Rabu, 12 November 2008

Komunitas Bambu- Penerbit Bermutu


MABOK BUKU KOBAM DI KPG

Saben Hari Bandrol Sonder Ampun

INDONESIAN BOOK FAIR 12 – 16 November 2008

Jam 09.00 – 21.00, Lobby and Assembly Hall Jakarta Convenstion Center

Kassie waktu en sigra samperin Stand KPG di Stand No. 17, di mana di itu stand en di itu kutika saben harinya Towan en Nyonya bisa mendapet buku-buku terbitan Drukerij Komunitas Bambu, Masup Jakarta, Mushaf en Ka Bandung dengan potongan harga zonder ampun 20% ampe 60% atawa bandrol sepesial mulai dari 5.000 ampe 30.000. Selaen itu juga Towan en Nyonya bisa awasin buku-buku yang saben hari sepesial dikasi tambahan potongan bandrol.

Buku Obral

No

Judul

Harga

Harga Obral

1

Anak Betawi Diburu Intel Yahudi

55,000

30,000

2

Biksu Tak Berjubah

25,000

5,000

3

Blue Print

65,000

30,000

4

Catatan Dari Penjara

45,000

20,000

5

Catatan Seorang Pejalan Dari Hadrami

18,000

5,000

6

Cut Nyak Dien

44,000

30,000

7

Dari Botchan Sampai Kalong Taman Firdaus

35,000

20,000

8

Glosari Betawi

25,000

15,000

9

Greget Tuanku Rao

55,000

30,000

10

Hikmah Al Fatihah

35,000

20,000

11

Karya Lengkap Al Misri

35,000

20,000

12

Keadaan Jakarta Tempo Dulu

30,000

15,000

13

Ketawa-Ketawi Betawi

50,000

30,000

14

Kisah Surat Dari Legian

18,000

5,000

15

Lembah Kekal

55,000

15,000

16

Melintasi Dua Jaman

40,000

20,000

17

Mengikis Batas Timur dan Barat

35,000

20,000

18

Menguak Duniaku

55,000

30,000

19

Muhammad; Nabi dan Negarawan

50,000

30,000

20

Ni Hoe Kong

35,000

20,000

21

Onze Ong; Onghokham dalam Kenangan

50,000

30,000

22

Orang dan Partai Nazi di Indonesia

55,000

30,000

23

Orang Indonesia di Kamp Nazi

55,000

30,000

24

Perempuan Semusim

34,000

15,000

25

Prajurit Perempuan Jawa

50,000

30,000

26

Profil Etnik Jakarta

30,000

15,000

27

Sejarah Para Pembesar Mengatur Batavia

50,000

30,000

28

Status Piagam Jakarta

25,000

15,000

29

Tangan dan Kaki Terikat

40,000

20,000

30

Terang Bulan Terang di Kali

48,000

30,000

31

Wayang Liederen

28,000

10,000

32 Semiotik dan Dinamika Sosial Budaya 40,000 20,000

Diskon Normal

No

Judul

Harga

Diskon

Jual

1

Anti Cina, Kapitalisme Cina dan Gerakan Cina

50,000

20.00%

40,000

2

Batavia Awal Abad 20

35,000

20.00%

28,000

3

Cerita dari Gedung Arca

30,000

20.00%

24,000

4

COKIN? So What Gitu Loh!

65,000

20.00%

52,000

5

Dalem Tawanan Djepang

55,000

20.00%

44,000

6

Gejolak Ekonomi, Kebangkitan Islam dan Gerakan Padri

80,000

20.00%

64,000

7

Hiroshima

40,000

20.00%

32,000

8

HM Misbach; Kisah Haji Merah

35,000

20.00%

28,000

9

Istana Dewa Pulau Dewata

50,000

20.00%

40,000

10

Kapitalisme Pribumi Awal

50,000

20.00%

40,000

11

Kenang-Kenangan Orang Bandel

65,000

20.00%

52,000

12

Kisah Para Pilot; KAMIKAZE

38,000

21.05%

30,000

13

Kota Yogyakarta Tempo Doeloe

50,000

20.00%

40,000

14

Kota-Kota Prakolonialisme

40,000

20.00%

32,000

15

Mayor Jantje

35,000

20.00%

28,000

16

Nabi Muhammad Juga Manusia

37,000

18.92%

30,000

17

Nyai Dasima

32,000

18.75%

26,000

18

Orang Cina, Bandar Tol, Candu & Perang Jawa

35,000

20.00%

28,000

19

Pelayaran dan Perniagaan Nusantara

40,000

20.00%

32,000

20

Salemba Rawamangun

30,000

20.00%

24,000

21

Samurai

45,000

20.00%

36,000

22

Saya Ingin Lihat Semua Ini Berakhir

30,000

20.00%

24,000

23

Sebelas Colen di Malam Lebaran

30,000

20.00%

24,000

24

Sejarah Perempuan Indonesia

67,500

20.00%

54,000

25

Sejarah Sumatra

95,000

20.00%

76,000

26

Sumbangan Islam Kepada Ilmu

50,000

20.00%

40,000

27

Sumpah Pemuda

30,000

20.00%

24,000











Kitaorang ngarep Towan en Nyonya dapet kassie waktu buat sigra mampir ka stand KPG en kasi bukti kitaorang ampunya perkatahan.

Tabe srenta hormat.

Drukerij Komunitas Bambu

Jl. Pala No. 4B Beji Timur Depok 16422

Telp/Fax. 021 77206987

komunitasbambu@ yahoo.com

komunitasbambupemas aran@yahoo. com

Kasih Anjing

"Kasih Anjing"
Karya : Agustin Sibarani






Saat Semuanya
Terlalu Rakus,
Tamak,
Biadab,
Jahanam.


Warisan Raja Namaruhum, Namarhatua ( Sisingamangaraja XII )

Warisan Raja Namaruhum, Namarhatua

( Sisingamangaraja XII )

Chris Poerba




Dalam kebudayaan sukubangsa Batak cerita perjuangan kepahlawanan Sisingamangaraja XII terus-menerus diwariskan sampai pada generasi berikutnya. Cerita ini tidak akan pernah lekang karena tergerus zaman. Sisingamangaraja XII sepanjang hidupnya menentang kolonialisme Belanda di Tanah Batak (1849-1907). Sehingga wajar bila Sisingamangaraja XII dianugerahi gelar Pahlawan Nasional yang diumumkan 9 November 1961. Sisingamangaraja XII meninggal 17 Juni 1907, saat membela diri dari serangan pasukan Belanda yang mengepungnya. Pertempuran yang berlangsung di desa Si Onom Hudon, perbatasan Kabupatren Tapanuli Utara dan Kabupaten Dairi ini, merupakan pertempuran penghabisan yang telah berlangsung cukup lama. Perang Batak berkesudahan setelah berkecamuk 30 tahun.

Sebelum gugur di medan pertempuran, Belanda dikabarkan pernah menawarkan jalan damai kepada Sisingamangaraja XII, dengan mengangkatnya menjadi Raja Batak dengan gelar Sultan. Sisingamangaraja XII menolak keras dengan menyatakan, “Lebih baik berkalang tanah daripada hidup di peraduan penjajah.”

Raja Sisingamangaraja XII lahir dan wafat di Tanah Batak. Perjuangannya tidak hanya meliputi wilayah Sumatera Utara, namun sampai ke Aceh. Dengan tidak kenal lelah, dan dengan dukungan kuat dari tokoh-tokoh kerabatnya, Raja Sisingamangaraja XII menampuh perjuangan yang panjang. Bahkan, pada 17 Juni 1957, saat peringatan genap 50 tahun wafatnya Sisingamangaraja XII, Presiden Soekarno menyatakan Raja Sisingamangaraja bukan saja pahlawan nasional, tetapi juga seorang pejuang bertaraf internasional.

Layaknya sebagai seorang tokoh yang dijadikan sebagai sumber inspirasi, Sisingamangaraja juga mewariskan sejumlah warisan kebudayaan..Warisan-warisan ini sebenarnya juga berasal dari falsafah yang terkadung dalam nama Sisingamangaraja sendiri. ”Singa” yang diartikan ”lion” dalam bahasa Inggris adalah merupakan hewan buas yang merupakan pemangsa dan sering disebut sebagai raja hutan. Padahal, hewan buas jenis ini sangat jarang ditemui oleh masyarakat Batak. Setidaknya beberapa literatur sejarah dan budaya Batak sangat jarang menyinggung hewan ini.

Dalam bahasa Batak, arti kata ”singa” mengandung falsafah ”konstruksi” atau ”rumah Batak” sedangkan ”mangaraja” sendiri sama artinya dengan ”maharaja” dalam bahasa Indonesia. Sehingga kata Sisingamangaraja berarti ”Singa ni Uhum” dan ”Singa ni Hadatuon.” Undang-undang dan aturan-aturan yang termaktub dalam Arsip Bakara dan Arsip Dairi dapat juga dilihat sebagai penerapan falsafah ”Singa ni Uhum,” yang mengadung makna Sisingamangaraja sebagai rumah dan konstruksi berbagai aturan, baik yang berupa aturan adat maupun aturan kemasyarakatan. Sedangkan ”Singa ni Hadatuon” yang menyangkut keyakinan ilmu dan supranatural, termasuk hubungannya sebagai inkarnasi Maha Pencipta, yang mengalir dalam agama dan teologi Parmalim.

Ada dua bentuk warisan yang berasal secara langsung maupun tidak langsung (terinspirasi) dari Sisingamangaraja, yaitu warisan gerakan spiritualitas agama Parmalim dan warisan berupa aturan-aturan hukum.


Gerakan Spiritualitas Parbaringin & Parmalim


Sebelum mengetahui lebih jauh tentang agama Parmalim, ada baiknya terlebih dulu sekilas memahami perjalanan konsep spiritualitas yang berada di Tanah Batak. Konsep spiritualitas Batak mula-mula adalah memuja Tuhan yang disebut Mulajadi Na Bolon, dengan kiblat utama pemujaan berada di Gunung Pusuk Buhit. Pusuk Buhit merupakan mikro kosmos yang penting dari kosmologis besar sang Mulajadi Na Bolon. Selain Pusuk Buhit, yang masuk mikro kosmos lainnya adalah Sianjurmulamula, yang merupakan Bius (republik desa) pertama.

Konsep spiritualitas di Tanah Batak pada awalnya merupakan otoritas dari Parbaringin. Parbaringin dapat disebut sebagai pendeta yang berada dalam kesatuan Bius, sehingga dapat pula diartikan bahwa Parbaringin merupakan salah satu aparat dari Bius yang juga diwariskan secara turun-temurun. Setiap Bius bisa dipastikan memiliki Parbaringin. Buku ”Toba Na Sae: Sejarah Lembaga Sosial Politik Abad XIII-XX,” karya Sitor Situmorang, menyatakan bahwa situasi abad ke-19 agama Toba pada hakekatnya terdiri tiga unsur dalam prakteknya: 1) Agama Parbaringin yang terfokus pada pemujaan Sisingamangaraja/Raja Uti, yang dipimpin oleh Sisingamangaraja dan Parbaringin. 2) Pemujaan leluhur oleh Sisingamangaraja sebagai warisan tribalisme (kesukuan) dipimpin oleh tua-tua dari marga-marga, dan 3) Animisme/magi yang dipimpin oleh para Datu/ Shaman sebagai spesialis profesional (bayaran).

Jelaslah bahwa agama paling tua yang dimiliki oleh bangsa Batak adalah animisme dan pemujaan kepada leluhur (roh-roh nenek moyang). Ritual ini dipimpin oleh Parbaringin untuk wilayah teritorial di dalam Bius, sedangkan Datu (dukun) dapat memimpin ritual atas nama marga dan horja (pemilik lahan) yang terdapat di berbagai Bius. Hampir bisa dipastikan Parbaringin mulai terfokus pada pemujaan terhadap Sisingamangaraja sekitar abad 19. Sehingga pada abad 19 itu agama dan ritual-ritual keagamaan semakin marak di tanah Batak. Parbaringin melayani ritual keagamaan di dalam Bius, sedangkan Datu melayani ritual pemujaan melampaui batas-batas teritorial meskipun terbatas pada siapa yang memerlukan saja.

Disebut Parbaringin, karena selalu memimpin upacara dengan melilitkan kain putih yang diselipkan ranting pohon baringin di ikat kepalanya. Kadang kala, juga ikat kepala berupa kain tiga warna (merah-putih-hitam) yang disebut bonang manalu. Parbaringin mempunyai tugas yang jelas, yaitu mengatur jadwal bercocok tanam, mengatur kegiatan pemeliharaan irigasi dan memimpin ritual-ritual, terutama di dalam Bius.

Yang terpenting, Parbaringin adalah kelompok yang merupakan pencetus awal ideologi ”kesatuan nasional Toba.” Bahkan sejak abad 13 Parbaringin sudah menjadi pelopor sebagai kelompok elite pendeta yang memiliki kepekaan terhadap gelombang zaman. Dalam tulisannya, Sitor Situmorang, juga menyatakan bahwa Parbaringin adalah jabatan yang semula terbatas dalam sistem Bius saja. Tetapi, kemudian berkembang meliputi Kerajaan Sisingamangaraja yang bersifat supra-Bius (banyak bius-bius), sebagai kecenderungan bernegara tanpa melepaskan sistem Bius dengan otonominya. Sisingamangaraja XII pernah mengeluarkan surat pengangkatan bercap yang ditujukan kepada Parbaringin di daerah tertentu, yang sedang berada dalam situasi perang. Pada awalnya, Parbaringin adalah sebuah gerakan spiritualitas yang adalah juga cikal bakal gerakan sosial yang tumbuh di kebudayaan Batak.

Gerakan Parbaringin ini juga mengambil bentuk-bentuk yang baru, seperti gerakan Parmalim dan Parhudamdam. Meskipun demikian, Parbaringin tetap menjadi roh dan kekuatan tersamar yang mengilhami usaha pemberontakan bersenjata melawan Belanda di Toba dan Dairi. Parbaringin kemungkinan dapat dikatakan adalah embrio bagi kemunculan Parmalim, mengingat keberadaannya yang lebih dulu ada.

Prof Dr W.B Sidjabat dalam bukunya ”Ahu Sisingamangaraja,” mencatat bahwa timbulnya gerakan Parmalim tahun 1870 adalah dalam rangka usaha Sisingamangaraja XII menjaga agar unsur-unsur agama Batak kuno dapat bertahan terutama dalam menghadapi agama Kristen, Islam dan penjajah Belanda.

Raja Sisingamangaraja XII berhasil mewariskan ajaran-ajaran Parmalim, karena sebelumnya sudah ada kultus dari masyarakat tentang konsep messianisme pada diri Sisingamangaraja XII. Sisingamangaraja XII dianggap bukan hanya sebagai pendeta-raja (priester koning), melainkan juga seorang messias dan disebut sebagai Malim Ni Debata, sebagai panutan spiritual pada Debata (Tuhan). Sehingga Parmalim sendiri dapat diartikan sebagai ajaran Malim Ni Debata, yaitu Sisingamangaraja XII. Sebelumnya, yang dinyatakan Malim Ni Debata hanya Raja Uti. Berbeda dengan Raja Uti, yang sampai saat ini masih menjadi legenda Batak, maka Sisingamangaraja XII sosok keberadaannya sangat nyata. Akhirnya, agama Parmalim dapat juga diartikan merupakan ajaran-ajaran dari Sisingamangaraja XII. Sisingamangaraja XII menjadi tokoh sentral menuju Tuhan (Debata). Belanda pun, dalam menumpas perjuangan Sisingamangaraja XII, termasuk dengan cara melarang setiap berlangsungnya kegiatan yang dilakukan oleh Parmalim.

Suatu ketika, Sisingamangaraja XII memberikan maklumat dirinya sedang sakit. Ketika itu, semua pemimpin Bius khawatir, sehingga Raja Mulia Naipospos selaku Parbaringin berangkat menuju Bakkara. Pada saat itu Sisingamangaraja XII belum sama sekali dibesuk oleh pemimpin bius lain. Ketika Raja Mulia tiba ternyata Sisingamangaraja sehat walfiat. Kepada Raja Mulia Naipospos diceritakan bahwa ancaman akan datang dan dukungan menentang Belanda semakin lemah. Proses regenerasi Parmalim dilaksanakan. Raja Mulia Naipospos dikabarkan mendapat surat secara langsung untuk mengurus keberlangsungan agama ini di Huta Tinggi, Laguboti. Kelanjutan agama Parmalim di Laguboti berlangsung terus hingga saat ini.

Tokoh sentral lainnya dalam gerakan Parmalim adalah Guru Somalaing. Guru Somalaing ini bukan merupakan Parbaringin melainkan seorang datu yang juga disebut guru. Sehingga terlihat dua perbedaan dengan Raja Mulia Naipospos sebagai keturunan Parbiringin. Guru Somalaing yang sebelumnya adalah penasehat perang Sisingamangaraja XII, dalam kaitan dengan Parmalim melakukan aksi-aksi penggorganisasian dalam menjalankan hubungan dengan Mulajadi Nabolon. Sedangkan Raja Mulia Naipospos tidak dimunculkan sebagai sosok perlawanan anti kolonial, dengan strategi melalui pengkaderan agama Parmalim untuk didekatkan kepada penyebaran misi zending Nommensen di Sigumpar. Gerakan Parmalim di Balige, yang dipelopori Guru Somalaing sekitar tahun 1890 ini, kemudian secara terpisah dilanjutkan oleh Raja Mulia Naipospos di Laguboti.

Guru Somalaing dikabarkan mendapatkan mimpi akan menggerakkan Parmalim. Saat itu, yang bersangkutan sedang mengungsi di Tamba setelah Balige direbut Belanda. Parmalim yang konstruksinya dibangun oleh Guru Somalaing sudah mengandung unsur agama Barat, yaitu Katolik. Hal ini dimungkinkan karena adanya hubungan pertemanan dekat antara Somalaing dengan seorang peneliti berasal dari Roma, Italia, yang bernama Emilio Modigliani. Hasil dari perjalanan peneliti Italia ini dan pertemanannya dengan Guru Somalaing, melahirkan tulisan berjudul ”Fra I Batacchi Indipendenti” yang artinya ”Mengunjungi Tanah Batak Merdeka.” Artinya kata ”Tanah Batak merdeka” sudah muncul pada tahun 1892 di Eropa saat tulisan itu diumumkan.

Meninggalnya Sisingamangaraja XII tahun 1907 tidak menyurutkan gerakan Parmalim dalam melawan Belanda. Ketika Sisingamangaraja dikabarkan terbunuh, Gerakan Parmalim bereaksi keras dan mengatakan bahwa sang Raja tidak mati melainkan sedang dalam keadaan menderita dan mengembara dari satu tempat ke tempat lain. Raja juga dikabarkan dalam sosok seorang peminta-minta dan akan kembali ke Bakkara untuk mendirikan kerajaannya seperti sediakala. Sehingga Parmalim juga memiliki paham messianisme, sebuah keyakinan dan pengharapan akan kembali hadirnya sang messias, yaitu Sisingamangaraja. Pada tahun 1907, Somalaing juga masih terus melakukan perlawanan terhadap Belanda, dengan menganjurkan penduduk, terutama yang berada di Toba dan Habinsaran, untuk tidak bersedia dijadikan tenaga rodi dan membayar belasting.

Sampai saat ini Parmalim masih terus bertahan dan berjuang, meskipun Indonesia telah dinyatakan sebagai negara merdeka. Parmalim saat ini dinyatakan sebagai identitas pribadi sedangkan kelembagaan agamanya disebut dengan ugamo malim. Ugamo malim menyatakan bahwa permasalahannya sekarang adalah terhambatnya proses pengakuan sebagai agama. Saat ini sudah ada legitimasi oleh pemerintah dengan dikeluarkannya Undang-Undang No. 23 Tahun 2006. Undang-undang ini membuka kesempatan bagi Parmalim untuk dicatatkan sebagai bagian dari warga negara Indonesia melalui kantor catatan sipil, meskipun belum diberi kesempatan untuk menuliskan identitas agamanya di Kartu Tanda Penduduk.

Terkait Parmalim sebagai warisan Sisingamangaraja XII, sampai saat ini tidak ada keturunan dari Raja Sisingamangaraja XII yang masih menganut ugamo malim atau agama Parmalim. Meskipun pernah dikabarkan seorang keturunan langsung menghadiri ritual Sipaha Lima di Hutatinggi, Kecamatan Laguboti. Raja Tonggotua Sinambela adalah generasi ke-15 dan cicit langsung dari Raja Sisingamangaraja XII. Sedangkan nama Tonggotua sendiri dikabarkan nama yang diberikan oleh Raja Ungkap Naipospos selaku pimpinan Parmalim Nasiakbagi Hutatinggi generasi kedua. Raja Marnangkok juga menyatakan bahwa tahun 2007 untuk pertamakalinya keturunan langsung dari Raja Sisingamangaraja XII turut menghadiri ritual, meskipun yang bersangkutan sudah beragama Kristen. Sangat dilematis mengingat ritual Sipaha Lima adalah ritual keagamaan, maka yang bersangkutan tidak dapat mengambil bagian secara penuh. Bahkan Raja Marnangkok menyatakan apabila ada keturunan Sisingamangaraja XII yang masih menganut ugamo malim, maka Raja Mulia Naipospos selaku kakek saya, akan langsung menyerahkan tampuk dan mandat kepemimpinan ugamo malim kepada mereka.

Kesinambungan Parmalim bagi generasi berikutnya juga ditunjukkan dengan dibangunnya PSHT (Parmalim School Hoeta Tinggi), atau yang sering disebut Sekolah Parmalim. Sekolah ini didirikan 1 November 1939 di Huta Tinggi, Laguboti. Seperti umumnya agama-agama lokal yang hidup di beberapa tempat di Indonesia, ugamo malim memiliki nilai-nilai kearifan religius yang selayaknya terus digali.



Warisan hukum

Dalam buku “Ahu Si Singamangaraja” diuraikan Sisingamangaraja XII juga menyusun dan memberlakukan sebuah hukum yang harus ditaati. Hukum yang dibuat dan diberlakukan bagi penduduk Si Onom Hudon di Pearaja, Dairi, yang pada saat itu dalam keadaan yang relatif stabil. Sumber dari hukum ini dinyatakan oleh Sisingamangaraja XII sebagai ”hukum dari nenekku.” Perangkat hukum tersebut disusun setelah Si Singamangarajar XII pulang dari Aceh dalam rangka memperkuat hubungan diplomasi dengan wilayah tersebut, juga Tanah Karo dalam rangka pengangkatan Sibayak (raja) yang baru. Hukum di Dairi dibuat sekitar tahun 1890–1895. Hukum ini tidak ditulis oleh Sisingamangaraja XII sendiri, melainkan oleh anaknya, Raja Buntal. Hukum ini terdiri dari 11 pasal, yaitu: (1) Soal pembunuhan yang pada dasarnya diatur atas dasar lex talionis; (2) Soal hutang piutang; (3) Soal pemerkosaan seorang wanita yang sudah berumah tangga; (4) Soal pemerkosaan seorang wanita yang belum berumah tangga; (5) Seorang wanita yang mengambil inisiatif meninggalkan suaminya; (6) Larangan meracun; (7) Soal hewan piaraan yang terseruduk dan mati; (8) Larangan mencuri; (9) Hukuman tentang pencuri tanam-tanaman; (10) Tentang ganjaran bagi yang mengawini seorang wanita yang telah bertunangan; dan (11) Ganjaran bagi pembakar rumah. Kesebelas hukum ini terdapat dalam naskah Raja Buntal.

Naskah Dairi lebih tipis dibandingkan Naskah Bakkara yang memuat 26 hal penting, sehingga naskah Bakkara ini lebih banyak dari naskah Dairi. Karena bidang yang dicakup lebih luas, seperti kemasyarakatan, hukum perkawinan. Juga terdapat aturan-aturan dalam bidang ekonomi dan perdagangan. Sedangkan naskah Dairi lebih mengutamakan petunjuk yang berupa larangan-larangan. Arsip Bakara yang disusun oleh Sisingamangaraja XI juga disebut ”Pustaha Harajaon” (Pustaka Kerajan),i terdiri atas 24 jilid, yang setiap jilidnya setebal sekitar lima cm.

Garis besar dari pustaha harajon adalah: Pemerintahan Tuan Sorimangaraja selama 90 turunan mulai dari Putri Tapi Donda Mausan (Jilid 1-3). Pemerintahan kerajan Singamangaraja I sampai IX (Jilid 4 -7). Perihal pedang padri Tuanku Rao terhadap terhadap Tuan Nabolon Si Singamangaraja X (Jilid 8). Perihal Pongkinangolngolan dan Datu Aman Tagor Simanullang (Jilid 9). Perihal pendeta Pilgrim, pembunuhan atas diri pendeta Lyman dan Munson oleh Raja Panggalamei (Jilid 11-12). Periode pembangunan kembali ibukota kerajan Bakkara dan daerah-daerah Toba tahun 1835-1845 setelah pembumihangusan dalam Perang Bonjol (Jilid 13-16). Perihal Dr Junghun van der Tuuk yang datang menjumpai Singamangaraja XI dan perihal photonya (Jilid 17). Penobatan Ompu Sohahuaon menjadi Singamangaraja XI, yang pemerintahannya berlangsung sampai tahun 1886, dan perihal penyakit menular yang dahsyat di tanah Batak (Jilid 18-14). Pustaha Harajaon ini ditemukan pada tumpukan rumah kerajaan yang dibakar oleh tentara Belanda. Naskah ini dibawa ke Belanda oleh pendeta Pilgrams dan hingga saat ini tersimpan di sebuah museum di Leiden.

Terkait arsip hukum Bakkara, disebutkan sanksi dan ganjaran yang diberikan terhadap pencuri adalah keharusan menyediakan babi yang besar (babi na bolon). Ganjaran dengan keharusan memberikan babi na bolon juga telah diketahui saat Sisingamangaraja XI. Bahkan dalam naskah Bakara masih ada kemungkinan bila pencuri yang tertangkap tidak sanggup memberikan denda maka akan dijual (digadis). Ini barangkali terkait dengan kemungkinan berlangsungnya perbudakan pada masa itu. Naskah Bakkara memang jauh lebih tua bila dibandingkan dengan naskah Dairi, terlihat dari bahasa dan isinya yang terperinci. Naskah Bakkara juga memuat lebih banyak hal dibandingkan dengan naskah Dairi. Hal ini kemungkinan juga disebabkan karena Raja Buntal sangat terbatas sumbernya dalam menyusun, karena naskah Bakkara sendiri sudah dibawa ke Belanda. Selain itu, informasi yang diterimanya dari nara sumber Boru Sagala, Boru Nadeak, Boru Situmorang, Boru Siregar, Raja Sabidan dan Sunting Mariam terbatas.

Ironis bahwa kedua arsip tersebut belum dapat diakses oleh publik. Arsip Bakkara berada di perpustakaan Belanda, sedangkan Naskah Dairi masih belum diketahui wujudnya. Padahal kedua naskah sangat penting sebagai bahan sejarah. Juga merupakan hak kekayaan intelektual budaya Batak.



Tulisan Dimuat di Majalah TAPIAN Edisi November 2008


Sumpah Pemuda dan Kegelisahan Pemuda


Sumpah Pemuda dan Kegelisahan Pemuda

Chris Poerba

Bulan Oktober merupakan bulan yang terbilang sangat penting dalam sejarah dan eksistensi Bangsa Indonesia. Pada bulan ini dirayakan sebuah perayaan besar yang juga dapat dikatakan sebagai rahim kelahiran sebuah semangat dan satunya rasa, yang pada akhirnya disepakati menjadi Indonesia. Tanggal 28 Oktober dirayakan sebagai Hari Sumpah Pemuda. Pada tahun ini maka genaplah sudah 80 tahun peringatan hari kelahiran Sumpah Pemuda. Hari Sumpah Pemuda disepakati dan merupakan hasil rumusan, kesepakatan dan sumpah setia pemuda-pemudi Indonesia pada Kongres Pemuda II, yang berlangsung 28 Oktober 1928 di Jakarta. Sumpah setia dibacakan: Pertama Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Bertoempah Darah Jang Satoe, Tanah Indonesia. Kedoea Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Berbangsa Jang Satoe, Bangsa Indonesia. Ketiga Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mendjoendjoeng Bahasa Persatoean, Bahasa Indonesia.

Kongres Pemuda II ini merupakan kelanjutan dari Kongres Pemuda I yang dilangsungkan pada hari Minggu, bertempat di Gedung Oos-Java Bioscoop,dengan pembicara Poenormowoelan dan Sarmidi Mangoensarkono yang membahas perlunya pendidikan kebangsaan bagi anak. Sesi berikutnya, yang tidak kalah pentingnya, adalah saat Soenario dan Ramelan memaparkan pentingnya nasionalisme dan demokrasi, selain gerakan kepanduan. Dan bahwa gerakan kepanduan tak bisa dipisahkan dari pergerakan nasional. Gerakan kepanduan yang dilaksanakan sejak dini dapat mendidik anak-anak lebih disiplin dan mandiri, dua faktor penting dalam perjuangan.

Gagasan dan semangat dilaksanakannya Kongres Pemuda berasal dari inisiatif Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI), yaitu organisasi pemuda yang terdiri dari berbagai latar belakang etnis dan wakil organisasi pemuda, seperti Jong Java, Jong Celebes, Jong Batak, Jong Sumatranen, dan Jong Islamieten. Hadir juga empat orang wakil dari pemuda Tiongkhoa sebagai peninjau. Kongres Pemuda ini difasilitasi oleh sembilan orang panitia kongres dan dihadiri 71 peserta. Amir Sjarifuddin merupakan salah satu anggota panitia kongres, dengan jabatan sebagai bendahara dan sekaligus wakil dari Jong Bataks.

Para pemuda-pemudi memiliki kegelisahan dan kebutuhan yang sama akan perlunya sebuah rasa bersama, rasa persatuan, sehingga berharap banyak agar kongres pemuda ini dapat memperkuat semangat persatuan dan kesatuan. Seperti yang dinyatakan pada saat pembukaaan Kongres Pemuda I, hari Sabtu tanggal 27 Oktober, di Lapangan Banteng. Soegondo dan Moehammad Yamin menyatakan adanya korelasi dan hubungan yang kuat antara persatuan dan pemuda. Pemuda dapat dijadikan sebuah gerakan sosial untuk memperkuat persatuan dan kesatuan. Sehingga Kongres Pemuda ini juga dapat dinyatakan sebagi rahim dan cikal bakal bagi kelahiran bayi Indonesia.

Sebelum dibacakannya rumusan sumpah setia, yaitu Sumpah Pemuda, pada Kongres Pemuda ini juga diperdengarkan lagu Indonesia Raya karya Wage Rudolf Supratman, yang hanya dimainkan dengan biola. Pembacaan teks Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1928 berlangsung di Jalan Kramat Raya nomor 106 Jakarta Pusat, di rumah milik orang Tionghoa yang bernama Sie Kong Liong. Sekarang rumah ini menjadi Museum Sumpah Pemuda.

Pada pembukaan Kongres Pemuda I di Lapangan Banteng, selain menyatakan kegelisahan bersama dan pentingnya rasa persatuan, para peserta juga memaparkan uraian mengenai lima faktor yang dapat memperkuat persatuan Indonesia yaitu sejarah, hukum, adat, pendidikan, dan kemauan. Faktor-faktor ini tentunya juga tidak bisa dilepaskan dari konteks pada waktu itu, meskipun tidak dapat dipungkiri bahwa faktor-faktor itu masih penting dan harus tetap dijaga, dirawat serta diwariskan secara terus-menerus kepada generasi berikutnya.

Indonesia saat ini tentu saja berbeda bila dibandingkan dengan saat kelahiran Sumpah Pemuda. Indonesia sekarang sudah berusia 63 tahun, sedangkan Sumpah Pemuda sendiri telah berusia 80 tahun. Dalam usia yang sudah sangat dewasa, jelas banyak pergulatan dan pergumulan yang terus mengancam rasa persatuan dan kesatuan. Sehingga untuk saat ini juga perlu diantisipasi faktor-faktor yang dapat mengancam rasa persatuan dan kesatuan. Berbagai masalah muncul ke permukaan, seperti ancaman disintegrasi dan gerakan separatisme, yang berupaya mendapatkan kedaulatan/kemerdekaan dengan cara memisahkan diri dari bingkai kesatuan Republik Indonesia. Sebuah ancaman terhadap Bhinneka Tunggal Ika.

Gerakan-gerakan separatisme ini pada dasarnya muncul dan semakin marak akibat terjadinya kesenjangan kesejahteraan yang belum terjembatani hingga saat ini. Bahkan saat ini pemerataan ekonomi yang seharusnya menjadi tolak ukur dari kesejahteraan layaknya seperti jurang yang semakin terbuka lebar dengan adanya ketimpangan pemerataan antara pusat dan daerah, ketimpangan antara pulau besar dengan pulau-pulau kecil dan pulau-pulau terluar. Maka pemerataan adalah kata kunci yang harus terus diupayakan dalam menjaga persatuan. Pada momen inilah pemuda tetap memiliki peran dalam menjaga dan merawatnya.

Setahun yang lalu, tepatnya 28 Oktober 2007, pada hari Minggu bertempat di Gedung Arsip Nasional Jalan Gajah Mada, para pemuda-pemudi yang tergabung dalam Barisan Pergerakan Kaum Muda Indonesia juga menyatakan sikap yaitu ‘Ikrar Kaum Muda Indonesia,’ dengan tema sentral ‘Saatnya Kaum Muda Memimpin’. Barisan Pergerakan Kaum Muda Indonesia ini masih bernuansa semangat Sumpah Pemuda dengan semboyan Untuk Indonesia yang berkeadilan, bermartabat dan sejahtera. Acara ini digagas oleh pemuda dari berbagai etnis dan profesi, setidaknya terdapat politikus, sejarawan, aktivis lingkungan hidup, peneliti sosial dan budaya, pengamat politik dan ekonomi, rohaniawan, penyair sampai musisi.

Ikrar Kaum Muda Indonesia jelas merupakan kegelisahan para pemuda-pemudi saat ini. Kegelisahan ini muncul karena kaum muda menganggap cita-cita mulia bangsa yaitu kesejahteraan bersama sudah bergeser, seperti yang termaktub dalam pernyataan Ikrar: kekayaan yang satu hanya mungkin didapat dari kesengsaraan yang lain, kesetaraan dan keadilan yang pernah digariskan para pendiri para pendiri bangsa sebagai landasan hidup bersama dianggap sebagai nyanyian usang dari masa lalu, kekayaan alam habis dikuras meninggalkan kehancuran lingkungan yang tidak terbayar, seperti dihantui kutuk sejarah menjadi bangsa kuli dan kuli di antara bangsa bangsa. Sementara pada pasca reformasi politik 1998 krisis semakin terasa nyata, seperti kemiskinan, pengangguran yang merajalela, bangkitnya komunalisme, mencuatnya sentimen etnis dan agama, dan sebagainya.

               
Dimuat di Majalah TAPIAN Edisi Oktober 2008

Kamis, 06 November 2008

Siti Musdah Mulia

"MEWASPADAI BAHAYA HIV/AIDS : PERSPEKTIF ISLAM"

Siti Musdah Mulia

(Aktivis Perdamaian & Muslimah Pertama Penulis Buku Anti Poligami)

Telah Dimuat Majalah TAPIAN Edisi November


Pendahuluan

Abad ini sering disebut sebagai era globalisasi. Globalisasi mengandung arti suatu proses yang bersifat mendunia dalam kehidupan umat manusia. Maksudnya, apa yang terjadi pada suatu bangsa akan dengan mudah diketahui dan ditiru oleh bangsa-bangsa lain sehingga hal tersebut berlaku umum hampir di seluruh dunia. Proses globalisasi tersebut dimungkinkan oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya teknologi elektronika dan informatika. Bahkan, kemajuan di bidang teknologi informatika telah membawa kepada terjadinya transformasi peradaban dunia. Transformasi peradaban dunia berlangsung dalam proses modernisasi dan industrialisasi yang dahsyat yang pada gilirannya menciptakan perubahan pada struktur dan pranata masyarakat.

Sebagai akibat dari modernisasi dan industrialisasi tersebut muncul masyarakat modern atau masyarakat industri yang cenderung lebih mementingkan nilai-nilai material daripada nilai-nilai yang bersifat immaterial atau ruhani. Masyarakat baru tersebut memiliki ciri-ciri sebagai berikut: kecenderungan hidup yang individualistik atau pendewaan diri; kecenderungan hidup yang materialistik atau pendewaan materi; dan kecenderungan hidup hedonistik atau pendewaan terhadap hasrat badani. Kecenderungan-kecenderungan tersebut sedikit banyak sudah menggejala dalam kehidupan sebagian masyarakat Indonesia, terutama di kota-kota besar. Jelas bahwa ketiga kecenderungan tadi menyebabkan masyarakat dewasa ini amat rentan terhadap penularan HIV/AIDS.

Sebelum lebih jauh, perlu ditegaskan apa itu HIV/Aids? HIV/AIDs adalah sejenis penyakit yang dapat menimpa siapa saja di antara manusia. Penyakit ini dapat menimpa laki-laki dan perempuan; anak-anak dan lanjut usia; manusia bermoral dan tidak bermoral; manusia terdidik dan tidak terdidik; kaya dan miskin; pecandu narkoba dan bukan; prostitusi dan bukan, homo dan hetero seksual, demikian seterusnya. Untuk itu, sikap terbaik adalah bersikap positif dan konstruktif terhadap semua penderita HIV/AIDS, apa pun penyebabnya. Itulah sikap yang agamis.

HIV/AIDS telah menjadi epidemi bagi masyarakat dunia. Dari aspek manapun kita melihatnya: aspek kesehatan fisik dan jiwa, aspek sosial, aspek ekonomi dan politik dan berbagai aspek lainnya. Disepakati bahwa HIV/AIDS merupakan bencana terbesar bagi peradaban umat manusia di muka bumi. Bahkan, bahaya HIV/AIDS diprediksikan jauh lebih dahsyat dari dua Perang Dunia yang pernah terjadi.

Meskipun disepakati betapa bahayanya epidemi ini, namun sikap kita terhadap penderitanya tetap harus positif dan konstrukstif, bukan negatif dan destruktif. Kita tidak boleh menghakimi mereka sebagai bersalah, apalagi menstigmanya sebagai orang berdosa dan masuk neraka. Sebab, tidak sedikit di antara mereka tertular penyakit ini tanpa mereka sadari. Misalnya penularan melalui jarum suntik, transfusi darah, atau tertular melalui pasangan intim yang tidak diketahui telah mengidap penyakit tersebut.

Memang sulit disangkal bahwa hasil penelitian mengungkapkan kelompok rentan atau beresiko tinggi terhadap HIV/AIDs antara lain: pengguna narkoba suntik, pelaku seks bebas, pasangan dari pelaku seks bebas, penerima transfusi darah, dan anak-anak yang lahir dari orang tua penderita. Sebagian masyarakat masih memandang penyakit ini hanya khusus mengenai pelaku seks bebas dan pecandu narkoba sehingga tidak heran tumbuh semacam sikap benci, tidak peduli dan acuh, bahkan mendiskreditkan penderita. Akan tetapi, dalam realitasnya, orang-orang yang berada di luar kategori kelompok beresiko ini pun tidak tertutup kemungkinan dapat tertular.

Islam Memanusiakan Manusia

Hakikat Islam sesungguhnya terlihat pada nilai-nilai kemanusiaan yang terkandung di dalamnya, dan salah satu bentuk elaborasi dari nilai-nilai kemanusiaan itu adalah pengakuan tulus terhadap kesamaan dan kesatuan manusia. Semua manusia adalah sama dan berasal dari sumber yang satu, dan pada akhirnya pun akan kembali ke asal yang satu, yakni Tuhan. Dalam Islam diyakini bahwa yang membedakan manusia hanyalah prestasi dan kualitas takwanya dan bicara soal takwa, hanya Tuhan semata berhak melakukan penilaian, bukan manusia (QS. al-Hujurat, 13).

Bahkan, dari ayat tersebut dapat dipahami bahwa tidak ada perbedaan antara manusia yang sehat dan sakit, termasuk mereka yang mengidap HIV/Aids. Sebab, yang membedakan hanyalah prestasi takwa. Belum tentu penderita HIV/AIDS lebih rendah kualitas takwanya dari yang bukan penderita. Demikian pula sebaliknya. Untuk penilaian takwa, hanya Allah yang punya hak prerogatif. Sebagai manusia, kita hanya diperintahkan untuk berfastabiqul khairat (berkompetisi berbuat kebajikan) menuju ridha-Nya.

Islam mengajarkan bahwa keberagamaan seseorang mestinya berdampak positif bagi hubungan kemanusiaan. Karena itu, ajaran Islam sangat menekankan pada dua aspek sekaligus; aspek vertikal dan aspek horisontal. Aspek vertikal merupakan ajaran Islam yang berisi seperangkat kewajiban manusia kepada Tuhan, sementara aspek horisontal berisi seperangkat tuntunan yang mengatur hubungan antara sesama manusia dan juga hubungan manusia dengan alam sekitarnya. Sayangnya, aspek horisontal ini seringkali terabaikan dalam kehidupan beragama di masyarakat. Akibatnya, dimensi kemanusiaan yang merupakan refleksi aspek horisontal kurang mendapat perhatian di kalangan umat beragama. Kebanyakan umat beragama lebih banyak mengurusi Tuhan dari pada mengurusi sesamanya manusia. Tidak heran jika kesalehan individu menjadi hal yang mengemuka. Sebaliknya, kesalehan sosial dikesampingkan.

Oleh karena itu, para pemuka agama diharapkan dapat proaktif mensosialisasikan upaya-upaya pencegahan terhadap kedua epidemi ini karena sebagaimana disinggung dalam ayat pembuka di atas, fitnah yang boleh jadi mengambil bentuk HIV/AIDS dan narkoba, bukan hanya menimpa mereka yang dzalim atau yang memiliki resiko tinggi untuk tertular, melainkan juga akan menimpa orang-orang di luar kelompok rentan tadi atau di masyarakat sering disebut sebagai “orang-orang saleh”. Bahkan, hadis Nabi berikut memberikan sinyal yang lebih kuat akan munculnya suatu fenomena yang sangat memprihatinkan itu. Diriwayatkan dari Ummi Salamah bahwa Nabi saw bersabda: “Apabila kemaksiatan telah nampak di kalangan umatku, maka Allah swt. akan menurunkan bencana kepada masyarakat semua, tanpa pandang bulu. Saya (Ummi Salamah) bertanya: Wahai Rasulullah apakah ketika itu masih ada juga orang-orang saleh?, Nabi menjawab: masih ada. Lalu saya bertanya: bagaimana nasib mereka?, Nabi menjawab: Allah pun akan menimpakan bencana kepada mereka sebagaimana ditimpakan kepada pelaku-pelaku maksiat itu (HR. Imam Ahmad).

Pelaku maksiat mendapatkan bencana akibat kejahatan mereka, sedangkan orang saleh juga mendapat bencana karena ketidakseriusan mereka memberikan pertolongan kepada yang teraniayaHadis tersebut secara jelas menggambarkan bahwa dampak epidemi itu tidak bersifat "lokal", melainkan bersifat universal. Wabah epidemi dapat menjangkiti seluruh masyarakat, baik kelompok yang rentan dan beresiko maupun yang tidak. Orang lain mendapat bencana karena ketidakpedulian mereka untuk mencegah meluasnya wabah tersebut.

Karena itu, sangat diharapkan agar umat Islam, khususnya bagi para pemuka agama, untuk segera peduli dan dan berpartisipasi aktif dalam upaya-upaya penanggulangan bahaya HIV/AIDS agar masyarakat terhindar dari bencana yang mungkin lebih dahsyat.

Terakhir, tetapi tidak kurang pentingnya adalah membimbing para penderita HIV/Aids agar mereka tetap berpandangan optimis dan positif dalam menatap kehidupan. Meyakinkan mereka bahwa hidup ini belum berakhir dan mereka pun masih punya banyak kesempatan melakukan amal shaleh dan amal jariyah sebanyak-banyaknya. Mendorong mereka untuk melakukan testimoni dalam rangka advokasi dan penyadaran kepada kelompok lain yang belum terinveksi. Membujuk mereka agar jujur menerima kondisi diri mereka apa adanya. Kejujuran dan keterusterangan mereka akan membantu orang lain tidak tertular penyakit tersebut. Mengajak mereka kampanye melakukan upaya pencegahan dan meyakinkan bahwa aktivitas tersebut merupakan ibadah yang sangat tinggi nilainya di sisi Allah. Sesuai firman Allah: Barang siapa menyelamatkan hidup seseorang, maka sesungguhnya dia telah menyelamatkan hidup semua orang (QS, 5:32). Atau hadis Nabi: Seorang Muslim adalah orang yang menyelamatkan sesamanya, baik dengan perilaku maupun dengan ucapan. []


Napak Tilas Teatrikal Sang Rasul Batak

Napak Tilas Teatrikal Sang Rasul Batak

Chris Poerba

( Intisari Tulisan Ini Sudah dimuat Majalah TAPIAN Edisi November)

Identitas Rasul Batak

Apabila diberikan sebuah pertanyaan kepada orang dari etnis batak yang menganut agama kristiani, ”Siapa saja nama kedua belas murid-murid yang dipilih Yesus ?”. Barangkali hanya satu dua orang saja yang dapat memberikan jawaban yang tepat. Kemungkinan besar hanya anak-anak yang masih rajin mengikuti kebaktian sekolah minggu dapat memberikan jawaban tersebut. Bahkan ironisnya banyak yang lebih mengingat murid-murid Yesus yang dalam kategori yang ’kurang baik’.

Banyak penganut agama kristiani, termasuk juga dari etnis batak kristen yang lebih mudah mengingat murid (rasul) Yesus yang bernama Zakheus sebagai ’pemungut cukai’, Rasul Thomas yang ’baru percaya setelah melihat’, Rasul Simon Petrus yang seharusnya menjadi ’batu karang yang teguh’ dan ’penjala manusia’ tapi pada akhirnya ’menyangkal tiga kali sebelum ayam jantan berkokok’, dan pastinya banyak yang lebih mengenal nama yang satu ini Judas Iskariot yang sering dinyatakan sebagai ’sang penghianat’.

Meskipun demikian bila diberikan pertanyaan kembali kepada orang batak kristen, ”Siapa sebenarnya Nommensen ?.” Layaknya seperti gemuruh paduan suara yang gegap gempita semua menyatakan, ”Dialah sang Rasul Batak !”. Sebuah pernyataan yang melesat cepat, yang langsung berasal dari ’alam bawah dasar’ kebudayaan batak. Sebuah pernyataan yang mungkin bagi beberapa etnis, agama dan aliran kepercayaan yang lain terkesan terlalu mengada-ada.

Ingwer Ludwig Nommensen dilahirkan di Nortdstrand sebuah pulau kecil di pantai pebatasan Denmark dan Jerman pada tanggal 6 Februari 1834. Nommensen berasal dari keluarga yang sangat miskin. Penderitaan tidak pernah jauh dalam kehidupannya. Untuk meringankan beban keluarga terutama ayahnya yang sakit-sakitan, Nommensen sudah mulai bekerja saat masih berumur 8 tahun. Berbagai pekerjaan sudah dijalani dari menggembalakan domba orang sampai menjadi buruh tani. Suatu ketika kakinya patah ketika ditabrak kereta kuda dan hampir mengakibatkannya tidak dapat berjalan sama sekali. Nommensen mulai tertarik ambil bagian dalam misi penginjilan setelah mendengar cerita dari teman-temannya mengenai kisah seorang misionaris yang mengabarkan injil hingga jauh ke pelosok terpencil di daerah pedalaman. Nommensen kemudian bernazar kepada Tuhan apabila kakinya yang patah dapat berjalan kembali maka dia akan pergi menjadi pewarta injil bagi orang yang belum mengenalnya. Nommensen akhirnya sembuh dan dapat berjalan kembali meskipun selalu menggunakan tongkat. Setelah menyelesaikan sekolah penginjil, keinginannya sebagai misionaris bagi masyarakat yang masih terpencil dimulai. Pada tahun 1862 Nommensen akhirnya menginjakkan kakinya di bumi Tanah Batak setelah sebelumnya mengunjungi Padang dan Barus. Dengan sangat antusias Nommensen akhirnya memilih daerah pedalaman Silindung sebagai misi pelayanannya.

Singkatnya, karya-karya Nommensen tidak hanya terbatas sebagai misionaris yang hanya mengabarkan injil. Dalam pertemuannya dengan kebudayaan lokal di batak, Nommensen juga menyesuaikan dirinya sebagai pengobat bagi penduduk yang terkena penyakit. Keahlian yang semakin mendukungnya dapat cepat beradaptasi dengan kebudayaan lokal. Puncaknya karya-karya yang diwujudkan oleh Nommensen, tidak hanya terbatas dalam keberhasilan ’kristenisasi’ semata seperti mengumpulkan jemaat pertama di Huta Dame (Kampung Damai), membangun gereja di Pearaja yang sekarang ini menjadi pusat Gereja HKBP, membuka sekolah penginjilan bagi penginjil batak pribumi. Karyanya juga terlihat dalam berbagai sektor lain seperti membuka lahan-lahan yang produktif untuk pertanian, memperbaiki kualitas peternakan, membuka balai-balai pengobatan dan termasuk membuka sekolah pendidikan bagi calon guru.

Meskipun demikian, yang paling penting untuk dicatat Nommensen adalah salah satu orang yang dapat mempertemukan dua buah kebudayaan yang berbeda dengan cara- cara dialogis. Bahkan dengan berpihak kepada kebudayaan batak lokal yang saat itu sangat rentan untuk ditaklukan (dominasi), padahal hal ini sangat memungkinkan selain Tanah Batak sedang dalam ekspansi kolonial Belanda, selain itu juga secara sosiologis hubungan antara satu marga dengan marga lainnya, satu kampung dengan kampung lainnya belum dapat dikatakan harmonis. Kebudayaan Batak pada kala itu masih mengalami intensitas ketegangan yang tinggi, dan sewaktu-waktu dalam memicu konflik yang berujung menjadi perpecahan termasuk perang saudara di dalamnya. Dan Nommensen berani mengambil sikap yang tetap netral dan mengutamakan cara-cara dialogis saat berada dalam intensitas ketegangan seperti itu Nommensen memperkenalkan Suku Batak kepada peradaban baru dengan pendekatan menghargai nilai-nilai kemanusiaan dari setiap kebudayaan yang berbeda.

Tahun 1891, dalam kegiatan sosialisasi penginjilan yang semakin berhasil Nommensen pindah ke Kampung Sigumpar. Pada tanggal 23 Mei 1918, di kampung ini akhirnya Nommensen menghembuskan nafas terakhirnya, dalam usia 84 tahun setelah bekerja menjadi pelayan bagi Suku Batak selama 57 tahun.

Terpilih Untuk Bersaksi

Pada tanggal 26 September 2008, digelar pagelaran drama dan tari untuk mengenang kisah perjalanan hidup Dr. Ingwer Ludwig Nommensen selama 57 tahun menyebarkan Injil di Tanah Batak dengan Tema Terpilih Untuk Bersaksi. Kegiatan ini merupakan persembahan yang dilakukan oleh Naposobulung dalam rangka Parheheon NHKBP Rawamangun 2008. Sekaligus juga dimaksudkan dalam penggalangan dana bagi Pembangunan Fasilitas Pendidikan Gedung Sekolah Minggu HKBP Rawamangun. Seperti umumnya kegiatan gerejawi lainnya, maka sebelum memulai pertunjukan drama dilakukan kebaktian terlebih dulu.

Saat tirai terbuka dan pertunjukan dimulai terlihat setting kebudayaan batak kuno pada tahun 1834. Panggung sangat hening dan sampai beberapa menit dikondisikan sangat gelap dan mencekam. Terlihat sebuah perayaan pemujaan yang dipimpin seorang Datu (dalam buku acara disebut sebagai Parbegu) pada sebuah kampung yang bernama Kampung Silindung. Datu memimpin jemaatnya untuk memohon berkat kepada Mulajadi Na Bolon, memohon berkat agar hujan yang bisa turun sehingga pertanian dapat berjalan baik serta dijauhkan dari kuasa roh-roh jahat. Datu pun berkata, ”Ale Ompung Mulajadi Na Bolon, I son ale pinompar, Jalo ma tonggo-tonggo nami on...........”. Prosesi ritual ini dilanjutkan dengan memotong seekor ayam yang langsung diiringi tarian gondang habonaran yang dipimpin oleh datu beserta raja (kepala kampung).

Pemujaan ritual ini terganggu, saat pengawal-pengawal raja menangkap dua orang misionaris dan langsung menyuruhnya untuk sujud dan menyembah kepada raja. Datu menyarankan kepada raja agar dua orang kulit putih itu dibunuh. Raja menyetujuinya, kedua orang yang dijuluki ’si bottar matta’ di bunuh, tubuhnya di mutilasi, dan jantungnya diambil untuk persembahan kepada Mulajadi Na Bolon. Perayaan yang sebelumnya terganggu bahkan semakin lebih meriah lagi. Seorang penghulu perang memimpin tarian sambil mengitari tubuh misionaris yang sudah dimutilasi. Layaknya sebuah tarian kemenangan, maka adegan pertama dari drama ini selesai.

Adegan kedua dengan setting yang berbeda langsung dimulai. Johan Von Elstrom seorang prajurit Belanda sedang mengalami kegelisahan yang dalam. Johan di datangi seorang sipir dari pusat untuk memastikan hukuman mati pasti dijalankan kepadanya. Petugas sipir yang baru datang tersebut menawarkan seorang pendeta dari Sumatra Utara untuk nantinya membacakan doa sebelum Johan dieksekusi tembak mati. Pendeta itu bernama Ingwer Ludwig Nommensen sebagai satu-satunya pendeta yang berasal dari Jerman. Johan Von Elstrom menolak keras anjuran dari petugas sipir yang juga teman dekatnya.

Keseluruhan adegan dalam drama ini tidak lebih sekitar 11 adegan. Tokoh Nommensen sebagai subjek utama dalam drama ini dimunculkan pada adegan ketiga. Saat itu Huta Silindung sedang menjalani keseharian hidup berjalan normal yang divisualisasikan dengan anak-anak kecil yang sedang asyik bermain, inang-inang sedang membersihkan beras, termasuk juga seorang pemuda yang hilir mudik dalam keadan mabuk berat sambil terus memegang botol minuman dan menghampiri temannya yang sedang berjudi. Raja juga sedang berbincang-bincang dengan datu. Tiba tiba muncul seseorang yang berjalan tertatih-tatih sambil menggunakan tongkat berkata, ”Syalom dan Horas”. Nommensen hadir di tengah kampung ditemani oleh seorang pengawalnya menemui Raja Panalangkup. Raja marah dan mengganggap Nommensen sebagai mata mata Belanda dan dianggap seperti orang yang sakit jiwa dan sedang kerasukan roh jahat. Nommensen pun menyatakan kehadirannya bukan mata-mata dan tidak sedang sakit dia menyatakan datang kesini untuk mengajarkan cinta kasih bukan kekerasan. Raja lantas semakin mengamuk dan mengancam akan membakar rumah Nommensen bahkan pada saat itu juga dia nyaris dibunuh. Nommensen diselamatkan oleh harmonicanya, yang selalu di bawanya pergi. Suara harmonicanya mengundang keingintahuan dari warga tentang alat musik ini. Harmonica ini yang menyejukkan sekaligus menyelamatkan nyawa Nommensen dari kemungkinan dibunuh saat itu.

Dalam beberapa adegan memang digambarkan Nommensen memiliki kuasa yang di imaninya berasal dari Tuhan. Terlihat saat Nommensen akan disembelih sebagai persembahan bagi Sombaon, maka saat itu juga langit bergemuruh dan hujan deras turun. Adegan lain juga menggambarkan sisi rasionalitas yang menyelamatkan nyawa Nommensen. Upaya pembunuhan kepada Nommensen juga dilakukan dengan memberikan makanan bubur beracun. Nommensen beruntung mengingat bubur yang beracun itu terlebih dulu sudah dimakan oleh anjing kesayangannya.

Prosesi keberhasilan dari ajaran kasih kristenisasi di Tanah Batak dalam drama ini juga divisualisasikan dengan jalan cerita yang cukup wajar. Pada adegan ke-9 dalam drama ini, setelah nyawa Nommensen yang sedang diujung tanduk selamat maka pada hari keempat tercium bau busuk ke segala penjuru desa. Bau busuk ini ditimbulkan dari kerbau yang sebelumnya akan dipersembahkan kepada Sombaon. Bahkan daging kerbau yang sudah busuk ini juga dimakan oleh warga kampung, alhasil banyak warga kampung yang mengidap penyakit. Pada saat ini Nommensen menawarkan bantuan pengobatan kepada warga tersebut dengan persyaratan warga-warga kampung mau meninggalkan tradisi pemujaan kepada Sombaon. Inilah titik awal penerimaan warga kampung dalam ajaran-ajaran kasih dan kemanusiaan yang dilakukan Nommensen. Warga Kampung semakin membuka diri dan membuatkan rumah bagi Nommensen. Kampung ini sendiri diberikan nama oleh Nommensen menjadi Huta Dame (Kampung Damai). Sebuah prosesi perjalanan ajaran-ajaran kasih yang masuk di akal dan tidak mengada-ada.

Menarik dalam drama ini menampilkan sosok Nommensen yang manusiawi. Sosok yang memiliki kegelisahan yang teramat dalam saat merasa bahwa dirinya gagal dalam pewartaan injil di Huta Silindung. Hal ini disebabkan karena sampai saat itu belum mendapatkan tempat tinggal, ada warga yang siap untuk membunuhnya termasuk juga khotbahnya yang selalu dijadikan bahan lelucon. Bahkan Nommensen juga tidak ingin nasibnya seperti Rasul Paulus. Kesedihan dan kegalauan ini disampaikannya kepada Pendeta Klammer. Kegelisahan Nommensen ini disampaikan kepada Pendeta Klammer yang digambarkan sedang siap untuk melaksanakan sebuah kebaktian pertamanya.

Dalam perjalanan hidup Nommensen, ternyata kegelisahan adalah salah satu yang memicunya untuk mengabarkan ajaran-ajaran kasih hingga ke daerah-daerah pelosok pedalaman. Kegelisahan yang tidak menyebabkan kasih hanya berujung pada pencapaian Huta Dame sebagai institusi semata, melainkan kasih yang terus menerus harus diwartakan.

FESTIVAL FILM RUSIA 2008

FESTIVAL FILM RUSIA 2008

( Pusat Kebudayaan Rusia Jakarta )





Dalam rangka 100 tahun perfilman Rusia. Pusat Kebudayaan Rusia mengadakan pemutaran film-film Rusia.

Jadwal Acara :

Oktober
- Bintang Penawan Bahagia (22 Oktober 2008)
- Nasib Seorang Manusia (29 Oktober 2008)

Nopember
- Kami dari Jazz (5 Nopember 2008)
- Pelarian (12 Nopember 2008)
- Andrei Rublyov (19 Nopember 2008)
- Budak Cinta (26 Nopember 2008)

Desember
- Aladdin (3 Desember 2008)
- Agonia-Rasputin (10 Desember 2008)
- Masa Kecil Ivan (17 Desember 2008)
- Malam Menjelang Natal (24 Desember 2008)

Pemutaran film akan diadakan di Auditorium Gedung Pusat Kebudayaan Rusia Jl. Diponegoro 12 Menteng Jakarta Pusat Setiap Hari Rabu Pukul 18.30 (GRATIS)

BINTANG PENAWAN BAHAGIA (ZWEZDA PLENITELNOWA SCASTYA)

Mereka memimpikan tentang kebebasan dan kemakmuran negerinya sendiri,demi hal itu mereka berani mengambil resiko dan kehilangan semuanya.Berpisah dari gemerlapnya pergaulan kalangan atas kota Petersburg yangcongkak terbuang "di kedalaman rimba Siberia" adalah jalan yang harusditempuh Kaum Desembris. Tetapi cinta istri dan tunangan yang setia menemani para pemberontak muda tersebut telah menjadi "bintang yang penawan bahagia", yang membuat mereka tetap mempertahankan martabat kebangsawanan dalam pedalaman Siberia yang dingin.

Sutradara : Vladimir Motyl
Skenario : Vladimir Motye, Oleg Osentinsky, Mark Zaharov
Pemain : Irina Kupchenko, Aleksei Batalov, Natalya Bondracuk
Durasi : 167 menit

NASIB SEORANG MANUSIA (SUDBA CELAWEKA)

Diangkat dari Novel sastrawan besar Rusia abad XX

Film ini berkisah tentang seorang prajurit bernama Andrei Sokolov yang kehilangan istri dan anaknya saat perang berkecamuk melawan tentara fasis Jerman. Dia sendiri mengalami penderitaan yang luar biasa di kamp konsentrasi Jerman. Akan tetapi kehilangan yang dialaminya
seakan-akan tidak mempengaruhi kebaikan hatinya, hal itu tidak membuatnya kehilangan jati dirinya dan ia mampu bangkit dan menjadikan dirinya seorang ayah bagi anak-anak yatim. Diperankan sendiri oleh actor dan sutradara terkenal Rusia Sergei Bondarchuk, film ini sangat
menarik ditonton.

Sutradara : Sergei Bondarchuk
Skenario : Yri Lukin, Theodor Sakhmaganov
Pemain : Sergei Bondarchuk, Pavlik Borishkin
Durasi : 103 menit

KAMI DARI JAZZ (MY IZ DZHAZA)

Pada tahun 20-an, tiga orang musisi – Kostya, Stepa dan Zhora, mendirikan sebuah grup band jazz. Setelah melalui serangkaian kejadian yang memaluan dan menyedihkan, bergabunglah bersama mereka seorang pemain saksofon bernama Ivan Ivanovich. Kelompok kecil yang pantang menyerah ini lalu merantau ke Moskow dengan harapan dapat menaklukan hati para penikmat dan pecinta musik jazz sejati. Tidak semua kehidupan kreatif mereka lalui dengan lancar, banyak kejadian-kejadian dan kegagalan-kegagalan . Tetapi mereka, dengan kecintaan yang tulus terhadap musik jazz, tetap bertahan.

Sutradara : Karen Shahnazarov
Skenario : Aleksandr Borodyanskin, Karen Shahnazarov
Pemain : Igor Sklyar, aleksandr Pankratov-Cernii, Nikolai Averyshkin
Durasi : 84 menit

PELARIAN (BEG)

Diadaptasi dari Novel Karya Mikhail Bulgakov

Perang sipil hampir berakhir. Tentara Merah melancarkan serangan-serangan yang membuat Tentara Putih lari tunggang langgang bersama-sama parapartisipan Putih yang tidak bias berdamai dengan rezim yang baru. Diantaranya terdapat Roman Khludov, dosen privat Golubkov dan Serafima Korzhukina, istri dari seorang pebisnis yang telah melarikan dirinya sendiri. Juga Jenderal Charnota. Mereka ini melarikan diri untuk mencari tempat yang lebih baik dibandingkan
negaranya yang telah hilang. Cerita mereka yang berbeda-beda namun semuanya mengisahkan tentang pehitnya hidup sebagai imigran.

Produksi : Mosfilm 1970
Sutradara dan Skenario : Alexander alov, Vladimir Noumov
Musik : Nikolai Karetnikov
Pemain : Lyudmila Savelyeva, Mikhail Ulyanov

ANDREI RUBLYOV

Film garapan sutradara kenamaan Rusia Andrey Tarkovsky ini mengangkat kehidupan seorang pelukis besar Rusia abad pertengahan Andrey Rublyov. Kisah pertentangan sang seniman besar tersebut melawan kekuasaan, kisah kesendirian seorang jenius dan keyakinannya.

Produksi : Mosfilm, 1966
Sutradara : Andrey Tarkovski
Skenario : Andrey Mikhailov-Koncalovs ki, Andrey Tarkovski
Pemain : Anatoli Solonitsin, Ivan Lanikov, Nikolai Grinko, Nikolai Segreev, Irma Raush, Nikolai Burlyaev, Yuri Nazarov, Yuri Nikulin, Rolan Bikov, Nikolai Grabe, Mikhaina Kononov, Stepan Krylov

BUDAK CINTA (RABA LYUBWI)

Di kota kecil di Krim, grup teater dari Moskow mengambil gambar drama salon "Budak Cinta". Pada peran utama diperankan oleh bintang film bisu Olga Voznesenkaya (Vera Holodnaya) dan Vladimir Malesakov. Screen operator, Viktor Plotski secara tidak legal membawa dokumen pemotretan penangkapan dan penembakan mati, yang kemudian diantarkan kota tempat tinggal bintang saingan, Demikina. Jatuh cinta pada Olga, Viktor Menchoka berusaha memenangkan cintanya itu, jauh dari arti kebenaran peristiwa politik mengenai wanita yang terjadi di Rusia.

Sutradara : Nikita Mikhailov
Skenario : Frederick Gorenstein, Andrei Mikhalkov
Pemain : Yelena Solovei, Rodion Nahaletov, Aleksandr Kalyagin
Durasi : 94 menit

ALADIN DAN LAMPU AJAIB (WOLSHEBNAYA LAMPA ALADDINA)

Versi berwarna film yang dibuat di Rusia ini berdasarkan atas dongeng yang ada di wilayah Timur Tengah. Seorang penyihir Magribi yang jahat memohon kepada bintang-bintang untuk memberitahukan kepadanya nama seorang lelaki yang dapat menciptakan keajaiban. Bintang-bintang menjawab : "Namanya Aladin". Seorang putri sultan yang cantik bernama Boudour tinggal di Baghdad. Siapapun yang berani menatapnya secara langsung akan dieksekusi. Tetapi putri cantik yang keras kepala dan tak dapat ditebak ini meminta Aladin untuk menatapnya. Saat itu adalah saat yang genting bagi Aladin, ia jatuh cinta. Dan lampu ajaib, dengan jin yang berkuasa di dalamnya siap untuk mememnuhi tiap permintaan dari tuannya, membantu Aladin untuk mempertahankan cintanya dan mengalahkan penyihir Magribi.

Produksi : Gorky Film Studio, 1966
Sutradara : Boris Rytsarev
Skenario : Viktor Vitkovich, Grigory Yagdfeld
Pemain : Boris Bystrov, Dodo Chogovadze, Sarry Karryev
Durasi : 84 menit

AGONIYA – RASPUTIN

Menggambarkan panorama Rusia tahun 1916. Negeri yang telah 3 tahun diterpa perang, yang belum jelas kapan berakhir. Kekejaman, kelaparan dan kehancuran terjadi dimana-mana, ditengah-tengah ambiguitas kemegahan dan korupsi, penguasa yang mencoba mentolerir kaum
pemberontak. Kalangan istana yang mulai merasakan kehancuran kekaisaran Rusia, ketakutan dan kepercayaan buta kepada "tokoh suci" Rasputin. Tokoh spiritual avonturir ini memasuki dan menguasai kehidupan dan kesadaran keluarga istana, termasuk pada diri Tsar dan para menterinya.

Sutradara : Elem Klimov
Skenario : Semen Lungin, Ilya Nusinov
Pemain : Aleksei Petrenko, Anatoli Romashin, Velta Line
Durasi : 78+74 menit

MASA KECIL IVAN (IVANOVA DETSTWA)

Karya Sineas Kenamaan Andrei Tarkovsky

"Film perang seperti inibelum pernah ada" puji kritikus film dan jajaran penonton karya pertama andei Tarkovsky. Lewat 40 tahun setelah versi layer lebarnya keluar, :Masa Kecil Ivan: tetap dinilai sebagai film yang actual. Ini karena film karya Tarkovsky ini bukan mengenai perag. Film ini justru mengenai kehidupan yangpenuh dengan pertentangan, mengarah kepada sisi lemah seseorang, namun disinilah perwujudan atas nilai keluhuran manusia. Dalam film ini, Ivan berumur 12 tahun seorang pahlawan mata-mata, laki-laki yaitim, remaja dengan karakter yang sulit.

Produksi : Mosfilm, 1962
Sutradara : Andrei Tarkovsky
Pemain : Nikolai Burlyaev, Valentin Zubkov, Yevgeni Zharikov

MALAM MENJELANG NATAL (NOC PERIED ROZHDESTWOM)

Malam musim dingan yang cerah, saat rembulan bersinar menerangi orang-orang yang berhati baik, agar bias lebih bahagia dalam menyambut perayaan kelahiran Kristus.

Sutradara : Aleksander Rou
Kamerawan : Dmitri Suretsky
Komposer : Arkady Filippenko
Pemain : Aleksandr Khvylya, Lyudmila Myznikova