.

“Kami bukan penganut ajaran sesat,” kata Naipospos kepada Global ketika dijumpai di kediamannya, Selasa (2/1/07). “Bahkan, ajaran Parmalim menuntut manusia agar hidup dalam kesucian,” jelasnya kemudian menerangkan secara detail asal-muasal kata Parmalim yang berasal dari kata “malim”. Malim berarti suci dan hidup untuk mengayomi sesama dan meluhurkan Oppu Mulajadi Nabolon atau Debata (Tuhan pencipta langit dan bumi). “Maka, Parmalim dengan demikian merupakan orang-orang mengutamakan kesucian dalam hidupnya,” jelas Marnangkok.

Lantas, apa pasal sehingga aliran ini tidak layak dijadikan sebagai agama resmi? Bahkan, aliran ini dianggap sesat dengan tuduhan sebagai pengikut “sipele begu” (penyembah roh jahat atau setan). “Alasannya jelas,” kata Marnangkok. “Mereka (masyarakat awam dan pemerintah) tidak mengerti siapa sebenarnya yang kami sembah dan luhurkan. Yang kami puja tak lain adalah Oppu Mula Jadi Na Bolon bukan”begu” (roh jahat),” katanya. “Dan inilah yang menjadi bias negatif dari masyarakat terhadap Parmalim.”

Marnangkok kemudian menjelaskan, Oppu Mula Jadi Nabolon adalah Tuhan pencipta alam semesta yang tak berwujud, sehingga Ia mengutus sewujud manusia sebagai perantaraannya (parhiteon), yakni Raja Sisingamangaraja yang juga dikenal dengan Raja Nasiak Bagi. Raja Nasiak Bagi merupakan julukan terhadap kesucian (hamalimon) serta jasa-jasanya yang hingga akhir hidupnya tetap setia mengayomi Bangsa Batak. Nasiak Bagi sendiri berarti ditakdirkan untuk hidup menderita. Ia bukan raja yang kaya raya tetapi hidup sama miskin seperti rakyatnya.

Dengan demikian, Parmalim meyakini bahwa Raja Sisingamangaraja dan utusan-utusannya mampu mengantarkan mereka (Bangsa Batak) kepada Debata.

Hanya saja, hingga kini persepsi umum mengatakan bahwa Parmalim memuja Raja-raja Batak terdahulu dan utusan-utusannya. Tentu saja ini dipandang dari tata cara pelaksanaan setiap ritualnya sangat berbeda dengan ritual agama-agama samawi dan agama lainnya. Mereka menggunakan dupa dan air suci (pagurason) di samping daun sirih untuk ritual khusus.

Namun, dalam menyoal status Parmalim muncul lagi sebuah pertanyaan mengenai sampai kapan keterkungkungan mereka itu akan lepas? Kenyataan menjelaskan bahwa Parmalim selalu diperlakukan secara diskriminatif dalam banyak perolehan akses hidup sebagai warga negara. Contohnya, dalam memperoleh pekerjaan di dinas pemerintahan, izin-izin resmi serta bias sosial yang negatif. Di samping itu tak jarang pula media mengadvokasi eksistensi mereka demi hak-hak dan kebebasan mereka, namun hasilnya tetap nihil.

Di sisi lain, bunyi pasal 29 ayat 1 dan 2 UUD 1945, yang menyatakan bahwa setiap WNI diberi kebebasan meyakini agama dan kepercayaan nyata-nyatanya belum memberi mereka kebebasan dan hak mereka sebagai WNI.

Anjing menggonggong kafilah berlalu. Demikianlah adanya. Pengalaman mereka menunjukkan, hingga kini mereka merupakan komunitas marginal “original” di Tanah Batak. Aliran Ugamo Malim diyakini sebagian orang sudah ada sebelum ajaran Kristen dan Islam masuk ke daerah itu. Namun, mereka kian terpinggirkan kini.

“Pemerintah menganggap Ugamo Malim bukan sebagai agama, melainkan hanya sebuah budaya yang bersifat religius,” kata Marnangkok.

Alasan ini jugalah yang menjadikan Ugamo Malim belum mendapat pengakuan dari pemerintah. Seperti kata Marnakkok, akibat keterkungkungan ini banyak pengikutnya yang secara diam-diam mengakui agama lain secara formalitas demi mematuhi birokrasi yang berlaku di pemerintahan, dalam pengurusan KTP dan pekerjaan misalnya. Namun ada juga yang secara formalitas mencatatkan agama lain pada KTP-nya tapi kenyataannya ia tetap mengikuti ajaran Parmalim. Yang terakhir, ada yang samasekali tidak mau keduanya, yaitu tidak mau mengikuti formalitas dan tetap menjalani hidup diskriminatif sebagai Parmalim, seperti Marnagkok sendiri.

Hidup dalam kepasrahan
Perjuangan akan kebebasan dan hak, nyatanya bukanlah tanpa kendala. Demikianlah yang terjadi. Bukan hanya tidak adanya pengakuan dari pemerintah maupun masyarakat. Kendala utamanya tak lain adalah ketidakberdayaan mereka.

Marginalisasi komunitas kecil ini (yang hanya 1.400 kepala keluarga, termasuk di seluruh dunia), sudah mengakar dalamnya. Sejak dulu ketidakberdayaan ini diakibatkan sedikitnya pengikut Parmalim yang berkecimpung di lingkungan pemerintahan dan dunia politik.

Hidup dalam kepasrahan. Barangkali itu jugalah intisari dari pernyataan kata bijak Parmalim yang mengatakan: “Baen aha diakkui sude bangso on hita, ia anggo so diakkui Debata pangalahon ta.” (Tidakklah begitu berarti pengakuan semua bangsa terhadap kita, dibandingkan pengakuan Tuhan terhadap perilaku kita).

Seperti apa yang kemudian dijelaskan Marnangkok, “ Untuk apa pengakuan dari setiap bangsa jika Tuhan sendiri tidak mengakui perbuatan kita di dunia ini?” Nampaknya, perjuangan Ugamo Parmalim sudah berujung pada kepasrahan. “Seorang rekan pernah mengusulkan agar mengajukan petisi kepada pemerintah mengenai hal pengakuan ini,” kenangnya menyebut Dr Ibrahim Gultom (kini Pembantu Rektor UNIMED) yang selama 2 tahun pernah meneliti gejala sosial dalam eksistensi mereka dalam tesis doktoralnya “ Ugamo Malim di Tano Batak.” Tapi, saat itu ia menolak.

Dalam kepasrahan ini tentu saja masih ada harapan. Tapi, harapan itu bukanlah berasal dari dunia, melainkan dari Oppu Mula Jadi Nabolon. Dalam harapan itu, ada pula ketaatan untuk selalu mempertahankan hidup suci.

“Kami tidak diakui bukan karena kami telah melakukan kejahatan, melainkan hanya prasangka buruk tentang kami,” katanya. Selanjutnya ia mengucapkan kalimat dalam bahasa Batak, ”Berilah kepada kami penghiburan yang menangis ini, bawalah kami dari kegelapan dunia ini dan berilah kejernihan dalam pikiran kami.”

Mereka yakin Debata hanya akan memberkati orang yang menangis. Nah, dalam kepasrahan yang berpengharapan inilah mereka hidup. Dalam keterasingan itu juga mereka menyerahkan hidupnya pada “kemaliman” (kesucian). “Parmalim adalah mereka yang menangis dan meratap,” katanya.

Dalam ritual Ugamo Parmalim sendiri, terdapat beberapa aturan dan larangan. Selain mengikuti 5 butir Patik ni Ugamo Malim (5 Titah Ugamo Malim), juga terdapat berbagai kewajiban lainnya seperti Marari Sabtu atau ibadah rutin yang diadakan setiap Sabtu. Kewajiban lain di antaranya adalah Martutu Aek, yakni pemandian bayi yang diadakan sebulan setelah kelahiran, Pasahat Tondi yaitu ritual sebulan setelah kematian, Pardebataan, Mangan na Paet dan Pangkaroan Hatutubu ni Tuhan.

Ada pun larangan yang hingga kini masih tetap dipertahankan di antaranya adalah larangan untuk memakan daging babi dan darah hewan seperti yang lazim bagi umat Kristen. Memakan daging babi atau darah dianggap tidak malim (suci) di hadapan Debata. Padahal dalam ajaran Parmalim sendiri dikatakan, jika ingin menghaturkan pujian kepada Debata, manusia terlebih dahulu harus suci. Ketika menghaturkan pelean (persembahan) kesucian juga dituntut agar Debata dan manusia dapat bersatu.

Selain itu, Parmalim juga tidak diperbolehkan secara sembarangan menebang pohon. Larangan ini diyakini akan mendatangkan bala apabila tidak diacuhkan. Pasalnya, hutan sebagai bagian dari alam yang sekaligus merupakan ciptaan Tuhan harus dilestarikan. Secara tradisi, apabila seseorang ingin menebang pohon di hutan, haruslah menanam kembali gantinya. Konon, ajaran Parmalim meyakini bahwa terdapat seorang raja yang berkuasa di hutan (harangan) yang lalu dikenal dengan Boru Tindolok (raja harangan).

***

Jika melihat fisik bangunan rumah ibadah Parmalim, maka pada atap bangunan terdapat lambang tiga ekor ayam. Lambang ini, menurut Marnangkok, merupakan lambang ”partondion” (keimanan). Konon, menurut ajaran Parmalim, ada tiga partondian yang pertama kali diturunkan Debata ke Tanah Batak, yaitu Batara Guru, Debata Sori dan Bala Bulan. Sementara ayam merupakan salah satu hewan persembahan (kurban) kepada Debata.

Ketiga ekor ayam itu berbeda warna. Yang pertama, berwarna hitam (manuk jarum bosi) merujuk kepada Batara Guru, putih untuk Debata Sori dan merah untuk Bala Bulan. Sedang masing-masing warna juga memiliki arti tersendiri. Hitam melambangkan kebenaran, putih melambangkan kesucian dan merah adalah kekuatan atau kekuasaan (hagogoon). Kekuatan adalah berkah yang diberikan kepada manusia melalui Bala Bulan yang tujuannya untuk mendirikan “panurirang” (ajaran dan larangan).

Hanya saja, diyakini bahwa Raja Sisingamangaraja adalah utusan Debata yang lahir melalui perantaraan roh Debata kepada Boru Pasaribu. Diyakini pula, pada waktu di Harangan Sulu-sulu sebuah cahaya, yang kemudian diyakini sebagai roh Debata datang kepadanya dan mengatakan, “baen pe naung salpu i roma na tonggi, tarilu-ilu ho sonari, roma silas ni roha.” yang menyatakan bahwa: “Walaupun hari ini engkau menangis namun engkau juga akan merasakan kebahagiaan kelak.”

Boru Pasaribu kemudian mengandung dan dianggap berselingkuh dengan marga asing tetapi kemudian disangkal, sebab pada saat roh Debata hadir dan mengucapkan hal itu kepadanya, ia tak sendirian melainkan turut disaksikan putrinya. Maka kemudian, putra yang terlahir itu (yang kemudian dikenal dengan Raja Sisingamangaraja I), diakui sebagai utusan Debata.

Selanjutnya, Raja Sisingamangaraja memiliki keturunan hingga 12 keturunan. Itu pun secara roh. Hanya saja, hingga kini banyak yang tidak mengakui Raja Sisingamangaraja sebagai nabi bagi Ugamo Malim, melainkan hanya sebagai manusia biasa. Raja Sisingamangaja XII sendiri dikenal sebagai pahlawan Nasional. “Itulah yang menjadi anggapan ganjil terhadap Ugamo Parmalim selama ini,” kata Marnangkok.

Hingga akhir hayat Raja Sisingamaraja XII, keyakinan Ugamo Malim kemudian diturunkan melalui Raja Mulia Naipospos, yang merupakan kakek kandung Marnangkok Naipospos sendiri.

Inilah yang kemudian menjadi acuan pada acara atau ritual-ritual besar Ugamo Parmalim yang diadakan rutin setiap Sabtu dan setiap tahunnya. Ritual-ritual besar Parmalim itu seperti Parningotan Hatutubu ni Tuhan (Sipaha Sada) dan Pameleon Bolon (Sipaha Lima), yang diadakan pertama pada bulan Maret dan yang kedua bulan Juli. Yang kedua diadakan secara besar-besaran pada acara ini para Parmalim menyembelih kurban kerbau atau lembu. “Ini merupakan tanda syukur kami kepada Debata yang telah memberikan kehidupan,” kata Marnangkok.

Begitulah Ugamo Malim dalam ritual dan eksistensinya. Persoalan marginalisasi, kesucian, kontradiksi opini publik hingga harapan mereka, barangkali masih menunjukkan banyak pertanyaan. Namun, setidaknya dalam kepasrahan mereka dapat menikmati sedikit kebebasan di desa mereka sendiri, Hutatinggi. Tapi, hanya sedikit.

Sumber : (Toggo Simangunsong) Harian Global

[SB] Tags : Harian Global, Parmalim

Raja Napatar (Cucu tertua Sisingamangaraja XII)

Wawancara dengan Raja Napatar cucu tertua Sisingamangaraja XII


Konon jabatan Raja Sisingamangaraja adalah hasil musyawarah dari enam marga besar Si Onom Ompu yaitu; Bakara, Sinambela, Sihite, Simanullang, Marbun dan Purba. Di Bale ni Onan, prosesi ini dilaksanakan untuk mempersiapkan upacara margondang, lalu meminta kesediaan putera Raja Si Singamangaraja untuk mereka gondangi.

Setiap calon Sisingamangaraja terlebih dahulu memakai ulos batak Jogia Sopipot dan mengangkat pinggan pasu berisi beras sakti beralaskan ulos, sebagai syarat-syarat martonggo. Lalu calon raja diminta memanggil gondang. Lalu dilanjutkan martonggo meminta turunnya hujan. Itulah salah satu prosesi yang harus dilalui Raja Sisingamangaraja.

Tanpa melebih-lebihkan Raja Sisingamangaraja XII, Dialah raja yang tegas konsisten lakukan perlawanan terhadap Belanda. Tak berlebihan jika di kemudian hari ia mendapat gelar pahlawan Nasional.

Beberapa waktu lalu, wartawan TAPIAN Hotman Jonathan Lumbangaol , Jeffar Lumban Gaol, dan Chris Poerba berkesempatan mewawancara cucu Sisingamangaraja XII, Raja Napatar.

Ramah. Tidak ada basa-basi, seperti namanya Napatar yang berarti tidak ada yang disembunyikan. Kesan pertama bertemu dengan pria kelahiran Siborongborong 13 Mei 1941 adalah orang yang bersahabat. Suami dari boru Pakpahan dan ayah tiga orang anak ini agak serius kalau diajak ngomong. Demikianlah wawancara kami dengan Beliau;

Apa yang paling mengesankan yang pernah Anda alami sebagai cucu Raja Sisingamangaraja XII?

Ketika di Bandung semasa kuliah tahun 60-an. Pernah ada sandiwara Sisingamangaraja XII, saya ditunjuk memerankan Sisingamangaraja, tidak ada yang mengetahui saya adalah cucu Sisingamangaraja XII. Lalu, saat pergelaran berlangsung, undangan dari Jakarta melihat saya. “Kalian tahu siapa yang memerankan Sisingamangaraja itu?” kata salah satu undangan. Waktu itu sutradaranya orang Jawa, tidak mengenal saya.

Mereka heran, “pantas dia sangat tahu sejarahnya,” kata mereka. Mengapa saya tidak mengenalkan diri? Karena saya inginkan masyarakat mengenal Sisingamangaraja bukan saya. Itu yang mengesankan.

Saat itu, ada seorang pelukis melukis Sisingamangaraja di tembok. Lukisannya persis. Sampai sekarang saya tidak tahu dimana lukisan itu. Yang saya ingat waktu itu seorang pejabat tentara orang Batak menyimpannya. Sebelum dilukis, pelukis ini mewawancarai saya seperti apa Sisingamangaraja itu. Acara diadakan di Gedung Nusantara Bandung. Itulah penghargaan mereka. Tetapi di Bandung tidak ada jalan Sisingamangaraja, hanya di Yogya yang ada (tertawa).

Sebagai keturunan Raja Sisingamangaraja XII apakah Anda pernah mengalami hal-hal yang misteri?

Saya kira tidak pernah. Hanya Raja Sisingamangaraja yang bisa melakukan mujizat, bukan keturunannya. Namun, jika ada hanya orang lainlah yang bisa melihat itu, bukan kami.

Mengapa tulang belulang Sisingamangaraja XII dipindahkan dari Pearaja (Tarutung) ke Soposurung (Balige). Mengapa justru tidak ke Bakara sebagai asal muasal Sisingamangaraja XII?

Sebenarnya yang membuat itu adalah Soekarno. Tahun 1953 Soekarno datang ke Balige dengan naik Helikopter. Dia berpidato di Lapangan sekarang disebut Stadion Balige. Dalam pidatonya yang terakhir ia mangatakan bahwa “Balige ini bagi saya sangat mengesankan. Pertama, karena ia sangat indah. Kedua, di Balige ini yang pertama dicetuskan orang Batak perang melawan Belanda”.

Setelah itu, ia menanyakan kuburan Sisingamangaraja XII. Ada yang menjawab di Tarutung. Soekarno bertanya lagi, kenapa tidak dipindahkan ke Balige? Dari sinilah perang Batak yang terkenal itu, itu kata Soekarno. Sejak dari situ menjadi diskusi para tokoh Batak masa itu, termasuk salah satu anaknya Sisingamangaraja XII Raja Sabidan ketika itu menjabat sebagai Kepala BRI Sumatera Utara setuju.

Jadi, dibuatlah rapat. Sebab kuburan di Tarutung dianggap sebagai makam tawanan. Jadi, Sisingamangaraja XII tidak lagi dilihat sebagai Sisingamangaraja XII, tetapi Sisingamangaraja XII sebagai pahlawan nasional.

Anda masih ingat prosesi pemindahan makam ketika itu. Umur berapa Anda waktu itu?

Saya masih ingat ketika itu saya berumur sekitar 12 tahun. Sejak dari Tarutung rombongan pembawa tulang belulang itu dikawal haba-haba (angin puting beliung). Sementara rombongan hampir tiba di Balige, angin puting beliung itu berjalan mendahului prosesi yang membawa tulang belulang sang raja. Dan menyapu bersih semua kotoran yang ada di sekitar makam. Lalu angin itu menunjukkan tempat yang menjadi makam Sisingamangaraja XII. Ini fakta karena saya melihat sendiri kejadian itu. Tidak banyak orang tahu tentang hal itu.

Ketika prosesi pemindahan tulang belulang raja Sisingamangaraja XII itu Soekarno datang?

Oh nggak. Hanya waktu itu ia mengirim telegramnya mengucapkan selamat. Waktu itu kami hanya empat orang cucu laki-laki. Saya dan dua adik saya tambah Raja Patuan Sori, ayah dari Raja Tonggo. Katika itu hanya tinggal satu anak, ayah saya Raja Barita.

Jadi, istri Sisingamangaraja XII ada lima; boru Simanjuntak, boru Situmorang, boru Sagala, boru Nadeak, boru Siregar. Boru Siregar sebenarnya adalah istri dari abangnya, setelah Raja Parlopuk. Yang ada keturunannya sampai sekarang hanya dari raja Buntal dan Raja Barita. Sementara dari Patuan Anggi anaknya Pulo Batu meninggal saat umur tiga tahun. Ia meninggal dalam pengungsian, jatuh ke jurang dengan pejaganya.

Saat itu, rombongan Sisingamangaraja XII pisah-pisah. Namun, beberapa kali ada datang pada kami mengaku-gaku “Ahu do Pulo Batu” (Sayalah si Pulo Batu). Tetapi tidak masuk akal. Masih muda mengaku-ngaku. Sebab, kalaulah ia benar seharusnya sudah lebih tua dari ayah saya. Jadi kami tidak percaya. Jadi sekarang cucu Sisingamangaraja XII hanya 5 orang lagi. Sayalah yang paling tua.

Apa yang membuat Sisingamangaraja XII tertangkap?

Sebenarnya, menurut cerita bahwa Sisingamangaraja XII tertangkap karena ada tiga orang yang berhianat. Kalau dulu Pollung, Hutapaung terkenal sebagai pendukung Sisingamangaraja XII. Maka tidak pernah Belanda bisa berhasil tembus ke daerah ini. Lalu, di Samosir Ompu Babiat Situmorang, ia dengan pasukkannya juga raja yang dengan teguh melawan Belanda. Kalau mereka bertemu Belanda, mereka akan dibunuh. Kulitnya kan dijadikan tagading. Sampai sekarang ini masih ada di Harianboho. Jadi merekalah Panglima pasukkan Sisingamangaraja XII untuk menghancurkan Belanda. Lalu di Dairi. Disana ada gua Simaningkir, Parlilitan. Ia di bawah air terjun. Dari tengah-tengahnya ada pintu masuk. Inilah dipercaya sebagai Benteng Sisingamangaraja XII melatih semua pasukkannya.

Dari mana Sisingamangaraja XII membiayai pasukaannya?

Dia tidak memungut pajak. Tetapi katanya di daerah Dolok Pinapan antara Parlilitan dan Pakkat di sana ada tambang emas.

Soal kepahlawan Si boru Lopian?

Dulu, beberapa kali rohnya si Lopian datang ke orang-orang tertentu. Sejak kami memindahkan saring-saring (tulang belulang) Sisingamangaraja XII ke Soposurung, Balige. “Pasombuon muna do holan ahu di tombak on (tegakah kalian membiarkan aku sendiri di hutan ini,” katanya. Sebab, semua keturunan Sisingamangaraja XII yang meninggal dipembuangan baik di Kudus, di Bogor, Jawa Barat kami sudah satukan di makam keluarga persis dibelakang Tugu Sisingamangaraja XII. Oleh karena itu, kami pergi ke Dairi, ke Aek Subulbulon untuk mengambil tulang belulangnya Lopian.

Tetapi tidak mungkin lagi diambil kan? Karena, konon dia juga ditenggelamkan ke dalam sungai Sibulbulon dan di timbun dengan tanah. Kami hanya mengambil secara adat, hanya segumpal tanah untuk dibawah ke Soposurung. Sejak itu tidak pernah lagi boru Lopian trans pada siapapun.

Saat pengambilan, kami juga mendapat ancaman bupati dan masyarakat setempat. Mereka tidak mau bahwa kuburan Lopian dipindahkan. “Sampe adong do istilah tikkini sian harungguan ikkon seketton nami angka namacoba mambuat i. (Kami akan bertindak jika ada yang mencoba mengambil kuburan Lopian).” Namun, akhirnya setelah kita berikan pengertian mereka minta kami untuk mangolosi mereka. 43 margalah mereka yang harus diulosi. Sebenarnya mereka mau minta, perjuangan Sisingamangaraja XII di Dairi tidak boleh dilupakan. Saya jawab, sebenarnya bukan kami yang menentukan. Tetapi kalau bupati meminta kuburan Lopian di Dairi kami tidak menolak.

Sementara beberapa tahun yang lalu Tarnama Sinambela mendirikan patung Si Boru Lopian di Porsea.

Bisa anda ceritakan bagaimana prosesi pengangkatan Raja Sisingamangaraja XII?

Untuk menjadi pengemban Raja Sisingamangaraja ada prosesinya. Saat Raja Sisingamangaraja XI wafat. Raja Parlopuk anak sulung yang harus menjalankan tampuk pemerintahan. Namun semuanya harus karena kesepakatan SI Onom Ompu. Sebab sudah tiga kali dilaksanakan pesta margondang, namun Raja Parlopuk tidak bisa membuktikan syarat-syarat yang diminta. Seperti memanggil hujan. Sementara Patuan Bosar bisa memenuhinya. Waktu itu ia masih ke Aceh, dari sanalah ia bisa mengerti bahasa Arab. Dan bergaul dengan orang-orang Aceh. Ia pulang dari Aceh saat ayahnya sudah meninggal. Sebenarnya Ia tidak mau menjadi Raja, hanya karena masyarakat setempat memaksa ia harus mau menerimanya.

Jadi di Sisingamangaraja XI lah yang menulis pustaha kerajaan 24 jilid. Jadi hanya dalam kepemimpinan Sisingamangaraja XI lah ada penulisan tentang sejarah. Dan buku ini sudah di bawa ke Belanda dan masih ada di museum Belanda. Kami pernah meminta ke Belanda. Tapi menurut mereka, mereka ingin memberikan itu jika sudah ada gedung yang ber- AC. Tetapi karena belum ada kemampuan keluarga hal ini masih terkatung-katung.

Mengapa tidak ada yang meneruskan Sisingamangaraja ke-XIII?

Sebenarnya karena tidak ada yang meminta. Sebab jabatan Sisingamangaraja itu ditentukan oleh enam marga tadi. Biasanya dilakukan penunjukkan di Onan Bale, Di Bakara. Biasanya dalam acaranya, dibunyikan gondang. Pengangkatan Sisingamangaraja juga selalu karena ada masalah genting; ada penyakit atau musim paceklik. Ketika itu menurut mereka hanya jabatan Sisingamangaraja yang bisa menyelesaikan masalah tersebut.

Sionom Ompu itu siapa. Apakah keturunan Si Raja Oloan?

Bukan. Yang disebut Sionom Ompu di Bakkara itu adalah marga Bakkara, Sinambela, Sihite, Simanullang dan tambah dua marga lain Marbun dan Purba. Itulah marga penghuni Bakkara. Bukan Siraja Oloan. Sebab Naibaho dan Sihotang itu di Samosir. Dan mereka itulah raja-raja di Bakkara.

Bagaimana pendapat amang tentang beberapa pendapat dinasti Sisingamangaraja yang tidak hanya berasal dari satu Marga. Ada yang mengatakan Sisingamangaraja itu hanya roh, bisa datang kepada siapa saja?

Bisa jadi. Hanya dari 1 sampai duabelas jelas semuanya dari marga Sinambela. Memang sejak semula kelahiran Sisingamangaraja pertama hasil pernikahan Bona Ni Onan dengan boru Pasaribu, ia lahir setelah 19 bulan. Tetapi kalau disebut tidak mesti Sinambela, saya kira harus dari keturunan Sisingamangaraja. Saya kira harus dari induknya.

Apakah benar keluarga Sisingamangaraja XII yang dipaksa memeluk agama Kristen?

Tahun 1907 semua keturunan Sisingamangaraja ke XII masuk sebagai Tawanan di Pearaja Tarutung. Lalu, ada marga Tobing mengajari mereka untuk agama Kristen setelah itu dibaptis. Ketika itu tinggal 5 anak raja Sisingamangaraja XII. Raja Buntal, Pakilin dan yang lain setelah besar dan disekolahkan ke Jawa. Sebenarnya untuk pembuangan. Sebab, Belanda melihat jika besar takutnya nantinya jadi berpengaruh. Jadi mereka dua orang Di Batavia, satu di Jatinegara, satu lagi di daerah Glodok. Lalu di Bogor, di Kudus mati meninggal disana dan satu di Bandung. Raja Buntal ketika itu lulus dari sekolah hukum. Setelah mereka selesai masa belajar mereka pulang lagi ke Tapanuli. Raja Buntal ditempatkan sebagai wakil Zending Tapanuli mewakili Belanda di Daerah Toba. Sementara Ayah saya (Raja Barita) ditempatkan menjadi camat di Teluk Dalam Nias. Sepulang dari Teluk dalam, ayah saya menikah dan ditempatkan di Tarutung. Dan perkawinannya dibiayai Belanda di Porsea. Dengan semua resepsi Adat Batak. Belanda membawa es cream dari Pematang Siantar. Jadi semua undangan makan es cream waktu itu. Sementara Raja Buntal menikah juga dibiayai Belanda hanya dengan gaya Belanda.

Siapa Raja Tobing itu?

Jadi karena terimakasih dari ompung boru Sagala terhadap kebaikan Raja Henokh Tobing, diberikanlah putrinya Sunting Mariam menikah dengan putranya. Sementara Raja Pontas Tobing memberikan tanah tahanan keluarga di Pearaja Tarutung. Raja Pontas dianggap mengkhianati Sisingamangaraja XII. Satu waktu, Raja Pontas memanggil Sisingamangaraja XII untuk mendamaikan Raja Pontas dengan saudaranya. Begitu Sisingamangaraja XII muncul yang datang ternyata Belanda. Sebenarnya bukan masalah Kristen, tetapi karena ia menjadi mata-mata Belanda. Dengan raja Pontas-lah Sisingamangaraja XII bermasalah. Sekarang, keturunan dari raja ini minta tanah ini kembali digugat (bersebelahan dengan Pusat HKBP), dekat Rumah Raja Pontas. Saya bilang, itu tanah yang diberikan Belanda, tetapi tanah itu kami yang meninggali. Berikutnya pemerintah memberikan bahwa yang menempatilah yang memiliki hak kepemilikan. Maka itu hak kami.

Sejak kapan Sisingamangaraja XII melakukan perang terhadap Belanda?

Setelah Belanda menjadikan Tarutung tahun 1876 sebagai daerah jajahan Belanda.Tahun 1877 rapat raksa di Balige atas reaksi Sisingamangara untuk menentang Belanda. Semua raja-raja Toba dikumpulkan. Keputusan rapat tersebut ada tiga. Pertama, Kita akan perang dengan Belanda, Kedua, Kita tidak anti terhadap Zending. Kita harus membuka hubungan diplomatik dengan suku bangsa yang lain. Ketika itu Barita Mopul dan Raja Babiat ikut untuk rapat itu.

Dari sanalah dimulai perang melawan Belanda. Itulah yang disebut perang Pulas. Dimulai di Bahal Batu daerah Humbang, Lintong Nihuta. Dilanjutkan di Tangga Batu, Balige. Pertempuran Pertama Sisingamangaraja XII masih bisa mengalahkan Belanda. Lalu perang di Balige Sisingamangaraja XII mundur menjadikan perang Gerilya. Tahun 1883 hampir seluruh daerah Toba dikuasai Belanda. Menyingkirlah Sisingamangaraja XII ke arah Dairi.

Kalau tempat-tempat kramat Sisingamangaraja masikah dilestarikan sampai saat ini?

Hariara parjuaratan, disanalah Sisingamangaraja pertama dulu bergantungan, Ini masih ada. Di bawahnya itu ada komplek kerajaan Sisingamangaraja. Di bawa komplek ini ada Batu Siukkap-Ukkapon.

Masa Nippon ini pernah dicoba selidiki. Tali ini diulurkan dua gulung, tali diikatkan sampai habis tidak sampai menyentuh tanah. Konon setiap kerbau yang disembelih darahnya dimasukkan kedalam batu siukkap ukkapon. Sementara tombak Sulu sulu itu berada di lokasi perkampungan marga Marbun. Saat ini mereka sudah berikan tanda-tanda tombak Sulu-sulu. Jadi ada disana disebut tempat pemujaan. Jadi kalau marpangir (keramas) di batu inilah berjemur. Lalu dekat pantai ini ada Aek Sipanggolu (air kehidupan). Lalu dekat Aek Sipanggolu ini ada namanya Batu Hudulhundulan dikenal tempat istirahat Raja Sisingamangaraja. Dan didekatnya ada Hariara. Katanya kalau cabangnya patah menandakan telah meninggal Sisingamangaraja. Kalau ada rantingnya yang patah itu berarti keturunannya yang meninggal. Katanya kalau ada dari keluarga raja ini berpesta, maka daun-daunnya akan menari- nari terbalik. Sisingamangaraja XI makamnya ada di Bakkara.

Apa arti lambang Sisingamangaraja itu?

Kalau yang putih mengambarkan “Partondi Hamalimon” mengambarkan tetang agama. Kalau yang merah Parsinabul dihabonaran yang berarti menyunjung tinggi kebenaran. Kalau yang bulat mengambarkan “Mataniari Sidomppakkon” matahari yang tidak bisa ditentang mengambarkan kekuasaan Sisingamangaraja. Sementara delapan sudut ini mengambarkan delapan penjuru angin (desa Naualu) dukungan dari delapan desa. Sementara pisau yang kembar menggambarkan keadilan sosial. Itu semua ada sejak Sisingamangaraja pertama.

Kalau Piso Raja Dompak itu sekarang dimana?

Di Museum Nasional. Saya juga baru tahun lalu melihat itu. Sebelum acara pesta 100 tahun Sisingamangaraja XII kami diajak melihat Piso Gajah Dompak itu. Kami diantar ke tempatnya Piso Gajah Dompak itu, saya kenalkan diri. Saya melihat sarungnya sudah lapuk. Gajah itu memang ada. Saya ingat dulu yang menyimpan Piso Gajah Dompak ini Sunting Mariam putrinya yang nomor dua. Dia meninggal 1979. Dulu saya ingat pesannya bahwa di ujung pangkal pisau ini ada permata merah. Lalu kepala museum mengelap dan memang kelihatan mutiara merah.

Kalau dulu Piso Raja Dompak itu memang selalu dibawa?

Selalu dibawa. Memang itulah kekuatannya, salah satu penambah keyakinan.

Kalau foto aslinya Sisingamangaraja XII ada nggak sebenarnya?

Tidak ada foto aslinya. Dulu waktu dia meninggal dengan anaknya Patuan Nagari dan Patuan Anggi di Sionomhudon. Jadi di bawa Belanda melalui Salak, Sionomhudon, Parbuluan, Paropo, Panguruan Balige dan Tarutung. Waktu itu belum ada jalan tele yang tembus ke Dolok Sanggul. Di Balige ketiga mayat itu di buka. Keadaan mayat sudah bengkak. Dan setelah dipotret dibawah ke Tarutung ternyata potretnya ketiga tidak berhasil. Kalau potret dari Sisingamangaraja XI justru ada potretnya. Disimpan seorang pensiunan polisi di Medan bermarga Marbun. Dulu, saat Kadiman sebagai kepala Brimob Sumatera Utara, maka lambang Brimob dijadikan Patuan Nagari dan Anggi.

Sekarang berapa keturunan Sisingamangaraja XII?

Kalau laki-laki hanya tinggal 14 orang lagi. Satu, Raja TonggoTua. Baru keturunan Raja Barita. Kami ada 5 orang tambah anakku dua menjadi tujuh orang. Anak adikku yang kedua, adikku yang ketiga mempunyai tiga anak dan yang ke-empat dan terakhir satu-satu, total hanya 14. Kecuali putrinya. Sembilan orang putrinya. Jadi kalau ikut keturunan dari putri dan bere-nya tidak sampai seratus orang. Sekarang kami sudah buat tarombo-nya Sisingamangaraja XII, karena selama ini banyak yang mengaku-ngaku sebagai keturunan Raja Sisingamangaraja. Selama ini orang selalu menganggap keturunan Sisingamangaraja XII. Jadi kalau keturunan Sisingamangaraja XII hanya inilah.

Memang kalau ada yang mengaku keturunan raja Sisingamangaraja mungkin sekali, tetapi bukan keturunan Sisingamangaraja XII. Sebab, pernah ada kejadian di Taman Mini dalam satu acara disebutkan “masukka ma keturunan ni Raja Sisingamangaraja marhoda putih”, lalu ada saudara semarga Sinambela yang bukan keturunan Sisingamangaraja melihat hal ini. Orang mengaku-ngaku keturunan Sisingamangaraja ini langsung takut dan tidak jadi naik kuda putih karena ditegor. Dan saya kira, tidak masuk akal. Bukan keturunannya yang berkuda putih tetapi raja Sisingamangaraja XII. Jadi, meskipun saya keturunannya saya tidak bisa merasa punya sahala (karisma) raja itu.***


Dimuat Majalah TAPIAN Edisi November

Kamis, 13 November 2008

Konservasi "Mangrove" Jakarta


Konservasi "Mangrove" Jakarta

Chris Poerba



Jakarta : Kota Dalam Baskom

Jakarta termasuk salah satu kota di belahan bumi yang lokasinya berada di bawah ketinggian permukaan air laut. Hal ini juga menyebabkan Jakarta sebagai ibukota Republik Indonesia sangat rentan terhadap beberapa acaman terkait siklus perubahan iklim. Bahkan saat ini perubahaan iklim sangat drastis akibat dampak pemanasan global (global warning). Jakarta dapat dianalogikan seperti kota yang berada di dalam baskom. Terkait dengan ini lokasi yang berada di bawah permukaan air laut. Bila mengacu pada perspektif “kota dalam baskom” ini maka sudah sewajarnya semua aktivitas-aktivitas manusia dengan lingkungan binaannya dapat diaplikasikan lebih bijaksana. Perubahan kota Jakarta yang sangat pesat menyebabkan terjadinya penurunan kualitas lingkungan hidup. Bahkan bencana-bencana yang ditimbulkannya semakin lebih buruk. Permasalahan banjir merupakan salah satu masalah yang belum terpecahkan secara tuntas oleh pemerintah kota. Siklus musim hujan secara periodik dengan curah hujan yang tidak menentu merupakan masalah rutin yang selalu dihadapi setiap penentu kebijakan di kota ini. Pada tahun 2006 Jakarta tenggelam, semua wilayah di kota tercinta ini lumpuh. Kota berhenti melakukan aktivitasnya semua lalu lintas jalur transportasi, perdagangan dan jasa lumpuh. Bahkan evakuasi bantuan kepada para warga yang menjadi korban banjir tidak efektif dan maksimal bila dikaitkan dengan waktu dan jumlah para korban.

Masih terkait dengan “kota dalam baskom”, saat ini Jakarta tidak hanya menghadapi masalah banjir di kala musim hujan. Air laut pasang (rob) juga menenggelamkan sebagian kawasan yang berada di pesisir di Jakarta Barat dan Utara. Pada bulan Februari 2008, di Jakarta Utara ketinggian air permukaan laut melebihi ambang bartas normal. Beberapa hal disebabkan oleh adanya air laut pasang secara periodik.

Pada bulan Mei 2008, masih nyata dalam ingatan kita aktivitas Bandara Udara Soekarno Hatta terganggu. Dikarenakan air laut pasang dan menggenangi ruas jalan tol Sedyatmo terutama di Km 26 dan Km 27. Genangan juga diakibatkan dengan jebolnya tanggul. Genangan air laut ini selain berlangsung secara siklus periodik juga terkait dengan pemanasan global. Dikarenakan berada di khatulistiwa maka kemungkinan dampak bencana yang terburuk akan berlangsung di Indonesia.

Jakarta, sebagai pusat dari pemerintahan termasuk di dalamnya aliran perdagangan dan jasa menjadi sangat rentan terhadap perubahan iklim baik yang secara periodik maupun yang drastis. Perencanaan kota selama ini tidak melihat pendekatan “kota dalam baskom”, sehingga setiap perencanaan dan penataan kota tidak melihat ambang batas lingkungan. Pembangunan kota selalu dilangsungkan dengan pendekatan ekonomi dan berbanding terbalik dengan dampak lingkungan yang ditimbulkan termasuk pemulihan biaya pemulihan lingkungan. Pembangunan kota selalu dalam koridor “pemenuhan kebutuhan” terutama fisik semata, yang jelas pemenuhan kebutuhan ini tidak akan pernah ada batasnya.

Pembangunan fisik dengan penyediaan rumah dan sarana komersialnya mengakibatkan luas areal terbangun di Jakarta lebih besar bila dibandingkan dengan luas areal tidak terbangun. Berdasarkan hasil penelitian Neraca Keseimbangan Lingkungan Hidup Daerah tahun 2006, Jakarta memiliki areal seluas 661, 62 km2 dengan rincian luasan areal yang sudah terbangun 609,61 km2 (91,99 %) dari luas keseluruhan wilayah kota. Sedangkan luas areal yang tidak terbangun ini termasuk 18,180 hektar. Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang merupakan daerah resapan air dan sekaligus cadangan air di musim kemarau. Minimnya daerah resapan air di Jakarta ini yang menyebabkan saat musim penghujan Jakarta semakin banjir. Sehingga terlihat jelas bahwa aktivitas-aktivitas terkait dalam perencanaan tata ruang di Jakarta yang menyebabkan berkurangnya lahan resapan air yang seharusnya dapat menjaga kualitas hidup lingkungan di Jakarta.


Taman Wisata Alam Angke-Kapuk Benteng Pertahanan Jakarta


Di dalam Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan, maka disebutkan 2 hal penting yang merupakan ruang terbuka hijau dan perlu terus dirawat, keduanya termasuk daerah resapan air yaitu Hutan Kota dan Sabuk Hijau (Greenbelt). Bila hutan kota dapat diartikan sebagai hamparan pohon-pohon yang terdapat dalam suatu kawasan pada tanah negara, maka sabuk hijau (greenbelt) difungsikan untuk membatasi perkembangan aktivitas-aktivitas yang berlebihan pada suatu lahan.

Taman Wisata Alam (TWA) Angke-Kapuk terletak di wilayah Kotamadya Jakarta Utara, merupakan salah satu kawasan konservasi alam yang berekosistem hutan bakau (mangrove). TWA Angke-Kapuk ini memiliki areal seluas 99,82 Ha. Lokasinya berdekatan dengan perumahan Pantai Indah Kapuk dan tidak jauh berdekatan dengan Km 26 jalan tol Sedyatmo, jalan tol yang menuju ke Bandara Soekarno-Hatta. Ruas jalan Km 26 jalan tol Sedyatmo ini juga yang pernah tergenang air laut pasang bulan Mei 2008 lalu. Mengingat posisinya yang berbatasan langsung dengan Laut Jawa dan berada di sekitar aktivitas yang cukup padat maka kawasan ini juga dapat dinyatakan sebagai Sabuk Hijau (Greenbelt).

Ironisnya bahkan beberapa waktu yang lalu pernah dikabarkan kawasan ini akan dilakukan pengalih-fungsian (konversi) lahan, karena termasuk program reklamasi pantai untuk pemenuhan kebutuhan perumahan. Hanya kepentingan ekonomi semata yang menyebabkan upaya reklamasi dengan menambahkan sebidang lahan di laut. Fenomena yang terdapat di pesisir pantai utara saat ini adalah hutan mangrove digantikan “hutan beton” dengan beragam bangunan mewah seperti perumahan, lapangan golf, dan sebagainya. Hutan beton ini juga menyebabkan kapasitas sampah yang terbawa aliran sungai Angke bertambah. Padahal pohon bakau ini sangat dibutuhkan terutama untuk menurunkan gas karbon (CO2), penahan angin, terutama penahan abrasi pantai.

Saat ini TWA Angke-Kapuk difungsikan menjadi pusat rehabilitasi mangrove Jakarta. Beberapa kegiatan sedang diupayakan seperti penanaman bibit pohon bakau yang baru. Hal ini dikarenakan saat gelombang reformasi 1998, maka “budaya latah” merajalela di Indonesia. Penjarahan dan perambahan semua aset dan tanah negara oleh rakyat dianggap suatu kewajaran. Termasuk di dalamnya perambahan hutan mangrove di lokasi ini dengan perubahan fungsi kawasan yang ilegal menjadi tempat pertambakan ikan dan permukiman. Sehingga kawasan ini tidak hanya rentan akan perubahan fungsi lahan dari ulah para investor melainkan juga ulah para petambak petambak liar.


TWA Angke-Kapuk menjadi ruang terbuka hijau, daerah resapan air, termasuk juga untuk menahan gelombang pasang air laut. Dari fungsinya ini maka kawasan ini juga dapat disebut sebagai salah satu dari sedikitnya benteng pertahanan kota Jakarta. Selain itu juga kawasan ini sebagai hutan wisata, konsep wisata berbasiskan ekologi dengan kepadatan bangunan yang rendah. Meskipun demikian sampai dengan sekarang kegiatan penghutanan kembali atau rehabilitasi mangrove merupakan agenda yang paling mendesak untuk dijalankan.