Tampilkan postingan dengan label Pencerahan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pencerahan. Tampilkan semua postingan

Senin, 19 Januari 2009

Tahun Baru dan Reinkarnasi Sosial


Tahun Baru dan Reinkarnasi Sosial

oleh Jo Priastana *

Filsuf Yunani Herakleitos (500 SM) bilang hakekat segala sesuatu adalah perubahan. Tak ada orang yang menyangkal. Bahkan, Barack Obama, Presiden AS ke-44, yang baru saja terpilih, sungguh mempercayai dan dapat membuktikannya, dengan menyatakan Change, We Can Belive In! Perubahan. Itulah yang menjadi ciri fenomena dan kehidupan ini, dan yang memungkinkan konsep waktu mengalir menghadirkan Tahun Baru 2009!

Segalanya berubah bagai arus sungai yang mengalir. Bila filsuf Yunani lainnya, Parmenides (515-440 SM) menyatakan kebalikannya, bahwa yang ada hanyalah ketetapan, maka ketetapan ini pun barangkali hanya mungkin di dalam lintasan perubahan. Seperti arus listrik dalam nyalanya lampu iklan yang bergerak cepat membentuk kesatuan rentetan kata-kata yang sesungguhnya terjadi karena adanya rentetan lampu yang hidup-mati dengan cepatnya.

Perubahan sebagai ciri kehidupan juga diungkapkan Sang Buddha, sebagaimana yang dinyatakannya dalam hukum kesunyataan anicca (tidak kekal), anatta, (tiada substansi yang berdiri sendiri) dan dukkha (fenomena penderitaan sebagai yang tidak memuaskan). Melalui arus perubahan dan ketidak-kekalan serta tiada subastansi diri yang kekal itulah menghadirkan samsara (sejarah eksistensial) manusia melalui reinkarnasi penerusan kelahiran kembali (punarbhava) yang merupakan ziarah manusia dalam menyelesaikan segala sesuatu yang masih belum memuaskan.

Segala yang belum memuaskan memerlukan perwujudannya kembali. Perubahan yang menandai beragam fenomena kehidupan dan menjadi ciri segala apa yang terdapat di alam semesta ini menunjukkan bahwa kehidupan ini adalah suatu proses perwujudan baru yang terus-menerus. Dalam bingkai hukum kesunyataan lainnya, seperti hukum niyama (ketertiban bersyarat), fenomena perubahan atau reinkarnasi itu terjadi baik dalam dunia inorganic (utu-niyama) maupun dunia organic (bija niyama), serta pada ragam dunia kehidupan, baik itu lingkungan budaya maupun lingkungan sosial, baik pada dunia ide (citta) maupun dunia kesadaran (vinnana) serta pada tindakan-tindakan (karma) dan kehidupan bersama manusia.

Dunia sosial pun tak luput dari hukum perubahan. Reinkarnasi sosial terjadi sepanjang sejarah dan peradaban manusia. Dalam perjalanan waktu, manusia hadir, tumbuh dan berkembang dengan kesosialannya menumbuhkan dan memperbaharui sistim-sistim sosialnya. Sistim sosial masyarakat zaman batu beralih menjadi sistim sosial masyarakat zaman perunggu, zaman besi, atau sistim sosial masyarakat agraris yang tumbang berganti sistim sosial industrial, dan sistim sosial feodal, monarki yang beralih ke sistim sosial yang demokratis, serta kehidupan masyarakat yang semakin global dalam jaringan Internet mencairkan sistim sosial yang terpusat dan menghadirkan perwujudan sistem sosial baru hasil interaksi dari beragam sistim sosial.

Segalanya menghadirkan kebaruan. Alam berubah, waktu mengalir, peradaban manusia tumbuh, berkembang dan lenyap. Jutaan sel dalam tubuh mati dan lenyap sepanjang hari sebagaimana manusia yang selalu hadir dan lenyap, lahir dan mati dan bertumimbal lahir bersalin wujud baru dalam ziarah samsara-nya. Lingkungan budaya dan lingkungan sosial manusia berubah, menampakkan pembaharuan dan mewujudkan kehidupan barunya yang merentang dalam aliran waktu yang tak terbatas (amitayus).

Mempercayai perubahan berarti kita tumbuh dalam kehidupan. Menjalani kehidupan berarti berani menatap perubahan yang senantiasa menghadirkan pembaharuan. Karenanya kelahiran kembali (reinkarnasi) itu merupakan suatu perjalanan hidup baru, perjalanan kembali menemukan pembaharuan kehidupan, di mana diri yang tidak ber-substansi kekal itu (anatta) yang tidak memuaskan (dukkha) sesungguhnya adalah tubuh sosial, diri altruis yang mewujudkan tubuh sosial dan berujung pada pembaharuan sosial. Kemanakah arah perwujudan baru dari tubuh sosial masyarakat kita di tahun 2009 ini?

Perjalanan kehidupan dimulai dengan awal baru dalam kondisi yang telah diperbaharui. Layaknya sepasang pengantin yang mendapat ucapan selamat menempuh hidup baru, maka kehidupan sosial-politik, seperti Pemilu 2009 merupakan malam pengantin dari berbagai kelompok sosial dan lapisan masyarakat Indonesia untuk mewujudkan pembaharuan, sebagai suatu momentum peralihan kehidupan atau titik- antara (antarbhava) untuk terjadinya reinkarnasi sosial lahirnya Indonesia Baru.

Dalam konteks perjalanan spiritual manusia, reinkarnasi terjadi sebagaimana juga terjadinya perkawinan dan kematian. Pertemuan dan perpisahan yang merupakan fenomena yang satu bagaikan dua sisi dari satu keping mata uang yang satu dan sama, di mana arus penyatuan (kamma tanha) dan dambaan akan kehidupan baru (bhava tanha) terus berlanjut melalui kerjanya kesadaran penerusan (patisandhi vinnana) dan kesadaran menjelang ajal (cutti citta), yang mempesona terjadinya perwujudan tubuh dan kesadaran baru (nama-rupa) serta lahirnya generasi baru.

Reinkarnasi terjadi dalam mengenakan tubuh baru sebagai ziarah samsara, lingkaran kelahiran yang terus berulang guna menemukan nirvana. Nirvana yang mengatasi segala yang tidak memuaskan (dukkha) dan merengkuh kesempurnaan dalam paradoks dialektika yang menyatukan segaka wujud dualisme; lahir-mati, duka cita-suka cita dalam titik pusat keheningan, kepenuhan dalam kekosongan (sunyata).

Oleh kecerdasannya, manusia yang bijaksana dapat mengarahkan kehidupan dan mengendalikan putaran nasibya.. Namun, seringkali orang yang bebal yang meninggalkan kesadarannya sangat menyandarkan nasibnya pada bintang yang berada jauh di langit tinggi. Namun, apa yang bisa diberikan bintang-bintang itu bila tanpa usaha diri sendiri. Sang Buddha pernah berkata: “kesadaran adalah kehidupan dan kepandaian merupakan bintang keberuntungan kita.”

Dunia ini merupakan suatu fenomena yang tidak abadi. Kita merupakan bagian dari dunia ini dalam suatu segmen waktu yang singkat dan mengalami transformasi tak terbatas. Setiap kata yang ditulis, setiap batu yang dipahat, setiap lukisan artistik, setiap struktur kebudayaan, setiap generasi manusia pada akhirnya akan lenyap, seperti halnya daun gugur di musim semi yang akhirnya akan dilupakan. Namun, karena setiap eksistensi itu tumbuh dalam saling bergantung satu sama lain (pratitya samutpada) dan saling berpenetrasi, maka dalam kelenyapannya itu mereka pun bersintesis menarik unsur-unsurnya satu sama lain dan mengalami reinkarnasi, bertransformasi dan menemukan pembaharuan kembali dalam perwujudannyas yang baru.

Perlu berapa lama kita menjalani hidup? Adakah kehidupan saat ini tidak cukup juga hingga perlu berlanjut pada kelahiran berikutnya? Dikatakan oleh Sang Buddha bahwa nilai kehidupan itu bukan terletak pada panjang pendeknya hidup. Hidup seratus tahun belum tentu sebaik kalau menjadi seorang yang sangat waspada dan sadar, berguna meski dalam sehari. Karenanya bukan waktu masa lalu dan waktu masa depan yang menentukan perubahan, namun kebangkitan kesadaran dan tindakan-tindakan saat inilah yang merangkum dan memberi makna masa lalu serta menentukan masa depan.

Dalam waktu masa kini itulah ada keberadaan dan kehidupan serta terjadi perubahan maupun pembaharuan. Di mana tidak ada perubahan dan pembaharuan maka di situ tidak ada apa-apa, tidak ada kehidupan. Hanya dalam kehidupan saat ini dan di sini yang terus menghadirkan perubahan dan pembaharuan sebagaimana juga tumbuhnya kesadaran yang terus menerus. Karena segala sesuatu yang hidup ada waktunya, maka biarkanlah dia hadir. Kehidupan itu sendiri adalah kesadaran, maka biarkan kesadaran itu bangkit. Kebangkitan kesadaran itulah yang dinamakan Buddha.

Kebangkitan kesadaran (Buddha) yang terentang dalam waktu tak terbatas dan mengalir secara abadi (amitabha)) itu terus aktif berkarya mewujudkan tubuh dharmanya (dharmakaya), menjadi tubuh sosial Bodhisattva. Bodhisattva yang bersifat altruis, penuh damai, kasih sayang dan terus berkarya sepanjang waktu bagi pembebasan makhluk yang menderita tidak lain adalah reinkarnasi sosial pencerahan Buddha. Bodhisattva yang tidak lain adalah diri kita sendiri yang hidup bermakna bagi orang lain dan yang menjadikan kebangkitan kesadaran sebagai kekuatan spiritual untuk menciptakan transformasi sosial, mewujudkan perubahan dan pembaharuan sosial. Selamat Tahun Baru 2009! ***

*) Pengajar pada sekolah tinggi agama Buddha Nalanda, Jakarta.

Dimuat di Majalah TAPIAN Edisi januari 2009

Kamis, 08 Januari 2009

Baskara T Wardaya : "Mengecam Israel"


Mengecam Israel


Baskara T Wardaya


KCM - Kamis, 8 Januari 2009 | 00:27 WIB
http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/01/08/00275911/mengecam.israel


Bagai rombongan malaikat pencabut nyawa, 27 Desember 2008, Israel melakukan serangan udara atas wilayah Palestina dengan bom-bom maut yang dahsyat dan mematikan.

Serangan udara itu disusul serbuan darat. Ratusan nyawa melayang, ribuan orang terluka, puluhan bangunan luluh lantak. Bahkan, tempat-tempat ibadah pun menjadi sasaran. Sungguh tak berperikemanusian.

Atas kekejaman itu, sudah selayaknya warga masyarakat di Jakarta dan berbagai kota di dunia berunjuk rasa mengecam Israel. Sudah selayaknya pula rakyat di mana-mana menunjukkan solidaritas tinggi terhadap warga Palestina, khususnya mereka yang telah menjadi korban brutalitas mesin-mesin perang Israel.

Pertanyaannya, siapa yang telah menjadi korban brutalitas mesin perang Israel? Boleh percaya boleh tidak, yang telah menjadi korban ternyata adalah semua penduduk Palestina—khususnya mereka yang tinggal di Jalur Gaza—apa pun status sosialnya, apa pun agamanya. Baik warga sipil maupun personel militer, baik anggota kelompok Hamas maupun bukan, semua menjadi korban. Dari segi agama, kebanyakan korban adalah warga Muslim, tetapi tak sedikit warga Kristen yang juga menjadi korban. Sebagaimana kita tahu, banyak orang Palestina memeluk agama Kristen, dan mereka sama-sama menjadi korban kekejaman mesin perang Israel yang dimaksudkan untuk menghancurkan kelompok Hamas.

Tak keberatan

Dari sejarah Palestina kita ingat, generasi demi generasi mayoritas warga Palestina Muslim dan penduduk Palestina Kristen hidup berdampingan secara damai. Mereka mencintai tanah air yang sama, mereka memiliki cita-cita nasional yang sama pula. Keduanya sama-sama memimpikan kehidupan yang aman dan damai sebagai bangsa yang majemuk. Di tengah kejinya penindasan Israel, mereka sama-sama berjuang demi tanah air Palestina yang merdeka, yang adil dan makmur, yang terhormat di antara bangsa-bangsa lain di dunia.

Kita juga ingat, sejumlah orang Kristen Palestina telah menjadi figur-figur yang berdiri di garis depan perjuangan rakyat Palestina, entah itu di ranah politik, sosial, maupun budaya. Sebut saja, misalnya, Emil Habibi, George Habash, Azmi Bishara, dan Hanan Ashrawi yang adalah tokoh-tokoh penting dalam politik Palestina; Elia Suleiman dan Nay Abu-Assad, produser film terkemuka; Raja Shehadeh, penulis dan pakar hukum; atau Raymonda Tawil, aktivis politik yang notabene adalah ibu mertua almarhum Yasser Arafat. Dan, tentu saja Edward Said, intelektual dan aktivis politik Kristen keturunan Palestina yang mati-matian membela Palestina di dunia internasional. Bagi warga Palestina, dalam memandang satu sama lain, tampaknya yang utama bukan apa agama seseorang, tetapi sejauh mana komitmen orang itu bagi perjuangan bersama demi masa depan Palestina.

Ironisnya, justru karena banyak orang Kristen ada di garis depan perjuangan rakyat Palestina itulah Pemerintah Israel sejak 1948 berusaha keras agar orang-orang Kristen ini hengkang dari bumi Palestina dan bermukim di luar negeri saja. Israel sadar, orang-orang Kristen memiliki potensi besar menjadi penghubung perjuangan Palestina dengan dunia luar (ingat, seorang pembela Palestina yang paling konsisten di panggung internasional adalah mendiang Paus Yohanes Paulus II). Karena itu, diam-diam pemerintah negara itu giat mendorong warga Kristen ini meninggalkan Palestina. Para pemimpin Israel tak keberatan jika dalam serangan kali ini banyak warga Kristen Palestina juga menjadi korban operasi militernya.

Setiap orang

Mengingat yang menjadi korban adalah semua pihak, tentu akan aneh bila yang melakukan unjuk rasa mengecam Israel terkait serangan atas Jalur Gaza saat ini hanya warga dari agama tertentu.

Pertama, karena yang menjadi korban bukan hanya warga Palestina dari satu agama. Baik Islam maupun Kristen Palestina, semua menjadi korban Israel.

Kedua, jelas sekali serbuan militer Israel bukan serbuan dengan motivasi agama, tetapi serbuan dengan motivasi politik dan kesewenang-wenangan kekuasaan.

Sadar akan situasi demikian, seharusnya yang terusik oleh kekejaman Israel bukan hanya warga dari satu agama, tetapi juga dari semua agama, karena semua agama mengajarkan kebajikan dan melawan kejahatan. Bahkan, yang merasa terusik seharusnya bukan hanya yang mendasarkan diri pada keyakinan agama, tetapi juga setiap orang yang masih memiliki rasa hormat pada nilai-nilai kemanusiaan. Kematian satu manusia Palestina akibat mesin perang dan kesewenang-wenangan kekuasaan adalah kematian semua orang yang menjunjung tinggi harkat dan martabat kemanusiaan. Sudah selayaknya setiap orang—apa pun status sosialnya, apa pun agamanya—tergerak untuk turut mengecam Israel dan mencari jalan keluar terhadap kemelut yang berlangsung sekarang ini.

Perlu waspada

Terkait upaya mencari jalan keluar itu, kiranya dua catatan perlu ditambahkan.

Pertama, selain dorongan untuk terlibat secara fisik dan militer, perlu pula dimaksimalkan upaya-upaya diplomatik guna mencari solusi yang tepat dan berkesinambungan. Republik Indonesia sebagai salah satu kekuatan terbesar di Asia dan memiliki kedekatan emosional dengan Palestina, hendaknya merasa terdorong untuk menjadi penengah bagi kedua pihak yang kini sedang bertikai. Tak kalah penting bagi Indonesia adalah mengupayakan bantuan kemanusiaan semaksimal mungkin, dalam koordinasi dengan negara-negara lain atau lembaga-lembaga kemanusiaan internasional.

Kedua, hendaknya setiap upaya mencari jalan keluar atas konflik Hamas-Israel lahir dari kehendak murni untuk menyelesaikan masalah di Palestina dan bukan niat untuk mengaduk emosi masyarakat sambil mencari keuntungan politik di dalam negeri menjelang pemilu. Sebagaimana ditekankan oleh Ketua Tanfidziyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Timur (PWNU Jatim) KH Mutawakkil Alallah belum lama ini, kita perlu waspada terhadap keinginan untuk menjadikan momentum konflik Hamas-Israel sebagai kesempatan untuk mencari kepentingan sendiri dengan mengorbankan kepentingan bangsa (Kompas, 4/1/2009). Dengan kata lain, jangan sampai hanya demi keuntungan politik sesaat, apa yang kita lakukan di sini tidak hanya tidak turut menyelesaikan masalah di Palestina, tetapi justru menimbulkan polarisasi dan konflik berkepanjangan di antara kita sendiri.



Baskara T Wardaya SJ, Direktur PUSdEP (Pusat Sejarah dan Etika Politik) Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta

Senin, 15 Desember 2008

Franz Magnis-Suseno SJ

PAULUS MENEGUR PETRUS

oleh Franz Magnis-Suseno SJ *)

Dalam surat kepada umat di Galatia, Paulus menceriterakan bagaimana ia menegur Petrus (Gal. 2 : 11 ). Waktu Petrus berkunjung ke Antiokia, ia semula bergaul enak dengan umat di sana – padahal mereka tidak disunat karena berasal dari masyarakat non-Yahudi. Sejak Petrus membaptis Cornelius, perwira pasukan Romawi, di Cesarea, ia mengerti bahwa untuk dibaptis orang tidak harus menjadi Yahudi lebih dulu. Tetapi, kemudian datang orang-orang Kristiani Yahudi konservatif dari kalangan rasul Yakobus, kepala umat Kristiani-Yahudi di Yerusalem. Mereka menegur Petrus: Kok Anda makan dengan orang tak bersunat. Petrus lalu berhenti bergaul dengan saudara-saudari Kristianinya yang tak bersunat.


Itu yang membuat Paulus marah. Ia menganggap Petrus munafik. Di depan umat, ia menegur: „Jika engkau, seorang Yahudi, hidup secara kafir dan bukan secara Yahudi (karena kemunafikan adalah tanda jauhnya dari jalan Tuhan, jadi „kafir“, FMS), bagaimanakah engkau dapat memaksa saudara-saudari kafir untuk hidup secara Yahudi?“


Apakah tepat Paulus menegur Petrus di depan umat? Bukankah Yesus mengajarkan bahwa „saudara yang berbuat dosa“ harus lebih dulu ditegur „di bawah empat mata,“ lalu bersama „dua orang lagi,“ dan baru „jika ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada jemaat?“ (Mat : 18 :15 )


Tetapi, kasus Petrus lain. Petrus bukan sembarang saudara yang berdosa. Ia adalah rasul paling utama, „batu karang“ Gereja (Mat. 16 : 18). Kemunafikan seorang tokoh akan memberi sandungan umum dan bisa menyesatkan umat. Karena itu Paulus menegurnya secara terbuka. Sebagai pemimpin Gereja, Petrus adalah pribadi publik, dan karena itu perlu dikritik secara publik kalau ia dalam kelakuannya menyangkal bahwa kita diselamatkan karena percaya dan bukan karena menaati Taurat.


Mengambil sikap yang tidak setia pada Injil karena takut pada manusia terlalu sering terjadi dalam Gereja. Kita tidak mau membuat kesan jelek pada orang-orang berpengaruh, kita takut konflik, kita tidak berani mempertahankan sikap yang benar,–padahal kita pemimpin. Keberanian merupakan keutamaan hakiki bagi orang yang mengikuti Yesus. Keberanian tidak hanya berhadapan dengan mereka di luar yang memusuhi kita, melainkan juga di dalam. Berani melawan pendapat umum, kemarahan massa, prasangka yang masih dianut oleh suatu masyarakat. Demi Kristus kita harus berani melawan arus.


Masalah sikap Petrus bukan bahwa ada perbedaan pendapat dalam Gereja. Keyakinan Petrus bahwa orang tak harus disunat sebagai syarat untuk boleh dibaptis, dan bahwa di hadapan Allah semua orang sama-sama bersih sudah resmi diakui oleh para rasul dalam konsili mereka di Yerusalem (Kis 15). Yakobus pun waktu itu sudah setuju bahwa orang tak bersunat bisa dibaptis tanpa harus disunat terlebih dahulu. Jadi, masalahnya sudah selesai. Tetapi, masih ada kalangan Kristen eks Yahudi yang tidak setuju, dan rupa-rupanya berpengaruh. Terhadap mereka seharusnya Petrus tidak mundur, seharusnya ia tetap bergaul tanpa ragu-ragu dengan saudara dan saudari Kristiani yang eks-kafir. Paulus harus menegur Petrus keras-keras untuk menghilangkan keragu-raguan tentang penebusan yang dibawa Yesus.


Maka dalam Gereja kata terbuka mempunyai tempat dan haknya. Dan para pimpinan Gereja, para gembala, tidak boleh menindasnya, misalnya dengan alasan ketaatan terhadap ajaran Gereja. Akan tetapi, kritik harus juga memenuhi syarat. Bukan hanya kritik harus beralasan. Melainkan juga harus, biarpun keras, rendah hati. Kritik tidak boleh arogan. Tidak boleh memaksa atau pun mengancam, dan siapa yang mengritik, harus juga mau dikritik sendiri.


Yang sering terjadi bukanlah kritik terbuka, melainkan bahwa orang tidak berani mengritik yang bersangkutan, tetapi grundelan di belakang. Lalu, dalam umat terbentuk klik-klik yang akhirnya akan menghasilkan perpecahan. Bersungut-sungut dari belakang adalah sikap yang tidak pada tempatnya sama sekali dalam Gereja. Juga sikap aku sok benar sendiri. Sekali lagi, bukti bahwa kritik tidak berpamrih adalah kerendahan hati.


Suatu budaya keterbukaan di mana kita kalau perlu menyatakan pendapat kita, dan kita didengarkan, tetapi kita juga sadar bahwa kita sendiri tidak memonopoli Roh Kudus, jadi kita tetap rendah hati, dan juga bersedia untuk menarik kembali pendapat kita, kalau ternyata tidak tepat, itulah yang harus kita bangun dalam umat-umat kita. Kata terbuka dalam kejujuran dan kasih itu menciptakan suasana yang segar, positif, bersemangat, tidak memukul, tidak merendahkan, tidak menghilangkan semangat.


Untuk membangun sikap itu kita memerlukan kematangan dalam Roh Tuhan. Tanda kematangan itu adalah bahwa kita tidak mau menang sendiri. Keberanian, keterbukaan, kerendahan hati dan cinta pada Gereja, itulah sikap hati daripadanya kehidupan umat yang terbuka dan selalu mau mengoreksi diri terbangun. ***

*) Rohaniawan dan budayawan



Telah Dimuat di Majalah TAPIAN Edisi Desember





Rabu, 12 November 2008

Kasih Anjing

"Kasih Anjing"
Karya : Agustin Sibarani






Saat Semuanya
Terlalu Rakus,
Tamak,
Biadab,
Jahanam.


Kamis, 06 November 2008

Siti Musdah Mulia

"MEWASPADAI BAHAYA HIV/AIDS : PERSPEKTIF ISLAM"

Siti Musdah Mulia

(Aktivis Perdamaian & Muslimah Pertama Penulis Buku Anti Poligami)

Telah Dimuat Majalah TAPIAN Edisi November


Pendahuluan

Abad ini sering disebut sebagai era globalisasi. Globalisasi mengandung arti suatu proses yang bersifat mendunia dalam kehidupan umat manusia. Maksudnya, apa yang terjadi pada suatu bangsa akan dengan mudah diketahui dan ditiru oleh bangsa-bangsa lain sehingga hal tersebut berlaku umum hampir di seluruh dunia. Proses globalisasi tersebut dimungkinkan oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya teknologi elektronika dan informatika. Bahkan, kemajuan di bidang teknologi informatika telah membawa kepada terjadinya transformasi peradaban dunia. Transformasi peradaban dunia berlangsung dalam proses modernisasi dan industrialisasi yang dahsyat yang pada gilirannya menciptakan perubahan pada struktur dan pranata masyarakat.

Sebagai akibat dari modernisasi dan industrialisasi tersebut muncul masyarakat modern atau masyarakat industri yang cenderung lebih mementingkan nilai-nilai material daripada nilai-nilai yang bersifat immaterial atau ruhani. Masyarakat baru tersebut memiliki ciri-ciri sebagai berikut: kecenderungan hidup yang individualistik atau pendewaan diri; kecenderungan hidup yang materialistik atau pendewaan materi; dan kecenderungan hidup hedonistik atau pendewaan terhadap hasrat badani. Kecenderungan-kecenderungan tersebut sedikit banyak sudah menggejala dalam kehidupan sebagian masyarakat Indonesia, terutama di kota-kota besar. Jelas bahwa ketiga kecenderungan tadi menyebabkan masyarakat dewasa ini amat rentan terhadap penularan HIV/AIDS.

Sebelum lebih jauh, perlu ditegaskan apa itu HIV/Aids? HIV/AIDs adalah sejenis penyakit yang dapat menimpa siapa saja di antara manusia. Penyakit ini dapat menimpa laki-laki dan perempuan; anak-anak dan lanjut usia; manusia bermoral dan tidak bermoral; manusia terdidik dan tidak terdidik; kaya dan miskin; pecandu narkoba dan bukan; prostitusi dan bukan, homo dan hetero seksual, demikian seterusnya. Untuk itu, sikap terbaik adalah bersikap positif dan konstruktif terhadap semua penderita HIV/AIDS, apa pun penyebabnya. Itulah sikap yang agamis.

HIV/AIDS telah menjadi epidemi bagi masyarakat dunia. Dari aspek manapun kita melihatnya: aspek kesehatan fisik dan jiwa, aspek sosial, aspek ekonomi dan politik dan berbagai aspek lainnya. Disepakati bahwa HIV/AIDS merupakan bencana terbesar bagi peradaban umat manusia di muka bumi. Bahkan, bahaya HIV/AIDS diprediksikan jauh lebih dahsyat dari dua Perang Dunia yang pernah terjadi.

Meskipun disepakati betapa bahayanya epidemi ini, namun sikap kita terhadap penderitanya tetap harus positif dan konstrukstif, bukan negatif dan destruktif. Kita tidak boleh menghakimi mereka sebagai bersalah, apalagi menstigmanya sebagai orang berdosa dan masuk neraka. Sebab, tidak sedikit di antara mereka tertular penyakit ini tanpa mereka sadari. Misalnya penularan melalui jarum suntik, transfusi darah, atau tertular melalui pasangan intim yang tidak diketahui telah mengidap penyakit tersebut.

Memang sulit disangkal bahwa hasil penelitian mengungkapkan kelompok rentan atau beresiko tinggi terhadap HIV/AIDs antara lain: pengguna narkoba suntik, pelaku seks bebas, pasangan dari pelaku seks bebas, penerima transfusi darah, dan anak-anak yang lahir dari orang tua penderita. Sebagian masyarakat masih memandang penyakit ini hanya khusus mengenai pelaku seks bebas dan pecandu narkoba sehingga tidak heran tumbuh semacam sikap benci, tidak peduli dan acuh, bahkan mendiskreditkan penderita. Akan tetapi, dalam realitasnya, orang-orang yang berada di luar kategori kelompok beresiko ini pun tidak tertutup kemungkinan dapat tertular.

Islam Memanusiakan Manusia

Hakikat Islam sesungguhnya terlihat pada nilai-nilai kemanusiaan yang terkandung di dalamnya, dan salah satu bentuk elaborasi dari nilai-nilai kemanusiaan itu adalah pengakuan tulus terhadap kesamaan dan kesatuan manusia. Semua manusia adalah sama dan berasal dari sumber yang satu, dan pada akhirnya pun akan kembali ke asal yang satu, yakni Tuhan. Dalam Islam diyakini bahwa yang membedakan manusia hanyalah prestasi dan kualitas takwanya dan bicara soal takwa, hanya Tuhan semata berhak melakukan penilaian, bukan manusia (QS. al-Hujurat, 13).

Bahkan, dari ayat tersebut dapat dipahami bahwa tidak ada perbedaan antara manusia yang sehat dan sakit, termasuk mereka yang mengidap HIV/Aids. Sebab, yang membedakan hanyalah prestasi takwa. Belum tentu penderita HIV/AIDS lebih rendah kualitas takwanya dari yang bukan penderita. Demikian pula sebaliknya. Untuk penilaian takwa, hanya Allah yang punya hak prerogatif. Sebagai manusia, kita hanya diperintahkan untuk berfastabiqul khairat (berkompetisi berbuat kebajikan) menuju ridha-Nya.

Islam mengajarkan bahwa keberagamaan seseorang mestinya berdampak positif bagi hubungan kemanusiaan. Karena itu, ajaran Islam sangat menekankan pada dua aspek sekaligus; aspek vertikal dan aspek horisontal. Aspek vertikal merupakan ajaran Islam yang berisi seperangkat kewajiban manusia kepada Tuhan, sementara aspek horisontal berisi seperangkat tuntunan yang mengatur hubungan antara sesama manusia dan juga hubungan manusia dengan alam sekitarnya. Sayangnya, aspek horisontal ini seringkali terabaikan dalam kehidupan beragama di masyarakat. Akibatnya, dimensi kemanusiaan yang merupakan refleksi aspek horisontal kurang mendapat perhatian di kalangan umat beragama. Kebanyakan umat beragama lebih banyak mengurusi Tuhan dari pada mengurusi sesamanya manusia. Tidak heran jika kesalehan individu menjadi hal yang mengemuka. Sebaliknya, kesalehan sosial dikesampingkan.

Oleh karena itu, para pemuka agama diharapkan dapat proaktif mensosialisasikan upaya-upaya pencegahan terhadap kedua epidemi ini karena sebagaimana disinggung dalam ayat pembuka di atas, fitnah yang boleh jadi mengambil bentuk HIV/AIDS dan narkoba, bukan hanya menimpa mereka yang dzalim atau yang memiliki resiko tinggi untuk tertular, melainkan juga akan menimpa orang-orang di luar kelompok rentan tadi atau di masyarakat sering disebut sebagai “orang-orang saleh”. Bahkan, hadis Nabi berikut memberikan sinyal yang lebih kuat akan munculnya suatu fenomena yang sangat memprihatinkan itu. Diriwayatkan dari Ummi Salamah bahwa Nabi saw bersabda: “Apabila kemaksiatan telah nampak di kalangan umatku, maka Allah swt. akan menurunkan bencana kepada masyarakat semua, tanpa pandang bulu. Saya (Ummi Salamah) bertanya: Wahai Rasulullah apakah ketika itu masih ada juga orang-orang saleh?, Nabi menjawab: masih ada. Lalu saya bertanya: bagaimana nasib mereka?, Nabi menjawab: Allah pun akan menimpakan bencana kepada mereka sebagaimana ditimpakan kepada pelaku-pelaku maksiat itu (HR. Imam Ahmad).

Pelaku maksiat mendapatkan bencana akibat kejahatan mereka, sedangkan orang saleh juga mendapat bencana karena ketidakseriusan mereka memberikan pertolongan kepada yang teraniaya” Hadis tersebut secara jelas menggambarkan bahwa dampak epidemi itu tidak bersifat "lokal", melainkan bersifat universal. Wabah epidemi dapat menjangkiti seluruh masyarakat, baik kelompok yang rentan dan beresiko maupun yang tidak. Orang lain mendapat bencana karena ketidakpedulian mereka untuk mencegah meluasnya wabah tersebut.

Karena itu, sangat diharapkan agar umat Islam, khususnya bagi para pemuka agama, untuk segera peduli dan dan berpartisipasi aktif dalam upaya-upaya penanggulangan bahaya HIV/AIDS agar masyarakat terhindar dari bencana yang mungkin lebih dahsyat.

Terakhir, tetapi tidak kurang pentingnya adalah membimbing para penderita HIV/Aids agar mereka tetap berpandangan optimis dan positif dalam menatap kehidupan. Meyakinkan mereka bahwa hidup ini belum berakhir dan mereka pun masih punya banyak kesempatan melakukan amal shaleh dan amal jariyah sebanyak-banyaknya. Mendorong mereka untuk melakukan testimoni dalam rangka advokasi dan penyadaran kepada kelompok lain yang belum terinveksi. Membujuk mereka agar jujur menerima kondisi diri mereka apa adanya. Kejujuran dan keterusterangan mereka akan membantu orang lain tidak tertular penyakit tersebut. Mengajak mereka kampanye melakukan upaya pencegahan dan meyakinkan bahwa aktivitas tersebut merupakan ibadah yang sangat tinggi nilainya di sisi Allah. Sesuai firman Allah: Barang siapa menyelamatkan hidup seseorang, maka sesungguhnya dia telah menyelamatkan hidup semua orang (QS, 5:32). Atau hadis Nabi: Seorang Muslim adalah orang yang menyelamatkan sesamanya, baik dengan perilaku maupun dengan ucapan. []


Kamis, 25 September 2008

Per-EMPU-an Inspiratif ( uLASAN dISKUSI kUMPULAN pUISI sUSTER NATA- 18 JULI)


Oleh Chris Poerba



Berikut sekedar membagikan ulasan singkat dari :

Deklarasi Guru Ketrampilan dan Seni

&

Diksusi Kumpulan Pusi ”Cinta Itu Tidak Dosa” dari

Y.F Nata (Suster Nata)

Meja Budaya – HB Jassin. TIM

18 Juli 2008

Sekedar membagikan cerita yang menginspirasi bagi saya, dan mudah-mudahan menginspirasi bagi teman-teman lainnya. Seorang per-Empu-an yang pernah berada di titik nadir terendah/ titik nol dan telah menemukan dunianya kembali.

Acara dikusi kumpulan puisi dimulai sekitar pukul 16.00 sore yang dipandu oleh moderator Martin Aleida dan pembahas Sides Sugiarto (maaf bila ada kesalahan penulisan nama) dan tentunya menghadirkan sang penulis puisi Y.F Nata yang biasa disapa dengan Suster Nata. Suster Nata yang lahir 9 Juni 1968 merupakan alumni Pendidikan Seni Rupa IKIP (sekarang UNJ), pernah bekerja sebagai guru seni rupa, photografer, penulis freelance, volunteer, penah mengadakan pameran bersama dan tunggal dan saat ini melakukan kerja-kerja sosial di bidang pertanian dan pendidikan alternatif di desa Salem, Purwakarta.

Suster Nata pernah mengalami sebuah kecelakaan yazng tragis pada 10 Mei 2005, saat mobil yang ditumpanginya mengalami kecelakaan yang sangat berat. Kecelakaan dalam perjalanan dari Yogyakarta ke Desa Salem, Purwakarta lalu ke Jakarta. Kecelakaan tersebut hanya menyisakan seorang Suster Nata sebagai satu-satunya penumpang yang selamat dari jumlah 3 orang penumpang. Bahkan saat itu Suster Nata sedang terlelap tidur di dalam mobil. Meskipun demikian tetap saja yang bersangkutan mengalami kehancuran fisik tubuh yang sangat berat (semua organ-organ tubuh berubah, bergeser, dan luluh lantah). Bahkan saat ditanya Suster Nata menyatakan ’body saya ini semuanya sudah diganti’


”Patah pada paha kiri, pangkal paha kanan lepas dan tempurungnya remuk, patah pada pergelangan tangan kiri. Demikian juga dengan lima tulang iga di dada sebelah tangan. Sedangkan wajah bagian kanan tak luput dari kehancuran. Tulang pipi kanaan remuk bagai piring pecah. Rongga mata kanan bergeser ke bawah. Rahang atas juga bergeser ke belakang sejauh dua belas milimeter. Dengan kondisi lever sobek, sulit untuk melakukan operasi pada tulang-tulang yang patah. Setelah seratus tujuh belas hari dalam perawatan di Rumah Sakit Carolus, saya boleh menikmati kesembuhan kembali” (Baca Hlm 5)


Dan tentunya juga yang terberat adalah trauma yang mendalam. Suster Nata mengalami ujian fisik dan psikis yang hanya bisa dilakukan dengan pengobatan yang berbeda satu dengan lainnya. Salah satu terapi mental yang dilakukan adalah menulis.

Buku kumpulan puisi ini yang berjudul ’Cinta Itu Tidak Dosa’-Amare Non Est Peccatum di tulis di Rumah Sakit Sint Carolus dan masa pemulihan di Villa Kramat. Merupakan ’Sketsa Perjalanan Cinta Terlarang’ (tertulis juga di bagian sampul muka) . Ter-’larang’ disini bukan sebuah analogi yang konotatif melainkan denotatif karena ter-’larang’ ini berasal dari bahasa Jawa jadi ter-’mahal’ (larang = mahal). Sehingga semua kumpulan puisi ini mendeskripsikan sebuah sketsa perjalanan cinta yang sangat mahal. Hanya cinta yang memungkinkan terwujudnya kembali sebuah kehidupan. Sebuah kehidupan yang sangat ter-’larang’(ter-’mahal’).

Bahkan proses kreatifitas mewujudkan kumpulan puisi ini juga sangat ’larang’. Suster Nata mengatakan saat kecelakaan itu maka satu-satunya organ tubuh saya yang masih terbilang masih utuh adalah tangan kanan saya. Dan tangan kanan ini yang difungsikan sebagai tempat asupan cairan dari selang infus dan sumber utama proses kreatifitas. Alhasil beberapa puisi ini ditulis dengan tangan kanannya dalam bentuk SMS pada HP miliknya dan beberapa disimpan dan ada yang telah dikirimkan ke teman-temannya. Dalam proses pemulihan fisik puisi juga tidak bisa langsung diwujudkan dalam format komputasi seperti lazim digunakan diakibatkan terbatasnya akses memiliki itu, alhasil semua teks-teks puisi di buku ini merupakan sebuah tulisan tangan.

Yang menarik untuk disampaikan, kecelakaan yang menimpa Suster Nata adalah saat menuju Desa Salem dalam rangka kepentingan dan fasilitasi ”perbaikan moral komunitas guru pendidikan dasar dan menengah mendampingi anak-anak dan remaja tanah air.” Sebuah kerja-kerja sosial yang terus dilakukannya hingga kini di Desa Salem Yogyakarta. Saat ditanya Sides Sugiarto kenapa kumpulan puisi ini tidak memuat kegiatan-kegiatan seperti pendidikan alternatif yang dilakukan selama ini. Suster Nata dengan sederhana menyatakan semua yang terkait dengan bidangnya meliputi pendidikan akar rumput dengan segala kreatifitas penyampaiannya sudah terwadahi dengan kerja-kerja sosial di Desa Salem yang juga sebagai tempat tinggalnya. Suster Nata juga sangat menyayangkan pola prilaku guru-guru yang selalu membuka kelas-kelas tambahan (les private bagi muridnya) bukan melakukan kreatifitas dalam penyampaian ide dan ilmu kepada muridnya dapat lebih mudah mengerti (mudah dipahami) tidak terlalu formalitas. Seperti yang juga dikatakan Paulo Freire yang menyatakan ’bahasa generatif’ yang berada di lokalitas merupakan gejala harus dapat ditangkap terlebih dahulu sebelum melakukan penyampaian ide-ide dan gagasan-gagasan selanjutnya.

Penutup, sebuah puisi dari Suster Nata yang sangat menghargai kemanusiaan dan kehidupan sebuah makna dari ’kelahiran baru’ yang ditulis di Kramat Sentiong tanggal 22-09-2005 (Halaman 61 -62)

Perempuan di Titik Nol

Perempuan di titik nol

sungguh buta dan tuli

tanpa bayangan tanpa cerminan diri

Dia ada, tapi dia tidak ada

...........................................

Di sini,

di titik nol langkahpun mulai diayunkan

Hati baru penuh cinta telah lahir kembali

Kembali bersama jati diri

Jati diri sang aku


Tulisan ini sudah pernah saya publikasi di beberapa milis

jurnalperempuan@yahoogroups.com, Apresiasi-Sastra@yahoogroups.com, lingkungan@yahoogroups.com, pasarbuku@yahoogroups.com, mediacare@yahoogroups.com, sastra-pembebasan@yahoogroups.com, natapwk@yahoo.com


NB :

Bagi yang hendak bertegur sapa atau bertukar pikiran dapat menghubungi Suster Nata di natapwk@yahoo.com atau 0818812622