Senin, 17 November 2008

Tafsir Novel Lanang (Menguak Tabir Hegemoni ’Prostitusi Intelektual’)

Menguak Tabir Hegemoni ’Prostitusi Intelektual’ [1]

( Pembacaan Novel Lanang Karya Yonathan Rahardjo)

Chris Poerba [2]

Kebuntuan Revolusi [3] !!!

”Konsep sentral dalam pemikiran Gramsci adalah Hegemoni, yang kerap dirumuskan sebagai kepemimpinan moral dan intelektual suatu kelompok atas kelompok-kelompok lain. Pengaruh moral dan intelektual ini yang pada gilirannya membangkitkan dukungan (consent) dan persetujuan pada kelompok yang hegemonik. Consent adalah satu sisi dari dua sisi kekuasaan. Kekuasaan adalah consent yang didukung dan diperkuat oleh koersi (coercion) atau kekerasan” [4]

Revolusi, atau lebih tepatnya Revolusi Sosial adalah saran yuang diberikan oleh Karl Marx sebagai jalan pembebasan sekaligus pewahyuan menuju cita cita tidak terjadinya lagi perbedaan dan ketimpangan kelas-kelas sosial di masyarakat. Hal ini disebabkan karena dalam masyarakat industri Marx menemukan bahwa kapital telah menjadi kapitalisme, modal yang seharusnya hanya menjadi alat tukar (kapital) semata dikonversi menjadi sebuah hasil akhir yang harus dicapai bahkan sebuah paham (kapitalisme). Kapitalisme, terjadi ketika bourjuis sudah melakukan penumpukan modal secara berlebihan termasuk menaikkan waktu sistem mekanisme kerja produksi bagi para buruh. Semua dilakukan agar menghasilkan produk dan menjualnya sebanyak-banyaknya. Dan ini beribas terbalik dengan kesejahteraan buruh.

Semakin menguatlah logika ekonomi dalam sistem mekanisme produksi yaitu memperoleh laba sebesar-besarnya dan termasuk melakukan penumpukan/ penimbunan juga mengurangi pengeluaran serendah-rendahnya. Imbasnya jurang perbedaan pada kelas-kelas sosial di masyarakat yang saling berbeda semakin terbuka yaitu proletar yang di representasikan sebagai kelas pekerja dan borjuis yang di representasikan sebagai pemilik modal. Sehingga seruan ’Manifesto Communista’ adalah jalan keluar sekaligus solusi terbaik dan terindah yang dibayangkan oleh Marx dan tentunya para Ideolog-Ideolog ’Marxis Oldschool’ (Ortodox) lainnya. Pasca revolusi kelas maka diharapkan semua dapat berdiri seimbang, setara satu dengan lainnya. Faktanya revolusi kelas sosial tidak akan pernah terjadi ? Terutama bila kita mengandaikan bahwa revolusi sosial adalah sebuah akumulasi dari setiap rasa yang sudah tertanam di alam bawah sadar dan mengumpul secara kolektif di lapisan sosial yang terendah dan yang ter-marginalisasi. Bahkan mungkin revolusi sosial yang diharapkan dengan seruan Marx ’Kaum Buruh Bersatulah’ !!! sangat sulit untuk diharapkan sebagai satu-satunya alasan dilakukannya sebuah revolusi. Revolusi sosial dengan penggulingan dominasi otoriter kekuasaan memang pernah dilakukan dan dalam kategori berhasil di berbagai belahan dunia ini seperti Revolusi Bholsevik di Rusia,[5] runtuhnya Rezim Batista di Kuba.[6] Meskipun demikian faktanya revolusi seperti tersebut sulit dan tidak akan terjadi kembali pada masa sekarang. Semuanya sudah berubah

Jurgen Habermas[7] pemikir Marxis dari Mazhab Frankfurt Jerman, menyatakan saat ini telah terjadi sebuah diskursus yang terus menerus terjadi diantara kelas-kelas sosial, termasuk diskursus yang dilakukan oleh para kelas proletar dan borjuis tersebut. Diskursus ini yang menghasilkan ’Kapitalisme Tingkat Lanjut’. [8] Mekanisme kerja kapitalisme yang jelas berbeda saat masa Karl Marx. Rasio Komunikatif dan pemahaman ’Kapitalisme Tingkat Lanjut’ versi Habermas inilah yang pada akhirnya menjadi roh bagi gerakan newleft atau kiri baru di belahan Eropa. Antonio Gramsci [9] seorang aktivis, jurnalis, dan pemikir Marxis dari Turin Italia juga menambahkan bahwa saat ini juga telah terjadi ’pertukaran sistem tanda’ dan bukan lagi ’pertempuran simbol simbol’ diantara kelas-kelas sosial dari yang terendah dengan kelas tertinggi. Sehingga akhirnya semua jarak yang tercipta di setiap kebudayaan masyarakat menjadi semakin ’tersamarkan’ meskipun sebenarnya jarak masih terbuka dan bahkan sangat lebar tentunya oleh kepentingan borjuis. Hubungan yang tersamar ini yang tidak terbuka secara lebar yang menyebabkan revolusi sosial sulit akan terjadi.

Gramsci yang juga pernah mengalami kegelisahan karena tidak hadirnya revolusi sosial di Italia dan pernah dipenjara saat Fassisme Mussolini, menambahkan bahwa revolusi tidak terjadi karena bourjuis atau pemilik sumber daya dan penguasa sudah tidak lagi menggunakan alat-alat negara seperti dengan militerisme (dominasi = hardpower) tapi menggantikannya dengan cara-cara yang lebih halus (hegemoni = softpower). Sehingga telah dirubahnya cara-cara mencapai kekuasaan. Dari sebelumnya dengan Dominasi yang memperoleh kekuasaan dengan pendekatan kekerasan baik dengan anarkhisme maupun vandalisme, telah dirubah dengan pendekatan Hegemoni dengan memperoleh kekuasaan melalui kesepakatan atau persetujuan. Bourjuis tentunya jelas memiliki kekhawatiran bila terus menerus melakukan dominasi totalitarianisme maka akan mendapat perlawanan secara terbuka pula sehingga mekanisme dilakukan dengan cara-cara hegemoni. Dominasi menjadi tersamarkan meskipun sangat nyata dalam keseharian.

Dunia ’kapitalisme tingkat lanjut’ atau dominasi yang disamarkan oleh penguasa ini jelas masih dalam logika ekonomi pasar. Sehingga hegemoni dilakukan dengan dua tahapan. Pertama, adalah sosialisasi ide-ide dan pencitraan dari bourjuis kepada proletar supaya proletar dapat mengembangkan dirinya sedikit menyerupai bourjuis. Padahal dalam kategori proletar yang telah menjadi bourjuis tetap saja dipandang sebelah mata oleh bourjuis utama. Dalam kategori ini maka proletar yang berupaya menjadi bourjuis pastinya hanya menjadi ’bourjuis abu-abu’ bisa juga dikategorikan sebagai kelas menengah. Pencitraan di sosialisasikan dengan memberikan pemahaman mengenai gaya hidup termasuk diantaranya cara berpenampilan, berbusana bahkan sampai pada berbicara. Kedua, Setelah sosialiasi ide-ide sudah gencar dilakukan tahapan berikutnya adalah menjual berbagai macam produk-produk dan teknologi. Sehingga dari konsep diatas maka yang pertama dilakukan adalah marketing ide dan selanjutnya adalah marketing produk. Sehingga diciptakanlah sebuah ’mekanisme ketergantungan’. Hal ini juga yang merupakan inti sistem kapitalisme yaitu selalu mengupayakan sebuah mekanisme ketergantungan

Dalam hal ini maka proses hegemoni sudah dimulai pada tahap pertama yaitu memasarkan sebuah ide demi kepentingan penjualan semata. Segala cara dilakukan dalam proses hegemoni dalam pengertian sosialisasi ide dari yang paling halus bahkan paling kasar. Meskipun tetap dilakukan dengan cara-cara yang halus seperti pemberian subsidi, dana bantuan, hingga bantuan hibah. Termasuk di dalamnya dengan melegitimasinya dengan sebuah kebijakan

Hegemonisasi Dalam Realitas Keseharian [10]

”Proses pembangunan hegemoni atau hegemonisasi adalah gerakan dari kepentingan korporat-ekonomis partikular atau kepentingan kelas tertentu ke kepentingan universal umum atau kehendak khusus ke kehendak umum.”[11]

Novel Lanang karya Yonathan Rahardjo yang telah menjadi Pemenang Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2006 ini mendeskripsikan sebuah sistem kehidupan dalam pola ’kapitalisme tingkat lanjut’ bahkan novel ini sanggup me-narasi-kan hegemonisasi dalam keseharian hidup. Mengingat novel dapat membuat alur cerita dan dialog-dialog panjang bahkan diskursus antar para subyek yang saling bertentangan di dalamnya. Keseluruhan substansi Novel Lanang jelas merupakan sebuah narasi besar mengenai hegemoni korporasi asing (industri farmasi global) yang telah tertanam dalam keseharian hidup Dengan bantuan sekumpulan prostitusi intelektual Sebuah upaya dari korporasi asing dalam membuat sistem dan mekanisme ketergantungan dengan bantuan prostitusi intelektual

Dalam novel ini sebenarnya tergambar bahwa desa pegunungan yang merupakan wilayah koperasi kerja Lanang tidak terdapat sebuah masalah yang dikatakan sangat mendesak untuk ditangani, apalagi dengan kebutuhan harus melangsungkan rekayasa genetik/ bioteknologi sebagai jalan keluarnya. Semua berjalan dengan alami. Diceritakan juga semua aspek berjalan dengan sangat normal seperti kelahiran anak sapi, keluarga yang rukun, peternak sapi pernah yang memiliki keinginan yang masih dalam tahap wajar, pihak koperasi juga menunaikan kewajibannya dengan baik. Sehingga habitus di wilayah pedesaan ini berjalan dengan sistem yang terkelola dengan baik.

Benang merah novel ini, adalah menceritakan Eksistensi[12] Lanang. Lanang adalah seorang Dokter hewan idealis,[13] seorang dokter muda yang profesional dan merupakan seorang.[14] Saat menjadi mahasiswa Lanang juga tergolong cerdas dengan mampu melakukan penelusuran ilmiah yang kuat karena sering melakukan riset-riset di kampus.[15] Lanang dikabarkan baru saja menikah dan langsung boyongan pindah ke pegunungan[16] karena terikat kontrak kerja dengan pimpinan Koperasi untuk mengakomodasi ratusan peternak sapi perah,[17] di sebuah kampung pegunungan wilayah koperasi tersebut.[18] Sebelumnya Lanang berpraktik di sekitar Jalan Arjuna[19]

Pasangan suami istri muda[20] ini memiliki rumah mungil di tepi jalan pegunungan[21] dan juga mobil yang selalu digunakan bepergian,[22] mobil Jip berwarna hijau mulus.[23] Lanang juga terlibat cukup aktif di grup pemuda aliran agamanya,[24] meskipun tempat ibadahnya berlokasi cukup jauh[25] Wilayah pegunungan tempat tinggal dan kerja Lanang juga pernah terjadi peristiwa kerusuhan pembuangan mayat-mayat oleh penembak misterius sebelum terjadinya kematian sapi secara misterius.[26] Puncak eksistensi Lanang pada akhirnya dituduh sebagai pembuat hewan transgenik Burung Babi Hutan[27] dan kemudian ditangkap.[28] Tidak hanya itu bahkan dijadikan kelinci percobaan oleh orang-orang dengan logo salib hijau lambang khas instansi kesehatan[29] di Laboratorim milik Doktor Dewi dalam rangka memperoleh jenis spesies yang lebih baru.[30]

Lanang menikah dengan Putri[31] yang pernah memiliki seekor anjing bernama Taro yang ditinggalkan di kota.[32] Putri berperawakan kulit kuning langsat berambut hitam mengkilat,[33] wajah mulus juga berkulit kuning langsat,[34] memiliki jari-jari tangan yang lentik,[35] memiliki bibir yang mungil[36] bola mata bening,[37] lutut kaki yang jenjang,[38] kaki yang berkulit juga putih kuning langsat.[39] Putri putus kuliah meskipun tidak berarti otaknya tumpul[40] setelah tertangkap basah oleh kedua orangnya saat bermain ’kuda-kudaan’ dengan Lanang.[41] Putri sendiri juga pada akhirnya melakukan perselingkungan dengan Rajikun saat berwujud Burung Babi Hutan[42] dan termasuk bagian konspirasi prostitusi intelektual yang didalangi oleh Doktor Dewi[43]

Novel Lanang ini berkisah tahapan proses hegemonisasi industri kapitalisme yang masuk ke dalam kenyataan hidup sehari-hari. Tahapan awal adalah diciptakannya dan dimunculkannya Burung Babi Hutan pertama kali pada saat Lanang hendak melakukan kewajiban pertamakalinya sebagai seorang suami.[44] Kemunculan Burung Babi Hutan ini sengaja untuk mengganggu habitus yang mulanya sangat tenang dan damai. Digambarkan sosok Burung Babi Hutan yang merupakan hewan transgenik

”Aneh. Di pegunungan yang bertaburan peternakan sapi perah, ternyata ada babi hutan. Babi sungguhankah ?.....Ataukah babi jadi-jadi-an ?. Yang ganjil bagi mereka, babi hutan itu punya sayap. Sangat jelas tadi kepalanya adalah kepala babi yang berbulu. Taringnya melengkung panjang dan tajam. Tubuhnya jelas tubuh babi malah lebih bulat dan berbulu hitam. Kakinya yang belakang dua sisi panjang. Kaki depan dua-duanya lebih mirip sayap. Bisa dipakai berlarinmenjejak tanah, sekaligus bisa mengepak terbang. Tamu yang telah pergi tidaklah meninggalkan jejak. Lantai, kain, beserta perabotan pun terkena dampak semprotan lendir tak lazim, berbau tak kelihatan wujudnya.” [45]

Setelah kemunculan Burung Babi Hutan atau Berwujud Babi Hutan Bersayap[46] di kediaman Lanang. Ternyata Pak Sukarya mendapati anak sapinya yang baru lahir sakit dan memanggil Dokter Hewan Lanang. Sebuah penyakit sapi yang misterius. Beberapa gejala yang ditunjukkan pada sapi perah seperti penyakit Rabies yang disebabkan oleh virus meskipun tanpa gigitan[47] dan Sapi Gila [48]

”Lanang coba memeriksa anak sapi dengan perut berbintik-bintik merah di depannya. Tiba-tiba sapi itu berdiri dengan sigap. Kuat. Seakan hendak terbang !. Namun seketika itu juga anak sapi ambruk. Anak sapi itu menggelepar-gelepar, kejang-kejang. Mulutnya terbuka, tertutup, meringis. Gigi kotor, lidah biru, gusi busuk, berbuih putih keruh. Melenguh, merintih. Menyayat-nyayat hati yang punya telinga mendengarnya. Kaki sapi terjengkang. Perutnya membesar mirip bola karet tipis yang dipompa, tapi ruang yang tersedia tidak cukup menampung udara yang mengisi. Perut makin tegang. Melembung, permukaannya mengeras.pembuluh-pembuluh darah mengurat merah, tidak plastis lagi. Retas, rapuh. Pecah !. Muncrat darah, percik-percik air merah, mengucur, membasahi permukaan tubuh. Isinya keluar, disusul kondisi yang berlawanan. Perut tegang itu melembek, lunglai. Isi perut terburai. Dinding kulit perut paling luar pecah. Lalu dinding dibawahnya. Lalu pelapis lebih dalam. Lalu dibawahnya lagi. Dinding dinding organ dalam terbelah. Dari sekujur kulit, otot dan organ-orgaan itu muncul bisul-bisul merah, biru, hijau, hitam keruh” [49]

Penyakit pada anak sapi perah ini kemudian mengakibatkan wabah dan epidemi kematian pada sapi-sapi perah secara beruntun.[50] Di informasikan juga wabah tidak hanya terjadi di area koperasi peternakan sapi Lanang dan sudah meluas.[51] Uniknya wabah penularan hanya terjadi pada sapi-sapi perah, sedangkan sapi potong tidak terserang. Dan juga tidak ada penularan dari sapi perah ke sapi potong.[52] Sehingga banyak peternak yang menyulap sapi perah menjadi sapi potong dengan mengecat kulitnya dan berbagai cara lainnya tapi tetap saja sapi potong buatan tersebut mati.[53] Wabah peyakit ini semakin dikhawatirkan karena gejalanya seperti penyakit Rabies dan Sapi Gila dan juga kemungkinan suatu saat dapat berubah menjadi Antraks, Burung Ganas, Tuberkulosis, Tetanus, bahkan Busuk Otak dan penyakit buruk lainnya.[54]

Puncak kekalutan akhirnya tidak hanya terjadi pada area peternakan Lanang tapi juga bagi para dokter hewan lain, bahkan sampai kepada pemerintah baik pemerintah lokal maupun pemerintah pusat.[55] Kekalutan ini juga menyebabkan kericuhan dalam birokrasi instansi yang terkait sebut saja Laboratorium Kehewanan setempat,[56] Kepala Dinas Kehewanan yang membawahi Daerah,[57] Ahli Kedokteran Hewan,[58] Perhimpunan Dokter Hewan Nusantara sebagai lembaga profesi dokter hewan,[59] Birokrasi yang dapat melibatkan Camat, Muspika dan Tim Koordinasi Pemberantasan Rabies Dinas Kesehatan serta, aparat Karantina.[60] Bahkan telah sampai tahap siaga satu sehingga Menteri Kehewanan sebagai puncak institusi bidang peternakan dan kehewanan mengeluarkan penyataan. [61]

”Kita harus mengerahkan berbagai instansi untuk secara lebih dalam menyidik kasus ini. Maka identifikasin virus dilakukan oleh tim yang dibentuk terdiri dari Balai detektif penyakit Hewan Langit merah, Balai Investigasi Penyakit Peternakan Langitmendung, Balai Pengujian Kualitas Obat Hewan Manjur Langitungu, Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Tanahlurus, Fakultas Kedokteran Tanahbecek, Fakultas Kedokteran Hewan Tanahmiring”

Dengan arahan yang tebilang klasik

”Perlu langkah-langkah pengendalian dengan menutup dan mengisolasi lokasi serta area kejadian. Laporkan kasus kepada dinas yang melaksanakan fungsi peternakan dan kesehatan hewan setempat dan atau Departemen Kehewanandalam waktu dua puluh empat jam. Selain itu lakukan pemusnahan ternak sakit dan ternak mati serta sanitasi dan desinfeksi terhadap fasilitas peternakan. Dilarang jual beli daging sapi dari peternakan yang terinfeksi. Perlu partisipasi masyarakat persapian dalam memelihara ketenangan masyarakat.”[62]

Kehadiran Burung Babi Hutan yang merupakan makhluk transgenik ternyata sengaja diciptakan untuk memberikan kekacauan pada sistem yang ada. Hal ini dilakukan oleh berbagai aktor yang memiliki topeng-topeng kemanusiaan meskipun pada akhirnya demi logika ekonomi semata. Keberhasilan hegemonisasi ditunjang dengan mekanisme dan jaringan prostitusi intelektual yang melibatkan sejumlah pelacur-pelacur intelektual dan jaringan kerjanya, seperti Dokterandus Sukirno yang menjabat sebagai Pemimpin Koperasi,[63] Penagih hutang ’Bank Kredit Menyicil’ di Lokalisasi-nya Rafiqoh.[64] yang ternyata juga termasuk dalam skema jaringan pelacur intelektual,[65] Mister Robert, Dokter hewan bule lulusan universitas ternama di luar negeri,[66] Konsultan dan Anggota Dewan Pakar Kesehatan Hewan Nusantara,[67] Tamu dari Badan Kesehatan Hewan Dunia, baru bergabung dengan perusahaan besar di Nusantara,[68] kekasih Doktor Dewi[69] dan pada akhirnya juga anggota dan membantu di Divisi Pakan Ternak Transgenik,[70] Rajikun mulanya disebut sebagai pengamat peternakan dan kesehatan hewan, tapi bukan Dokter Hewan[71] dan dinyatakan sebagai Dukun Hewan,[72] juga merupakan bekas pemimpin agama dipecat karena tindakan asusila,[73] juga bersetubuh dengan Putri saat menjadi Burung Babi Hutan,[74] yang ternyata adalah Kepala Divisi Obat Transgenik untuk Hewan,[75] dan otak utama dari proses hegemonisasi prostitusi intelektual ini didalangi oleh Doktor Dewi Maharani,[76] pernah menjadi kekasih Lanang semasa kuliah[77] dimana hubungan mereka putus setelah Dewi menginginkan Lanang mengikuti agama kepercayaannya,[78] seorang dokter dengan latar belakang bioteknologi kehewanan,[79] yang ternyata memegang Divisi Ternak dan Hewan Transgenik[80] sekaligus Pimpinan Institut Peduli Kesejahteraan Total.[81] Bahkan Putri istri Lanang juga terlibat konspirasi karena kedekatannya dengan Dewi semasa kuliah

Pada saat terjadinya kekalutan maka diberikan isu berkembang di masyarakat yang masih tradisional. Termasuk digulirkan di berbagai pertemuan seperti Pertemuan di Kementrian Kehewanan yang jelas berupaya mendiskreditkan pemerintah terkait didalamnya ketidakmampuan profesi dokter hewan birokrasi.

”Saya punya kesimpulan, rencana pernyataan bahwa penyebab kasus itu adalah Burung Babi Hutan merupakan pertanda ketidakmampuan dokter hewan dan birokrat kita bekerjasama dengan banyak pihak dan membuktikan kasus ini secara ilmiah.” [82]

Langkah berikutnya yang dikerjakan prostitusi intelektual tersebut melakukan birokrasi prosedural dari tingkat terendah sampai tertinggi. Dalam novel ini prostitusi intelektual berharap dapat memegang semua kepala penentu kebijakan negeri[83] dengan memaksa Menteri Kehewanan untuk mengatakan secepatnya ke publik bahwa penyakitnya adalah Burung Babi Hutan[84] dan mengesampingkan para ahli yang berseberangan.[85] Menteri Kehewanan ’dipaksa’ untuk mengeluarkan pernyataan utama bahwa penyebab kematian sapi perah adalah Burung Babi Hutan dengan bujukan bahwa obat penangkalnya pasti akan ditemukan termasuk juga mengundang ke laboratorium yang akan membuat obat tersebut termasuk untuk tentunya juga mengenalkan perusahaan obat tersebut.[86] Mekanisme ini juga dilakukan dengan melakukan suap kepada penguasa.[87] Semua mekanisme tersebut bahkan hampir melanggar prosedur yang terlebih dahulu harus mendengar pendapat dari Tim Penyidik Penyakit Sapi Nusantara.[88] Pada akhirnya pengumuman penyebab penyakit dinyatakan juga yaitu Burung Babi Hutan oleh Tim Ahli Pemerintah atas wewenang Meteri Kehewanan.[89] Pernyataan menteri yang bersifat resmi ini merupakan persetujuan dan legitimasi lisan, sekaligus menjadi pintu masuk yang terbuka lebar bagi eksperimen-eksperimen selanjutnyta dari para prostitusi intelektual (Mister Robert, Rajikun, Sukirno dan Doktor Dewi sebagai dalangnya).

Sedangkan pada saat tertangkapnya Burung Babi Hutan, maka prostitusi intelektual memberikan klaim legitimasi ke publik atas keberhasilannya, maka diadakan Undangan Seminar Nusantara Pengenalan Teknologi Canggih Peternakan Pasca Bencana Nusantara Penyakit Misterius[90] yang difasilitasi oleh Institut Peduli Kesejahteraan Total sendiri,[91] dengan pembicara beberapa ahli dari Negara Adidaya, Negara Adikuasa dan dua pakar dari Negara Nusantara. Pakar dari Negara Nusantara sendiri adalah Doktor Dewi Maharani dan Dukun Hewan Rajikun. Kedua pelacur intelektual ini pada akhirnya melakukan legitimasi di publik

Semua tahapan hegemonisasi (untuk mencapai hegemoni = persetujuan) yang dilakukan prostitusi intelektual esensinya berupaya melakukan perombakan total terhadap sistem dan konsep yang telah baku di Koperasi wilayah peternakan Lanang yang terkait dengan Sistem Sumber Daya Alam, Sistem Sumber Daya Manusia, Sistem Sumber Daya Fisik, Sistem Administrasi, Sistem keuangan, sistem pendukung, relasi, para mitra kerja, berasal dari berbagai kelompok masyarakat yang saling berhubungan.[92]

Pada akhirnya prostitusi intelektual memperoleh persetujuan dari publik dan dari penguasa. Puncak hegemoni ini dengan diberikannya sebuah legitimasi resmi atau surat resmi dari sebuah kekuasaan.

”Dewi melirik tulisan pada sampul berkas pertama : Memorandum of Understanding between Nusantara Country with World Animal Health Organization, Di bawahnya tertulis Pengendalian Wabah Misterius penyakit Sapi Perah. Dokumen itu dibuka Dewi, ia baca..................Selanjutnya , untuk memelihara dan menjaga kondisi sapi-sapi perah pengganti ternak yang telah mati, agar dapat aman dari serangan penyakit berikutnya , dibutuhkan obat pencegahan yang dicampur dalam pakan ternak untuk dikonsumsi oleh sapi perah secara berkelanjutan pada periode tertentu umur sapi. Obat yang direkomendasikan Badan Kesehatan Dunia dapat diperoleh satu-satunya di Institut Kesejahteraan Total sebagai satu-satunya produsen yang ditunjuk, dengan masksud untuk menghindari kekacauan pengelolaan.[93]

Pada tataran ini maka sistem dan mekanisme yang baru sudah ter-konstruksi dan berhasil menggantikan sistem yang lama. Sistem baru ini menjadi dasar bagi mekanisme berkelanjutan dalam bingkai kapitalisme, yaitu keberlanjutan menjadi ketergantungan.

” Nusantara mengimport kedelai sejumlah sejuta ton lebih, bungkil kedelai tujuh ratus ribu ton, dan jagung enam ratus ribuan ton......Nusantara juga mengimpor susu sapi sejumlah enam ratus ribuan ton susu bubuk dan susu yang diproses, daging sapi delapan ribuan ton, dan daging hari lima ribuan ton. Semua bahan impor ini berasal dari beberapa negara yang mengizinkan penggunaan teknologi rekayasa genetika dalam proses produksinya. Tujuh puluh persen pakan ternak di Negara Adimaju ini mengandung transgenik.” [94]

” Surat resmi dari Kementerian Kehewanan Negara Nusantara Harap segera..... Hmm.....surat order.....Harap segera dikirim hormon transgenik untuk meningkatkan produksi susu, sejumlah Bonvine Somatotropin Hormon yang dapat meningkatkan produksi susu dua puluhan persen serta memperpanjang masa menyusui.” [95]

Lebih jauh dari Novel Lanang, ternyata tidak terdapat keterkaitan antara Burung Babi Hutan mahluk transgenik yang menyebabkan kematian sapi perah. Burung Babi Hutan ternyata hanya digunakan sebagai pengalih perhatian. Sedangkan sumber utamanya dari kematian sapi perah adalah zat rekayasa genetika sendiri.

”Selain itu, Burung Babi Hutan dikorbankan sebagai penyebab kematian sapi perah jelas untuk mengalihkan perhaatian masyarakat dari penyebaran zat kebodohan dan kemalasan yang kota sebar itu. Juga, karena Burung Babi Hutan kurang bermanfaat, karena telah terjadi persilangan negatif dari sifat kedua makhluk induknya yang menyebabkannya tidak bisa berumur lam. Makhluk itu hanya bisa sampai ditembaak Lanang sesaat kehadirannya di depan lelaki itu, yang merasa mampu mendatangkan Burung Babi Hutan dengan umpan dan medium biji-biji kebajikan takhayul” [96]

” Ia adalah persilangan antara gen kebodohan dan gen kemalasan yang ada pada diri setiap manusia. Apa wujud dari persilangan ini ?. Zat rekayasa genetika[97]

Sehingga pada dasarnya ternyata sebuah sistem secara terus-menerus, perlahan-lahan sudah disusupi dan diinjeksi dari kekuatan luar secara halus. Proses hegemonisasi ternyata tanpa disadari telah berlangsung dengan waktu yang cukup lama. Dalam kasus pada novel Lanang maka hegemonisasi memang sudah berlangsung bahkan sebelum hadirnya prostitusi intelektual. Meskipun pada akhirnya prostitusi intelektual semakin mempercepat pembusukan pertahanan diri dari sistem tersebut.

” Bagaimana kok bisa mematikan sapi-sapi perah ? Begitu sapi perah mengkonsumsi pakan ternak transgenik yang kita pasok dan sebarkan ke seluruh peternakan Nusantara, gen kebodohan dan kemalasan itu langsung menyerbu setiap mekanisme pertahanan tubuh sapi perah. Membuat sapi perah sudah tidak meengenaali lagi mekanisme pertahanan sendiri, apalagi menimbulkan reaksi melawan penyakit. Sehingga, apapun penyakit yang masuk akan memunculkan gejaala parah yang berubah-uubah sesuai jenis penyakit yang ada. Tapi tak bisa diobati karena penyebab tunggalnya memang dihilangkan oleh gen silang tadi.” [98]

Kritik Dari Novel Lanang

Pengetahuan Dari Barat ?

Novel Lanang memberikan sumbangan bagi kritik pengetahuan formalitas barat, karena terlihat digambarkan bahwa terus-menerus terjadi pertukaran simbol dari beberapa kelas yang berbeda. Justifikasinya pengetahuan di barat lebih maju sehingga sangat mendesak untuk dipelajari bila tak ingin tergilas oleh kemajuan jaman. Simbol itu yang selalu di-diskursus-kan dalam setiap kenyataan kesehariaan. Padahal esensinya adalah untuk apa ilmu itu dipelajari ?. Dalam kasus kenyataan keseharian hidup di desa Lanang sudah sangat jelas tidak digambarkan sebuah kondisi yang kekeringan, kelaparan yang menuntut solusi membutuhkan sampai produk pakan ternak dari rekayasa genetika. Sehingga terlihat barat yang memerlukan habitus baru untuk eksperimen dan pemasaran ilmu dan pengetahuan termasuk didalamnya teknologi-teknologi yang terbaru.

”Menurut saya, kalau ia tetap merasa yang paling benar, itulah wataknya. Ia tidak menghormati kebenaran ilmiah yang berabad-abad bisa dipertanggungjawabkan secara universal. Sifat kebenaran masalah, dimana-mana sama, sejajar, setara, egaliter.[99]

”Yang kurang dikenal kalangan medis dolter hewan adalah soal pengobatan tradisional. Sedari kuliah, kepada calon dokter hewan hanya dikenalkan teori anatomi hewan dari kacamata barat, dengan peta antomi tubuh yang dikenal sampai sekarang secara umum. Padahal peta-peta anatomi yang lain juga ada, seperti anatomi aura,reiki, anatomi yang dikenaala kalangan agama tradisional, yang juga menunjukkan peta-peta tubuh tubuh meski tidak lazim dijumpai pada anatomi modern yang selalu dikenal dan diajarkan di kuliah. Dengan mempelajari ilmu-ilmu yang dianggap aneh di dunia kedokteran barat ini kita bisa memahami peyembuhan sapi sekarat oleh Dukun Hewan Rajikun ” [100]

Kokohnya pengetahuan barat ini yang secara sadar dan tak sadar pada akhirnya mengaburkan sebuah kenyataan ’masih ada jalan alternatif lain’ yang bersifat ke-lokal-an dan berwawasan kearifan tradisional. Sebuah ilmu dan pengetahuan yang diwariskan secara turun termurun dan merupakan tanggung jawab bagi generasi mendatang.

”Sementara sebetulnya, banyak alternatif pengobatan alamiah yang lebih aman bagi tubuh ternak juga bagi manusia yang rata-rata menjadi konsumen produk asal ternak. Alternatif itu berarti melengkapi ! Bukan menggantikan. Bermakna : pilihan, Lanang ikut Bicara.Kan sudah ada buktinya pengobatan homeotapi bisa memberi kesembuhan. Akupuntur, akupresur, pengobatan tanaman tradisional: juga bisa. Ucapnya mengalir bagai air sungai yang deras” [101]

”Bukankah kita bertahun-tahun bergulat di bidang ini dan melakukan semua selama ini untuk mengejar hal yang sama ? Bukankah khazanah perdukunan hewan itu bisa memperkaya sekaligus memperbesar dunia kita ? Bukankah itu warisan leluhur kita ? Mengapa kita harus selalu mengekor ilmu barat tapi melupakan akar budaya serta kearifan tradisional seperti yang ditunjukkan Pak Rajikun itu ?” [102]

Etis - kah Rekayasa Genetik ? [103]

Bioteknologi aslinya didefinisikan sebagai segala macam pekerjaan di mana produknya dibuat dari bahan dasar dengan bantuan orgaanisme kehidupan. ....Awalan bio berarti kehidupan. Sedangkan teknologi didefinisikan sebagai cabang dari ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan ilmu terapan.......... Penerapan bioteknologi merupakan suatu tindakan praktis, melibatkan penerapan ilmu pengetaahuan pada pengaturan proses kehidupan.” [104]

”Memang setelah teknologi berkembang pesat, sekarang gen bisa dipindah-pindah atau ditukar-tukar. Misalnya gen kunang-kunang dipindahkan ke tikus dan jagung. Atau gen dari ikan flounder yang hidup di daerah dingin disisipkan ke tomat.Gen tembakau petunia diselipkan ke gen selada dan ketimun. Gen lalat buah ke manusia. Gen dari virus ke melon.” [105]

“Biotech is Godzilla” [106]

Arsitektur Hijau didirikan pad

Rekayasa genetik adalah sebuah kemajuan dari ilmu pengetahuan dan teknologi. Rekayasa genetik merupakan sebuah kemampuan pengetahuan yang dapat mengetahui termasuk memanipulasi manusia pada awal ciptaannya. Rekayasa genetik dan kloning merupakan sebuah ilmu pengetahuan yang dapat mengetahui dan menciptakan ikwal makhluk hidup pada sekitar permulaan eksistensi manusia. Pengaruh terbesar dan dampak yang dapat terjadi dengan adanya penggunaan rekayasa genetika adalah perombakan total piramida rantai-rantai makanan yang sudah tersusun secara alami. Disamping tentunya rekayasa genetik ini sendiri berdampak negatif. Sehingga diperlukan batasan seperti

”Titik tolak hewan transgenik itu dari benda yang sangat kecil ukurannya dalam tubuh tertapi perannya sangat penting yang disebut gen, yang bertugas menentukkan berbagai sifat makhluk hidup.......termasuk soal mangsa-memangsa[107]

”Transgenik sebagai bagian dari perkembangan bioteknologi tidak hanya mempunyai manfaat positif. Dampak negatifnya jauh lebih banyak, dan harus dipikirkan dengan sikap hati-hati dan bijaksana. Agar kemajuan ilmu pengetahuan serta teknologi bukan malah merusak tatanan kehidupan manusia. Tapi justru meningkatkan kesejahteeraan, penuh moral, dan etika” [108]

”Namun kalau keberanian ini justru merusak dan mengacaukan tatanan kehidupan, ya buat apa ? Lihat saja dengan teknologi rekayasa genetika telah memuncullkan hewan-hewan yang mudah terserang berbagai jenis kanker, diabetes, alergi, mudah terserang penyakit, bibit penyakit menjadi kebal terhadap antibiotik, dan menimbulkan gangguan kesehatan dalam jangka panjang sekalipun.......Pertimbangkan juga dampak negatif terhadap lingkungan dari munculnya makhluk transgenik. Spesies ini sangat mungkin bisa mengalahkan spesies alami dan mengurangi keanekaragaman hayati, berubah perilakunya dibanding organisme asli, mengganggu rantai makanan dalam suatu ekosistem, mengganggu kehidupan organisme non- target dalam lingkungan. Seperti orang yang makan daging, susu yang diproduksi dengan trangenik : ternyata berisiko kena kanker payudara, kanker prostat, kanker paru-paru, dan usus. Padahal maksud dibuatnya transgenik daging dan susu ini semula untuk meningkatkan kualitas atau kuantitas produk daging atau susu saja...........Apalagi ternyata, masih banyak alternatif lain dengan teknologi yang ramah lingkungan yang bisa menjawab permasalahan pemenuhan kebutuhan pangan itu sendiri[109]

Rekayasa genetik dapat mengakibatkan manusia lupa akan hakikatnya sendiri dan berupaya mendefinisikan ulang sistem kehidupan. Khotbah Doktor Dewi di dalam kawasan industri transgenik[110] di hadapan sejumlah hewan transgeniknya seperti Pulan gadis aneh yang wajahnya mirip Lanang dan Putri, seekor sapi berpenampilan rapi, seekor domba betina gemuk, dua ekor kera yang sedang berayun.[111] Layaknya Tuhan saat melahirkan semesta alam, sehingga ilmu pengetahuan menjadi Tuhan.

Kalian bukan sembarang sosok yang menjadi bagian dari hidupku. Kalian hadir di bumi indah ini karena penerapan bioteknologi yang merupakan sebuah suatu tindakan praktis, melibatkan penerapan ilmu pengetahuan pada pengaturan proses kehidupan. Para bapak dan ibu kalian, kami ini, telah terus menerus menghadapi tantangan peningkatan efisiensi produksi pada pengembangan dan penggunaan teknologi yang modern pada hewan..........Dengan memadukan kemajuan pada bidanng biologi sel dan molekuler, biokimia dan ilmu komputer, kalianlah perwujudan niat kita untuk mengubah jalan kita melihat dunia dan merevolusi bidang pertanian dan kedokteran. .................Kita juga mendefinisikan kembali industri kehewanan, kerjasama antara perguruan tinggi dan sektor swasta, dan penciptaan tantangan dan kesempatan bagi kaum pertanian, ilmuwan dan pengusaha yang selama ini tidak terbayangkan” [112]

Sebagai Penutup, novel ini jelas menggambarkan sebuah proses hegemonisasi yang berlangsung secara perlahan-lahan, terus-menerus berkesinambungan dan berkelanjutan dalam sistem kehidupan. Pada suatu masa maka mengkristalnya hegemoni ini akan menjadi lebih dikhawatirkan karena membuat sebuah sistem akan membusuk secara perlahan-lahan tanpa disadari. Disaat sudah membusuk dan sekarat maka terjadi keterlambatan dalam menyikapi masalah. Bahkan ironisnya ’tubuh diri’ dari sistem yang sekarat tersebut pada akhirnya menyerah dan akan memilih melakukan ’bunuh diri’. Meronta-ronta minta dibunuh.

Sehingga novel Lanang ini selain menarasikan hegemoni yang sudah menggerogoti sistem kehidupan juga menawarkan jalan keluar agar kita terus menyikapi proses hegemonisasi tersebut dengan menjadikan novel ini sebagai bahan refleksi termasuk juga resistensi. Resistensi tentunya tidak hanya dilakukan dengan aksi massa semata, tapi juga melakukan resistensi dengan memperkuat pertahanan diri. Melakukan resistensi atau perlawanan dalam setiap proses hegemonisasi ini menjadi semakin penting disaat hegemoni belum berubah menjadi dominasi. Dalam novel lanang maka kekhawatiran adalah hegemoni pengetahuan asing akan menjadi dominasi pengetahuan.

Selain novel Lanang ini menarasikan proses hegemonisasi yang berlangsung dalam keseharian, dan menawarkan sebuah resistensi atas proses hegemonisasi tersebut. Maka novel ini merupakan kontribusi dari penulisnya Yonathan Rahadrjo bagi ruang publik (baca = republik) ke-Indonesia-an kita. Kontribusi dari penulisnya yang juga seorang dokter hewan yang bukan hanya mengenalkan lebih jauh kepada khalayak umum mengenai kontekstual masalah dalam profesi kedokteran hewan, melainkan kontekstualisasi ke-Indonesia-an kita. Novel ini juga jelas sebuah opini dari penulisnya yang terkandung muatan-muatan moral dan etis sebagai ’civil society’ (baca = masyarakat/ komunitas warga) di ruang kepublikan Indonesia. Akhir kata novel ini adalah sebuah kekuatan perjuangan dari ’civil society’ di Indonesia. Sebuah novel yang dapat menjadi inspirasi bagi setiap ’civil society’ dari berbagai komunitas di Indonesia seperti sastrawan, peneliti, jurnalis, aktivis lingkungan, intelektual organik, dan masih banyak yang lainnya.

-------------------------------------------------------------------------------------------------------

NB :

Dibawah ini ada beberapa kata yang membingungkan dan membutuhkan penjeasan dari penulis Novel Lanang :

ü Dalam belantara onak hati Lanang sendiri........[113]

ü Terjadi kebingungan saat Lanang berhasil menembak seekor ular piton[114] yang sebesar betis tapi kemudian yang dicungkilnya adalah ular bangkai kobra[115]

ü Lanang tepekur[116]

ü Kau dan aku adalah pasangan melantai dalam onak berderet berkepanjangan[117]

ü Rangket Rajikun[118]

ü Dalam lahan berkapasitas ronak [119]

Mantra japa kelakari hujan ap


[1] Tulisan merupakan uraian-uraian dari pembacaan Novel Lanang dan disajikan pada Diskusi Novel Lanang, di Lokasi H.B Jassin Hari Senin, Tanggal 30 Juni 2008. Sederhananya saya menyatakan prostitusi intelektual karena ilmuwan sudah bukan lagi bekerja atas dasar kemanusiaan, bahkan juga ilmu dan pengetahuan. Melainkan hanya logika ekonomi semata. Dalam Novel Lanang memang terdapat kata Pelacur ilmiah yang dinyatakan dibagian itu adalah ilmuwan yang melakukan diagnosa dan penanggulangan penyakit tidak masuk akal apalagi kaidah kaidah ilmiah. Tapi saya lebih mengandaikan prostitusi intelektual dengan sebuah sekumpulan pelacur-pelacur intelektual yang tidak memiliki tanggung jawab ilmuwan (kemanusiaan) dan telah memiliki jaringan yang kuat.

[2] Peneliti. Penikmat musik dari genre metal dalam setiap sub genre (heavy, power, speed, progressive, symphony, trash, death, core) dan extreme metal lainnya terutama Deathmetal & Grindcore. Paling menyukai Judas Priest, Helloween, Dream Theathre, Angra, Napalm Death, Carcass, Tengkorak, Dead Vertical.

[3] Menurut hemat saya revolusi atau lebih tepatnya revolusi sosial adalah sebuah antitesis dari evolusi sebuah perubahan yang bertahap dan memakan waktu yang lama. Revolusi sebuah perubahan yang cepat, drastis untuk membangun sebuah sistem yang baru dan lebih baik dari sistem yang sebelumnya. Revolusi tidak selalu identik dengan aksi massa dengan gelombang demonstrasi bahkan pertumpahan darah. Mungkin hal tersebut bisa menjadi pemicu revolusi sosial tapi esensi yang terpenting adalah perubahan yang dihasilkan.

[4] Imam, Roberth ”Civil Society dalam Pemikiran Antonio Gramsci”. Makalah Extension Course Filsafat, Tema Kuliah Ruang Publik = Menyelami Konsep, Dinamika dan Aktualitasnya. Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. 2008.

[5] Pada tahun 1917 Revolusi Bholsevik digerakan oleh para kelas buruh di pabrik.

[6] Fidel Castro, Raul Castro tentunya Ernesto ‘Che’ Guevara berhasil menjatuhkan dominasi kekuasaan dan militerisme Rezim Batista setelah melakukan perlawan gerilya di Hutan Belantara ’Sierra Maestra’.

[7] Jurgen Habermas seorang filsuf dan pemikir sosial dari Mazhab Frankfurt (Frankfurt School) Jeman. Habermas bahkan lebih besar dari anggota lainnya seperti Theodore Adorno, Horkheimer, Herbert Marcuse, Walter Bejamin bahkan Erich Fromm (sang psikososial marxis). Idenya yang terkenal seperti rasio komunikatif, demokrasi deliberatif. Beberapa dan bahkan semua ide-ide habermas dijhadikan sebagai kerangka keerja oleh para habermasian yang bermuara pada kiri baru (new left)

[8] Kapitalisme tingkat lanjut tentunya tidak bisa hanya dipertentangan dan mengandalkan para ideolog - ideolog ’marxis old school’ yang secara terus menerus menyatakan buruh inti semua perubahan dalam masyarakat industri. Perjuangan level ini perlu tapi belum tentu signifikan mengingat buruh hanya salah satu sektor di masyarakat industri.

[9] Gramsci pernah berada dalam kondisi yang serba bingung ketika revolusi tidak datang saat semua perangkat-perangkatnya sudah disiapkan. Gramsci di penjara saat masa fasisme Il Duce Mussolini.

[10] Semua bagian dari naskah ini berupaya mengambil benang merah dari proses hegemonisasi yang telah dilakukan oleh prostitusi intelektual dalam memperoleh kekuasaan dengaan pendekatan menuju kesepakatan dan persetujuan. Semua kutipan diambil dari Novel Lanang.

[11] Imam, Roberth ”Civil Society dalam Pemikiran Antonio Gramsci”. Makalah Extension Course Filsafat, Tema Kuliah Ruang Publik = Menyelami Konsep, Dinamika dan Aktualitasnya. Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. 2008.

[12] Keseluruhan novel Lanang ini jelas merupakan eksistensi-pergumulan-perjuangan hidup seorang Lanang yang tidak hanya dihadapkan dengan sistem hubungan sosial yang Patriarki, melainkan juga terkait sistem kapitalisme global yang terkait dalam memasok obat-obatan bagi hewan dengan berbagai cara-cara yang diluar kemanusiaan.

[13] Rahardjo, Yonathan.“Lanang”. Alvabet. Cetakan Pertama Mei 2008. (Baca hlm 6)

[14] Baca hlm 20

[15] Baca hlm 49

[16] Baca hlm 6

[17] Baca hlm 6

[18] Baca hlm 27

[19] Baca hlm 85

[20] Baca hlm 46

[21] Baca hlm 45

[22] Keberadaan Lanang memiliki mobil pertama muncul (4)

[23] Baca hlm 304

[24] Baca hlm 77

[25] Baca hlm 77

[26] Baca hlm 36

[27] Baca hlm 295

[28] Baca hlm 376

[29] Baca hlm 388

[30] Baca hlm 388 – 414

[31] Keberadaan Putri pertama kali hadir di awal cerita (1) dan diketahui sebagi istri Lanang dan bernama Putri (5)

[32] Baca hlm 7

[33] Baca hlm 47

[34] Baca hlm 70

[35] Baca hlm 48

[36] Baca hlm 51

[37] Baca hlm 57

[38] Baca hlm 76

[39] Baca hlm 58

[40] Baca hlm 47

[41] Baca hlm 347

[42] Baca hlm 314

[43] Baca hlm 346

[44] Baca hlm 10 - 14

[45] Baca hlm 14.

[46] Pada bagian ini Burung Babi Hutan dianggap sama dengan Babi Hutan Bersayap. Menujuk pada satu jenis hewan transegenik yang sama

[47] Baca hlm 40

[48] Baca hlm 62

[49] Baca hlm 23 – 24

[50] Mulai terjadi kekalutan pada area peternakan akibat kematian sapi perah yang berimbas pada kehidupan petani ternak (hlm 25 – 26) yang berlokasi

[51] Baca hlm 27 -28

[52] Baca hlm 30

[53] Baca hlm 38

[54] Baca hlm 66

[55] Baca hlm 56

[56] Baca hlm 29

[57] Baca hlm 37

[58] Pada saat ini peran Ahli Kedokteran Hewan sudah mulai dipertanyakan. Terkait otoritasnya dalam penanganan kasus kematian sapi (41 -42)

[59] Baca hlm 130

[60] Untuk mencegah masuknya rabies dari luar wilayah (hlm 64)

[61] Baca hlm 65 - 66

[62] Baca hlm 88 - 89

[63] Baca hlm 101

[64] Baca hlm 368 – 373. Rafiqoh, seorang pekerja seks komersial di lokalisasi (113)

[65] Baca hlm 361

[66] Baca hlm 244

[67] Baca hlm 243

[68] Kemunculan pertama Robert saat tepon dengan Doktor Dewi (145)

[69] Baca hlm 263 – 264. Bertemu saat pesta Tahun Kebangkitan Kehewanan Dunia (325)

[70] Baca hlm 360

[71] Nama Rajikun mulai hadir pada saat pertemuan di Metropolitan (hlm 97)

[72] Baca hlm 102. Dalam posisinya sebagai Dukun Hewan Rajikun yang pertama kali menyatakan bahwa Burung Babi Hutan adalah perantara penyebaran kuman yang menyebabkan kematian pada sapi perah (103)

[73] Bahkan Rajikun juga merupakan bekas pemimpin agama dipecat karena tertangkap basah oleh Lanang melakukan kegiatan asusila pada anak gadis jemaat meskipun dia sendiri sudah memiliki anak dan istri (310)

[74] Baca hlm 81 -84

[75] Baca hlm 359.

[76] Pertama kali disinyalir hadir dalam pembicaraan di telpon bersama Putri (48 – 49) dan berada duduk di kursi pimpinan yang dimejanya terpajang miniatur–miniatur hewan yang sosoknya aneh (58). Doktor ayu dengan wajah yang sensual (155), berbibir merah (159), lekuk tubuh yang ideal dan berkulit putih (160 – 161), berambut hitam kecoklatan (164)

[77] Baca hlm 260, Dewi merupakan kekasih Lanang saat masa kuliah tepatnya saat berkegiatan pecinta lingkungan di kampus (347), sebelum akhirnya berumah tangga dengan Putri (159)

[78] Baca hlm 269

[79] Baca hlm 252. Doktor Dewi melanjutkan studi ke negeri jauh kuliah pascasarjana di bidang Bioteknologi Kehewanan (160)

[80] Baca hlm 359

[81] Baca hlm 251

[82] Baca hlm 185

[83] Baca hlm 145

[84] Baca hlm 143 – 145

[85] Di bagian ini dinyatakan para ahli yang berseberangan memiliki pengetahuan layaknya ampas-ampas dari keluaran pabrik utama. Baca hlm 146.

[86] Baca hlm 174 – 175

[87] Baca hlm 178

[88] Baca hlm 175

[89] Baca hlm 195

[90] Baca hlm 287

[91] Baca hlm 322

[92] Baca hlm 247 – 249

[93] Baca hlm 398

[94] Baca hlm 271

[95] Baca hlm 377

[96] Baca hlm 4110 - 411

[97] Baca hlm 406

[98] Baca hlm 406

[99] Baca hlm 141

[100] Baca hlm 135

[101] Baca hlm 137

[102] Baca hlm 140

[103]Hemat saya makna yang terkandung dalam nilai-nilai Etis adalah apakah semua yang Bisa dilakukan Boleh dilakukan ? lantas apa dasar melakukan hal tersebut. Seperti itulah Rekayasa Genetika dalam kehidupan manusia.

[104] Baca hlm 288 -289

[105] Baca hlm 150

[106]Kutipan ini merupakan judul sebuah lagu Sepultura dari album berjudul Chaos A.D. Sebuah kelompok musik beraliran trashmetal yang pernah mengharu biru di era 90 dan bahkan dianggap pesaing yang sangat serius dari Metallica. Sepultura pernah konser di Indonesia (Jakarta & Bandung). Sebuah kelompok musik yang dilahirkan dari rahim kekumuhan kota Belo Horizonte-Sao Paolo, Brasil. Di Indonesia sendiri kelompok ini sering diplesetkan dengan Sepuluh Tuntutan Rakyat bahkan Sekumpulan Tukang Rantang.

[107] Baca hlm 33 -34

[108] Baca hlm 362

[109] Baca hlm 362 -363

[110] Baca hlm 355

[111] Baca hlm 348

[112] Baca hlm 348 – 349

[113] Apa itu onak ? (hlm 55)

[114] Ular Piton (hlm 58) dan kemudian yang dicungkilnya adalah ular bangkai kobra (59). Setahu saya piton beda dengan kobra (?????)

[115] Bangkai Kobra

[116] Baca hlm 129

[117] Baca hlm 171

[118] Baca hlm 203

[119] Baca hlm 301

Tidak ada komentar: