Tampilkan postingan dengan label Kota Kita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kota Kita. Tampilkan semua postingan

Kamis, 22 Januari 2009

Mereka Telah Bersahabat dengan Banjir

Ekspedisi Kompas Ciliwung 2009

Mereka Telah Bersahabat dengan Banjir

Rabu, 21 Januari 2009 | 03:11 WIB

Oleh M Zaid Wahyudi


Banjir tak selalu identik dengan bencana yang membawa penderitaan. Kejadian yang terus berulang tanpa penyelesaian tuntas dari pemerintah malah melahirkan sikap adaptif untuk berdamai dengan keadaan.

Bagi warga Bukit Duri, Jakarta Selatan, dan Kampung Pulo, Kampung Melayu, Jakarta Timur, banjir bukanlah peristiwa istimewa. Setiap tahun, saat hujan mencapai puncaknya antara Januari dan Februari, mereka sudah mengamankan barang-barang berharga ke tempat yang lebih tinggi.

”Kalau banjir mau datang, silakan saja…. Kami sih tidak kaget, tenang-tenang saja,” kata Hasan (36), warga RT 6 RW 12 Bukit Duri, Selasa (20/1).

Akibatnya, rutinitas sesaat menjelang puncak musim hujan bukan lagi menjadi hal yang melelahkan. Memindahkan aneka perabotan kayu dan alat elektronik ke lantai dua atau menyiapkan makanan instan untuk mengantisipasi jika terisolasi banjir adalah sebagian kegiatan yang harus dilakukan sebelum banjir.

Hal serupa diungkapkan Nanang (30), warga Kampung Pulo, RT 15 RW 02 Kampung Melayu, yang tinggal di bantaran Ciliwung. Saat banjir datang, tak ada yang bisa diperbuat warga untuk mencegahnya. Warga hanya bisa bersiaga agar banjir tak sampai menimbulkan kerugian jiwa dan materi.

Upaya yang dilakukan adalah membangun sistem peringatan dini terkait akan datangnya banjir. Di sejumlah pos RT maupun dinding rumah warga di Bukit Duri dan Kampung Pulo dipasang papan pengumuman tentang ketinggian air di Bendung Katulampa dan Pos Pemantau Air Ciliwung di Depok, yang terus diperbarui dalam rentang waktu tertentu. Para ketua RT di wilayah yang rawan banjir itu umumnya juga dibekali dengan radio komunikasi untuk memudahkan penyebaran informasi tentang ancaman banjir.

Meski demikian, masih banyak warga yang tak peduli dengan banjir saat air bah itu benar-benar melanda perkampungan mereka. Menurut Widodo (29), pemuda yang biasa membantu evakuasi warga, sebagian masyarakat enggan mengungsi meski banjir sudah hampir menenggelamkan seluruh permukiman dan mengisolasi rumah mereka. Padahal, persediaan makanan dan minum mereka belum tentu mencukupi hingga banjir usai.

Selain membangun rumah bertingkat hingga tiga lantai, strategi adaptasi lain dari warga Bukit Duri adalah dengan menempatkan berbagai barang elektronik milik mereka di tempat yang tinggi. Lemari es yang umumnya diletakkan di atas lantai, ditaruh di atas meja setinggi 1 meter di atas lantai.

Lucia Ken Ayu MP dari kelompok pemberdayaan masyarakat Sanggar Ciliwung Merdeka mengakui, sebagian besar warga Bukit Duri dan Kampung Pulo yang tinggal di bantaran Ciliwung adalah warga pendatang ilegal. Mereka umumnya bekerja sebagai pedagang maupun buruh di kawasan niaga Jatinegara. Mereka menggantikan sebagian penduduk asli kedua kampung yang tak tahan dengan bencana yang terus berulang dan memilih pindah ke sejumlah daerah penyangga Jakarta, seperti Bekasi atau Depok.

Upaya masyarakat berdamai dengan banjir memang tak akan mampu mencegah banjir yang terjadi. Beberapa kelompok masyarakat mulai mencoba mengurangi dampak banjir dengan menanam sejumlah tanaman di bantaran sungai yang tersisa atau mengolah sampah masyarakat yang tak tertangani oleh pemerintah.


Lahan ilegal

Sebagian masyarakat yang tinggal di bantaran Ciliwung menyadari bahwa mereka tinggal secara ilegal di lahan terlarang. Namun, untuk mencari alternatif tempat tinggal lain bukan perkara mudah. Warga yang umumnya berprofesi sebagai pedagang itu membangun rumah di Kampung Pulo atau Bukit Duri karena lokasinya berdekatan dengan kawasan niaga Jatinegara.

Menurut Lucia, pembangunan permukiman baru yang mengokupasi daerah aliran sungai marak terjadi sejak tahun 2000. Lebar Ciliwung yang membelah Bukit Duri dan Kampung Pulo yang semula 14 meter kini hanya tersisa 8 meter. Kondisi ini selaras dengan pantauan Ekspedisi Kompas Ciliwung 2009 dari tengah Ciliwung. Selepas jembatan Kampung Melayu hingga Pintu Air Manggarai, terjadi penyempitan sungai secara masif di sejumlah tempat membuat lebar sungai tinggal 8 meter.

Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane Pitoyo Subandrio mengatakan, lebar Ciliwung seharusnya 30 hingga 45 meter plus bantaran sungai 10 hingga 15 meter. ”Banyak pihak yang menyebut warga korban banjir telah bersahabat dengan banjir. Sebenarnya, mereka bukan akrab dengan banjir, tetapi malah sengaja mendatangi banjir,” ujarnya.

Dosen Sosiologi Universitas Indonesia, Paulus Wirutomo, mengungkapkan, kecenderungan masyarakat di bantaran sungai memilih untuk bersahabat dengan banjir menunjukkan kemampuan mereka beradaptasi dengan lingkungan. Segala konsekuensi dari pilihan itu telah mereka terima dan dicoba untuk diatasi.

Warga bantaran sungai yang ilegal dapat dibedakan dalam dua kategori, yaitu tinggal sementara atau tinggal untuk menetap.

Mereka yang tinggal sementara umumnya datang dari kampung halaman ke Jakarta mencari penghidupan dengan mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya untuk berbagai keperluan di desa. Mereka yang masuk dalam kategori ini umumnya memiliki kepedulian untuk memperbaiki kualitas hidup dan mengatasi banjir.

”Bagi warga di bantaran sungai, tinggal di atas sejengkal tanah di Jakarta sudah merupakan perjuangan besar. Asalkan bisa tetap punya uang, mereka siap hidup dengan serba minimal. Risiko itu tidak besar karena mereka siap dengan hidup apa adanya,” kata Paulus.

Sementara itu, warga yang berorientasi menetap di bantaran sungai cenderung takut pindah karena tidak ada kepastian hidup setelah pindah. Kondisi itu terjadi akibat ketidakmampuan pemerintah menyediakan hunian layak.

Karena itu, lanjut Paulus, sudah saatnya pemerintah menyiapkan alternatif tempat tinggal yang layak bagi masyarakat.

Pemerintah juga harus tegas dalam menata kota dengan membebaskan permukiman di bantaran sungai agar tata ruang kota tidak semakin hancur.(LKT/WAS/NEL/ ELN)


http://cetak. kompas.com: 80/read/xml/ 2009/01/21/ 03110242/ mereka.telah. bersahabat. dengan.banjir

Senin, 19 Januari 2009

Murniwati Harahap : Penggiat Hutan Bakau Jakarta

Murniwati Harahap : Penggiat Hutan Bakau Jakarta

Chris Poerba


Jakarta termasuk salah satu kota di dunia yang berada di bawah ketinggian permukaan air laut. Karena itu sangat rentan terhadap beberapa acaman terkait perubahan iklim, terutama pemanasan global (global warning) yang sekarang mengancam. Jakarta dapat dianalogikan seperti kota yang berada di dalam baskom. Perubahan kota Jakarta yang sangat pesat menyebabkan terjadinya penurunan kualitas lingkungan hidup. Bahkan bencana-bencana yang ditimbulkannya semakin lebih buruk. Permasalahan banjir merupakan salah satu masalah yang belum terpecahkan secara tuntas oleh pemerintah kota.

Di kawasan Angke tercatat 90% bakau yang sudah musnah karena ulah manusia. Pelestarian bakau di pantai utara Jakarta itu menjadi kunci. Adalah Murniwati Harahap, seorang perempuan Batak berusia 64 tahun yang, dari hutan yang hancur, muncul sebagai penyelemat, dengan mengupayakan penghijauan kembali hutan bakau di wilayah Angke- Kapuk.

Menjadi penyelamat bukanlah mudah. Untuk memperoleh izin pengelolaan saja dia harus mengurut dada. Setelah beberapa tahun, barulah dia memperoleh izin. Ada tiga instansi yang harus memberikan rekomendasi. “Harus ada rekomendasi dari Kanwil Kehutanan, rekomendasi dari Pariwisata dan DKI. Nah, trus habis itu baru masuk permohonan izin ke Menteri Kehutanan. Semua itu prosesnya selama dua tahun lebih. Untuk itu saja. AMDAL aja sampai tiga kali kalau gak salah. Sekarang, saya pikir kok AMDAL. Kita mengupayakan penghijauan, masak perlu AMDAL,” katanya mengenang prosedur birokratis yang terkadang mentertawakan.

Setelah berbagai proses perizinan selesai, kerja belum dapat dimulai. Kendala yang cukup besar menghadang saat reformasi 1999. Saat demokrasi memperoleh tafsir yang menyimpang. “Ya, itulah, pas reformasi. Saya memang terlalu patuh kepada peraturan. Pada waktu saya tiba di sini sudah habis semua. Dulu bagus, sekarang gundul semua. Sudah dibikin orang tambak.“ Mengingat lahan yang digunakan sebagai lahan hutan mangrove ini merupakan milik negara, maka banyak yang mengalihkan fungsi lahan ini, terutama menjadi tambak. Itulah dampak gelombang „reformasi“ yang dirasakan perempuan kita ini.

Pada awal reformasi itu, Murni bahkan pernah mendapatkan reaksi yang keras dari para petambak. “Ketika kita kerja, tiba tiba ada 100 orang lebih datang bawa parang, bawa golok. Orang saya, yang dari Sukabumi, ada 30 orang. (Karena takut) ya, kabur,” katanya. Meskipun Murni memiliki legalitas yang sah dari pemerintah, namun ini tak menyurutkan langkah para petambak untuk mengambil-alih dan menggunakan lahan sebagai lokasi tambak. Bahkan petambak tidak menyukai keberadaan hutan bakau yang ingin dia kembalikan. Karena dianggap mengganggu sirkulasi air bagi ikan-ikan peliharaan mereka di dalam tambak. Padahal, untuk membesarkan bakau dibutuhkan waktu sepuluh tahun. Dan, justeru itulah yang dengan sabar dikerjakan oleh Murni.

Dalam menghadapi para petambak, berbagai upaya dilakukan, termasuk perundingan, walau berbuntut kebuntuan. Perlawanan yang dilakukan oleh petambak sejak awal Murni melangkah di situ berlangsung terus sampai saat ini. Ada 28 orang petambak yang ngotot untuk tetap menolak penghijauan. Meskipun kini, mereka sudah tidak terlalu reaktif seperti sebelumnya. Para petambak ini sendiri bukan merupakan warga yang berdomisili di sekitar hutan bakau.

Sampai saat ini petambak masih selalu memotong akar dari bibit bakau (mangrove) yang baru saja ditanam ke dasar air. Keadaan bertambah parah, karena mereka juga mengangkat lumpur yang terdapat di sekitar mangrove. Padahal, bakau akan cepat besar bila ada lumpur, yang akan merangsang pertumbuhan akar-akarnya. Setiap kali Murni melakukan penanaman bibit bakau, saat pula para petambak merusaknya.

Pada tahun 2002, Murni menempuh jalan tengah, dengan memberikan uang ganti rugi kepada para petambak. ”Kita berikan ganti rugi sebesar Rp 6.000.000 kepada setiap petambak. Yang menerima ada sepuluh orang. Yang lain tetap gak mau keluar,” katanya menggelengkan kepala.

Murni bersikeras, kawasan tersebut dijadikan hutan mangrove terlebih dulu, baru kemudian dibangun berbagai prasarana. Bertemu dengan wakil-wakil dinas pemerintah yang berkaitan dengan lahan milik negera tesebut, dia juga mengimbau agar masalah dengan para petambak segera diselesaikan.

Fajar harapan mulai menyingsing untuk Murni pada tahun 2006. Keadaan mulai membaik. Apalagi dengan banyaknya orang yang datang berkunjung dan menanam bakau. Mereka terdorong oleh pemberitaan media tentang kondisi hutan baku yang sangat mengkhawatirkan.

Murni mengatakan, upayanya untuk mengembalikan hutan bakau tersebut dilakukan secara mandiri. Dan, dia ingin memberikan sesuatu yang terbaik selama masih diberikan kekuatan oleh Tuhan. Termasuk juga ingin meninggalkan sesuatu yang berharga bagi generasi mendatang. Katanya: ”Saya tidak minta satu sen dari mana pun untuk menghutankan ini, menanam mangrove ini. Saya berjuang sendiri, saya bikin sendiri. Tidak terasa sebagai beban, karena niat yang tulus. Yang penting bagi saya cuma satu, berkah dari Tuhan. Menanam itu merupakan pahala yang bukan main.”

Izin pengelolaan taman wisata alam di Angke-Kapuk diberikan kepada Murniwati Harahap atas nama PT Murindra Karya Lestari, dan berlaku selama 35 tahun. Dia berharap dapat terus mengelola taman wisata ini sekaligus menjaga pelestarian hutan bakau. ”Kalau mau bisnis saya gak akan buat d isini. Saya buat di Bandung. Kan saya bilang tadi, saya orang Batak lama tinggal di Bandung. Saya tahu tanah yang bisa dibikin agrowisata. Saya tahu gimana mengelola tanaman. Saya tahu pakai pupuk itu bagaimana. Saya belajar dari tanaman sudah 30 tahun lebih.”

Setelah jerih payah Murni mulai terlihat dan bersinar, ada pihak-pihak yang ingin mencari untung dengan mengajak kerjasama mengembangkan wilayah yang telah dihijaukannya itu menjadi tujuan wisata. Tapi, dengan halus dia tolak. Dia khawatir dengan berbagai kepentingan yang berada di belakang mereka yang mendekatinya sekarang ini.

Murni juga tegas-tegas akan menolak partai-partai politik yang hendak menanam bakau dengan mengadakan berbagai upacara seremonial hanya untuk merebut publisitas. Bakau adalah tanaman pelindung yang besar dalam kesederhanaan. Akarnya kuat memegangi dasar, sehingga sebesar apa pun ombak tak cukup kuat untuk mencabutnya. Murni merasa memperoleh tuntunan hidup dari contoh yang ditunjukkan sebatang pohon bakau. Kuat dan teguh dalam melangkah, membela lingkungan.


Telah Dimuat di Majalah TAPIAN Edisi Desember 2008


"Gubuk Dibongkar, Tinggal Di Mana?"

"Gubuk Dibongkar, Tinggal Di Mana?"


Senin 19 Januari 2009, Jam: 22:09:00

JAKARTA (Pos Kota) - Gubuk-gubuk liar di kolong jembatan Kali Banjir Kanal Barat di Kelurahan Karet Tengsin dan Kebon Melati, Tanah Abang, Jakpus, Senin (19/1) dibongkar aparat.

Penghuninya tidak menyangka, gubuk yang selama ini ditempatinya akan dibongkar. Mereka sempat memohon kepada petugas agar tidak dibongkar. "Pak tolong jangan dibongkar, di sini kami cari makan, terus mau tinggal di mana lagi? Tinggal di kolong jembatanpun terpaksa karena tidak mampu ngontrak," ujar Suminah, 60, yang mengaku berasal dari Indramayu, Jabar.


GABUNGAN

Namun, petugas gabungan yang dipimpin Camat Tanah Abang, Edi Supriadi dan Lurah Karet Tengsin, Maskur tetap melakukan pembongkaran. "Sebenarnya ini untuk mengamankan penghuninya, karena kalau terjadi banjir pada malam hari bisa berbahaya," kata Maskur.

Kawasan tersebut telah berkali-kali ditertibkan, namun tetap saja bandel dan dibangun kembali. Sebagian besar penghuninya merupakan gepeng yang mangkal di perempatan Karet, Tanah Abang. "Tempat itu akan diawasi, agar mereka tidak membangun kembali," kata Edi Supriadi.


http://www.poskota. co.id/news_ baca.asp? id=50473& ik=3

__._,_.___

Minggu, 18 Januari 2009

Tahun 2014, "BAB" di Sungai Dilarang!

Tahun 2014, "BAB" di Sungai Dilarang!


KOMPAS/ PRIYAMBODO

Mandi dan Mencuci - Aktivitas mandi dan mencuci warga yang tinggal di bantaran Kali Ciliwung di Kawasan Bukit Duri Jakarta, beberapa waktu lalu, memanfaatkan sumber air yang terkontaminasi. Aliran sungai dengan kualitas air yang buruk tersebut menjadi pilihan warga miskin akibat minimnya fasilitas MCK umum.
/Jumat, 16 Januari 2009 | 06:04 WIB

Laporan wartawan Kompas Suhartono

JAKARTA, JUMAT - Pemerintah mulai 2014 akan melarang masyarakat membuang tinja (buang air besar/BAB) ke tempat-tempat terbuka, seperti di kali, kebun maupun persawahan. Pasalnya, limbah tinja yang dibuang sembarang akan menggangu kesehatan dan sistem sanitasi penduduk.

Dalam waktu lima tahun ini, pemerintah akan memperbaiki sistem sanitasi yang dinilai masih sangat buruk. Demikian instruksi Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla, sebagaimana disampaikan Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto, dalam keterangan pers, seusai rapat terbatas di Istana Wapres, Jakarta, Kamis (15/1) petang.

Hadir dalam rapat itu Menko Kesra Aburizal Bakrie, Menteri Negara Perencanaan Pembangunan/ Kepala Bappenas Paskah Suzetta dan Menteri Negara Lingkungan Hidup Rachmat Witoelar.

"Pak Wapres menginstruksikan, agar setelah lima tahun, yaitu 2014 tidak boleh lagi masyarakat Indonesia yang buang BAB-nya di tempat terbuka, seperti di kali, di kebun dan di sawah. Itu bisa menganggu sistem sanitasi yang sehat," tandas Djoko.

Menurut Djoko, hingga saat ini tercatat baru 77 persen penduduk Indonesia yang menikmati sistem sanitasi yang bersih dan sehat. Sisanya, 23 persen atau sekitar 40 juta, masih menikmati sanitasi yang buruk. "Oleh karena itu, pembuangan BAB harus diatur," ujarnya.

Adapun Paskah menambahkan, selama lima tahun ini, pemerintah akan persuasi dengan mengimbau masyarakat tidak membuang sembarangan, selain akan membangun tempat penampungan tinja atau septictank sekawasan. Diharapkan, septictank kawasan itu dapat menampung limbah permukiman di kawasan tersebut.

Seperti di Bandung, itu ada septictank yang dapat menampung limbah kotoran BAB satu kawasan. "Tempat penampungan itu juga akan dibangun di daerah-daerah lain," lanjut Paskah.

[Non-text portions of this message have been removed]

http://www.kompas. com/read/ xml/2009/ 01/16/06043759/ Tahun.2014. .BAB.di.Sungai. Dilarang



__._,_.___

Ekspedisi Kompas Ciliwung 2009, Ciliwung dari Mata Air ke Mata Air

Ekspedisi Kompas Ciliwung 2009, Ciliwung dari Mata Air ke Mata Air

Kompas Cetak Sabtu, 17 Januari 2009 | 01:26 WIB

Sabtu (17/1) ini, Tim Ekspedisi Kompas Ciliwung 2009 memulai kegiatan menyusuri Ciliwung dan daerah alirannya. Ekspedisi ini dilakukan mulai dari beberapa lokasi sungai kecil pembentuk hulu sungai di daerah Puncak sampai ke muaranya di Teluk Jakarta. Kegiatan yang akan berlangsung selama sepekan ini bertujuan mengamati dan memotret berbagai fenomena hubungan antara Ciliwung, manusia dan budayanya, masalah sosial, serta potensi yang melingkupi sepanjang tepiannya.

Kenapa Ciliwung? Ciliwung merupakan sungai terpenting dan berpengaruh terhadap kehidupan penduduk Jakarta. Di antara 13 sungai yang melintasi Jakarta dan bermuara di Teluk Jakarta, Ciliwung merupakan sungai yang mengalir persis di jantung kota, melalui daerah-daerah permukiman yang paling padat.

Ciliwung, yang panjangnya lebih dari 100 kilometer, dibentuk dari penyatuan aliran puluhan sungai kecil di kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Jawa Barat. Ciliwung mengalir melalui wilayah Kabupaten dan Kota Bogor, juga Kota Depok, sebelum memasuki wilayah Jakarta.

Menurut para geolog, alur dan aliran Ciliwung di Jakarta terbentuk bersamaan dengan proses pembentukan alam dataran rendah Jakarta dan sekitarnya sekitar 5.000 tahun silam. Bagian hulunya berumur lebih tua, terbentuk seiring dengan proses lahirnya daerah pegunungan dan dataran tinggi Bogor pada kala neozoikum, antara 6 juta dan 20.000 tahun lalu.
Dr Hasan Djafar, arkeolog Universitas Indonesia, mengatakan, sebagai sebuah sungai purba, Ciliwung menjadi saksi kehidupan manusia yang tinggal di sepanjang tepiannya dan menjadikannya sumber kehidupan sejak ratusan, bahkan ribuan, tahun silam.

Mengacu pada penelitian Hasan Djafar, Ciliwung telah disebut sebagai sarana transportasi utama sejak masa Sunda klasik. Hasan mengungkapkan, berdasarkan catatan perjalanan Bujangga Manik, perjalanan dari Kalapa (Pelabuhan Sunda Kelapa) ke ibu kota Kerajaan Sunda (sering disebut Pakuan Pajajaran) melalui Cihaliwung (sebutan Ciliwung pada masa Sunda klasik).
Hasan menegaskan, setidaknya ada 15 situs purbakala di sepanjang aliran Cihaliwung, yang menunjukkan adanya perkembangan peradaban manusia berbasis sungai. Beberapa situs ditemukan di daerah Depok, Condet, Cililitan, sampai daerah Kebon Sirih, Jakarta Pusat. Di situs-situs itu ditemukan berbagai sisa kebudayaan manusia prasejarah, seperti kapak, beliung batu, gurdi, dan sisa-sisa barang gerabah. Semua dari masa sekitar 2.500 tahun silam.


Peran penting

Memasuki masa awal sejarah Indonesia, Ciliwung terus memainkan peran penting bagi kehidupan manusia. Pada zaman Kerajaan Sunda abad ke-10 hingga ke-16, di muara Ciliwung, yang berlokasi di daerah Jakarta Kota sekarang, telah berdiri Pelabuhan Kalapa. Cikal bakal Pelabuhan Sunda Kelapa ini termasuk salah satu pelabuhan terbesar kala itu di Nusantara.
Di Pelabuhan Kalapa inilah pada tahun 1522 terjadi perundingan persahabatan dan perdagangan internasional pertama di Nusantara, yakni antara Portugis dan kerajaan Sunda Hindu.
Para pedagang Belanda, sekitar seabad kemudian, menyusul datang untuk pertama kalinya ke Sunda Kalapa. ”Pedagang Belanda menyatakan kekagumannya dan mengatakan pelabuhan di muara Ciliwung ini amat baik. Airnya lebih dalam dibandingkan Sungai Banten sehingga memungkinkan Ciliwung dilayari ke arah hulu sampai sejauh beberapa kilometer,” kata Hasan.
Dari masa ke masa, dari zaman ke zaman, jumlah penduduk yang bermukim dan berusaha di sepanjang tepian Ciliwung terus tumbuh dan berkembang. Kini, daya dukung Ciliwung bagi kehidupan manusia yang hidup di sepanjang tepiannya tampaknya sudah melampaui ambang batas. Ciliwung tak sanggup lagi menampung sampah yang setiap hari dalam jumlah berton-ton dibuang ke sana oleh jutaan warga Bogor, Depok, dan Jakarta.

”Dulu manusia memilih kawasan di sekitar Ciliwung untuk tempat tinggal dan mengembangkan budaya. Tingginya tingkat ketergantungan manusia pada sungai kala itu menyebabkan Ciliwung dihargai dan dijaga kelestariannya,” kata Dr Restu Gunawan, MHum, ahli sejarah banjir Jakarta yang juga staf Direktorat Sejarah dan Purbakala Departemen Kebudayaan dan Pariwisata.
Namun, lanjutnya, sekarang orang berkumpul tinggal di bantarannya tidak lagi dengan alasan membutuhkan air dan aliran Ciliwung, tetapi lebih karena kawasan itu dianggap sebagai bagian dari dataran yang mudah dicapai dan relatif murah. Okupasi lahan bahkan sampai ke badan sungai yang dipastikan bakal dibanjiri air kala sungai meluap pada musim hujan.

Restu mengatakan, ditilik dari sejarahnya, ada fakta dan pemahaman yang terbalik terhadap keberadaan Ciliwung. Sayangnya, apa yang terjadi saat ini diikuti dengan pembiaran terhadap sungai purba itu. Jalan airnya, tempat parkir air kala meluap, dan pepohonan di hulu serta sepanjang bantaran sungai dibabat atas nama kebutuhan manusia yang terus meningkat.
Ciliwung bukan manusia, ia tak bisa marah, tetapi hanya bisa mengalir apa adanya. Semakin banyak bangunan penghalang alirannya, banjir makin kerap terjadi dan meluas.

Kekerasan terhadap Ciliwung terus berlangsung dalam 40 tahun terakhir. Industri tumbuh subur di sepanjang tepian Ciliwung dan sejumlah percabangannya. Di banyak tempat, air sungai itu bahkan tak layak lagi dipakai untuk mandi. Air Ciliwung telah tercemar limbah berat. Kini yang tersisa paling hanya ikan sapu-sapu.


Perubahan perilaku

Kepala Balai Besar Sungai Ciliwung Cisadane Pitoyo Subandrio mengatakan, usaha untuk mengatasi banjir secara sistematis dan konsepsional di Jakarta sudah dilakukan sejak hampir seabad lalu. Tahun 1918, Pemerintah Hindia Belanda membangun Pintu Air Manggarai dan Banjir Kanal Barat (BKB). BKB adalah sungai besar buatan untuk mengalihkan sebagian air Ciliwung ke arah sisi paling barat Jakarta.

Sejumlah kanal, sodetan, dan pintu air lain juga dibangun. Tujuannya sama, menyelamatkan kawasan pusat kota, termasuk Istana Gubernur Jenderal yang sekarang menjadi Istana Merdeka, dari ancaman banjir.

Pemerintah kini giat membangun Banjir Kanal Timur (BKT) yang dapat menampung sebagian air Ciliwung sebelum menggelontorkannya ke laut di ujung timur Teluk Jakarta. ”Namun, upaya ini bakal sia-sia jika tak diiringi perubahan perilaku masyarakat, termasuk pemerintah dengan kebijakannya, warga di sepanjang bantaran, dan masyarakat umum dengan sampahnya,” kata Pitoyo Subandrio.

Ciliwung, tak bisa dibantah, telah beralih peran dari sumber kehidupan menjadi sumber bencana. Kini saatnya, jangan ditunda lagi, melestarikan Ciliwung dengan mengubah perilaku kembali bersahabat dengan sungai.


Senin, 12 Januari 2009

Asal Mula Nama Glodok, Kwitang, Menteg dan Senayan


Asal Mula Nama Glodok, Kwitang, Menteg dan Senayan


Arip Muttaqien


Kota Jakarta adalah jantung ibukota dari negara Republik Indonesia di mana pusat perekonomian beserta berjuta permasalahannya ada di kota kecil padat penduduk ini. Di balik nama beberapa daerah di Jakarta tersimpan kisah, cerita dan sejarah dari mana nama itu muncul.

Berikut di bawah ini adalah beberapa asal-muasal nama daerah terkenal di DKI Jakarta :

A. Glodok

Asalnya dari kata grojok yang merupakan sebutan dari bunyi air yang jatuh dari pancuran air. Di tempat itu dahulu kala ada semacam waduk penampungan air kali ciliwung. Orang tionghoa dan keturunan tionghoa menyebut grojok sebagai glodok karena orang tionghoa sulit mengucap kata grojok seperti layaknya orang pribumi.


B. Kwitang

Dulu di wilayah tersebut sebagian tanah dikuasai dan dimiliki oleh tuan tanah yang sangat kaya raya sekali bernama Kwik Tang Kiam. Orang Betawi jaman dulu menyebut daerah itu sebagai kampung si kwi tang dan akhirnya lama-lama tempat tersebut dinamai kwitang.


C. Senayan

Dulu daerah senayan adalah milik seseorang yang bernama wangsanaya yang berasal dari Bali. Tanah tersebut disebut orang-orang dengan sebutan wangsanayan yang berarti tanah tempat tinggal atan tanah milik wangsanaya. Lambat laun akhirnya orang menyingkat nama wangsanayan menjadi senayan.


D. Menteng

Daerah Menteng Jakarta Pusat pada zaman dahulu kala merupakan hutan yang banyak pohon buah-buahan. Karena banyak pohon buah menteng orang menyebut wilayah tersebut dengan nama kampung menteng. Setelah tanah itu dibeli oleh Pemerintah Belanda pada tahun 1912 sebagai lokasi perumahan pegawai pemerintah Hindia Belanda maka daerah itu disebut menteng.


Adalagi....

1. Karet Tengsin

Nama daerah yang kini termasuk kawasan segitiga emas kuningan ini berasal dari nama orang cina yang kaya raya dan baik hati. Orang itu bernama Tan Teng Sien. Karena baik hati dan selalu memberi bantuan kepada orang-orang sekitar kampung, maka Teng Sien cepat dikenal oleh masyarakat sekitar dan selalu menyebut daerah itu sebagai daerah Teng Sien. Karena pada waktu itu banyak pohon karet, maka daerah itu dikenal dengan nama Karet Tengsin.


2. Kebayoran

Kebayoran berasal dari kata kebayuran, yang artinya "tempat penimbunan kayu bayur". Kayu bayur yang sangat baik untuk dijadikan kayu bangunan karena kekuatanya serta tahan terhadap rayap.


3. Lebak Bulus

Daerah yang terkenal dengan stadion dan terminalnya diambil dari kata "lebak" yang artinya lembah dan "bulus" yang berarti kura-kura. Jadi lebak bulus dapat disamakan dengan lembah kura-kura. Kawasan ini memang kontur tanahnya tidak rata seperti lembah dan di kali Grogol dan kali Pesanggrahan- dua kali yang mengalir di daerah tersebut-memang terdapat banyak sekali kura-kura alias bulus.


4. Kebagusan

Nama kebagusan-daerah yang menjadi tempat hunian mantan presiden megawati-berasal dari nama seorang gadis jelita, Tubagus Letak Lenang.
K=non, kecantikan gadis keturunan kesultanan banten ini membuat banyak pemuda ingin meminangnya. Agar tidak mengecewakan hati pemuda itu, ia akhirnya memilih bunuh diri. Sampai sekarang makam itu masih ada dan dikenal dengan nama ibu Bagus.


5. Ragunan

Berasal dari Wiraguna, yaitu gelaran yang di sandang tuan tanah pertama kawasan tersebut berna Hendrik Lucaasz Cardeel, yang diperolhnya dari sultan banten Abunasar Abdul Qahar, putra Sultan Ageng Tirtayasa.


6. Pasar Rumput

Dulu, tempat ini merupakan tempat berkumpulnya para pedagang pribumi yang menjual rumput. Para pedagang rumput terpaksa mangkal dilokasi ini karena mereka tidak diperbolehkan masuk ke permukiman elit menteng. Saat itu, sado adalah sarana transportasi bagi orang-orang kaya sehingga hampir sebagian besar penduduk menteng memelihara kuda.


7. Paal Meriam

Asal usul nama daerah yang berada diperempatan Matraman dengan jatinegara ini berasal dari suatu peristiwa sejarah yang terjadi sekitar tahun 1813. Pada waktu itu pasukan artileri meriam inggris yang akan menyerang batavia, mengambil daerah itu untuk meletakan meriam yang sudah siap ditembakan. Peristiwa tersebut sangat mengesankan bagi masyarkat sekitar dan menyebut nama daerah ini paal meriam (tempat meriam disiapkan)


8. Cawang

Duku, ketika belanda berkuasa, ada seorang letnan melayu yang mengabdi pada kompeni, bernama Ende Awang. Letnan ini bersama anak buahnya bermukim di kawasan yang tak jauh dari jatinegara. Lama kelamaan sebutan Ence Awang berubah menjadi Cawang.


9. Pondok Gede

Sekitar Tahun1775, Lokasi ini merupakan lahan pertanian dan peternakan yang disebut dengan onderneming. Di sana terdapat sebuah rumah yang sangat besar milik tuan tanah yang bernama Johannes Hoojiman. Karena merupakan satu-satunya bangunan besar yang ada dilokasi tersebut, bangunan itu sangat terkenal. Masyarakat pribumi pun menjulukinya "Pondok Gede"


10. Condet Batu Ampar dan Balekambang

Pada jaman dahulu ada sepasang suami istri, namanya pangeran geger dan nyai polong, memiliki beberapa orang anak. Salah satu anaknya, perempuan, di beri nama Siti Maemunah, terkenal sangat cantik. Pangeran Astawana, anak pangeran Tenggara atau Tonggara asal makassar pun tertarik melamarnya. Siti Maemunah meminta dibangunkan sebuah rumah dan tempat peristirahatan diatas empang, dekat kali ciliwung, yang harus selesai dalam satu malam. Permintaan itu disanggupi dan menurut legenda, esok harinya sudah tersedia rumah dan sebuah bale disebuah empang dipinggir kali ciliwung. Untuk menghubungkan rumah itu dengan kediaman keluarga pangeran tenggara , dibuat jalan yang diampari (dilapisi) Batu.

Demikian menurut cerita, tempat yang dilalui jalan yang diampari batu itu selanjutnya disebut batu ampar, dan bale (balai) peristirahatan yang seolah-olah mengambang di atas air itu di sebut Balekambang.


Buncit

Dulunya di jalan buncit raya sekarang ada pedagang kelontong China berper=t gendut (Buncit) yg terkenal.


Bangka

Dulunya disana banyak ditem=kan mayat (bangke/bangkai) orang yg dibuang di kali krukut.


Cilandak

Konon di sana pernah ditemukan seekor landak raksasa

Tegal Parang
Di sana banyak ditemukan alang2 tinggi (tegalan) yg dipotong dgn parang=golok) .


Blok A/M/S

Dulunya sekitar situ tempat pembukaan perumahan baru yg ditandai dgn blok, mulai A-S. Sayang yg tersisa tinggal 3 blok doang.


Kampung Ambon.

Berlokasi di Rawamangun, Jakarta Timur, nama Kampung Ambon sudah ada sejak tahun 1619. Pada waktu itu JP Coen sebagai Gubernur Jenderal VOC menghadapi persaingan dagang dengan Inggris. Untuk memperkuat angkatan perang VOC, Coen pergi ke Ambon lalu merekrut masyarakat Ambon untuk dijadikan tentara. Pasukan dari Ambon yang dibawa Coen itu kemudian diberikan pemukiman di daerah Rawamangun, Jakarta Timur. Sejak itulah pemukiman tersebut dinamakan Kampung Ambon.


Sunda Kelapa

Sunda Kelapa merupakan sebutan sebuah pelabuhan di teluk Jakarta. Nama kelapa diambil dari berita yang terdapat dalam tulisan perjalanan Tome Pires pada tahun 1513 yang berjudul Suma Oriental. Dalam buku tersebut disebutkan bahwa nama pelabuhan itu adalah Kelapa. Karena pada waktu itu wilayah ini berada di bawah kekuasaan kerajaan Sunda maka kemudian pelabuhan ini disebut Sunda Kelapa.


Pondok Gede

Sekitar tahun 1775 daerah Pondok Gede merupakan lahan pertanian dan peternakan yang disebut onderneming. Di daerah pertanian dan peternakan milik tuan tanah bernama Johannes Hoojman yang kaya raya itu terdapat sebuah Landhuis, atau rumah besar tempat tinggal dan sekaligus tempat pengurus usaha pertanian dan peternakan. Karena besarnya bangunan Landhuis itu, masyarakat pribumi sering menyebutnya Pondok Gede.


Pasar Senen

Pasar Senen pertama kali dibangun oleh Justinus Vinck. Orang-orang Belanda menyebut pasar ini dengan sebutan Vinckpasser (pasar Vinck). Tetapi karena hari pada awalnya Vinckpasser dibuka hanya pada hari Senin, maka pasar itu disebut juga Pasar Senen (disesuaikan dengan kebiasaan orang-orang yang lebih sering menyebut Senen ketimbang Senin). Namun seiring kemajuan dan pasar Senen semakin ramai, maka sejak tahun l766 pasar ini pun buka pada hari-hari lain.


Taman Anggrek

Berawal dr keinginan bu Tien untuk mengambil kebon anggrek milik juragan tanah sunda bernama Rasman, yg di kenal orang2 sekitar dengan nama H.Rasman karna dia memiliki tanah ber-hektar2 di Cipete. Jadi bu Tien mengambil bunga2 anggrek tersebut dgn niat membeli (tapi namun tidak di bayar) yg akhirnya di pindahkan ke daerah jakarta barat situh yg skrg jd Mall Taman Anggrek.

Kemudian di pindahkan lagi ke yg skrg smua orang ketahui ada di Taman Mini Indonesia Indah.

Walaupun bunga bunga anggreknya dah gak ada, namun Jl Kebon Anggrek masih ada jg sampe skrg. Lokasinya di cipete (sbrang SMA Cendrawasih)


Grogol.

Grogol berasal dari bahasa Sunda (g a r o g o l) yang artinya perangkap terdiri dari tombak-tombak yang digunakan untuk menangkap hewan liar yang banyak terdapat di hutan. Nama Garogol dipasang sebagai nama sebuah desa di Limo Depok.

Dahulu kawasan ini memang masih hutan liwang-liwung yang kata pak dalang "jalma mara-jalma mati" alias menyeramkan. Sudah barang tentu di kawasan ini banyak terdapat hewan liar dan buas sehingga penduduk setempat memburunya dengan memasang perangkap (garogol). Hewan yang masuk ke perangkap mirip ciptaan "geek" alias soldadu Vietnam dijamin akan mati tertembus ujung tombak yang menganga didasar lubang. Tapi belum jelas apakah jaman dulu ada keresahan masyarakat bahwa kambing mereka pada tewas karena darahnya dihisap oleh "mahluk misterius" yang sekarang kian marak di Depok.

Konsekwensinya kali yang melewati desa ini juga dinamai kali Garogol. Penduduk Betawi yang main gampang saja, setiap ada desa dilalui kali ini langsung di beri stempel desa Grogol, kampung Grogol.

Repotnya pada peta keluaran tahun 1903, ada kampung bernama Grogol di kawasan Pal Merah. Dari Pal Merah, kali Grogol meliwati Taman Anggrek untuk menuju ke kawasan Pluit (jalan Latumeten) dan tiba pada satu daerah yang kini disebut Grogol- Negeri Tanah Tumpah Darah Anak Beta. Kalau yang memberi nama orang jaman sekarang bisa-bisa namanya "Grogol
Perjuangan."

Pada 1928, sebagian Kali Grogol diuruk oleh Kumpeni. Pasalnya volume air yang mengalir di banding kapasitas kali sering tidak memadai. Dan ini bisa mengancam kehidupan kastil sehingga harus dialirkan keluar kawasan kastil.

Pada 1950-an kawasan Grogol menjadi populer. Karena tercatat terlanggar banjir bandang yang merendam kelurahan ini. Untuk pengendalian banjir di bangun pula waduk Grogol yang letaknya di jalan dr. Semeru (Sumeru) sekarang ini. Di tengah waduk ada air muncrat yang memang agak indah tetapi meresahkan masyarakat. Pasalnya air yang muncrat tadi kualitasnya kurang bagus sering ketika butiran air yang menjulang tinggi lalu di tiup angin pantai, maka banyak baju penduduk yang sedang dijemur tiba-tiba saja diberi tambahan noda kuning dan berbau got. Bertepatan dengan alat pompa yang sering ngadat, maka pemandangan air muncrat sudah nyaris tidak dipertunjukkan.

Soal nama jalan juga unik. Nama jalan disini mengambil nama pahlawan seperti Latumeten, Sumeru, Mawardi, Susilo. Semeru adalah nama dari Dokter Sumeru salah satu tokoh pejuang bangsa Indonesia, disamping nama Dokter Mawardi, Dr. Susilo. Lalu lidah Jawa mulai mengubahnya menjadi Semeru dan seperti keahlian bangsa ini, nama inipun di utak-atik lagi sehingga menjadi suatu statement bahwa S(u)meru adalah nama Gunung. Nama dokter Mawardi cuma kepleset sedikit menjadi dr.Muwardi.

Banyak surat pos datang kepada saya dengan alamat Jalan Gunung Semeru, Grogol (dulu). Untung saja pak pos paham akan kesalahan dimana lokasi daerah dengan Kode Pos 11400 (ini pentingnya menulis Kode Pos dalam setiap surat, kalau terjadi kebingungan nama bisa merujuk ke kode pos).

Tahun 1960, Grogol menjadi ngetop lagi sekalipun rada minir, sebab disana di bangun Rumah Sakit Jiwa sehingga konotasi "dasar Orang Grogol" sering berarti orang yang kurang satu strip lantaran kabel hijau (masa) di otaknya ada yang lepas.

Pada 1970, nama Grogol kembali menjadi buah bibir pembicaraan orang karena dibangun Terminal Bis yang besar di sana. Belakangan terminal yang sangat ramai ini di pindahkan ke KaliDeres yang bisnya sering menyingkat plang trayek sebagai "X-deres". Sekali tempo ada orang mendapat kecelakaan dijalan raya sehingga napasnya sudah tinggal satu-satu saat dibawa ke RS Sumber Waras. Karena tidak ada keluarga yang menunggunya, seorang suster membisikkan kata "nyebut Bang" - sebuah tradisi untuk melafalkan nama Tuhan ketika seseorang dalam keadaan koma. Si abang nampaknya mengerti, mulutnya lirih menyebut sesuatu sebelum meninggal "g a r o g o l, g a r o g o l" - Kernet bis rupanya dia.


Utan Kayu

Dulunya memang berbentuk hutan disamping basis prajurit Mataram mau menyerang Batavia. Hutan ini sumber kayu dari perumahan-perumahan maupun perkampungan para pengepung batavia maupun benteng belanda jaman dulu. Saking lebatnya hutan ini yang disertai rawa-rawa kemudian saat pembangunan daerah ini, mulai disebut Hutan Kayu yang kemudian dipersingkat menjadi Utan Kayu. Sisa kejayaan dari hutan ini masih dirasakan hingga saat ini dimana kawasan ini masih cukup hijau dan sejuk meski bukan termasuk dalam kawasan mewah=seperti halnya Menteng.


Rawamangun

Melanjutkan cerita mengenai Utan Kayu, hutan yang sangat lebat disertai yang didalamnya terdapat banyak rawa-rawa yang kemudian setelah masa perang dengan mataram selesai dan perluasan kota batavia, mulai diterabas untuk pembangunan wilayah perumahan. Struktur tanah yang sifatnya rawa-rawa asalnya, membuat banyak pembangunan yang menggunakan pondasi ekstra dalam untuk wilayah ini, dan seperti halnya sifat rawa-rawa yang selalu berada ditengah hutan dan mirip halnya daerah Utan Kayu, Rawamangun juga masih relatif lebih hijau.


Hek

Tempat yang terletak antara Kantor Kecamatan Kramatjati dan kantor Polisi Resor Kramatjati, sekitar persimpangan dari jalan Raya Bogor ke Taman Mini Indonesia Indah (TMII) terus ke Pondokgede, dikenal dengan nama Hek.

Rupanya, nama tersebut berasal dari bahasa Belanda. Menurut Kamus Umum Bahasa Belanda – Indonesia (Wojowasito 1978:269), kata h=k berarti pagar. Tetapi menurut Verklarend Handwoordenboek der Nederlandse Taal (Koenen- Endpols, 1946:388), kata hek dapat juga berarti pintu pagar ("..raam-of traliewerk…") . Dari seorang pendud=k setempat yang sudah berumur lanjut, diperoleh keterangan, bahwa di tempat itu dahulu memang ada pintu pagar, terbuat dari kayu bulat, ujung – ujungnya diruncingkan, berengsel besi besar – besar, bercat hitam. Pintu itu digunakan sebagai jalan keluar – masuk kompleks peternakan sapi, yang sekelilingnya berpagar kayu bulat. Kompleks peternakan sapi itu dewasa ini menjadi kompleks Pemadam Kebakaran dan Kompleks polisi Resort Keramatjati. Sampai tahun tujuh puluhan kompleks tersebut masih biasa disebut budreh, ucapan penduduk umum untuk kata boerderij, yang berarti kompleks pertanian dan atau peternakan.

Kompleks peternakan tersebut merupakan salah satu bagian dari Tanah Partikelir Tanjoeng Oost, yang pada masa sebelum Perang Dunia Kedua terkenal akan hasil peternakannya, terutama susu segar untuk konsumsi orang – ora=g Belanda di Batavia. (Sumber: De Haan 1935: Van Diesen 1989).


Jalan Cengkeh

Jalan Cengkeh terletak di Kota Tua Jakarta sebelah utara Kantor P=s, di samping sebelah timur Pasar Pisang.

Dahulu jaman penjajahan Belanda, Jalan itu bernama Princenstraat, tetapi umum juga disebut Jalan Batutumbuh, mungkin karena disana terdapat batu bertulis. Kawasan sekitar batu prasasti Purnawarman, di Tugu juga biasa disebut Kampung Batutumbuh.

Pada tahun 1918, di dekat tikungan Jalan Cengkeh ke Jalan Kalibesar Timur, yang waktu itu bernama Groenestraat, ditemukan batu bertulis peninggalan orang – orang Portugis, yang biasa disebut padrao. Padrao itu dipancangkan oleh orang – orang Portugis, menandai tempat akan dibangun sebuah benteng, sesuai dengan perjanjian yang dibuat antara Raja Sunda dengan perutusan Portugis yang dipimpin oleh Henriquez de Lemme, yang menurut Sukamto ditandatangani pada tanggal 21 Agustus 1522. Batu bertulis itu diberi ukiran berupa lencana. Raja Immanuel. Rupanya de Leme beserta rombongannya belum mengetahui bahwa raja Portugal tersebut telah meninggal tanggal 31 Desember 1521.

Dalam perjanjian tersebut disepakati bahwa Portugis akan mendirikan benteng di Banten dan Kalapa. Untuk itu tiap kapal Portugis yang datang akan diberi muatan lada yang harus ditukar dengan barang–barang keperluan yang diminta oleh piha= Sunda. Mulai saat benteng dibangun pihak Sunda akan menyerahkan 1.000 karung lada tiap tahun untuk ditukarkan dengan barang – barang yang dibutuhkan (Sumber:Hageman 1867: Soekamto 1956: Danasasmita 1983)


Japat

Japat terletak di sebelah tenggara Pelabuhan Sunda Kalapa, termasuk wilayah kelurahan Ancol Utara, Kecamatan Pademangan, Jakarta Utara. Nama kawasan tersebut berasal dari kata jaagpad. Ada yang mengatakan, kata jaagpad berarti "Jalan setapak yang biasa digunakan untuk berburu" . Katanya jaag, dari jagen, artinya "berburu" Pad, artinya "jalan setapak" padahal, kata jaagpad tidak ada sangkut pautnya dengan berburu, melainkan sebuah istilah dalam pelayaran perahu. Pada alur sungai atau terusan yang dangkal, perahu yang melaluinya baru dapat bergerak maju, kalo ditarik. Pada jaman Kompeni Belanda, bahkan beberapa dasawarsa sebelum pelabuhan Tanjungpriuk dibuat, kapal–kapal (layar= yang cukup besar bila berlabuh dipelabuhan Batavia, yang sekarang menjadi Pelabuhan Sunda Kalapa, tidak merapat seperti sekarang, melainkan biasa membuang sauh masih jauh dilaut lepas. Pengangkutan orang dan barang dari kapal biasa dilakukan dengan perahu. Untuk mempermudah pendaratan, di sebelah rimur Pelabuhan Sunda Kalapa sekarang dibuat terusan khusus untuk perahu – perahu pendarat.

Terutama di musim hujan, terusan tersebut biasa menjadi dangkal, dipenuhi lumpur dari darat bercampur pasir dari laut sehingga perahu kecil pun sulit melewatinya. Apalagi perahu besar, berlunas lebar, sarat muatan, agar bisa bergerak maju harus dihela beberapa kuda atau sejumlah orang yang berjalan di depan perahu, sebelah kiri dan kanan terusan.

Terusan tersebut diuruk pada abad ke- 19, sehingga sekarang sulit untuk melacaknya. Yang tersisa hanya sebutannya jaagpad yang berubah menjadi japat, sebagai nama dari kawasan tersebut.


Jatinegara

Jatinegara dewasa ini menjadi nama sebuah Kecamatan. Kecamatan Jatinegara, Kotamadya Jakarta Timur, salah satu pusat Kota Jakarta yang multipusat itu. Nama Jatinehara baru muncul pada kawasan tersebut, sejak tahun 1942, yaitu pada awal masa pemerintahan pendudukan balatentara Jepang di Indonesia, sebagai pengganti nama Meester Cornelis yang berbau Belanda.

Sebutan Meester Cornelis mulai muncul ke pentas sejarah Kota Jakarta pada pertengahan abad ke-17, dengan diberikannya izin pembukaan hutan dikawasan itu kepada Cornelis Senen adalah seorang guru agama Kristen, berasal dari Lontor, pulau Banda. Setelah tanah tumpah ⽸0? darahnya dikuasai sepenuhnya oleh kompeni, pada tahun 1621 Senen mulai bermukim di Batavia, ditempatkan di kampung Bandan. Dengan tekun ia mempelajari agama Kristen sehingga kemudian mampu mengajarkannya kepada kaum sesukunya. Dia dikenal mampu berkhotbah baik dalam bahasa Melayu maupun dalam bahasa Portugis (kreol) Sebagai guru, ia biasa dipanggil mester, yang berarti "tuan guru". Hutan yang dibukanya juga dikenal dengan sebutan Mester Cornelis, yang oleh orang – orang pribumi biasa disingkat menjadi Mester. Bahkan sampai dewasa ini nama itu nampaknya masih umum digunakan oleh penduduk Jakarta, termasuk oleh para pengemudi angkot (angkutan kota).

Kawasan hutan yang dibuka oleh Mester Cornelis Senen itu lambat laun berkembang menjadi satelit Kota Batavia. Dalam rangka pelaksanaan otonomi daerah oleh Pemerintah Hindia Belanda dibentuklah Pemerintahan Gemeente (kotapraja) Meester Cornelis, bersamaan dengan dibentuknya Gemeente Batavia. Kemudian, mulai tanggal 1 Januari 1936 Gemeente Meester Cornelis digabungkan dengan Gemeente Batavia.

Disamping kedudukannya sebagai gemeente, pada tahun 1924 Meester Cornelis dijadikan nama kabupaten, Kabupaten Meester Cornelis, yang terbagi menjadi 4 kewedanaan, yaitu Kewedanaan Meester Cornelis, Kebayoran, Bekasi, dan Cikarang (Kolonial Tidschrifft, Maart 1933:1).

Pada jaman Jepang pemerintah pendudukan jepang, nama Meester Cornelis diganti menjadi Jatinegara, bersetatus sebagai sebuah Siku, setingkat kewedanaan, bersama – sama dengan Penjaringan, Manggabesar, Tanjungpriuk, Tanahabang, Gambir, dan Pasar Senen.

Ketika secara administrative Jakarta ditetapkan sebagai Kotapraja Jakarta Raya, Jatinegara tidak lagi menjadi kewedanaan, karena kewedanaan dipindahkan ke Matraman, dengan sebutan Kewedanaan Matraman. Jatinegara menjadi salah satu wilayah Kecamatan Pulogadung, Kewedanaan Matraman (The Liang Gie 1958:144)


Jatinegara Kaum

Jatinegara Kaum dewasa ini menjadi sebuah kelurahan, Kelurahan Jatinegara Kaum, Kecamatan Pulogadung, Kotamadya Jakarta Timur. Disebut Jatinegara Kaum, karena di sana terdapat kaum, dalam hal ini rupanya kata kaum diambil dari bahasa Sunda, yang berarti "tempat tinggal penghulu agama beserta bawahannya" (Satjadibrata, 1949:149).

Sampai tahun tigapuluh abad yang lalu, penduduk Jatinegara Kaum umumnya berbahasa Sunda (Tideman 1933:10). Dahulu Jatinegara Kaum merupakan bagian dari kawasan Jatinegara yang meliputi hamper seluruh wilayah Kecamatan Pulogadung sekarang. Bahkan di wilayah Kecamatan Cakung sekarang, terdapat sebuah kelurahan yang bernama Jatinegara, yaitu Kelurahan Jatinegara.

Dari mana asal nama Jatinegara serta kapan kawasan tersebut bernama demikian, belum dapat dinyatakan dengan pasti. Yang jelas nama kawasan tersebut baru disebut – sebut pada tahun 1665 dalam catatan harian (Dagh Register) Kastil Batavia, waktu diserahkan kepada Pangeran Purbaya beserta para pengikutnya. Pangeran Purbaya adalah salah seorang putra Sultan Ageng Tirtayasa, Sultan Banten yang digulingkan dari tahtanya oleh putranya sendiri, Sultan Haji, dengan bantuan kompeni Belanda pada tahun 1682. Setelah tertawan, Pangeran Purbaya beserta saudara – saudaranya yang lain, seperti Pangeran Sake dan Pangeran Sangiang, ditempatkan di dalam benteng Batavia. Kemudian, ditugaskan untuk memimpin para pengikutnya, yang ditempatkan dibeberapa tempat, seperti Kebantenan, Jatinegara, Cikeas, Citeurep, Ciluwar, dan Cikalong.

Orang – orang Banten yang bermukim di Jatinegara, awalnya dipimpin oleh Pangeran Sangiang. Karena dianggap terlibat dalam pemberontakan Kapten Jonker, kekuasaan Pangeran Sangiang di Jatinegara ditarik kembali, dan pada tahun 1680 diserahkan kepada Kiai Aria Surawinata, mantan bupati Sampora, kesultanan Banten (T.B.G. XXX:138) yang setelah menyerah kepada kompeni diangkat menjadi Letnan, di bawah Pangeran Sangiang. Sampai tahun 1689.Surawinata masih bermukim di Luarbatang .

Setelah Kiai Aria Surawinata wafat, berdasarkan putusan Pimpinan Kompeni Belanda di Batavia tertanggal 27 Oktober 1699, sebagai penggantinya adalah putranya, Mas Muhammad yang Panca wafat, sebagai penggantinya ditunjuk salah seorang putranya, Mas Ahmad. Pada waktu para bupati Kompeni diwajibkan untuk menanam kopi di wilayahnya masing–masing, penyerahan hasil pertanian itu dari tahun 1721 sampai dengan tahun 1723. tercatat atas nama Mas Panca. Baru pada tahun 1724 tercatat atas nama Mas Ahmad. Pada tahun 1740 rupanya Mas Ahmad masih menjadi bupati Jatinegara atas nama Mas Ahmad berjumlah 2.372,5 pikul, kurang lebih 14.650 kg.


Kebantenan

Kawasan Kebantenan, atau kebantenan, dewasa ini termasuk wilayah Kelurahan Semper Timur, Kecamatan Cilincing, Kotamadya Jakarta Utara.

Dikenal dengan sebutan Kebantenan, karena kawasan itu sejak tahun 1685 dijadikan salah satu tempat pemukiman orang – orang Banten, dibawah pimpinan Pangeran Purbaya, salah seorang putra Sultan Ageng Tirtayasa. Tentang keberadaan orang – orang Banten dikawasan tersebut, sekilas dapat diterangkan sebagai berikut.

Setelah Sultan Haji (Abu Nasir Abdul Qohar) mendapat bantuan kompeni yang antara lain melibatkan Kapten Jonker, Sultan Ageng Tirtayasa terdesak, sampai terpaksa meninggalkan Banten, bersama keluarga dan abdi–abdinya yang masih setia kepadanya. Merek= berpencar, tetapi kemudian terpaksa mereka menyerahkan diri, Sultan Ageng di sekitar Ciampea, Pangeran Purbaya di Cikalong kepada Letnan Untung (Untung Surapati).

Di Batavia awalnya mereka ditempatkan didalam lingkungan benteng. Kemudian Pangeran Purbaya beserta keluarga dan abdi–abdinya diberi tempat pemukiman, yaitu di Kebantenan, Jatinegara, Condet, Citeureup, dan Cikalong.

Karena dituduh terlibat dalam gerakan Kapten Jonker, Pangeran Purbaya dan adiknya. Pangeran Sake, pada tanggal 4 Mei 1716 diberangkatkan ke Srilangka, sebagai orang buangan. Baru pada tahun 1730 kedua kakak beradik itu diizinkan kembali ke Batavia. Pangeran Purbaya meninggal dunia di Batavia tanggal 18 Maret 1732.

Perlu dikemukakan, bahwa disamping Kabantenan di Jakarta Utara itu, ada pula Kabantenan yang terletak antara Cikeas dengan Kali Sunter, sebelah tenggara Jatinegara, atau sebelah barat daya Kota Bekasi. Disalah satu rumah tempat kediaman Pangeran Purbaya yang berada di barat daya Bekasi itu ditemukan lima buah prasasti berhuruf Sunda kuno, peninggalan jaman kerajaan Sunda, yang ternyata dapat sedikit membuka tabir kegelapan sejarah Jawa Barat.


Kampung Ambon

Merupakan penyebutan nama tempat yang ada di Rawamangun, Jakarta Timur. Nama ini sudah ada sejak tahun 1619. Pada waktu itu JP. Coen sebagai Gubernur Jenderal VOC menghadapi persaingan dagang dengan Inggris. Untuk memperkuat angkatan perang VOC, Coen pergi ke Ambon mencari bantuan dengan menambah pasukan dari masyarakat Ambon. Pasukan Ambon yang dibawa Coen dimukimkan orang Ambon itu lalu kita kenal sebagai kampung Ambon, terletak di daerah Rawamangun, Jakarta Timur.


Kampung Bali
Kecamatan Jatinegara, Kotamadya Jakarta Timur.

Balimester tercatat sebagai perkampungan orang‽93orang Bali sejak tahun 1667.

Kampung Bali Krukut, terletak di sebelah barat Jalan Gajahmada sekarang yang dahulu bernama Molenvliet West. Di sebelah selatan, perkampungan itu berbatasan dengan tanah milik Gubernur Reineir de Klerk (1777 – 178=), dimana dibangun sebuah gedung peristirahatan, yang dewasa ini dijadikan Gedung Arsip Nasional.

Kampung Bali Angke sekarang menjadi kelurahan Angke, Kecamatan Tambora Jakarta Barat. Disana terdapat sebuah masjid tua, yang menurut prasasti yang terdapat di dalamnya, dibangun pada 25 Sya'ban 1174 atau 2 April 1761. Dihalaman depan masjid itu terdapat kuburan antara lain makam Pangeran Syarif Hamid dari Pontianak yang riwayat hidupnya ditulis di Koran Javabode tanggal 17 Juli 1858. Dewasa ini mesjid tersebut biasa disebut Masjid Al- Anwar atau Masjid Angke.

Pada tahun 1709 di kawasan itu mulai pula bermukim orang – orang Bali di bawah pimpinan Gusti Ketut Badulu, y=ng pemukimannya berseberangan dengan pemukiman orang – orang Bugis di sebelah utara Bacherachtsgrach, atau Jalan Pangeran Tubagus Angke sekarang.
Perkumpulan itu dahulu dikenal dengan sebutan Kampung Gusti (B=han: De Haan 1935,(I), (II):Van Diesen 1989).


Kampung Bandan

Merupakan penyebutan nama Kampung yang berada dekat pelabuhan Sunda Kelapa atau masih dalam Kawasan Kota Lama Jakarta (Batavia) Berdasarkan informasi yang dapat dikumpulkan terdapat beberapa versi asal–usul nama Kampung Bandan.

1-Bandan berasal dari kata Banda yang berarti nama pulau yang ada di daerah Maluku. Kemungkinan besar pada masa lalu (periode kota Batavia) daerah ini pernah dihuni oleh masyarakat yang berasal dari Banda. Penyebutan ini sangatlah lazim karena untuk kasus lain ada kemiripannya, seperti penyebutan nama kampung Cina disebut Pecinan.
Tempat memungut pajak atau cukai (bea) disebut Pabean dan Pekojan sebagai perka=pungan orang Koja (arab), dan lain – lain.

2-Banda berasal dari kata Banda ( bahasa Jawa) yang berarti ikatan Kata Banda dengan tambahan awalan di (dibanda) mempunyai arti pasif yaitu diikat. Hal ini dapat dihubungkan dengan adanya peristiwa yang sering dilihat masyarakat pada periode Jepang, yaitu pasukan Jepang membawa pemberontak dengan tangan terikat melewati kampung ini menuju Ancol untuk dilakukan eksekusi bagi pemberontak tersebut.

3-Banda merupakan perubahan ucapan dari kataPandan. Pada masa lalu di kampung ini banyak tumbuh pohon, sehingga masyarakat menyebutnya dengan nama Kampung Pandan.

Kamis, 13 November 2008

Konservasi "Mangrove" Jakarta


Konservasi "Mangrove" Jakarta

Chris Poerba



Jakarta : Kota Dalam Baskom

Jakarta termasuk salah satu kota di belahan bumi yang lokasinya berada di bawah ketinggian permukaan air laut. Hal ini juga menyebabkan Jakarta sebagai ibukota Republik Indonesia sangat rentan terhadap beberapa acaman terkait siklus perubahan iklim. Bahkan saat ini perubahaan iklim sangat drastis akibat dampak pemanasan global (global warning). Jakarta dapat dianalogikan seperti kota yang berada di dalam baskom. Terkait dengan ini lokasi yang berada di bawah permukaan air laut. Bila mengacu pada perspektif “kota dalam baskom” ini maka sudah sewajarnya semua aktivitas-aktivitas manusia dengan lingkungan binaannya dapat diaplikasikan lebih bijaksana. Perubahan kota Jakarta yang sangat pesat menyebabkan terjadinya penurunan kualitas lingkungan hidup. Bahkan bencana-bencana yang ditimbulkannya semakin lebih buruk. Permasalahan banjir merupakan salah satu masalah yang belum terpecahkan secara tuntas oleh pemerintah kota. Siklus musim hujan secara periodik dengan curah hujan yang tidak menentu merupakan masalah rutin yang selalu dihadapi setiap penentu kebijakan di kota ini. Pada tahun 2006 Jakarta tenggelam, semua wilayah di kota tercinta ini lumpuh. Kota berhenti melakukan aktivitasnya semua lalu lintas jalur transportasi, perdagangan dan jasa lumpuh. Bahkan evakuasi bantuan kepada para warga yang menjadi korban banjir tidak efektif dan maksimal bila dikaitkan dengan waktu dan jumlah para korban.

Masih terkait dengan “kota dalam baskom”, saat ini Jakarta tidak hanya menghadapi masalah banjir di kala musim hujan. Air laut pasang (rob) juga menenggelamkan sebagian kawasan yang berada di pesisir di Jakarta Barat dan Utara. Pada bulan Februari 2008, di Jakarta Utara ketinggian air permukaan laut melebihi ambang bartas normal. Beberapa hal disebabkan oleh adanya air laut pasang secara periodik.

Pada bulan Mei 2008, masih nyata dalam ingatan kita aktivitas Bandara Udara Soekarno Hatta terganggu. Dikarenakan air laut pasang dan menggenangi ruas jalan tol Sedyatmo terutama di Km 26 dan Km 27. Genangan juga diakibatkan dengan jebolnya tanggul. Genangan air laut ini selain berlangsung secara siklus periodik juga terkait dengan pemanasan global. Dikarenakan berada di khatulistiwa maka kemungkinan dampak bencana yang terburuk akan berlangsung di Indonesia.

Jakarta, sebagai pusat dari pemerintahan termasuk di dalamnya aliran perdagangan dan jasa menjadi sangat rentan terhadap perubahan iklim baik yang secara periodik maupun yang drastis. Perencanaan kota selama ini tidak melihat pendekatan “kota dalam baskom”, sehingga setiap perencanaan dan penataan kota tidak melihat ambang batas lingkungan. Pembangunan kota selalu dilangsungkan dengan pendekatan ekonomi dan berbanding terbalik dengan dampak lingkungan yang ditimbulkan termasuk pemulihan biaya pemulihan lingkungan. Pembangunan kota selalu dalam koridor “pemenuhan kebutuhan” terutama fisik semata, yang jelas pemenuhan kebutuhan ini tidak akan pernah ada batasnya.

Pembangunan fisik dengan penyediaan rumah dan sarana komersialnya mengakibatkan luas areal terbangun di Jakarta lebih besar bila dibandingkan dengan luas areal tidak terbangun. Berdasarkan hasil penelitian Neraca Keseimbangan Lingkungan Hidup Daerah tahun 2006, Jakarta memiliki areal seluas 661, 62 km2 dengan rincian luasan areal yang sudah terbangun 609,61 km2 (91,99 %) dari luas keseluruhan wilayah kota. Sedangkan luas areal yang tidak terbangun ini termasuk 18,180 hektar. Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang merupakan daerah resapan air dan sekaligus cadangan air di musim kemarau. Minimnya daerah resapan air di Jakarta ini yang menyebabkan saat musim penghujan Jakarta semakin banjir. Sehingga terlihat jelas bahwa aktivitas-aktivitas terkait dalam perencanaan tata ruang di Jakarta yang menyebabkan berkurangnya lahan resapan air yang seharusnya dapat menjaga kualitas hidup lingkungan di Jakarta.


Taman Wisata Alam Angke-Kapuk Benteng Pertahanan Jakarta


Di dalam Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan, maka disebutkan 2 hal penting yang merupakan ruang terbuka hijau dan perlu terus dirawat, keduanya termasuk daerah resapan air yaitu Hutan Kota dan Sabuk Hijau (Greenbelt). Bila hutan kota dapat diartikan sebagai hamparan pohon-pohon yang terdapat dalam suatu kawasan pada tanah negara, maka sabuk hijau (greenbelt) difungsikan untuk membatasi perkembangan aktivitas-aktivitas yang berlebihan pada suatu lahan.

Taman Wisata Alam (TWA) Angke-Kapuk terletak di wilayah Kotamadya Jakarta Utara, merupakan salah satu kawasan konservasi alam yang berekosistem hutan bakau (mangrove). TWA Angke-Kapuk ini memiliki areal seluas 99,82 Ha. Lokasinya berdekatan dengan perumahan Pantai Indah Kapuk dan tidak jauh berdekatan dengan Km 26 jalan tol Sedyatmo, jalan tol yang menuju ke Bandara Soekarno-Hatta. Ruas jalan Km 26 jalan tol Sedyatmo ini juga yang pernah tergenang air laut pasang bulan Mei 2008 lalu. Mengingat posisinya yang berbatasan langsung dengan Laut Jawa dan berada di sekitar aktivitas yang cukup padat maka kawasan ini juga dapat dinyatakan sebagai Sabuk Hijau (Greenbelt).

Ironisnya bahkan beberapa waktu yang lalu pernah dikabarkan kawasan ini akan dilakukan pengalih-fungsian (konversi) lahan, karena termasuk program reklamasi pantai untuk pemenuhan kebutuhan perumahan. Hanya kepentingan ekonomi semata yang menyebabkan upaya reklamasi dengan menambahkan sebidang lahan di laut. Fenomena yang terdapat di pesisir pantai utara saat ini adalah hutan mangrove digantikan “hutan beton” dengan beragam bangunan mewah seperti perumahan, lapangan golf, dan sebagainya. Hutan beton ini juga menyebabkan kapasitas sampah yang terbawa aliran sungai Angke bertambah. Padahal pohon bakau ini sangat dibutuhkan terutama untuk menurunkan gas karbon (CO2), penahan angin, terutama penahan abrasi pantai.

Saat ini TWA Angke-Kapuk difungsikan menjadi pusat rehabilitasi mangrove Jakarta. Beberapa kegiatan sedang diupayakan seperti penanaman bibit pohon bakau yang baru. Hal ini dikarenakan saat gelombang reformasi 1998, maka “budaya latah” merajalela di Indonesia. Penjarahan dan perambahan semua aset dan tanah negara oleh rakyat dianggap suatu kewajaran. Termasuk di dalamnya perambahan hutan mangrove di lokasi ini dengan perubahan fungsi kawasan yang ilegal menjadi tempat pertambakan ikan dan permukiman. Sehingga kawasan ini tidak hanya rentan akan perubahan fungsi lahan dari ulah para investor melainkan juga ulah para petambak petambak liar.


TWA Angke-Kapuk menjadi ruang terbuka hijau, daerah resapan air, termasuk juga untuk menahan gelombang pasang air laut. Dari fungsinya ini maka kawasan ini juga dapat disebut sebagai salah satu dari sedikitnya benteng pertahanan kota Jakarta. Selain itu juga kawasan ini sebagai hutan wisata, konsep wisata berbasiskan ekologi dengan kepadatan bangunan yang rendah. Meskipun demikian sampai dengan sekarang kegiatan penghutanan kembali atau rehabilitasi mangrove merupakan agenda yang paling mendesak untuk dijalankan.