Tampilkan postingan dengan label Amir Syarifuddin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Amir Syarifuddin. Tampilkan semua postingan

Senin, 19 Januari 2009

Amir Syarifuddin Harahap, Perdana Menteri RI yang Dilupakan


Amir Syarifuddin Harahap, Perdana Menteri RI yang Dilupakan

Oleh : Hotman Jonathan Lumbangaol

15-Des-2008, 16:55:34 WIB - [www.kabarindonesia.com]

KabarIndonesia - Sejarah kerap mencatat bahwa revolusi telah memakan anaknya sendiri. Amir Syarifuddin Harahap (1907-1948), mantan Perdana Menteri ke-2 Indonesia ini menjadi korban revolusi yang turut dia lahirkan. Amir meninggal dengan tragis pada 19 Desember 1948, saat dieksekusi oleh regu tembak bersama sembilan orang tanpa nama.

Tak banyak literatur dan informasi tentang putra Mandailing ini. Itu sebabnya sosoknya tidak banyak yang tahu. Jarang diangkat media. Informasi tentang pejuang ini selalu diberangus. Satu fakta, tahun 1984 Penerbit Sinar Harapan menerbitkan tesis Frederiek Djara Wellem yang diluncurkan di Gedung STT Jakarta, Jalan Proklamasi, Jakarta Pusat. Buku biografi diberi judul “Amir Syarifuddin; Pergumulan Iman dan Perjuangan Kemerdekaan”. Namun, tidak berapa lama buku itu di-sweeping, dilarang beredar, di masa pemerintahan Soeharto karena dianggap merusak sejarah Indonesia.

Buku itu dianggap sesat. Padahal, dialah salah seorang bapak pendiri bangsa dalam memperjuangkan eksistensi NKRI. Perjuangannya tidak pernah dihargai negara. Pusara, gundukan makamnya, tertulis nisan tanpa nama, di Desa Ngaliyan, Karanganyar, Jawa Tengah. Makam untuk mantan perdana menteri ini tidak seperti sejawatnya, Soekarno, Hatta dan Syharier menerima penghargaan berupa bintang jasa.

Digelari sebagai pahlawan, dan dikubur di makam yang terhormat. Pada 27 Mei 2008 lalu, untuk mengenang jasa-jasanya, STT Jakarta mempelopori seminar bertajuk “Amir Syarifuddin Nasionalis Pejuang Kemerdekaan dan Pembebasan Rakyat”. Tampil sebagai pembicara: Setiadi Reksoprodjo mantan menteri pada kabinet Amir Syarifuddin, Ketua STT Jakarta Dr. Jan .S Aritonang, Aswi Warman Adam dosen sejarah dan peneliti. Seminar dimoderatori Fadjroel Rahman.

Pengkotbah
Amir belia lahir di Tapanuli Selatan 27 April 1907. Ayahnya keturunan kepala adat dari Pasar Matanggor, Padang Lawas, bernama Djamin Baginda Soripada Harahap (1885-1949), mantan jaksa di Medan. Sementara ibunya, Basunu Siregar (1890-1931), lahir dari keluarga Batak-Melayu.

Keluarga ibunya telah berbaur dengan masyarakat Melayu di Deli. Maka, kalau itu ada istilah “Kampak bukan sembarang kampak. Kampak pembela kayu. Batak bukan sembarang Batak. Batak masuk Melayu”. Zaman itu, besar-besaran orang Batak eksodus ke Deli, sebagai pusat perkebunan.

Masa remaja, Amir menimba pendidikan Belanda di ELS setara Sekolah Dasar di Medan sejak tahun 1914 hingga tahun 1921. Tahun 1926 atas undangan sepupunya, T.S.G. Mulia pendiri penerbit Kristen BPK Gunung Mulia yang baru saja diangkat sebagai anggota Volksraad (dewan) belajar di kota Leiden, Belanda mengajak Amir untuk juga sekolah disana.

Di Belanda, Amir aktif berorganisasi pada Perhimpunan Siswa Gymnasium, Haarlem. Selama masa itu pula dia aktif mengelar diskusi-diskusi Kelompok Kristen, di kemudian hari Kelompok Kristen menjadi embrio Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI).

Di Belanda, dua sepupu itu menumpang di rumah seorang guru penganut Kristen Calvinis bernama Dirk Smink. Kristen Calvinisme adalah aliran gereja yang ketat soal doktrin, dari spirit bapak Gereja, John Calvin (1509-1564). Sebenarnya Amir Syarifuddin seorang muslim dan keluarga Muslim. Berpindah agama Kristen saat di Belanda. Dia tidak saja hanya berpindah iman tetapi mendalami agama Kristen sungguh-sungguh.

Tiap hari Minggu turut berkotbah. Kotbahnya selalu menyetuh, dan meneguhkan banyak orang. Paparannya tentang Injil sangat mendalam. Dia adalah penganut agama Kristen yang taat. Terbukti, detik-detik terkhir hidupnya, dia menggengam Alkitab saat ditembak.

Pejuang Pembebasan
Sebuah dokumen Netherlands Expeditionary Forces Intelligence Service (NEFIS), menyebutkan, instansi rahasia yang dipimpin Van Mook, 9 Juni 1947 menulis tentang Amir; "ia mempunyai pengaruh besar di kalangan massa dan orang yang tak mengenal kata takut".

Pada September 1927, sekembalinya dari Belanda, Amir masuk Sekolah Hukum di Batavia dan tinggal di asrama pelajar Indonesisch Clubgebouw, Kramat nomor 106. Dalam memperjuangkan kemerdekan Indonesia, dia terlibat berbagai pergerakan bahwa tanah.

Tahun 1931, Amir mendirikan Partai Indonesia (Partindo). Lalu, mendirikan Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo) sembari menulis dan menjadi redaktur “Poedjangga Baroe”. Berjuang untuk pembebasan dari belenggu penjajah, benih-benih perjuang itu pun makin mekar saat Amir bertemu para tokoh pejuang seperti Mr. Muhammad Yamin, Muhammad Husni Thamrin. Dari sana Amir aktif diskusi Politik Indonesia bersama para tokoh kala itu.

Pada bulan Januari 1943 dia tertangkap oleh fasis Jepang, karena dianggap pemberontak. Kejadian itu membongkar jaringan, organisasi anti fasisme Jepang yang dimotori Amir. Kelak ketika menjadi Menteri Pertahanan, mengangkat para pembantunya yang terdekat, teman-teman satu pergerakan.

Saat menjabat Menteri Pertahanan, Amir tidak sependapat terhadap kebijakan Hatta karena pengurangan jumlah tentara, dari 400 ribu menjadi 60 ribu tentara. Menurutnya, layaknya tentara, satu banding tiga, satu tentara untuk menjaga tiga orang penduduk. Lalu, di Kabinet Sjahrier pada tanggal 12 Maret 1946, Amir Sjarifuddin diangkat menjadi Menteri Pertahanan dari Partai Sosialis, dikemudian hari berafiliasi dengan Komunis.

Tan Malaka dan Kelompok Persatuan Perjuangan menculik Perdana Menteri Sjahrier. Dari Amir menjadi Perdana Menteri. Kala itu, perdana menteri bisa jatuh kapan saja jika tidak didukung parlemen dan partai. Sesudah Amir mangkat, tahun 1950-an, zaman demokrasi parlementer, tujuh kali pengantian perdana menteri terjadi.

Dalam Persetujuan Renville, Amir sebagai negosiator utama dari Republik Indonesia, dianggap gagal. Kabinet Amir Sjarifuddin bubar. Amir mengundurkan diri dengan sukarela dan tanpa perlawanan samasekali, ketika disalahkan atas persetujuan Renville oleh golongan Masyumi dan Nasionalis. Kageriaan itu. Peristiwa pemberontakan Madium tahun 1948 yang memilukan, disebut dilakukan PKI atas restu Amir Syarifuddin, tidak pernah terbukti.

Sepeninggalnya; keluarganya mendapat perlakuan yang tidak sewajarnya. Anak-anaknya mendapat diskriminasi. Untuk makan saja waktu itu keluarga ini harus terlunta-luntah. Salah satu anaknya, Helena, saat ini bekerja di Sekolah Johnny Andrean, mengatakan, masa sepeninggalan sang ayah, hidup mereka terlantar.

Kini, atas bantuan lembaga swadaya masyarakat, Omnes Unum Sint Institut, dan Komisi Hak Asazi Manusia membantu perizinan pembangunan makam tanpa nama itu, kini sudah diperbaiki. Inilah sejarah. Indikasi keterlibatanya pada pemberontakan PKI di Madiun masih samar. Amir dieksekusi tanpa pernah diadili. Divonis tanpa terbukti salahnya di mana. Aswi Warman Adam pengurus Masyarakta Sejarahwan Indonesia menulis, sepanjang hidupnya, dia hidup dari kamp ke kamp. Perjuanganya tidak pernah dihitung. Narsis. (*)

*) Penulis adalah pemerhati budaya Batak, seorang jurnalis budaya Batak.


Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com



Pendiri Jong Batak, Pahlawan yang Diberangus Sejarah

Pendiri Jong Batak, Pahlawan yang Diberangus Sejarah
Oleh : Hotman Jonathan Lumbangaol

12-Jan-2009, 22:09:21 WIB - [www.kabarindonesia.com]

KabarIndonesia - Amir Sjarifuddin Harahap hidup pada masa 1907-1948. Beliau lahir di Tapanuli Selatan 27 April 1907. Ayahnya, Djamin Baginda Soripada Harahap (1885-1949) keturunan kepala adat dari Pasar Matanggor, Padang Lawas dan mantan jaksa di Medan. Ibunya, Basunu Siregar (1890-1931), lahir dari keluarga Batak-Melayu.

Karakternya sejak kecil sudah telihat berkepribadian teguh, si Jugulbaut (si Badung). Masa remaja, Amir menimba pendidikan Belanda di ELS setara Sekolah Dasar di Medan sejak tahun 1914 hingga tahun 1921. Tahun 1926 atas undangan sepupunya, TSG. Mulia pendiri penerbit Kristen BPK Gunung Mulia yang baru saja diangkat sebagai anggota Volksraad (Dewan) belajar di Kota Leiden, Belanda mengajak Amir untuk juga sekolah di Belanda.

Di Belanda, Amir aktif berorganisasi pada Perhimpunan Siswa Gymnasium, Haarlem. Selama masa itu pula dia aktif mengelar diskusi-diskusi Kelompok Kristen, di kemudian hari Kelompok Kristen menjadi embrio lahirnya Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia. Di Belanda, dua sepupu ini menumpang di rumah seorang guru penganut Kristen Calvinis bernama Dirk Smink.

Kristen Calvinis adalah aliran gereja yang ketat soal doktrin. Calvisnis berasal dari spirit ajaran John Calvin (1509-1564). Sebenarnya Amir Sjarifuddin seorang Muslim. Berpindah agama Kristen saat di Belanda, tetapi dibaptis di HKBP Kernolong, Jakarta tahun 1931. Dia tidak saja hanya berpindah iman tetapi mendalami agama Kristen sungguh-sungguh.

Tiap hari Minggu turut berkhotbah. Khotbahnya selalu menyetuh, dan meneguhkan banyak orang. Paparannya tentang Injil sangat mendalam. Amir adalah orang yang berpengetahuan tinggi, soal politik dan teologia. Bahasanya sederhana dan lugas. Amir sebagai seorang orator yang sangat brilyan, yang suka membumbui kata-katanya dengan humor, karenanya ia menjadi sangat populer.

Sebagai orang yang Kristen sejati, Ade Rostina Sitompul, aktivis kemanusiaan. Ade punya kenangan pada sosok Amir Sjarifuddin, karena ayahnya Kasianus Sitompul berkawan dengan Amir. Amir tinggal di Daerah Guntur, Jalan Sumbing. Kawasan Guntur terkenal dengan kampung Batak. Kala itu, orang Batak bergereja di rumah salah satu warga bermarga Nainggolan, disanalah sering Amir berkotbah.

“Kohtbahnya bersemangat nasionalisme. Bagaimana mengusir Jepang, bagaimana hidup sebagai Kristen. Dia bercerita bagaimana kenangan-nya dipenjara Jepang, dia suruh minum sebanyak-banyaknya, lalu dia digantung dengan kepala ke bawah, lalu air tumpah keluar semua. Saya melihat sosok Amir itu adalah orang yang bersahabat, selalu mengajak anak-anak dialog. Yang pertama dia Tanya sudah berdoa belum? Namanya harus dipulihkan. Apalagi setelah buku yang ditulis dengan Sumarsono itu,” ujar Ade Rostina Sitompul.
Soal semangatnya Kristen-nya, Amir Sjarifuddin mengidolakan Toyohiko Kagawa (1888-1942). Kagawa adalah tokoh Kristen Jepang, yang dulunya adalah penganut agama Shinto. Hidup dengan orang-orang miskin di daerah kumuh, Shinkawa, Jepang.

Dia dikenal sebagai bapak dari gerakan buruh di Jepang, seorang pendiri Serikat Buruh pertama di Jepang yang menyerukan melawan materialisme, kapitalisme. Bagi Kagawa, Kekristenan seharusnya malu mendirikan gereja-gereja besar dan mahal, tetapi gagal mengikuti manusia yang lahir di palungan dan dikubur makan milik orang lain. Bagi Kagawa Salib Jesus itu kuasa yang besar.

Amir tidak hanya pintar berbicara, tetapi pintar menulis. September 1927, sekembalinya dari Belanda, Amir masuk Sekolah Hukum di Batavia dan tinggal di asrama pelajar Indonesisch Clubgebouw, Kramat nomor 106. Dalam memperjuangkan kemerdekan Indonesia, dia terlibat berbagai pergerakan bahwa tanah. Tahun 1931, Amir mendirikan Partai Indonesia (Partindo).

Lalu, mendirikan Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo) sembari menulis dan menjadi redaktur “Poedjangga Baroe”. Tahun 1928-1930 dia adalah pimpinan redaksi majalah Perhimpunan Pemoeda Pelajar Indonesia (PPPI). Sebagai seorang wartawan, dia menulis dengan nama samaran "Massa Actie".

Tahun 1942, sebelum dipenjara Jepang, Amir bersama sejumlah orang Kristen menerbitkan Boekoe Peringatan Hari Djadi Isa A-Maseh. Pada bulan Januari 1943 dia tertangkap oleh fasis Jepang, karena dianggap pemberontak. Kejadian itu membongkar jaringan, organisasi anti-fasisme Jepang yang dimotori Amir. Amir dituduh memimpin gerakan di bawah tanah yang dibiayai dengan uang sebesar 25 ribu Gulden dari Van der Plas.

Untuk hal ini, Amir dihukum mati oleh Jepang. Namun, intervensi Soekarno hukuman itu tidak dilaksanakan. Sebuah dokumen Netherlands Expeditionary Forces Intelligence Service (NEFIS), menyebutkan, instansi rahasia yang dipimpin Van Mook, 9 Juni 1947 menulis tentang Amir; "ia mempunyai pengaruh besar di kalangan massa dan orang yang tak mengenal kata takut".

Juli 1945, Amir menulis di Harian Belanda “Nieuwsgier”, bahwa ia tidak seperti Sjahrir, yang sudah merasa senang dengan berada di tengah kalangan intelektual. Zaman baru ini mendorong umat Kristen Indonesia untuk lebih serius memikirkan masa depannya. Berbuat untuk negara ini.

Pendiri Jong Batak

Tahun 1925, sejak “Jong Sumatra”, kesadaran Batak mulai mucul. Amir Sjarifuddin, Sanusi Pane (1905-1968), dan teman-temanya yang sesama etnis Batak, mendirikan organisasi yang disebut “Jong Batak”. Organisasi pemuda Batak ini dibentuk atas kesadaran, karena nominasi “Minang” yang lebih dominan di organisasi “Jong Sumatra “ itu.

Atas kesadaran itu Amir dan rekannya membangun semangat baru bagi pemuda Tanah Batak. Salah satu kesepahaman mereka adalah “Bahasa Batak kita begitu kaya akan puisi, pepatah dan pribahasa yang kadang-kadang mengandung satu dunia kebijaksanaan tersendiri. Bahasanya sama dari Utara ke Selatan, tapi terbagi dengan jelas dalam berbagai dialek. Kita memiliki budaya sendiri, aksara sendiri, seni bangun yang tinggi mutunya, yang sepanjang masa tetap membuktikan bahwa kita memiliki nenek-moyang yang perkasa. Sistim marga yang berlaku bagi semua kelompok penduduk negeri kita menunjukkan adanya tata Negara lama yang bijak. Kita mempunya hak untuk mendirikan sebuah Perserikatan Batak yang khas, yang dapat membela kepentingan-kepentingan kita dan melindungi budaya kuno kita…” (Hans Van Miert, hal 475).

Dihapus dari Sejarah

Dia dieksekusi pada Peristiwa Madiun tragis 19 Desember 1948, pada usia 41 tahun. Dihujat berlebihan. Purbasangka yang tak berdasar. Orang PKI menyebutnya, “krucuk” anak bawang dalam politik, dia nyaris tidak mendapat tempat dari teman-temannya. Lawan politiknya menyebutnya dia arogan.

Pada 29 November 1948, Amir dua rekannya Soeripino dan Harjono bersembunyi di sebuah gua di Pengunungan Gua Macan, sebelah Utara Klabu, Panebahan. Dari dalam gua Amir sempat menyerukan “Saya hanya mau menyerah pada pasukan Panebahan Senopati.” Baru menyerahkan diri tanpa menggunakan sepatu, berpiyama dan memegang pistol, janggutnya tidak terurus dan rambutnya acak-acakkan.

Amir diberondong senjata tim eksekusi, suruhan Kolonel Gatot Subroto, distigma otak dari semua malapetaka Madiun 1948. Sebelum ditembak, Amir sempat bertanya ke komandan regu tembak. “Apakah niatnya itu sudah dia pikirkan dengan matang. Bahwa jika saya mati, negara akan rugi besar,” dengan tegas dijawab “Saya mengikuti komando”.

Untuk terakhir kalinya, Amir sempat menulis surat untuk isterinya. Setelah itu dia bernyanyi Indonesia Raya dan Internasionale baru ditembak. Saat dieksekusi ia memegang Alkitab. Wartawan senior, Rosihan Anwar menulis, Amir dieksekusi dengan menggenggam sebuah buku doa Kristen, bukan Alkitab.

George Mc Turnan Kahin penulis buku Nationalism and Revolution in Indonesia menceritakan bahwa Amir Sjarifuddin menjadi tokoh oposisi di barisan Sayap Kiri karena Dia merasa ditinggalkan oleh Aerika yang katanya jago demokrasi itu. Amir Sjarifuddin "kecewa kepada Amerika sewaktu perundingan Renville".

Kegengerian itu tidak hanya berhenti disitu. Setelah dia mati, keluarganya terluntah-luntah. Dua tahun setelah meninggal, atas perintah Presiden Soekarno, pada tanggal 15 November 1950, pusaranya digali kembali, dilakukan proses identifikasi selama seminggu. Setelah proses identifikasi, diadakan serah terima kerangka kepada keluarga, dimakamkan kembali dengan nisan masing-masing berjajar.

Masa Orde Baru tahun 1965, pasca-G30S, sekelompok pemuda menghancurkan pusara itu lagi. Lalu ditutupi dengan potongan rel kereta api, setiap sisi diberi cor semen. Makam-makam baru juga dibangun bersebelahan dengan setiap sisi sehingga kerangka Amir Sjarifuddin sulit dipindahkan keluarga.

Warga desa Ngaliyan tidak berani menghalang-halangi pemuda-pemuda tersebut sebab pada saat itu terror juga turut mereka rasakan. Kesulitan untuk memugar makam tersebut dirasakan pihak keluarga harus mengurus perizinan yang rumit dari aparat pemerintah desa hingga pemerintah pusat. Lucunya harus persetujuan Kodim serta pihak Departemen Pertahanan Keamanan.
Informasi tentang Amir Sjarifuddin pun sengaja ditutup-tutupi. Di sekolah, belajar sejarah, nama Amir tidak pernah terdengar. Itu sebabnya sosoknya tidak banyak yang tahu, dan jarang diangkat media. Informasi tentang pejuang-nya selalu dibragus.

Satu fakta, Majalah Prisma tahun 1982 pernah hampir dibredel karena memuat tentang tulisan Amir Sjarifuddin, dalam rangka 75 tahun Amir Sjarifuddin. Tahun 1984 Penerbit Sinar Harapan pernah menerbitkan tesis Frederiek Djara Wellem berjudul: “Amir Syarifuddin; Pergumulan Iman dan Perjuangan Kemerdekaan”. Sayang, buku itu di-sweeping oleh pemerintahan Soeharto, karena dianggap merusak sejarah Indonesia.
Pada 27 Mei 2008 lalu, untuk mengenang jasa-jasanya, STT Jakarta mempelopori seminar bertajuk “Amir Syarifuddin Nasionalis Pejuang Kemerdekaan dan Pembebasan Rakyat”. Tampil sebagai pembicara: Setiadi Reksoprodjo mantan menteri pada kabinet Amir Syarifuddin, Ketua STT Jakarta Dr. Jan .S Aritonang, Aswi Warman Adam dosen sejarah dan peneliti. Seminar dimoderatori Fadjroel Rahman.

Perjuanganya tidak pernah dihargai negara. Untuk pemugaran makam-nya saja dibutuhkan waktu 60 tahun. Pemungaran baru bisa tahu lalu dipelopori lembaga Ut Omnes Unum Sint Institute dalam bahasa Latin, yang artinya Agar Semua Satu Adanya. Lembaga yang didirikan 17 pemuda Batak, saat ini diketuai Jones Batara Manurung. Pemungaran tepatnya dimulai 12 Agustus 2008, dengan serangkaian tahapan antara lain: Pertama, pendekatan pada warga desa Ngaliyan dengan koordinasi dengan Komnas HAM.

Lalu dilakukan pertemuan seputar teknis pelaksanaan pemugaran, oleh Ut Omnes Unum Sint Institute memberitahukan perihal rencana pemugaran pada pihak pihak Kecamatan Karanganyar. Setelah pemugaran selesai, tanggal 14 November diadakan Ibadah Syukur di Gereja Dagen Palur, Solo dihadiri para undangan dari berbagai Gereja, LSM, organisasi kemahasiswaan di Solo dan Yogyakarta.
Saat ini di Desa Ngaliyan, setiap bulan “Ruwah”, satu bulan sebelum puasa Islam warga punya tradisi membersihan, perbaikan makam. Bagi masyarakat Ngaliyan, Amir Sjarifuddin dan kawan-kawan adalah pahlawan. Dulu, setiap bulan Ruwah, warga Ngaliyan tidak berani membersihkan makam, takut dicap PKI. Sebutan tak kalah kejam adalah dia disebut seorang ateis, atau seorang yang beragama komunis.

Tetapi kebenaranya sejarah merungkap bahawa ideologi politiknya memang komunis, tetapi dia bukan anti-agama. Para pemimpin agama anti-komunislah menyebut dia ateis. Amir jelas penganut humanis, politikus flamboyan, seniman. Tak kala galau dia mengesek biola saban dulu menjadi kegemarannya. Tidak ada tanda-tanda dia ateis. Aristoteles mengatakan “Nilai manusia, bukanlah ditentukan oleh kehancuran hidup dan cita-citanya tetapi oleh perjuangannya mempertahankan harkat kemanusiaannya.” Kata-kata itulah yang tepat mengambarkan hidup tragis Amir Syarifuddin Harahap. (*)


* Penulis adalah wartawan budaya Batak
Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com



Amir Syarifuddin: Pejuang Pembebasan


Amir Syarifuddin: Pejuang Pembebasan

Hotman J Lumbangaol

Revolusi telah memakan anaknya sendiri. Amir Syarifuddin Harahap (1907-1948), mantan Perdana Menteri ke-2 Indonesia ini menjadi korban revolusi yang dia lahirkan sendiri. Meninggal tragis pada 19 Desember 1948, saat dieksekusi oleh regu tembak bersama sembilan orang tokoh tanpa nama.

Tak banyak literatur dan informasi tentang putra Mandailing ini. Itu sebabnya sosoknya tidak banyak yang tahu, jarang diangkat media. Informasi tentang pesohor ini selalu dibragus. Satu fakta, tahun 1984 Penerbit Sinar Harapan menerbitkan tesis Frederiek Djara Wellem yang dilauncing di STT Jakarta di Jalan Proklamasi, Jakarta Pusat yang berjudul “Amir Syarifuddin; Pergumulan Iman dan Perjuangan Kemerdekaan”. Tidak berapa lama, buku itu di-sweeping masa pemerintahan Soeharto karena dianggap merusak sejarah Indonesia.

Buku biografi tentang Amir Syarifuddin Harahap sesat. Padahal, dialah salah seorang bapak pendiri bangsa dalam memperjuangkan eksistensi NKRI. Padahal, penghargaanya tidak pernah dihargai Negara yang diperjuangkannya. Di pusara, gundukan makamnya, terlulis nisan tanpa nama, di Desa Ngaliyan, Karanganyar, Jawa Tengah. Tidak seperti sejawatnya, Soekarno, Hatta dan Syharier menerima penghargaan berupa bintang Jasa. Dihargai sebagai pahlawan, dan dikubur di makam yang terhormat.

Pada 27 Mei 2008 lalu, untuk mengenang jasa-jasanya , STT Jakarta mempelopori seminar bertajuk: “Amir Syarifuddin Nasionalis Pejuang Kemerdekaan dan Pembebasan Rakyat”. Tampil sebagai pembicara: Setiadi Reksoprodjo mantan menteri pada kabinet Amir Syarifuddin. Ketua STT Jakarta Dr. Jan .S Aritonang. Aswi Warman Adam dosen sejarah dan peneliti. Dimoderatori Fadjroel Rahman.


Pengkotbah

Amir belia lahir di Tapanuli Selatan 27 April 1907. Ayahnya keturunan kepala adat dari Pasar Matanggor, Padang Lawas, bernama Djamin Baginda Soripada Harahap (1885-1949), mantan jaksa di Medan. Sementara ibunya, Basunu Siregar (1890-1931), lahir dari keluarga Batak yang telah membaur dengan masyarakat Melayu di Deli. Zaman itu, saat Belanda membuka perkebunan besar-besaran di Deli, banyak orang Batak eksodus ke daerah ini. Maka, kalau itu ada istilah “Kampak bukan sembarang kampak. Kampak pembela kayu. Batak bukan sembarang Batak. Batak masuk Melayu”.

Masa remaja, Amir menimba pendidikan Belanda di ELS semacam Sekolah Dasar di Medan tahun (1914-1921). Sementara, tahun 1926 atas undangan sepupunya, T.S.G. Mulia pendiri penerbit Kristen BPK Gunung Mulia yang baru saja diangkat sebagai anggota Volksraad (dewan) belajar di kota Leiden, Belanda mengajak Amir untuk juga sekolah disana.

Di Belanda, Amir aktif berorganisasi pada Perhimpunan Siswa Gymnasium, Haarlem. Selama masa itu pula dia aktif mengelar diskusi-diskusi Kelompok Kristen, kemudian hari menjadi embrio Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI). Di sana, dua sepupu itu menumpang di rumah seorang guru pemeluk Kristen Calvinis bernama Dirk Smink. Kristen Calvinisme adalah aliran gereja dari spirit bapak Gereja, John Calvin (1509-1564).

Amir Syarifuddin yang dulunya berasal dari keluarga Muslim, berpindah agama menjadi Kristen. Dia tidak saja hanya berpindah iman tetapi mendalami agama Kristen sungguh-sungguh. Tiap hari Minggu turut berkotbah. Kotbahnya selalu menyetuh, dan meneguhkan banyak orang. Penggaliannya terhadap Injil sangat mendalam. Itu sebabnya, detik-detik terkhir hidupnya, dia menggengam Alkitab.


Pejuang Pembebasan

Sebuah dokumen Netherlands Expeditionary Forces Intelligence Service (NEFIS), menyebutkan, instansi rahasia yang dipimpin Van Mook, 9 Juni 1947 menulis tentang Amir; "ia mempunyai pengaruh besar di kalangan massa dan orang yang tak mengenal kata takut".

Pada September 1927, sekembalinya dari Belanda, Amir masuk Sekolah Hukum di Batavia dan tinggal di asrama pelajar Indonesisch Clubgebouw, Kramat 106. Dalam memperjuangkan kemerdekan Indonesia, dia terlibat berbagai pergerakan bahwa tanah. Tahun 1931, Amir terlibat mendirikan partai Indonesia (Partindo).

Amir juga mendirikan Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo) sembari menulis dan menjadi redaktur “Poedjangga Baroe”. Berjuang untuk pembebasan dari belenggu penjajah, benih-benih perjuang itu pun makin mekar saat bertemu para tokoh pejuang seperti Mr. Muhammad Yamin, dan Amir aktif pada diskusi Politik Indonesia bersama Muhammad Husni Thamrin.

Pada bulan Januari 1943 dia tertangkap oleh fasis Jepang, karena dianggap pemberontak. Di tengah gelombang-gelombang penangkapan yang berpusat di Surabaya. Kejadian ini membongkar jaringan, organisasi anti fasisme Jepang yang dimotori Amir. Kelak ketika menjadi Menteri Pertahanan, mengangkat para pembantunya yang terdekat, teman-teman satu pergerakan.

Ketika menjabat Menteri Pertahanan, Amir tidak sependapat terhadap kebijakan Hatta karena pengurangan jumlah tentara, dari 400 ribu menjadi 60 ribu tentara. Menurutnya, layaknya tentara, satu banding tiga, satu tentara untuk menjaga tiga orang penduduk.

Di Kabinet Sjahrier pada tanggal 12 Maret 1946, Amir Sjarifuddin diangkat menjadi Menteri Pertahanan dari Partai Sosialis, dikemudian hari berafiliasi dengan Komunis. Tan Malaka dan Kelompok Persatuan Perjuangan menculik Perdana Menteri Sjahrier. Dari sana dia menjadi perdana menteri.

Dalam Persetujuan Renville, Amir sebagai negosiator utama dari Republik Indonesia. Kabinet Amir Sjarifuddin mengundurkan diri dengan sukarela dan tanpa perlawanan samasekali, ketika disalahkan atas persetujuan Renville oleh golongan Masyumi dan Nasionalis.

Kageriaan itu. Peristiwa pemberontakan Madium tahun 1948 yang memilukan itu, disebut dilakukan PKI atas restu dari Amir Syarifuddin. Walau tidak pernah terbukti.

Sepeninggalnya; keluarganya dihina. Anak-anaknya mendapat diskriminasi. Untuk makan saja waktu itu keluarga ini harus terlunta-luntah. Salah satu anaknya, Helena, saat ini bekerja di Sekolah Johnny Andrean, mengatakan, masa sepeninggalan sang ayah, hidup mereka terlantar. Kini, atas bantuan lembaga swadaya masyarakat, Omnes Unum Sint Institut, dan Komisi Hak Asazi Manusia membantu perizinan pembangunan makam tanpa nama itu diperbaiki.

Inilah sejarah. Indikasi keterlibatanya pada pemberontakan PKI di Madiun masih samar. Dieksekusi tanpa pernah diadili. Divonis tanpa terbukti salahnya dimana. Ahli sejarahwan, Aswi Warman Adam menulis, sepanjang hidupnya, Amir hidup dari kamp ke kamp. Perjuanganya tidak pernah dihitung. Narsis.***

Senin, 12 Januari 2009

AMIR SJARIFOEDDIN [HARAHAP]: SEORANG KRISTEN NASIONALIS

AMIR SJARIFOEDDIN [HARAHAP]: SEORANG KRISTEN NASIONALIS[1]


dihantar oleh: Pdt. Dr. Jan S. Aritonang[2]

Pengantar

1. Membicarakan seorang tokoh yang diberi stigma atau cap Komunis, ideologi yang [sempat] terlarang di negeri ini, bukanlah pekerjaan yang sederhana dan tanpa risiko. Apalagi kalau pembicaraan ini disebut sebagai bagian dari upaya meluruskan sejarah. Sebab sejarah – betapa pun merupakan salah satu disiplin ilmu yang berpegang pada prinsip objektivitas – tidak bisa sepenuhnya lepas dari subjektivitas ataupun kepentingan tertentu. Sebagai seorang Kristen, saya tentu tidak dapat sepenuhnya melepaskan diri dari jatidiri ini, kendati saya - sebagai seorang pelajar sejarah - berupaya untuk menyajikan catatan sederhana ini berdasar data dan informasi yang seobjektif mungkin.

2. Percakapan ini kita adakan dalam rangka mengenang dan memperingati HUT ke-101 Amir Sjarifoeddin (27 Mei 1907 – 27 Mei 2008). Tetapi momen ini menjadi penting tidak hanya karena hari ini memang merupakan HUT beliau, melainkan juga karena pada hari-hari ini kita masih berada dalam suasana peringatan seabad Hari Kebangkitan Nasional (yang semoga tidak hanya menjadi semacam rangkaian seremoni dan formalitas, melainkan juga bermakna menggali-ulang semangat para perintis dan pejuang kebangkitan dan kemerdekaan bangsa dan negeri ini). Di tengah suasana itu, kita akan coba melihat kiprah dan sumbangan Amir bagi kebangkitan dan kemerdekaan bangsa dan negeri ini.

3. Karena keterbatasan waktu dsb., catatan ini saya buat berdasarkan tiga literatur saja, yaitu:

(1) Fred D. Wellem, Amir Syarifuddin: Tempatnya dalam Kekristenan dan dalam Perjuangan Kemerdekaan Indonesia (Jakarta: STT Jakarta, 1982, tesis MTh)[3];

(2 Gerry van Klinken, Minorities, Modernity and the Emerging Nation – Christians in Indonesia – a Biographical Approach (Leiden: KITLV Press, 2003), h. 115-150, 188-206.

(3) Jan S. Aritonang, Sejarah Perjumpaan Kristen dan Islam di Indonesia (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 32006), bab III, dan beberapa literatur yang diacu di dalamnya.[4]

Latar Belakang dan Corak Nasionalisme Amir Sjarifoeddin

Bagi kita sekarang, menjadi seorang Kristen sekaligus seorang nasionalis bukanlah hal yang sulit ataupun aneh. Tetapi pada awal abad ke-20 hal itu belum lazim. Hingga waktu itu sulit sekali membayangkan ada seseorang beragama Kristen dan sekaligus nasionalis. Citra umum orang Kristen adalah orang-orang yang – karena sudah mendapat perlakuan khusus dari penjajah Belanda – selalu loyal kepada pemerintah kolonial. Memang sejak akhir abad ke-19 sudah ada perkumpulan pribumi Kristen di negeri ini yang memperlihatkan minat dan kepedulian terhadap kehidupan sosial-politik. Misalnya Rencono Budiyo yang terbentuk di Mojowarno-Jatim tahun 1898, yang kemudian berkembang menjadi Mardi Pratjojo pada tahun 1912/13 dan menjadi Perserikatan Kaoem Christen (PKC) sejak 1918. Tetapi perkumpulan ini baru sebatas di Jawa dan bagi orang-orang Jawa, dan lebih memperlihatkan dukungan kepada (atau paling kurang kerjasama dengan) pemerintah kolonial Hindia-Belanda. Di tempat tertentu sejak dasawarsa ke-2 abad ke-20 memang ada juga perkumpulan Kristen yang sadar politik dan menyatakan diri menentang penjajahan Belanda, misalnya Hatopan Kristen Batak (HKB) di bawah pimpinan M.H.Manullang dkk. Tetapi itu juga lebih bersifat lokal/kesukuan.[5]

Baru sejak 1920-an ada kerinduan dan kesadaran untuk membentuk organisasi yang mencakup seluruh atau sebanyak mungkin suku di Indonesia dan yang bertujuan melawan penjajahan dan memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Dalam situasi itulah Amir Sjarif-oeddin tampil ke gelanggang politik Indonesia. Kesadaran nasional itu sudah mulai tumbuh dalam dirinya ketika ia bersekolah di Belanda tahun 1921-1927, terutama pada tahun-tahun terakhir masa sekolahnya di sana, di mana ia berkenalan a.l. dengan Mohammad Hatta.

Kesadaran itu semakin berkembang setelah ia kembali ke tanah air dan sejak ia menjadi mahasiswa Rechtshogeschool (RHS) di Batavia sejak 1928. Di sana ia a.l. bergabung dengan Mohammad Yamin yang empat tahun lebih tua, termasuk dalam club debat di Jl. Kramat 106 dan di dalam Perhimpunan Peladjar-Peladjar Indonesia (PPPI). Beralihnya ia dari seorang Muslim menjadi Kristen (dibaptis di HKBP Kernolong tahun 1931) tidak mengurangi – bahkan sebaliknya – memperkuat kesadaran nasionalismenya, walaupun ia semakin kehilang-an kebatakannya (karena sejak itu ia sedikit-banyak memutuskan hubungan dengan masa lalu Bataknya, a.l. dengan tidak mematuhi aturan adat Batak, termasuk dalam perkawinan, 1935).[6]

Walaupun Amir menjadi Kristen di bawah bimbingan beberapa tokoh Kristen Belanda yang saleh (a.l. Schepper [dosennya di RHS] dan C.L.van Doorn), tetapi itu tidak membuatnya kehilangan semangat nasionalisme lalu berpihak kepada kolonial Belanda; justru sebaliknya! Salah seorang idolanya adalah Toyohiko Kagawa, seorang Kristen yang sangat saleh di Jepang namun yang sangat memperhatikan kehidupan bangsanya, terutama mereka yang miskin akibat penindasan sosial-ekonomi para penguasa maupun yang menderita akibat perang. Bagi Amir, agama atau kekristenan bukanlah sesuatu yang beku karena corak institusionalnya.

Nasionalismenya semakin mencuat ketika ia sejak 1937 menjadi salah seorang pemimpin Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo), sebuah organisasi politik yang didirikan sekelompok orang muda pengagum Soekarno. Gerindo menganut garis ‘modern cooperation’ (kerjasama dengan penguasa berdasarkan prinsip-prinsip demokrasi mdoern), yang oleh Mohammad Yamin diungkapkan juga dengan istilah ‘loyal opposition’. Dalam kongres kedua Gerindo di Palembang 1939 Amir mengungkapkan visinya tentang Indonesia yang demokratis, dan di situ ia berbicara tentang pergulatan antara demokrasi dan kediktatoran yang juga terlihat di Asia.[7]

Sikap kritisnya bersama sejumlah orang muda terhadap pemerintah kolonial Belanda membuatnya berulang kali (sejak 1935) ditangkap dan dipenjarakan, dan organisasi yang dipimpinnya (termasuk sejumlah media massa yang menjadi saluran perjuangan mereka) diawasi dan dibatasi secara ketat. Barulah sejak 1941, ketika mulai terlihat tanda-tanda bahwa Jepang akan melakukan invasi, pemerintah Hindia-Belanda mempercayakan tugas tertentu kepada Amir, karena pemerintah melihat sikap dan pernyataan Amir yang anti-fasis Jepang.[8] Kiprah politiknya pada dasawarsa 1930-an itu membuat Amir dikenal sebagai seorang tokoh kharismatis atau pemimpin politik-nasionalis yang sangat berkharisma.[9]

Sikap dan Pandangan Amir tentang Partai Politik Kristen dan Gereja

Amir – antara lain berbekal pendidikan pada Gymnasium di negeri Belanda 1921-1927 tsb. di atas – justru menentang paham politik dan nasionalisme yang dikaitkan dengan agama tertentu, seraya menekankan nasionalisme Indonesia yang mencakup semua suku dan agama. Sudah pada tahun 1928 ia menulis:

… Kita harus memperhitungkan diri kita sendiri sebagai penduduk asli Indonesia. Di sini ada begitu banyak kebangsaan. Dan belum lama ini terbentuk gerakan mempersatukan Islam. Dan kalau orang pribumi Kristen juga punya gagasan untuk mendirikan gerakan persatuan, maka nasio­nalisme akan tetap terdengar sebagai nada yang tak ada artinya.[10]

Dengan kata lain pada awalnya Amir melihat pembentukan partai Kristen di Indonesia justru sebagai ancaman terhadap nasionalisme, kendati ia tetap menghormati tokoh-tokoh di lingkungan partai Kristen yang sebagian sudah disebut di atas. Karena itulah ia memilih bergabung dengan Gerindo (Gerakan Rakyat Indonesia), partai yang pernah dijuluki barisan depan gerakan nasional yang sudah disebut tadi. Ia juga mendukung dan berusaha keras me­nyukseskan Petisi Soetardjo dan memperjuangkan adanya sebuah parle­men yang sungguh-sungguh. Untuk tujuan itu ia bersama-sama sejum­lah pemuka Islam dan I.J. Kasimo, tokoh Perhimpunan Politik Katolik Indonesia, menetapkan tanggal 18 Februari 1940 sebagai hari berpuasa dan berdoa.[11]

Sejak pertengahan 1940 Amir memisahkan diri dari Gerindo dan menjadi aktif dalam kehidupan gereja. Ia antara lain menghadiri konferensi Nederlands-Indische Zendings-Bond (NIZB) di Karangpandan, Solo (21-24 Oktober 1941), yang membicarakan tanggung jawab serta partisipasi gereja dan umat Kristen dalam bidang politik. Di situ Amir antara lain menegaskan bahwa pada satu pihak umat Kristen merupa­kan bagian integral dari bangsanya. Karena itu seharusnya mereka ber­juang bahu-membahu dengan kaum Muslim dan nasionalis untuk men­capai kemerdekaan, tanpa menyembunyikan pandangan mereka sendiri. Tetapi pada pihak lain ia mengakui bahwa berbagai faktor dari luar bisa memaksa orang Kristen untuk mempunyai partainya sendiri, agar dapat melindungi hak-hak mereka. Tentang hal ini Amir berkata:

Dalam tujuan politiknya orang-orang Kristen harus berdiri di samping orang-orang Islam dan para nasionalis lainnya. Mereka harus hidup dari visi dan ideologinya sendiri. Sebagai orang Kristen kita tidak boleh ber­diam diri, kita harus menuntut tempat kita yang sah. Bagaimana ideologi kita ini dirumuskan? Bagaimana tempat kita itu ditentukan? Di mana letak kekhasan visi Kristen?[12]

Apakah saya, sebagai Kristen harus membentuk partai Kristen sen­diri, ataukah kewajiban saya untuk membawa dasar-dasar Agama saja kepada partai-partai yang telah ada, sehingga partai-partai ini dapat dipe­ngaruhi oleh tujuan Agama saja itu? Tetapi jika golongan saya (yaitu kaum Kristen) bermaksud hendak mendirikan partai politik sendiri, maka saya akan berdiri di belakang mereka.[13]

Pernyataan yang terakhir ini tampaknya merelatifkan atau agak bergeser dari pernyataannya terdahulu (dan juga yang kemudian), walaupun ia tidak pernah menjadi anggota ataupun pengurus partai politik Kristen, dan pernyataan ini membuat ia dikecam keras oleh para tokoh Muslim, yang melihat kon­ferensi NIZB itu sebagai sarana untuk melanjutkan serangan kaum Kristen terhadap Islam. Bagaimana pun juga, bagi kalangan Kristen pada masa itu Amir dilihat sebagai pembela yang paling fasih bahasanya dalam memperjuangkan emansipasi kaum Kristen, dan pandangannya memberikan inspirasi yang – entah disadari atau tidak – menjadi relevan dalam sejarah peranan orang-orang Kristen pada masa-masa beri­kutnya.

Baik juga di sini diselipkan catatan bahwa - sejalan dengan kiprahnya yang semakin banyak di lingkungan Kristen sejak 1941 - pada sekitar akhir 1941 dan awal 1942 Amir ditunjuk menjadi Sekretaris Dewan Kurator dari Hoogere Theologische School (HTS, sekarang STT Jakarta) dan juga menjadi dosen bahasa Yunani. Tetapi tugas itu tidak sempat dilaksanakannya karena Jepang keburu datang, HTS ditutup (a.l. karena semua dosen-asingnya diinternir), dan Amir sendiri ditangkap dan dipenjarakan oleh Jepang.[14]

Amir Sjarifoeddin pada Zaman Jepang dan Revolusi (1942-1949)

Di atas sudah disinggung bahwa pada akhir masa kekuasaan pemerintah kolonial Hindia-Belanda, Amir ditugasi pemerintah kolonial tersebut menjadi pemimpin “Liga Anti Fascist”, yang a.l. bertugas menyatakan dan mempropagandakan perlawanan terhadap Jepang yang sudah siap-siap menginvasi seluruh Asia termasuk Indonesia. Ketika Jepang benar-benar tiba dan berkuasa, Amir segera dimata-matai dan diintai. Tetapi karena pada waktu itu Amir sempat bekerja di kantor Mohammad Hatta yang notabene dapat bekerjasama dengan Jepang, Amir untuk sementara dapat ‘selamat’, bahkan Amir ditugaskan Jepang untuk menjadi propagandis Gerakan Tiga-A. Sebagai siasat perjuangan, Amir menerima tugas itu, sambil terus melanjutkan gerakan bawah-tanahnya.

Dalam keadaan masih bebas itu, menjelang Natal 1942 Amir bersama sejumlah orang Kristen menerbitkan Boekoe Peringatan Hari Djadi Isa A-Maseh. Pada buku ini Amir Sjarifoeddin (selaku pemimpin redaksi), sambil memelihara sikap kritis terhadap kehadiran pemerintah pendudukan Jepang, mengemukakan manfaat dari perubahan sejarah dan ’dunia baru’ yang ditimbulkan oleh pendudukan Jepang atas Asia, yaitu peluang untuk mewujudkan jemaat atau gereja Indonesia yang asli dan mandiri, termasuk di dalamnya ge­reja-gereja Tionghoa. Setelah mengacu tulisan H. Kraemer (The Christian Message in a non Christian World, 1938, hlm. 408 dst.), Amir berkata bahwa dunia atau zaman baru ini mendorong umat Kristen Indonesia untuk lebih serius memikirkan masa depannya, sambil belajar dari umat Kristen di tempat lain:

Keadaan perang sekarang ini memaksa kaum Kristen memikirkan dengan sedalam-dalamnya tentang tujuan jemaat dan gerejanya. Dahulu kita idam-idamkan gereja yang berdiri sendiri. Sekarang oleh sejarah dunia pada masa ini kita telah berada di tengah-tengah gereja yang mesti berdiri sendiri, … artinya jemaat yang mesti hidup sendiri dari kekuatan sendiri, baik dalam hal keuangan, maupun dalam kebathinan … Dan di dalam hal ini baik barangkali kita belajar dari usaha kaum Kristen di Nippon, di Korea, di Tiongkok dan India. … Gereja Kristus di Asia, khususnya di Indonesia, meminta supaya kita memperdalam keyakinan kita, sebab mungkin sekali sejarah Gereja Kristus buat zaman yang akan datang sebagian besar akan ditulis dan dicatat di Asia.[15]

Ternyata Amir tidak dapat terus kucing-kucingan dengan Jepang. Februari 1943 ia bersama 53 orang lainnya ditangkap Kenpeitai di Surabaya, dipenjarakan di Kalisosok, lalu dipindahkan ke penjara Salemba-Jakarta, lalu ke penjara Glodok, Cipinang, Sukamiskin, dst. Salah satu alasan penangkapannya adalah pidatonya pada perayaan Natal 2602 (=1942) tsb. di atas, yang berisi kecaman terhadap pemerintah Jepang. Ia selanjutnya divonnis hukuman mati dengan tuduhan melakukan kegiatan mata-mata bagi Sekutu. Sebelum dieksekusi (ternyata tidak jadi, dan hukumannya diubah menjadi seumur hidup, a.l. berkat perjuangan Soekarno dan Hatta) ia disiksa dengan hebat dan dipenjarakan di Malang. Bahkan hingga September 1945 ia masih mengalami penyiksaan oleh Jepang termasuk disalibkan dengan kepala ke bawah kaki ke atas. Dalam keadaan seperti itu Amir justru menekuni Alkitab (khususnya Perjanjian Lama), mengabarkan Injil, dan melayani ibadah. Dengan demikian sebagian besar dari masa pendudukan Jepang dijalani Amir di penjara.[16] Ketika Soekarno-Hatta memproklamasi kemerdekaan RI pada tanggal 17 Agustus 1945, Amir tidak tahu, karena masih mendekam di penjara Malang. Ia baru dibebaskan tanggal 1 Oktober 1945, dalam status sebagai Menteri Penerangan dalam kabinet RI yang merdeka.

Mengenai masa di penjara yang penuh penyiksaan itu, Wellem a.l. berkomentar:

Sulit bagi kita untuk menilai bahwa penyiksaan yang dialami Amir itu adalah karena ia beragama Kristen. Agaknya penyiksaan itu dilakukan untuk mengorek pengakuan Amir bahwa ia adalah seorang Komunis sebagaimana dituduhkan kepadanya. Namun peristiwa itu memperlihatkan kepada kita bahwa Amir adalah seorang Kristen yang setia kepada Tuhannya sekalipun ia mengalami siksaan hebat. Ia tetap mengaku dirinya sebagai seorang Kristen dan bukan sebagai seorang Komunis. Memang, selama hidupnya kekristenannya tidak pernah ditutup-tutupinya.[17]

Kita tidak sempat membicarakan di sini kiprah Amir sejak bebas dari penjara dan menjadi Menteri itu (lalu dua kali menjadi Perdana Menteri) hingga ia meninggal. Itu akan dibahas oleh panelis lain. Namun demikian, beberapa catatan dan kesimpulan F.D. Wellem berikut ini perlu kita renungkan: Tanggal 19 Desember 1948 Amir Sjarifoeddin bersama sejumlah orang yang dicap sebagai pemimpin PKI ditembak mati di Ngalihan, sebelah timur Solo, atas perintah Gatot Soebroto, Gubernur Militer di Solo, bertepatan dengan hari pihak Belanda melakukan agresi militer II, karena dikuatirkan bahwa mereka itu akan ikut memberontak atau menyeberang membantu Belanda.[18] Pada waktu hendak ditembak mati, Amir hanya meminta waktu satu jam untuk berdoa sebagai permintaannya yang terakhir. Amir ditembak mati sementara kedua tangannya memegang Kitab Injilnya. Amir mati bersama Kitab Injilnya.[19]

Jikalau kita menghubungkan kekristenan Amir dengan keterlibatannya dalam peristiwa pemberontakan PKI di Madiun maka timbul kesulitan yang tidak terjawab. Pada satu pihak kita melihat bahwa Amir tidak pernah melepaskan kekristenannya, namun pada pihak lain ia terlibat dalam peristiwa tsb. Oleh karena itulah T.B. Simatupang bertanya: mungkinkah Amir tidak dapat mensintesekan kekristenan dengan nasionalisme serta dengan komunisme, sehingga keluar ia kadang-kadang menimbulkan kesan kurang tenteram dan kurang stabil?[20]

Penilaian dalam bentuk pertanyaan ini tidak disetujui Wellem. Ia berkata: seluruh hidup Amir, bakatnya, kecakapannya, uangnya, dipersembahkannya untuk membangkitkan semangat nasionalisme di kalangan pemuda dan rakyat Indonesia.[21] Menurut Amir, orang Kristen harus berjuang bersama-sama dengan golongan lainnya di Indonesia. Amir melihat bahwa pergerakan nasional bukanlah suatu bidang yang harus dihindari oleh orang Kristen. Tidak ada pertentangan antara kekristenan dengan pergerakan kemerdekaan. Seorang Kristen yang menjadi nasionalis tidaklah berarti telah menjadi seorang pengkhianat Injil Kristus. Seorang Kristen yang baik dapatlah juga sekaligus menjadi seorang nasionalis yang baik. Amir Sjarifoeddin adalah seorang proro-tipe politikus Kristen. Pandangannya tentang wahana lewat mana orang Kristen Indonesia melibatkan dirinya dalam perjuangan kemerdekaan menarik perhatian kita. Amir berpendapat bahwa keterlibatan orang Kristen dalam pergerakan kemerdekaan tidak boleh dibatasi pada partai politik Kristen saja, tetapi juga lewat partai yang tidak berdasarkan kekristenan. ... Tugas orang Kristen dalam berbagai-bagai partai politik non-Kristen tersebut adalah memasukkan dasar-dasar dan cita-cita kekristenan ke dalamnya.[22]

Mr. Amir Sjarifoeddin adalah seorang pejuang kemerdekaan Indonesia, seorang negarawan dan politikus Kristen. Ia juga adalah seorang teolog awam Indonesia, pengkhotbah dan tokoh perintis gerakan oikumenis di Indonesia. Ia adalah seorang Kristen yang saleh hingga akhir hidupnya, namun dalam kesetiaannya kepada Republik Indonesia telah disesatkan oleh Musso bersama PKI-nya.[23] Tentu Amir juga memiliki sejumlah kelemahan yang tak perlu kita tutup-tutupi. Dr. J. Verkuyl, misalnya, dalam salah satu tulisannya memberi komentar dan penilaian tentang Amir, “Tiap aliran hendak mempergunakan tokoh yang gemilang ini dan tiap orang mengetahui kelemahannya, di mana ia paling mudah dikuasai, yakni lagak-lagunya, keinginannya untuk memainkan peranan pemimpin dan terus saja memimpin, bagaimana pun keadaannya.”[24]

Makna Amir Sjarifoeddin bagi Kita Sekarang

Amir Sjarifuoeddin adalah seorang manusia biasa, anak zamannya, dengan segala kelebih-an dan kekurangannya. Kepada keluarga ia tidak mewariskan harta-benda yang memadai untuk menopang kehidupan mereka selanjutnya. Bahkan uang pensiun yang diterima Ibu Djaenah Harahap hingga akhir hayat almarhumah sebagai janda mantan Perdana Menteri jauh dari memadai. Anak-cucunya juga dibatasi pemerintah RI untuk mengunjungi dan memugar makam almarhum. Namun demikian, di dalam keberadaannya yang demikian, ia telah mewariskan berbagai hal berharga bagi generasi berikutnya, termasuk kita. Tak perlu lagi kita ulangi penilaian dari beberapa pengamat dan penulis yang sudah dikemukakan di atas.

Sekarang banyak orang yang mengaku nasionalis, tetapi kita tidak tahu apa yang mereka telah abdikan bagi bangsa dan negeri ini. Yang lebih banyak kita ketahui adalah apa yang mereka reguk, keduk dan nikmati dari kekayaan negeri ini, kendati mereka gemar mengatas-namakan rakyat yang miskin dan menderita. Mareka (dan kita?) yang bertabiat dan berperilaku seperti itu patutlah bercermin kepada Amir Sjarifoeddin, baik dalam hal keluasan wawasannya dan kekayaan intelektualnya maupun keberanian berkorban dan menderita demi bangsanya. Tuhan memang mengaruniakan talenta dan kharisma yang berbeda-beda kepada setiap orang; tidak bisa ada Soekarno, Hatta, Yamin, Sutan Sjahrir, atau Amir Sjarifoeddin jilid dua. Tetapi berbagai hal berharga yang mereka teladankan patutlah kita tiru dan hargai.

Khusus bagi kalangan Kristen masa kini, terutama yang doyan [ber]politik, keteladanan Amir sungguh patut dicamkan. Sejak awal era ‘reformasi’ ini muncul sekian banyak partai berlabel Kristen. Cukup banyak orang Kristen (termasuk sejumlah rohaniwan/pendeta) yang memperlihatkan kiprah politiknya secara sektarian, berjuang atas nama kepentingan agama dan berani mengatasnamakan semua umat Kristen di negeri ini. Amir tidak mempersalahkan teman-temannya Kristen berkiprah di partai politik Kristen (misalnya PKMI/Parkindo). Tetapi ia lebih memilih gerakan dan organisasi yang memberi ruang pada semua suku dan penganut semua agama yang ada di negeri ini, karena ia sangat menyadari dan menghargai kemajemukan bangsa dan negeri ini. Di sisi lain ia tetap memperlihatkan jatidiri dan panggilan kristianinya secara terbuka, pun ketika harus mengalami penyiksaan. Berapa banyak orang yang mengaku sebagai politikus Kristen masih punya integritas dan keberanian seperti itu pada masa kini? Semoga masih ada!



[1] Disampaikan pada Peringatan 101 Tahun Amir Syarifoeddin, di Aula STT Jakarta, Selasa sore 27 Mei 2008.

[2] Pendeta Gereja Kristen Protestan Indonesia, Dosen Sejarah Kristen, dan Ketua STT Jakarta, Ketua PGI.

[3] Diterbitkan oleh Pustaka Sinar Harapan (PSH) Jakarta tahun 1984, tetapi kemudian dibreidel/dilarang beredar oleh pemerintah/Kejaksaan Agung RI. Namun demikian, menurut keterangan Bp. Tunggul Siagian (24 Mei 2008), PSH sekarang sedang memproses penerbitan/pencetakan-ulang buku ini.

[4] Salah satu yang penting adalah artikel Amir Sjarifoeddin dalam Boekoe Peringatan Hari Djadi Isa Al-Maseh, nomor istimewa 25-12-2602 (tahun Jepang), diterbitkan oleh Komite Penerbitan Boekoe Peringatan Hari Djadi Isa Al-Maseh (Mr. Amir Sjarifoeddin dkk.), Djalan Kramat 65 Djakarta.

[5] Jan S. Aritonang, Sejarah Perjumpaan Kristen dan Islam di Indonesia, 190-195 dan 117-118+198.

[6] Gerry van Klinken, Minorities, Modernity and the Emerging Nation, h. 117-121.

[7] Ibid., h. 130-131.

[8] Antara lain memimpin organisasi bawah tanah, “Liga Anti Fascist” yang bertujuan melawan propaganda Jepang (Wellem, op.cit., h. 159).

[9] Bnd. judul bab VI buku Van Klinken, op.cit.: Amir Sjarifoeddin and Nationalist Charisma. Juga kesimpulan Van Klinken pada ibid., h. 149: „Young urban pemuda of the late 1920s and early 1930s saw Amir as a charismatic hero.”

[10] Dikutip Hoekema (Berpikir dalam Keseimbangan yang Dinamis., hlm. 213) dari artikel Amir Sjarifuddin dalam majalah ter­bitan Gymnasium di Haarlem (tempatnya belajar dulu): Mirabile Lectu, Februari 1928; juga dikutip dalam Aritonang, op.cit., h. 206.

[11] Walaupun Amir Sjarifoeddin mendukung Petisi Soetardjo, namun karena Gerindo yang dipimpinnya terkenal sebagai partai yang sangat anti Jepang, pada tahun 1940 ia sempat diangkat pemerin­tah H-B sebagai pejabat tinggi di Departemen Perekonomian. Onghokham, Runtuhnya Hindia-Belanda, hlm. 37-8 (diacu dalam Aritonang, op.cit., h. 207).

[12] Dikutip Ngelow (Kekristenan dan Nasionalisme, hlm. 170) dari majalah Opwekker no. 86, th. 1941, hlm. 60.

[13] Dikutip Hoekema (op.cit., hlm. 214) dari majalah Semangat Baroe no. I/45, 8 November 1941.

[14] Wellem, op.cit., h. 178.

[15] Amir Sjarifuddin, ”Menoedjoe KejemaƤt Indonesia Asli”, dalam Boekoe Peringatan, hlm. 6-8.

[16] Wellem, op.cit., h. 162-169.

[17] Ibid., h. 170.

[18] Ibid., h. 304.

[19] Ibid., h. 312.

[20] T.B. Simatupang, Laporan dari Banaran, h. 84; dikutip dalam ibid., h. 321.

[21] Wellem, ibid., h. 324.

[22] Ibid., h. 332-333.

[23] Ibid., h. 335.

[24] Dikutip Wellem dalam ibid., h. 162, dari J. Verkuyl, Injil dan Komunisme di Asia dan Afrika, h. 75.

Minggu, 21 Desember 2008

Tragedi Amir Sjarifuddin


Tragedi Amir Sjarifuddin

Asvi Warman Adam
Sejarawan LIPI



Tanggal 19 Desember 61 tahun silam, Amir Sjarifuddin dan 10 orang lain ditembak di Desa Ngalihan, Solo, atas perintah Gubernur Militer Kolonel Gatot Subroto.

Sebelumnya Amir Sjarifuddin sempat menyanyikan “Indonesia Raya”. Penulis kiri cenderung mengatakan setelah itu mereka juga melagukan Internationale. Adapun kalangan Kristen menambahkan bahwa Amir memegang Alkitab. Amir Sjarifuddin Harahap adalah mantan Perdana Menteri (PM) Republik Indonesia yang dieksekusi oleh bangsanya sendiri tanpa proses pengadilan.

Amir Sjarifuddin (dan Sjahrir) adalah tokoh yang berjasa mempertahankan eksistensi negara Indonesia pada awal kemerdekaan. Tahun 1945–Januari 1948 keduanya menjadi PM.Mereka diangkat untuk menangkis tuduhan Belanda bahwa Pemerintah Indonesia adalah boneka Tokyo karena Soekarno- Hatta berkolaborasi dengan “saudara tua dari Negeri Matahari Terbit”itu.

Sejak November 1945 sampai Januari 1948, Amir Sjarifuddin berturut-turut menjadi Menteri Keamanan Rakyat/Menteri Pertahanan. Saat itu Indonesia berhasil membantu pemulangan ribuan pasukan Jepang dan internir Belanda. Pada awal kemerdekaan, unsur tentara terdiri atas berbagai kelompok terlatih (eks didikan Belanda/ Jepang) dan laskar.

Hatta ingin secepatnya merasionalisasi tentara dari 400.000 menjadi 60.000, sedangkan Amir berpendapat diperlukan masa transisi.Perbedaan kebijakan itu antara lain yang di lapangan memicu timbulnya Peristiwa Madiun 1948 di mana Amir menjadi salah seorang korbannya. Jenjang karier Amir berkebalikan dengan beberapa politisi dewasa ini.

Dia ditahan Jepang dan masih mendekam di penjara Malang sampai 1 Oktober 1945 sebelum dibebaskan dan diberangkatkan ke Jakarta untuk dilantik sebagai Menteri Penerangan. Kalau perjalanan hidup Amir “dari penjara ke kabinet”, yang terjadi di era Reformasi pada beberapa elite politik adalah “dari kabinet ke penjara”. Amir berasal dari keluarga Batak Islam bercampur Kristen.

Kakeknya, Ephraim adalah seorang jaksa beragama Kristen.Ayahnya, Soripada, juga jadi jaksa dan beralih ke agama Islam ketika menikah dengan seorang gadis Batak muslim.Amir sempat menempuh pendidikan sekolah menengah di negeri Belanda mengikuti jejak saudara sepupunya TSG Mulia.Pergaulan semasa di Eropa dan setelah kembali ke Tanah Air tahun 1927 mengakibatkan dia tertarik kepada agama Kristen dan dibaptis tahun 1935.

Dalam bidang politik, dia menjadi bendahara panitia persiapan kongres pemuda II tahun 1928 yang kemudian melahirkan Sumpah Pemuda. Tahun 1931 dia aktif dalam Partai Indonesia (Partindo) yang didirikan Bung Karno. Kemudian ketika tokohtokoh seperti Soekarno, Hatta, dan Sjahrir diasingkan Belanda, Amir menggagas Gerindo (Gerakan Rakyat Indonesia).

Organisasi ini cukup maju dalam mendefinisikan kewarganegaraan berdasarkan kediaman (tempat lahir), bukan ras. Tahun 1938–1941 Amir menjadi redaktur majalah sastra Poedjangga Baroe.

Selanjutnya Amir juga aktif pada Gabungan Politik Indonesia (GAPI) bersama-sama dengan MH Thamrin. S e w a k t u menjadi Menteri Penerangan tahun 1945 dia mengeluarkan Maklumat Pers bulan Oktober 1945 yang menjamin kemerdekaan pers. Ini merupakan pernyataan pertama pemerintah tentang kehidupan pers.

Amir Sjarifuddin adalah seorang pemimpin yang memiliki prinsip seperti dikisahkan Fransisca Fanggidae (82 tahun, eksil di Belanda) yang ikut dalam pelarian tahun 1948. Di suatu desa, anak buahnya mengambil buah kelapa milik warga,Amir mengeluarkan tembakan peringatan dan memarahi mereka. “Tentara harus melayani rakyat, bukan mengambil kepunyaan rakyat,”ujarnya.

Peristiwa Madiun

Amir Sjarifuddin Harahap adalah satu dari demikian banyak korban peristiwa Madiun.Dalam buku pelajaran sejarah Indonesia, peristiwa Madiun 1948 dicatat sebagai pemberontakan kaum komunis untuk merebut kekuasaan Soekarno-Hatta. . Buktinya, tokoh penting dalam peristiwa itu,Musso,adalah kader PKI yang baru pulang dari Moskow.

Kini sejarah resmi itu ditinjau kembali. Muncul versi lain misalnya yang beranggapan peristiwa Madiun merupakan persengketaan antara TNI dengan laskar-laskar revolusi lain yang berkelanjutan dengan saling menculik. Anthony Reid (Revolusi Nasional Indonesia,1996) mengatakan bahwa respons pemerintah terhadap peristiwa Madiun tidak sulit dimengerti.

Negosiasi seperti yang diusulkan Sudirman mungkin dapat menyelamatkan banyak nyawa, tetapi dengan ongkos keberhasilan propaganda Belanda bahwa Republik Indonesia tidak berdaya terhadap komunis (1) dan AS mendukung Belanda untuk melakukan agresi (2). Soekarno-Hatta memilih bertindak tegas terhadap kelompok oposisi kiri tersebut.

Dalam buku Harry Poeze, Verguisd en Vergeten,Tan Malaka, De linkse Beweging en Indonesische Revolutien 1945-1949 (Leiden, 2007), peristiwa Madiun 1948 dibahas sebanyak 300 halaman.Poeze menggunakan arsip Komintern di Moskow.

Selama ini dikesankan bahwa itu gerakan lokal yang diangkat Soekarno-Hatta sebagai peristiwa nasional (agar RI dapat dukungan internasional, terutama Amerika Serikat). Menurut Poeze masa itu hierarki dalam partai komunis masih sangat kuat sehingga mustahil kegiatan lokal di Madiun tanpa restu politbiro PKI.

Sebelum peristiwa itu meletus, Setiadjid dan Wikana diutus menemui Soemarsono. Ini berbeda dengan situasi tahun 1965 di mana manuver biro khusus PKI tidak diketahui oleh seluruh pucuk pimpinan partai tersebut. Poeze juga mengulas long march orang-orang kiri pascaperistiwa Madiun yang jarang disinggung dalam sejarah Indonesia.

Tidak kurang dari jarak 500 km ditempuh ribuan orang selama dua bulan dari Madiun ke arah Pacitan, lalu ke utara sebelumnya akhirnya mereka (antara lain Amir Sjarifuddin) ditangkap di perbatasan dengan wilayah yang dikuasai tentara Belanda. Poeze menemukan sebuah arsip menarik di Arsip Nasional RI bahwa Soeharto pernah menulis kepada “Paduka Tuan”Kolonel Djokosoejono, komandan tentara kiri, agar beliau datang ke Yogya dan menyelesaikan persoalan ini. Soeharto menulis, “Saya menjamin keselamatan Pak Djoko.”

Dokumen ini menarik karena ternyata Soeharto mengambil inisiatif sendiri sebagai penengah dalam peristiwa Madiun. Menurut Soe Hok Gie dalam Orang-Orang Kiri di Persimpangan Jalan (1997), perdebatan apakah peristiwa Madiun merupakan pemberontakan (versi resmi) atau provokasi pemerintah Hatta (versi kiri) tidak menjawab persoalan mendasar.

Yang terjadi sebetulnya adalah ketegangan di tengah masya-rakat (di Pulau Jawa) dalam revolusi nasional karena harapan- harapan yang tidak terpenuhi dan kesulitan ekonomi yang membawa frustrasi.Peristiwa Madiun akan lebih jelas bila dilacak secara multidisiplin dari aspek sosialpolitik (perubahan masyarakat pasca-1942), ekonomi (kehancuran ekonomi setelah perang), budaya (pertentangan Islam-nasionalis, Sunda versus Jawa melalui konflik divisi Siliwangi-Panembaha n Senapati).(* )




http://www.seputar- indonesia. com/edisicetak/ content/view/ 197326/